TITISAN

TITISAN
TRANSISI


__ADS_3

“Assalamualaikum...” ucap pak Suro begitu Guntur membukakan pintu kamar rawatnya.


“Wa’alaikum salam....” sahut mamah Karmila, Hafizah dan pak Asrul serempak.


“Pak Suro?!” Mamah Karmila terkejut melihat pak Suro bisa sampai di tempat Guntur di rawat.


“Iya bu...” ucap pak Suro sambil menyalami satu persatu.


“Naik apa kesininya pak? Harusnya pak Suro tunggu Guntur pulang aja, kasihan jauh-jauh datang,” ucap mamah Karmila.


“Iya bu nggak apa-apa, soalnya sudah dua hari saya nggak melihat Guntur di kantor. Biasanya kalau jam istirahat siang Guntur selalu ke kios bu, saya khawatir Guntur kenapa-napa. Tadinya saya ke rumah ibu dulu tapi nggak ada siapa-sapa, untung sa...” kalimat pak Suro berhenti mendadak.


Pak Suro hampir saja keceplosan menceritakan pertemuannya dengan mahluk Genderuwo di rumah Guntur. Dia reflek menutup mulutnya dengan tangannya membuat Mamah Karmila, Guntur, Hafizah dan pak Asrul heran sekaligus penasaran dengan lanjutan ucapan pak Suro.


“Untung kenapa pak Suro?!” sergah mamah Karmila penasaran.


“Eh, anu itu bu, untung saja Adi telpon ngabarin soal Guntur,” ujar pak Suro berkilah.


“Oooohhh,” timpal mamah Karmila dan Guntur bersamaan.


“Gimana ceritanya bisa seperti ini Gun?” tanya pak Suro pada Guntur.


Secara garis besarnya pak Suro tahu kalau Guntur di celakai orang dari Karbala, Genderuwo di rumah Guntur. Namun pak Suro ingin mendengar langsung dari Guntur cerita lengkap kejadiannya.


Mau tidak mau Guntur pun kembali menceritakan kecelakaan yang dialaminya. Pak Suro langsung mengerutkan keningnya menyiratkan kemarahan tergurat di wajahnya.


“Kurang ajar betul! Siapa kira-kira orang yang menyuruhnya Gun?!” tanya pak Suro tak dapat menahan emosinya.


“Tenang, tenang pak Suro jangan emosi begitu, pelakunya sudah ketangkep semua,” ujar Guntur tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu pak Suro.


“Alhamdulillah kalau sudah ketangkep mah, siapa orang yang menyuruhnya Gun?” tanya pak Suro lagi sangat penasaran.


“Pasti pak Suro juga nggak bakal menyangka dengan pelakunya,” ujar Guntur.


“Siapa Gun? Orang kantor?” tebak pak Suro.


“Muhun pak, pak Suro tau kan dengan pak Iwan?” jawab Guntur.


“Pak Iwan?!” wajah pak Suro berubah terkejut bukan main.


“Kurang ajar betul tuh orang!” sambung pak Suro geram.


“Sudah, sudah pak biar polisi yang mengurusnya,” ujar Guntur menenangkan pak Suro.


“Tadi pak Suro bisa tau kalau pelakunya orang kantor, sih?” sambung Guntur penasaran.


“Pantesan aja Gun, tadi pagi itu ada empag orang salah satunya berpakaian seragam polisi datang ke kangor. Oooohhh, jadi pak Iwan kerempeng itu...!” ucap pak Suro geram.


Kebaikan yang pernah diberikan Guntur kepada pak Iwan, membuat pak Iwan sangat resfek. Dia pantas marah dan dia akan berdiri paling depan ketika ada yang mengganggu Guntur. Seperti itulah balas budi meski pun Guntur tidak pernah memintanya. Hal ini sudah menjadi hukum alam di dunia ini, siapa pun yang menebar kebaikan dan ringan tangan menolong sesama, dia akan mendapat balasan setimpal bahkan berkali-kali lipat. Balasan itu bukan hanya berbentuk materi namun juga berbentuk simpatik.

__ADS_1


“Pak Suro tadi belum di jawab pertanyaan saya, pak suro naik apa? Kok bisa langsung tau disini?” sela mamah Karmila.


“Masa sih bu,” sahut pak Suro garuk-garuk kepala.


Padahal tadi pak Suro sudah berhasil mengalihkan pertanyaan itu sebelum karena dirinya bingung menjelaskannya. Sebab kedatangannya ke rumah sakit itu sendiri berkat bantuan Genderuwo sehingga sangat sulit mengatakannya dan tidak mungkin juga untuk menceritakan kejadian tersebut. Sedangkan untuk berbohong dengan naik kendaraan umum pun dia juga tidak tahu naik mobil apa hingga sampai di rumah sakit ini.


“A, anu bu, naik bus,” jawab pak Suro singkat.


......................


Bandung,


Beberapa saat lamanya Adi menikmati makan malam yang di bawakan pak Suro. Nasi dan lauk pauk di dalam kotak itu ludes di makannya, namun dia baru teringat dengan pak Suro ketika menggigit-gigit tulang ayam yang terakhir.


“Waduh, habis. Bapak makan belum ya?” Gumam Adi.


Adi buru-buru menyudahi makannya. Dia membereskan bungkusan bekas nasi kotak lalu di buangnya ke dalam kotak sampah di samping pintu depan rumah mess. Kemudian bergegas cuci tangan lalu meninggalkan mess menuju pos jaga untuk menemui pak Suro. Mumpung belum larut malam, dirinya bisa langsung membelikan pak Suro makanan, begitu pikir Adi.


Dengan langkah tergesa-gesa Adi menghampiri pos jaga di depan kantor milik Guntur itu. Akan tetapi Adi tidak mendapati pak Suro di sana.


“Pak.... bapak...”


Adi mencari-cari bapak angkatnya itu hingga ke belakang pos jaga sambil memanggil-manggil namanya. Namun sekian lama di cari, pak Suro tidak kunjung ketemu.


“Bapak kemana ya?” ucap Adi kebingungan.


......................


Jawa Tengah,


“Gun, ibu Mila kami pamit pulang dulu...” ucap pak Asrul.


“Besok lagi aja Om, ini udah malam,” sergah Guntur.


“Iya, pak Asrul besok pagi aja,” Mamah Karmila menimpali.


“Besok kebetulan ada pertemuan klien Gun, Bu Mila. Biar nanti Hafizah yang kesini lagi,” ujar pak Asrul.


“Oh, iya deh kalau begitu. Terima kasih banyak ya Om, neng...” ucap Guntur.


“Kami pamit ya...”


Pak Asrul dan Hafizah pun menyalami Mamah Karmila, Guntur, Kunto serta pak Suro. Kemudian bapak dan anak itu melangkah keluar kamar perawatan diiringi Guntur, mamah Karmila dan diikuti pak Suro di belakang turut mengantar ke parkiran. Namun baru beberapa langkah pak Suro menghentikan langkahnya, ia menoleh kebelakang karena merasa ada yang memanggil-manggilnya.


“Kami pamit ya Gun, bu Mila, pak Sur..” ucap pak Asrul terhenti sambil celingukkan dari jendela pintu kiri depan mobilnya.


Guntur dan mamah Karmila pun turut celingukkan mencari-cari pak Suro. Namun pak Suro tidak nampak di sana.


“Ya sudah, kami pamit ya, assalamualaikum...” ucap pak Asrul.

__ADS_1


“Wa’alaikum salam,” sahut Guntur dan Mamah Karmila.


“Hati-hati pak nyetirnya,” ucap Guntur mengingatkan pada sopirnya sambil melambaikan tangan.


Setelah mobil pak Asrul meninggalkan halaman parkir rumah sakit, pak Suro pun datang tergopoh-gopoh.


"Pak Asrul sudah pergi?" tanya pak Suro.


"Itu barusan pak, bapak darimana tadi di cari-cari," ujar Guntur.


"Oh, anu, kebelet buang air kecil," jawab Pak Suro tergagap menyembunyikan sesuatu.


Setelah mobil pak Asrul meninggalkan halaman parkir rumah sakit, pak Suro pun mengutarakan niatnya untuk pulang.


“Gun, bu Mila... saya juga sekalian pamit pulang yah,” ucap pak Suro.


Guntur dan mamah Karmila terkejut mengerutkan dahinya. Tentu saja ucapan pak Suro membuat Guntur dan mamah Karmila terkejut sekaligus keberatan kalau pak Suro mesti pulang di saat hari sudah larut malam.


“Besok lagi aja pak, ini sudah malam...” cegah Guntur yang dianggukkan mamah Karmila.


Pak Suro sedikit kebingungan mengingat Karbala sudah menjemputnya dan mengabarkan kalau Adi sedang mencari-cari dan menunggunya di pos jaga.


“Besok lagi aja pak, ini sudah jam sepuluh malam. Nanti sampai Bandungnya bisa subuh, lagian mungkin mobilnya juga susah...” sergah Guntur.


“Iya pak Suro, besok pagi aja...” timpal mamah Karmila.


“Nggak apa-apa Gun, bu Mila. Kasian Adi sendirian,” ucap pak Suro.


Guntur dan mamah Karmila sepertinya tak bisa menghalangi keinginan pak Suro yang memaksa untuk pulang.


“Sebentar saya pamitan sama Kunto dulu,” ujar pak Suro kemudian berlalu dari hadapan Guntur dan mamah Karmila.


Keduanya kemudian ikut melangkah masuk mengikuti pak Suro yang berjalan cepat-cepat di depannya meninggalkannya.


“Coba kamu cegah pak Suro pulang Gun, kasihan...” ucap mamah Karmila.


“Iya mah,” ujar Guntur sambil terus melangkah.


Sementara pak Suro yang berjalan di depan sudah tidak kelihatan masuk ke dalam rumah sakit.


Beberapa lama kemudian, Guntur dan mamah Karmila pun sudah sampai di kamar nomor 7 VIP.


Kreteeeekkk...


Wajah Guntur dan mamah Karmila terbengong keheranan melihat ke dalam kamar. Di dalam kamar hanya ada Kunto yang sudah kembali berbaring.


“Kemana pak Suro?!” seru Guntur dan mamah Karmila bersamaan.


......................

__ADS_1


__ADS_2