TITISAN

TITISAN
MULAI MENEBANG


__ADS_3

Pagi itu mendung tiba- tiba menyelimuti langit kota Bandung, padahal sebelumnya cuaca pagi amatlah cerah dan sejuk.


Haji Abas, Ki Wayan, pak RT Parno, Udin serta ketiga ustad keluar dari ruang tamu berjalan menuju halaman belakang rumah melalui halaman samping kiri.


Saat langkah haji Abas dan yang lainnya berbelok memasuki halaman samping, mendadak Ki Wayan menghentikan langkahnya.


Karena tak mengira Ki Wayan tiba- tiba berhenti, pak RT Parno, Udin dan tiga ustad saling bertubrukkan menabrak tubuh di depannya.


Pak RT Parno dan Udin menabrak punggung haji Abas dan Ki Wayan yang berjalan di depannya. Sedangkan tiga ustad menabrak punggung Pak RT Parno dan Udin.


“Aduh...!” seru mereka saling bersahutan.


“Astagfirullahal azdim!” pekik haji Abas kaget saat punggungnya di seruduk pak RT Parno.


“Ma, ma’ af pak haji...” timpal pak RT Parno buru- buru, sambil meringis.


Ki Wayan yang punggungnya di tabrak Udin hanya menoleh sekilas lalu pandangannya kembali diarahkan pada pohon beringin yang sudah terlihat di sudut halaman belakang.


Deg!


Dadanya mulai merasakan debar- debar yang muncul seketika bersamaan dengan pandangannya tertuju melihat pohon beringin besar dan rimbun tersebut.


Debaran di dadanya timbul akibat merasakan ada energi kekuatan gaib yang terpancar dari pohon beringin itu.


Hanya beberapa saat langkah haji Abas dan yang lainnya berhenti setelah insiden saling tubruk itu lalu kemudian kembali meneruskan langkah mereka menuju belakang rumah.


Udara pagi sekitar pukul 8.30 wib itu perlahan- lahan terasa dingin seiring mendung tebal yang tiba- tiba menyelimuti langit diatas rumah haji Abas.


Haji Abas mengarahkan Ki Wayan menuju belakang rumah. Mereka berdiri sejenak di bawah kanopi yang terbuat dari baja ringan.


KI Wayan nampak sedang merenungkan sesuatu saat matanya melihat bangunan masjid tepat dihadapannya.


“Pak haji punten, ini masjid?” tanya Ki Wayan mengerutkan keningnya.


“Muhun Ki,” jawab haji Abas menganggukkan kepala dengan perasaan heran dengan pertanyaan itu.


“Kenapa Ki?!” sambung haji Abas.


“Baru?” tanya Ki Wayan tidak menghiraukan keheranan haji Abas.


“Iya Ki,” timpal haji Abas.

__ADS_1


“Apakah selama ini tidak pernah ada kejadian yang aneh- aneh pak haji?” Ki Wayan kembali bertanya yang membuat raut wajah haji Abas kian heran.


“Iya betul Ki, banyak kejadian- kejadian yang bahkan nyaris merenggut nyawa. Mulai dari pekerja bangunan hingga santri Ki,” jawab haji Abas dengan suara sedikit bergetar.


“Hmm...” gumam Ki Wayan.


Pandangan Ki Wayan kini dialihkan pada pohon beringin yang berdiri kokoh bersebelahan dengan masjid. Kedua matanya menyipit karena merasakan ada kekuatan yang sangat besar membentur batinnya.


“Pak haji dan yang lainnya tunggu saja disini. Saya akan mengambil posisi di bawah pohon beringin itu,” ucap Ki Wayan.


“Din, tasnya...” sambung Ki Wayan pada Udin yang membawakan perlengkapan untuk menebang pohon.


“Kamu tunggu disini dulu Din, nanti saya panggil kalau saya sudah selesai melakukan ritual tebang pohonnya ya,” ucap Ki Wayan setelah menerima tas dan alat potong dari Udin.


“Muhun Ki,” sahut Udin.


Sebelum melangkah pergi Ki Wayan memberitahukan Udin yang harus di lakukannya setelah selesai melakukan ritual khusus.


Dirinya akan memanggil Udin untuk menambatkan tambang dan mengikatnya terlebih dahulu ke batang pohon beringin itu agar supaya saat di tebang tidak roboh menimpa bangunan di sisi lain.


Setelah selesai menjelaskan semuanya, Ki Wayan pun melangkah dengan penuh percaya diri kearah pohon beringin.


Haji Abas dan yang lainnya mengiringi langkah Ki Wayan dengan tatapan penuh harap- harap cemas. Ya, haji Abas berharap Ki Wayan dapat menebang pohon beringin itu namun ia juga merasa cemas, akan terjadi hal- hal yang mengerikan.


Seiring langkahnya kian dekat ke pohon beringin, Ki Wayan merasakan ada benturan penolakkan energi yang sangat kuat dari area pohon beringin itu.


Langkah kakinya mulai bergetar ketika jaraknya 5 langkah lagi ke tempat yang Ki Wayan tuju.


Sementara itu haji Abas, Udin, pak RT Parno dan tiga orang ustad yang melihat Ki Wayan dari jarak sekitar 20 meter juga merasakan suasana yang mendadak menegang.


Di dalam diri mereka, masing- masing merasakan dadanya berdebar- debar tanpa mereka sadari melihat setiap gerak ki Wayan.


Haji Abas dan yang lainnya mulai melihat dedaunan pohon beringin bergerak- gerak. Mula- mula haji Abas menganggapnya wajar mungkin karena tiupan angin.


Akan tetapi lama -kelamaan secara perlahan- lahan gerakkan dedaunan pohon beringin itu nampak kian bergerak- gerak liar.


Haji Abas memperhatikan dengan seksama pada gerakkan dedaunan pohon beringin itu. Dahinya mulai mengerut dalam- dalam saat menyadari dedaunan yang bergerak itu bersumber dari batang pohonnya.


Pergerakkan batang pohon itu semakin jelas terlihat bergotang ke kiri dan kekanan. Lalu pandangannya pada Ki Wayan yang sudah terlihat duduk diantara akar- akar besar yang bertonjolan.


......................

__ADS_1


Di Alam Gaib,


Sosok mahluk genderuwo yang tak lain adalah Karbala sedang memejamkan matanya diatas sebuah ranjang bersulam emas. Nampak Karbala tertidur pulas, suara dengkurannya terdengar keras menggema di dalam ruangan kamar.


Di dalam kamar itu tiba- tiba semua bend- benda yang ada diatas meja bergetar hingga menimbulkan suara- suara riuh bersahutan.


Kamar itu nampak berguncang- guncang, membuat ranjang tempat Karbala lelap tertidur turut bergerak- gerak.


Namun Karbala masih tak bergeming dari tidurnya. Suara dengkurannya menimpali suara- suara derakkan benda- benda di dalam ruangan itu, akan tetapi tak juga membuat Karbala terusik. Dia masih lelap tertidur!


Semakin lama getaran di dalam ruangan itu semakin keras, bahkan ranjang tempat Karbala berbaring bergeser- geser ke kanan dan ke kiri.


Tiba- tiba Karbala membuka matanya, dia merasa terusik ada yang mengganggu tidurnya. Saat kedua mata merah Karbala terbuka sepenuhnya dan melihat langit- langit ruangan berguncang, seketika dia terlonjak dari berbaringnya.


Tubuh berbulu hitam lebat itu langsung bangun dan meloncat dari atas tempat tidur ke arah sisi ranjang. Sepasang mata merahnya melirik kesana- kemari dengan liar. Kilatan kemarahan seketika menyelimuti sorot matanya.


“Kurang Ajar!” teriak Karbala dengan suara besar dan sember.


Karbala berdiri tegak dengan kedua tangannya mengepal erat- erat. Dia menggeleng- gelengkan kepalanya penuh kemarahan.


Setelah Karbala menyadari sepenuhnya ada ancaman yang datang, dia segera mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Lalu tiba- tiba dia berteriak keras,


“Grrrrrggggghhhhkkkkk... manusia kurang ajar...!!!”


Seketika Karbala menghilang dari ruangan itu.


......................


Di Alam Nyata,


Tubuh Ki Wayan mulai bergetar hebat, ia merasakan kehadiran sosok mahluk gaib yang mendiami pohon beringin. Ia tidak merubah duduk bersilanya, matanya masih rapat terpejam dengan mulut bergerak komat- kamit yang terdengar kian santer.


Beberapa saat kemudian datang hembusan angin besar berhawa panas menerpa tubuh Ki Wayan. Tubuh Ki Wayan bergeser terdorong mundur namun masih dalam posisi duduk bersila.


Kedua telapak tangannya yang menangkup di depan dadanya seketika buyar. Kedua tangannya reflek menahan gerakkan tubuhnya yang terdorong kebelakang.


Sesaat kemudian setelah tubuhnya berhenti dan dapat menahan dorongan itu dari sudut mulut Ki Wayan tersungging senyuman.


"Hahahaha... sesuai rencana!" teriak Ki Wayan dalam hati.

__ADS_1


......................


__ADS_2