
Cahaya langit nampak berwarna kemerahan seperti layaknya di senja hari menjelang magrib. Kunto berjalan melalui jalan yang di lewati sebelumnya setelah membeli ikan Goreng sambil sesekali memakannya sedikit demi sedikit.
Kunto yang masih menggendong tas kuliahnya berniat kembali menuju bangunan mirip kastil dimana saat dirinya pertama kali berada di alam aneh tersebut. Di dalam perjalanan kembali itu Kunto di hampiri oleh seseorang yang berpakaian mirip prajurit kerajaan.
“Kamu manusia yang bernama Kunto?!” Tanya orang berpakaian prajurit itu.
“I, iy, iya...” jawab Kunto gugup.
Tanpa berkata apa-apa lagi, prajurit itu mencengkeram tangan kiri Kunto lalu di betotnya dengan keras. Kunto terkejut bukan kepalang merasakan tangannya terhentak secara tiba-tiba. Tetapi sesaat kemudian pandangan mata Kunto menjadi gelap dan Kunto pun sudah tidak ingat apa-apa lagi.
......................
Kunto membuka matanya perlahan-lahan merasakan ada tepukkan di punggungnya. Dia keheranan mendapati tubuhnya terbaring di lantai batu marmer berwarna putih, lekas-lekas dia duduk dan memandang lurus di depannya. Di depannya berjarak 10 langkah ada sesosok tubuh sedang duduk di kursi besar, diatas kepalanya terdapat mahkota berwarna emas sedang memandangi dirinya dengan sorot mata tajam.
Wajah Kunto terlihat kebingungan lalu memutar-mutarkan kepalanya melihat sekelililingnya dengan pemandangan yang terasa sangat asing. Sejauh mata memandang Kunto mendapati dirinya berada pada sebuah ruangan yang luas dengan dinding-dindingnya berwarna putih tanpa hiasan yang menempel disana.
"Apakah saya sudah mati?" ucap Kunto penuh kebingungan.
Ketika menoleh ke belakangnya, seketika Kunto beringsut dari duduknya. Di belakangnya berdiri orang-orang berpakaian prajurit berbaris rapih dan semua mata serasa mengarah satu titik menatap ke arahnya semua. Lalu Kunto kembali memperhatikan sosok yang duduk di kursi besar itu, ia langsung menduga-duga kalau sosok itu merupakan seorang raja.
"Manusia, kamu harus mendapatkan sangsi atas tindakkanmu yang sembrono!" Hentak sosok diatas kursi besar.
Suaranya yang besar dan sember cukup membuat Kunto bergidik ngeri. Suaranya keras menggema seantero ruangan itu. Tidak ada satupun yang berani bicara, semuanya terdiam membuat suasana tiba-tiba senyap.
"A, appp, apa salah saya?!" sahut Kunto gemetar.
"Kamu telah mengotori istanaku! Maka dengan ini aku akan memberikanmu hukuman. Kamu ak...." kata-kata sosok Raja itu tiba-tiba terhenti.
Di saat yang bersamaan ruangan tiba-tiba bergetar hingga guncangannya menggoyahkan semua yang ada di ruangan itu. Lalu sebuah suara muncul menggema di dalam ruangan.
__ADS_1
"TUNJUKKAN WUJUDMU!"
"TUNJUKKAN WUJUDMU!"
"TUNJUKKAN WUJUDMU!"
Sosok yang duduk di kursi besar sontak berdiri, wajahnya langsung berubah menyeramkan. Sorot matanya berkilat merah mendongak menatap langit-langit. Suara itu cukup mengguncang istana seolah-olah menantang dirinya hingga membuat sosok Raja nampak murka.
"Manusa kurang ajar!" Kemudian sosoknya lenyap dari ruangan itu meninggalkan hempasan angin yang menerpa seisi ruangan.
Kunto yang masih terduduk di tengah-tengah ruangan pun merasakan terpaan angin itu di buat melongo, ia semakin kebingungan dengan apa yang sedang di alaminya.
......................
Di balik istana gaib,
Sosok Raja itu tak lain adalah Karbala, mahluk genderuwo yang menurut pandangan di alam manusia sebagai penghuni pohon beringin yang berada di belakang rumah Guntur itu melihat di depannya ada seorang pria tua sedang duduk bersila. Kilatan merah pada kedua mata Karbala menatap tajam kearah orang tua itu.
Sedetik kemudian, Karbala kembali menatap tajam ke arah orang tua yang duduk bersila itu yang tak lain adalah mbah Dadan dengan amarah yang meluap-luap. Hal itu terlihat dari pancaran kedua matanya yang berkilat-kilat merah menyala.
Tiba-tiba dari mulut Karbala meniupkan udara kuat-kuat kearah mbah Suro. Tanpa dapat di lihat oleh mbah Dadan, dibalik tiupan angin itu ada untaian akar yang menyerupai tambang langsung mengikat tubuh mbah Dadan tanpa bisa terelakkan. Seketika tubuh tua mbah Dadan terpelanting melambung lalu jatuh keatas tanah dengan keras.
Karbala mengangkat tangannya tinggi-tinggi hendak menyerang mbah Dadan lagi namun seketika tertahan. Tiba-tiba ia melihat Guntur berdiri menghalangi mbah Dadan yang sudah terkapar dan berteriak meminta untuk menghentikannya.
Karbala mengurungkan serangannya dan seketika amarahnya langsung mereda hingga tubuh tinggi besarnya menyusut sampai setinggi dengan Guntur. Kilatan merah dari mata Karbala pun sudah tidak menyala lagi, dia hanya memandang Guntur saat menanyakan keberadaan Kunto.
Setelah Karbala menjawab mengakui kalau dirinya yang telah membawa Kunto ke dalam alamnya dan bersedia memulangkan Kunto, langsung lenyap dari pandangan Guntur dan yang lainnya.
......................
__ADS_1
Hanya beberapa saat di rasakan Kunto setelah Karbala lenyap dari dalam istana, tiba-tiba kembali muncul dan langsung menatap lekat-lekat dirinya. Kuntu merasa bergidik ngeri di pandangi seperti itu, ia langsung menundukkan kepala tak berani beradu pandang dengan Karbala.
“Kamu di bebaskan! Prajurit bawa kembali ke tempat asalnya!” Perintah Karbala.
Kunto tidak mengerti dengan semua yang di katakan Karbala yang sebelumnya dirinya akan mendapat hukuman namun sekarang tiba-tiba di bebaskan.
Kemudian seorang prajurit yang sebelumnya telah menarik Kunto di jalan itu langsung mencengkeram lengan kiri Kunto dan membetotnya untuk kedua kalinya dan untuk kedua kalinya pula kesadaran Kunto pun langsung hilang.
Beberapa saat berlalu, Kunto terbangun mendengar bunyi dering hapenya. Dan saat itulah Guntur menemukan Kunto tergeletak di bawah pohon beringin.
“Kalau tidak salah nama raja itu, mmm... Raja Kar... Kar... Kar... Bala, ya Karbala!” Cetus Kunto mengakhiri ceritanya.
Semua orang tertegun mendengarkan cerita dari Kunto, mereka sangat yakin kalau sosok raja itu adalah Genderuwo yang menghuni pohon beringin. Dan yang membuat mereka takjub ternyata Genderuwo itu merupakan seorang raja di alamnya.
Diantara ekspresi raut ketakjuban dari semuanya dengan sosok Karbala tersebut Karmila yang terlihat biasa-biasa saja. Karmila nampaknya tidak begitu exited dengan dengan sosok Karbala tetapi ia berusaha menyembunyikannya dengan senyuman.
Karmila nampaknya mengetahui banyak tentang Karbala, atau juga mungkin dirinya pernah berada di alam yang sama dengan Kunto yang baru saja di alami.
Sementara Guntur larut dalam pikirannya sendiri. Di dalam hatinya ia menghafal nama Genderuwo itu lekat-lekat. Bayangannya kembali mengingatkan pertemuannya dengan Karbala di dalam mimpi maupun saat di dalam kamarnya. Dan Guntur juga masih ingat, ketika tidur seringkali kepalanya ada yang mengusap-usap dan setelah di lihat ternyata sosok yang mengusap-usapnya itu adalah Karbala. Kemudian Guntur teringat pula dengan pengakuan Karbala yang menyebut dirinya adalah bapaknya, namun Guntur sangat menolak untuk mengakui Karbala sebagai bapaknya hingga saat ini.
Mengingat itu seketika wajah Guntur berubah gamang lalu menoleh pada mamahnya yang sedang tersenyum,
“Kalau saya anaknya Karbala, berarti mamah...?”
"Tidak! tidak mungkin!" teriak Guntur dalam batin.
Guntur berusaha membuang jauh-jauh pikiran-pikiran buruk tentang mamah Karmila. Ia memadukan dengan beberapa sikap mamah Karmila salah satunya pernah memintanya menebang pohon beringin itu dengan ekspresi marah.
Guntur menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tanpa ada yang tahu dengan gejolak yang sedang bertarung di dalam pikirannya di tengah-tengah suka cita kembalinya Kunto.
__ADS_1
......................