
Tiiinnn... tiiin...!
Terdengar suara klakson mobil dari luar pagar rumah, Karmila bergegas melangkah keluar dengan wajah sumringah. Dengan langkah tergesa-gesa Karmila merasa sangat yakin kalau itu mobilnya Guntur yang datang.
Padahal sejak 30 menit yang lalu dirinya sangat tersiksa merasakan kesakutan yang teramat sangat di sekujur tubuhnya tanpa dirinya mengetahui penyebabnya.
Kreteeeeekkkk...
Pintu pagar yang terbuat dari besi itu di dorong Karmila dari dalam. Dan benar saja didepannya sudah terparkir mobil Fajero sport warna putih yang sangat dikenalnya. Bibir tipis dari wajah cantik Karmila langsung mekar melihatnya.
Sementara di dalam mobil, wajah Guntur nampak keheranan melihat yang membuka gerbang rumah mamahnya bukan Kunto. Guntur bersungut kesal pada Kunto, kenapa harus mamahnya yang membuka pintu. Padahal mamahnya kan lagi sakit?
"Wah, kurang ajar nih Kunto!" sungut Guntur.
Guntur langsung turun dan berlari dari mobilnya menyongsong mamah Karmila yang sedang mendorong pagar itu.
"Mah, mah...! Usah, udah biar Guntur aja. Mamah kan lagi sakit?" ucap Guntur penuh kasih sayang.
"Nggak apa- apa Gun," jawab mamah Karmila.
"Kunto kemana sih?!" sungut Guntur kesal.
"Kunto belum pulang katanya ada kegiatan di kampusnya, udah nggak apa- apa mamah udah sehat kok," ujar mamah Karmila.
Guntur tertegun mendengar ucapan mamahnya, wajahnya kembali menampakkan keheranan. Ia memandangi lekat- lekat wajah mamahnya mencari kebenaran dari ucapannya.
“Kok bisa sih mah, tiba- tiba bilang nggak sakit lagi?!” Tanya Guntur penuh keheranan.
“Ayo masukin dulu mobilnya,” timpal mamah Karmila tanpa menanggapi keheranan Guntur.
Karmila sendiri tidak mengerti dengan kondisinya yang tiba- tiba sudah merasa sehat kembali. Yang dia rasakan saat itu jiwanya terasa seperti terombang- ombang ambing di hempaskan oleh pusaran angin yang hawanya terasa panas hingga membuat dadanya berasa sesak.
“Mah, mamah..!”
“Eh, oh ss..sss.. sudah masuk?!”
Karmila tersentak kaget oleh panggilan Guntur, ia tergagap bersandar pada pagar besi dan tidak menyadari kalau Guntur sudah memasukkan mobilnya.
__ADS_1
“Mamah kenapa sih, kita pergi ke dokter aja ya?!” Guntur sangat mengkhawatirkan melihat gelagat yang ditunjukkan mamahnya.
“Neeeng...” seru Mamah Karmila kembali mengabaikan ucapan Guntur.
Namun Guntur pun memakluminya karena mamahnya melihat Hafizah datang menyongsong mamahnya. Mungkin mamahnya lebih fokus melihat kemunculan Hafizah, Guntur pun tak berlarut- larut memperpanjang keheranannya.
“Aneh! Waktu telepon mamah begitu kesakitan. Tapi sekarang dia bilang sudah sehat kembali,” Guntur bertanya- tanya dalam hati.
Meski heran, namun Guntur menyimpannya saja keganjilan tentang mamahnya di dalam hatinya. Ia kemudian beranjak menyusul mengikuti langkah mamahnya dan Hafizah yang berjalan beriringan memasuki rumah.
......................
Usai makan malam minus Kunto karena dia belum juga kembal, Guntur, mamah Karmila dan Kirana terlibat obrolan yang membahas banyak topik. Dari mulai seputar kabar keluarga Hafizah, mengenai pekerjaan hingga problem pada proyek yang ada di daerah Jepara.
Mamah Karmila nampak sangat asyik dan terlihat sangat akrab ngobrol dengan Hafizah hingga tak jarang membuat Guntur hanya menjadi pendengar saja.
Tak terasa waktu sudah beranjak jam 9 malam ketika obrolan mereka bertiga terhenti oleh suara dering telpon dari hape Guntur.
“Hallo, ya... woy lagi ada dimana kriting, cepet balik!” sahut Guntur begitu mendengar suara Kunto di seberang telpon.
“Hah, nggak pulang?! Ohh, ya, ya.. iya deh nanti saya bilangin ke mamah,” jawab Guntur.
“Oke, oke yups wa’ alaikum salam...”
Klik!
Guntur menutup telponnya yang langsung diberondong pertanyaan mamahnya; “Kunto kenapa?”
“Kunto nggak pulang katanya mah, nginep di kost-an temannya. Katanya nggak enak ganggu mamah soalnya pulangnya bakal malaman,” ungkap Gintur.
“Oh, ya udah yuk. Barangkali Nengnya kecapekan, istirahat langsung aja...” ucap mamah Karmila kemudian beranjak berdiri dari kursi makan.
“Iya Tante, selamat tidur..” jawab Hafizah.
“Selamat tidur semuanya.” Balas mamah Karmila.
Kemudian mereka semua membubarkan diri dari meja makan. Mamah Karmila langsunh menuju kamarnya, begitu juga dengan Guntur masuk ke kamarnya dan Hafizah pun menuju kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar Kunto.
__ADS_1
Udara malam kota Bandung begitu terasa dingin. Di dalam kamarnya, Karmila langsung masuk ke dalam selimut dan menutupi rapat- rapat seluruh tubuhnya.
Karmila berusaha memejamkan matanya agar cepat- cepat tidur, namun setelah beberapa saat matanya kembali terbuka. Ia merubah posisi tidurnya ke samping kiri lalu di pejamkannya lagi. Tetapi beberapa saat kemudian kembali membuka matanya lalu merubah lagi posisi tidurnya menyamping ke kanan.
Tetap saja matanya dan seluruh anggota tubuhnya tak bisa diajak kompromi terutama pada pikirannya sepertinya belum ingin diistirahatkan. Karmila menjadi gelisah sendiri diatas pembaringannya, pikirannya tanpa diperintah harus mengingat- ingat kesakitan yang menimpanya sore hari lalu.
Kini Karmila pun terbawa oleh pikirannya sendiri yang dipenuhi dengan tanda tanya terkait kejadian sore tadi. Dan entah mengapa tiba- tiba Karmila mengkhawatirkan Karbala, angnnya melambung mengingat seluruh sisi pada rumah yang dulu.
Dan pada satu ingatannya terlintas di kepalanya bayangan pohon beringin yang berada di sudut belakang rumah itu.
“Jangan- jangan pohon itu sudah di tebang oleh pemilik barunya!” ucapnya dalam hati.
Raut wajah Karmila tak bisa menolak kecemasannya, ketika pikirannya memunculkan sosok Karbala tanpa mampu ia bendung.
“Bagaimana nasibnya?!”
Karmila kian gelisah, matanya menerawang memandangi langit- langit kamarnya.
......................
Sementara di dalam kamar lain, Guntur masih duduk termangu di depan meja komputernya. Pikirannya sibuk mengait- ngaitkan kejanggalan mamahnya yang tiba- tiba sehat tidak menunjukkan gelagat seperti orang sedang sakit atau habis sakit.
“Aneh banget! apakah ada kaitannya dengan dada berdebar- debar sore hari tadi ya?!” Gumam Guntur mengingat kondisinya saat dalam perjalanan pulang tadi.
Menjelang waktu magrib sebelumnya, Guntur ingat betul ketika itu mobilnya melaju di jalan tol Purbaleunyi dalam perjalanan pulang dan sudah dekat dengan rumah, dirinya tiba- tiba merasakan dadanya berdebar- debar tanpa sebab.
Pada saat itu debaran di dadanya ia kait- kaitkan dengan kondisi mamahnya sehingga menjadi sebuah firasat buruk yang tersugesti yang membuatnya sangat cemas. Dan dugaan buruk itu muncul di pikirannya yang mengatakan kalau kondisi mamahnya sangat kritis. Hingga dirinya melajukan mobilnya seperti kesetanan dengan kecepatan tinggi di jalan tol.
"Mas, hati- hati!" pekik Hafizah saat itu.
Suara deritan roda mengerem dari mobil Guntur kian membuat Hafizah merasa takut. Tanpa sadar tangannya mencengkeram Seftybel yang melintang di dadanya erat- erat.
"Ada apa mas?! Kamu sepertinya begitu mencemaskan sesuatu," ujar Hafizah dengan ekspresi takut dan bingung.
"Iya neng, dadaku mendadak berdebar- debar kencang. Apakah ini sebuah firasat buruk ya Neng?!"
Saat itu Guntur tetap tak bisa tenang, ia injak pedal gasnya dalam- dalam ingin rasanya cepat sampai di rumah.
__ADS_1
Tetapi ketika sampai di rumah, yang tadinya sangat cemas justru seketika hilang bersamaan melihat mamahnya membuka pintu gerbang dan mamahnya mengatakan sudah tidak sakit lagi.
......................