TITISAN

TITISAN
BENAK GUNTUR


__ADS_3

Di dalam kamar rawat nomor 15, mamah Karmila nampak terkantuk- kantuk diatas kursi. Kepalanya disandarkan setengah mendongak keatas, kedua matanya setengah menutup.


Sementara Guntur yang juga duduk di kursi disebelah mamah Karmila yang dipisahkan oleh meja, terus memandangi Kunto yang terbaring diatas ranjang.


Meski wajah Kunto terlihat tenang itu hanyalah pengaruh dari obat penenang yang di suntikkan dokter. Guntur sangat menyadari itu sebab ia melihat pada guratan wajah Kunto masih menyiratkan ketakutan.


Dan mungkin ketakutan yang dialami Kunto itu memang sesuatu yang sangat menakutkan, begitu pikir Kunto.


Guntur kembali mengingat- ingat kembali saat pertama kali sewaktu dirinya mendengar erangan Kunto, ia tidak melihat ada sesuatu apapun dan ia juga tidak tahu sudah sejak kapan Kunto seperti itu, bisa saja sejak malam hari atau mungkin juga baru saja.


“Berarti bisa jadi Kunto melihat sesuatu yang mengerikan, tetapi apa? Lalu sejak kapan Kunto meliha itu? Sejak malam atau pagi itu?” batin Guntur mengira- ngira.


Guntur membayangkan apabila Kunto kejang dan kaku itu terjadi semalaman suntuk, bagaimana tersiksanya Kunto dan pastinya Kunto tidak tidur.


“Kuncinya hanya pada Kunto!” seŕu Guntur dalam hati.


Namun saat Guntur memperhatikan kondisi Kunto, sejuta pertanyaan yang ada di kepalanya harus di tahannya karena Kunto masih belum juga sadarkan diri. Guntur harus menunggu sampai Kunto sudah dalam kondisi normal.


Tok.. tok... tok...


Guntur dan mamah Karmila yang terkantuk- kantuk sedikit terkejut mendengar suara ketukan pintu. Guntur pun bergegas bangkit berjalan untuk membuka pintu.


Kreteeekkk...

__ADS_1


“Kalian...?!” Gumam Guntur kaget saat pintu sudah dibuka.


Dihadapan Guntur di luar pintu ada 7 orang berdiri, mereka terdiri dari 4 laki- laki dan 3 perempuan dengan wajah cemas.


“Siapa Gun...?” Suara mamah Karmila sedikit ditekan agar tidak mengganggu Kunto.


“Orang -orang kantor mah. Ayo masuk, masuk..” sahut Guntur kemudian mempersilahkan Hafizah dan kawan- kawan masuk kamar rawat.


Tujuh orang karyawan itu merasa empati setelah Hafizah mengabarkan kalau Guntur tidak masuk karena sedang berada di rumah sakit.


Mereka kompak memutuskan untuk menengok Guntur meski sudah diberitahu oleh Hafizah kalau yang di rawat itu sahabatnya yang bernama Kunto.


“Selamat siang tante...” ucap ketujuh orang itu serempak.


“Nggak apa- apa tante, kita semua turut mengkhawatirkan pak Guntur juga.” Sahut Hafizah.


Setelah semuanya bersalaman, mereka berdiri mengelilingi ranjang Kunto sambil memperhatikan kondisinya.


“Kenapa dengan mas Kunto pak?” tanya Joko.


“Saya juga nggak tahu Jok, dia mengalami kejang dan tubuhnya kaku gitu,” terang Guntur.


“Kaku?!” ucap Joko mengulangi dengan heran.

__ADS_1


Ketujuh orang karyawan semuanya menatap Guntur dengan tatapan heran menanti- nanti Guntur melanjutkan keterangannya.


Sementara itu mamah Karmila hanya melirik Guntur sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya melihat Kunto.


Suasana sesaat hening tak ada yang bersuara. Guntur hanya menghela nafas berat, lalu mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


Semua mata kembali menghalihkan pandangannya memperhatikan Kunto diatas ranjang. Ŕaut wajah Kunto tampak pucat, kedua matanya kini terlihat tidak menutup rapat seperti saat setelah keluar dari ruang I G D.


Ketujuh karyawan yang memang tidak mengetahui kondisi Kunto sebelumnya terlihat biasa- biasa saja.


Akan tetapi lain halnya dengan Guntur. Melihat perubahan pada ekspresi raut Kunto, ia mengerutkan dahinya dalam- dalam.


“Sepertinya obat penenangnya sudah habis,” batin Guntur.


Guntur dapat melihat perbedaan raut wajah pada Kunto. Sekarang yang Guntur lihat pada ekspresi wajah Kunto, kembali menunjukkan guratan ketakutan.


Matanya sedikit terbuka, wajah Kunto kembali memucat dan nampak bibir Kunto bergerak- gerak sedikit.


Kemudian Guntur mengalihkan pandangannya pada kedua tangan kunto yang terkulai dikedua sisi tubuhnya.


Guntur melihat jari- jari Kunto pun nampak ada gerakan mekipun sedikit dan pelan. Ia hanya menanti apa yang selanjutnya akan terjadi pada reaksi Kunto.


......................

__ADS_1


__ADS_2