TITISAN

TITISAN
DUA SISI


__ADS_3

Karbala nampak lahap sekali memakan panggangan daging gagak itu. Dengan rakusnya dia melahap makanan kesukaannya dan kini sudah setengahnya panggangan daging gagak itu masuk kedalam perutnya.


Tanpa memperdulikan situasi disekitarnya Karbala terus saja memakan sedikit demi sedikit daging gagak itu tanpa merasa terganggu sedikit pun.


Karbala terlihat masih terlena menikmati makanan paling disukainya. Nampaknya dia sudah sangat lama tidak memakan daging gagak dan baru merasakannya lagi daging tersebut.


Sementara itu Ki Wayan meminta bantuan haji Abas untuk mengerahkan para ustad untuk segera membersihkan halaman yang berantakkan oleh bekas rubuhan pohon beringin.


Haji Abas segera meminta salah satu orang ustad yang bersamanya dari ustad ustad itu untuk memanggil rekan- rekannya. Kemudian ustad muda yang bernama Jafar itu bergegas meninggalkan tempat untuk memanggil rekan- rekannya.


Tak lama kemudian ustad Jafar sudah kembali bersama dengan ustad- ustad lainnya, ada sekitar 10 orang ustad yang datang bersamanya.


Dibantu dengan Udin dan pak RT Parno, mereka segera bahu- membahu membersihkan dedaunan dan kayu- kayu dahan yang telah dipotong- potong Ki Wayan.


“Abah, kayu- kayu dan daunnya ini taruh dimana?” tanya salah satu ustad.


“Sementara kumpulkan aja di sudut sebelah sana usatd. Biar nanti besoknya diangkut pakai mobil untuk dibuang,” sahut haji Abas.


Udin, pak RT Parno dan 13 belas orang ustad bahu membahu membereskan kayu- kayu, daun- daun, ranting dan dahan yang berserekan mengotori halaman samping.


"Ayo, ayo cepat bereskan sebelum mahluk gaib itu tersadar!" seru Ki Wayan mengingatkan sambil terus memotong- motong bagian demi bagian batang dan ranting- ranting.


Dengan menggunakan dua gerobak dorong bekas mengangkut bahan- bahan bangunan, mereka segera memindahkan kayu- kayu yang sudah dipotong- potong sepanjang 2 meteran ke sudut halaman samping kanan masjid.


Sementara itu Karbala terlihat masih terlena menikmati panggangan daging gagak di genggamannya sambil duduk mengangkang membelakangi tempat Ki Wayan yang sedang memotong- motong batang pohon beringin.


Dari mulut Karbala nampak menetes- netes air liurnya melahap daging gagak yang tinggal seperempat lagi.


Waktu terus berjalan, berselang 30 menit kemudian Karbala melemparkan sebatang kayu tusuk panggangan di tangannya tanpa ada yang tersisa secuil daging pun di bekas kayu tusuk panggangan itu.


Karbala menyeka mulutnya dengan punggung tangannya yang dipenuhi bulu- bulu hitam lebat. Sesaat dia menggeliat- geliat merasakan kenyang di perutnya lalu mulutnya terbuka lebar- lebar. Karbala menguap merasakan kantuk yang tak tertahankan lagi.

__ADS_1


Karbala pun merebahkan tubuhnya ke belakang diatas rerumputan halaman itu tanpa menghiraukan keadaan disekitarnya. Tak berapa lama kemudian terdengar suara dengkuran, Karbala pun terlelap tidur.


DItempat Ki Wayan, Udin dan yang lainnya tinggal membersihkan bekas- bekas potongan kayu beringin dan daun- daun yang nampak berserakkan dimana- mana.


Kini tinggal satu lagi pekerjaan Ki Wayan yang harus segera diselesaikannya yang juga menjadi tujuan utamanya menebang pohon beringin tersebut.


Ki Wayan memandang bonggol pohon beringin seukuran dekapan orang dewasa di depannya. Ia nampak sedang memperkirakan bagian- bagian yang hendak di potongnya untuk menghasilkan bentuk meja yang bagus nantinya.


Penuh dengan perkiraannya, Ki Wayan mulai memotong satu demi satu bagian akar- akar besar yang bertonjolan itu. Di kepalanya sudah tergambar bentuk meja yang akan di buatnya.


Akan tetapi baru saja dua akar yang menonjol itu berhasil di potong, tiba- tiba terdengar suara raungan keras menggema.


Ki Wayan terkesiap, sejenak ia mendongak keatas celingukkan melihat sekelilingnga. Lalu kontan menoleh kearah belakangnya tempat posisi Karbala menyantap panggangan daging gagak.


Sementara haji Abas, pak RT Parno, Udin serta 11 ustad yang sedang membersihkan bekas potongan- potongan kayu pohon beringin di halaman juga terkesiap. Mereka menghentikan pekerjaannya lalu sama- sama menatap Ki Wayan seolah- olah meminta penjelasan.


Melihat Ki Wayan sedang menatap jauh arah pagar depan, spontan mereka pun menoleh secara bersamaan kearah yang sama yakni dimana tempat Karbala berada.


Karbala tampak melangkahkan kakinya menuju ke tempat Ki Wayan. Kedua matanya menyorot menyala merah darah dan mulutnya menyeringai mengeluarkan dua taring besar di sudut biburnya.


......................


Di hari yang sama, 4 jam sebelumnya di rumah Guntur....


Mamah Karmila tiba- tiba saja terbangun dari tidurnya. Di keningnya bulir- bulir keringat kecil bermunculan, wajah Karmila terlihat panik bulan main. Nafasnya terdengar kasar dan tersengal- sengal tak ubahnya seperti orang habis berlari jauh.


Karmila terduduk diatas tempat tidurnya sambil celingukkan memperhatikan sekelilingnya dengan gundah. Pandangannya berusaha menerobos melihat keluar melalui jendela yang tertutup tirai putih transparan.


"Sepertinya masih gelap..." gumam Karmila.


Karmila hanya dapat melihat bias cahaya lampu taman dari luar jendela. Dan suasannya memang masih nampak gelap.

__ADS_1


Dalam temaram kamar tidurnya yang diterangi lampu tidur, kemudian pandangannya terpaku kearah jam dinding yang berada tepat searah di hadapannya.


“Jam lima lewat tiga puluh pagi...” gumam Karmila kemudian mengingat- ingat lagi peristiwa dalam tidurnya.


“Pohon beringin.... Karbala.... Penebang pohon.... pak haji... orang- orang....” Karmila bergumam menyebutkan semua yang dilihatnya ada di dalam mimpinya.


Seketika wajah Karmila berubah menjadi panik. Ia mengingat dengan jelas rangkaian mimpinya itu bagaimana penebang pohon itu menumbangkan pohon beringin.


Bahkan ia pun melihat bagaimana Karbala dengan lahapnya menyantap panggangan daging hitam serta seseorang telah berhasil memotong pohon yang menjadi tempat tinggalnya Karbala.


Setelah sekian menit termangu mengingat- ingat rangkaian mimpi itu, Karmila segera bergegas turun dari atas pembaringannya.


Mimpi itu terasa begitu nyata, membuat Karmila merasa begitu khawatir dengan orang- orang yang ada di rumah dahulunya. Ia melihat dengan jelas, wajah Karbala menyiratkan kemurkaan yang teramat sangat.


Buru- buru Karmila menyambar handuk bergegas menuju bak mandi. Di dalam pikirannya hanya satu, ia harus mengunjungi bekas rumahnya itu.


Sementara itu di kamar Guntur, di saat yang bersamaan Guntur terbangun dari tidurnya secara tiba- tiba. Guntur terduduk diatas kasur lalu beringsut mundur bersandar pada kepala dipan di belakangnya.


Sejenak Guntur mengusap- ngusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu matanya menerawang keatas dan melihat sekelilingnya. Nafasnya nampak terengah- engah dengan hembusan nafas yang terasa kasar.


Wajahnya nampak sedikit berkeringat, ingatannya diperluhatkan dengan rangkaian peristiwa tumbangnya pohon beringin. Guntur juga melihat dengan jelas bagaimana pohon beringin itu di tebang dan roboh.


Entah mengapa hatinya tiba- tiba berontak sekonyong- konyong tak rela jika pohon beringin itu sengaja di tebang dan berhasil di tumbangkan.


Perasaan aneh tiba- tiba menghinggapi hatinya manakala melihat sosok Karbala yang terlihat marah mendapati pohon beringin itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.


......................


Berselang beberapa menit kemudian tiba- tiba terdengar suara ketukan keras di pintu kamar Guntur. Guntur terlonjak saking kagetnya, lalu bergegas turun untuk membuka pintu...


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2