
Lengkingan vokal suara Bon Jovie terdengar mengalun sedang memenuhi seisi dalam mobil diiringi hentakkan-hentakan musik khasnya yang berasal dari bloototh hape Kunto melalui sound car. Musik menjadi satu-satunya cara alternatif paling ampuh untuk mengusir kepenatan saat mengemudi.
Suasana akhir pekan jalanan kota Bandung sangat padat, apalagi arus lalu lintas menuju pintu masuk ke jalan tol via Buah Batu, wuihh... lumayan macet. Laju kendaraan padat merayap kaya arus mudik lebaran butuh beberapa menit untuk mencapai tol. Meski berjalan perlahan-lahan akhirnya berhasil mencapai pintu tol juga. Mereka melaju di jalan tol Pubaleunyi lebih dulu lalu akan beralih masuk ke jalan tol Cipali yang tembus hingga ujung pulau Jawa. Sehingga untuk sampai di Semarang tidak membutuhkan banyak banyak waktu.
Sementara itu mobil sedan hitam masih intens menjaga jarak dibelakang mobil Guntur. Posisinya sengaja tidak terlalu dekat bahkan membiarkan kendaraan lain menyalip berada didepannya sebagai spasi agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dan strategi itu memang jitu, buktinya Kunto sebagai pengemudi yang sesekali melihat jalan di depan samping dan belakang melalui kaca spionnya tidak mengetahui kalau ada kendaraan sedang membuntutinya semenjak keluar dari rumah Guntur dan bahkan tidak menaruh rasa curiga sedikit pun pada kendaraan di belakangnya yang dikiranya tidak mempunyai maksud terselubung. Apalagi dengan Guntur maupun Vina yang hanya fokus melihat pemandangan didepannya saja sehingga mereka sama sekali tidak ada yang menyadari kalau mobilnya sedang diikiti dan menjadi sasaran target.
“Kun sarapan dulu lah, terserah mau berhenti di rest area atau keluar tol dulu juga nggak apa-apa. Nyari yang tempatnya enak Kun,” kata Guntur.
“Gimana kalau sarapannya di Cirebon Gun, kita makan nasi Jamblang. Udah pada pernah makan nasi Jamblang belum?” Tanya Kunto.
“Boleh dicoba tuh Kun. Kalau kamu Vin, udah pernah?” ujar Guntur menoleh kebelakang.
“Belum pernah pak,” jawab Vina sambil tersenyum.
Kunto memperhatikan wajah Vina dari kaca spion tengah mobil dengan tatapan penuh makna.
“Perhatikan jalan didepan, bukan memperhatikan orang yang ada di spion, keriting!” seru Guntur sengaja karena mengetahui gerak-gerik Kunto yang sedang melihat Vina dari spion.
“Ehhh,” Kunto gelagapan merasa aksinya ketahuan.
Vina reflek langsung melihat kearah kaca spion, tapi secepat kilat Kunto mengalihkan pandangannya kedepan. Vina senyum-senyum melihat kelakuan Kunto.
Beberapa lama kemudian sekitar satu jam setengah mereka sudah melaju di jalur tol Cipali setelah sebelumnya sempat mengantri panjang ketika hendak memasuki pintu tol di daerah Cikampek untuk berganti jalur tol. Dari tol Cipali menuju Semarang diperkirakan butuh waktu kurang lebih 2.5 jam. Dengan adanya jalan tol ini sangat diuntungkan sehingga dapat memangkas waktu tempuh.
"Nasi Jamblang atau empal Gentong Gun?" Tanya Kunto memberikan pilihan lagi saat mobil akan mengambil jalur keluar tol.
"Terserah lu aja deh Ting, yang pasti jamblang ataupun gentong gua belum pernah semua," sahut Guntur sambil membetulkan duduknya.
Kunto memutuskan untuk singgah dulu di kota yang dijuluki Kota Udang itu untuk mengisi perut. Mobil pun keluar dari jalan tol melewati pintu keluar tol Plumbon Cirebon.
Sementara itu mobil sedan berwarna hitam masih terus mengikuti mobil Guntur. Namun kali ini mobil yang membuntuti itu jaraknya tidak terlalu jauh ketika mengetahui mobil yang di naiki Guntur berbelok keluar dari tol.
"Boss, kok target keluar tol?" Tanya salah satu lelaki berbadan besar dengan tampang sangar penuh dengan berewok yang duduk di kursi belakang.
__ADS_1
"Nggak tau Cil, kita ikuti saja!" sahut lelaki yang duduk disebelah sopir.
"Apakah mereka lewat jalur pantura ya Bos? Kalau begitu berarti ŕencana kita berubah," sela lelaki yabg pegang kemudi.
"Sementara kita ikuti saja dulu sambil kita memikirkan plan B jika benar mereka tidak melalui jalan tol." kata lelaki yang dipanggil boss yang duduk disebelahnya.
Sekitar 20 menitan setelah keluar Tol dan melaju di jalan provinsi yang mengarah ke Cirebon kota, Kunto menepikan mobilnya lalu berhenti dipinggir jalan depan sebuah rumah makan bertuliskan "RM. EMPAL GENTONG H. APUD". Ketika mobil sudah berhenti pada posisi parkirnya tiba-tiba nongol tukang parkir didepan mobil.
"Anjriit! kaya jelangkung nih tukang parkir. Datang tak diundang tiba-tiba nongol aja, dari tadi kemana aja lu bro," gerutu Kunto melihat tukang parkir itu langsung mengangkat tangannya.
"Ya emang gua sudah berhenti dari tadi!" Kunto ngedumel kesal melihat ulah tukang parkir.
Guntur dan Vina tertawa saja melihat kekesalan Kunto yang terus menerus ngedumel. Kemudian tukang parkir berompi orange itu langsung berlalu menyongsong mobil sedan hitam yang datang menepi.
Mereka bertiga kemudian turun memasuki rumah makan empal gentong itu. Mereka langsung disambut asap dari pembakaran pada gentong yang menggunakan kayu bakar dan sudah menjadi khas tersendiri. Sebab empal gentong Cirebon memang benar-benar memakai gentong sebagai tempat memasak daging dan kuah empalnya. Suasananya sangat ramai oleh pengunjung atau mungkin karena akhir pekan juga.
Mobil sedan hitam juga perlahan menepi tetapi mengambil posisi melewati mobil Guntur. Seorang juru parkir terus melambai-lambai mengarahkan parkir lalu mengangkat tangannya, "Stop!".
"Boss rupanya mereka mampir buat makan. Gimana boss apa kita ikut turun juga?" tanya lelaki yang memegang kemudi, didalam hatinya berharap ikut turun karena lapar juga.
"Tiba-tiba saya laper boss, hehehe," celetuk salah satu lelaki kurus yang duduk di kursi belakang sambil cengengesan.
Si boss langsung menoleh kebelakang menatap dua orang yang ada di kursi tengah, "Kamu Cil, lapar juga?"
"Hehehehe... iya boss," sahutnya.
"Kamu Bloh?" Tanya si Boss pada lelaki yang nyetir.
"Hehehehe... sama," sahutnya.
"Oke lah, ayo turun!" kata si Boss.
Empat orang laki-laki membuka pintu masing-masing dikedua sisi nris bersamaan. Lalu keempat lelaki betinggi badan nyaris sama sekutar 1.80 cm itu turun dan berjalan menuju rumuah makan tersebut. Berjalan didepan lelaki sebagai boss berbadan tegap memakai memakai kaca mata hitam mengenakan topi dan jaket kulit cokelat yang menyembunyikan badannya yang berotot, disampingnya lelaki berewok berbadan besar juga memakai jaket kulit hitam namun berbeda modelnya dengan si boss. Sedangkan berjalan dibelakangnya dua orang lelaki yang satu berbadan gemuk berkepala pelontos tertutupi topi memakai kaos oblong warna merah dan satunya berbadan kurus memiliki sedikit tato dilengan kirinya bergambar belati juga memakai kaos hitam.
__ADS_1
Keempat lelaki itu mengambil tempat duduk dideretan sudut berjarak tiga baris meja dari meja Guntur, Kunto dan Vina. Keempatnya tak banyak bicara, namun matanya terus memperhatikan rombongan Guntur dari balik kaca mata hitamnya.
Semnetara itu di meja rombongan Guntur, Guntur dan Vina duduk beriringan sedangkan Kunto duduk sendirian menghadap Guntur dan Vina sekaligus menghadap posisi keempat lelaki tadi duduk. Sambil menunggu pesanan datang, Kunto mengabadikan momen sarapan itu dengan berselfi beberapa kali.
"Senyum dong boss... kayak Vina tuh manis senyumanya," ucap Kunto kemudian mengambil gambar.
Cekreekkk...!
Cekreekkk...!
Cekreekkk...!
"Halah, ngerayu teruuuusss..." sungut Guntur.
"Hehehehe..." Kunto mesem-mesem aja.
Vina hanya tersenyum saja melihat tingkah Kunto. Dirinya memahami upaya Kunto yang terus menerus memujinya ada maksud udang dibalik rempeyek. Vina melirik Kunto sekilas lalu menunduk lagi melihat-lihat hapenya sendiri entah pura-pura atau tidak.
"Wah, keren-keren nih," ujar Kunto kemudian memperlihatkan hasil jepretannya.
"Lihat, lihat..." ujar Vina antusias.
"Wah, iya. Coba lihat pak," kata Vina menyodorkan hape yang diulurkan Kunto.
Guntur menerimanya malas-malasan, dia tak begitu suka dengqb selfi-selfi. Namun Guntur melihat juga hasil jepretan foto tadi. Beberapa kali Guntur menggeser-geser bebrapa foto, wajahnya sedikit mengerut melihat foto-foto di hape itu.
"Kenapa pak?" Tanya Vina heran melihat ekspresi Guntur.
"Kenapa boss?" timpal Kunto.
"Ah jelek lah. Lihat tuh latar belakangnya, serasa berada ditèngah-tengah pasar bareng preman pasar yang sedang rapat, hikhikhik..." seloroh Guntur.
Kemudian Vina dan Kunto mengambil hape ditangan Guntur lalu ikut mencermatinya. Beberapa saat kemudian Vina dan Kunto tertawa.
__ADS_1
"Hahahaha... iya, iya..." ujar Vina dan Kunto saling menimpali.
......................