TITISAN

TITISAN
RENCANA JAHAT


__ADS_3

Tok... Tok.. Tok...


"Masuk..." sahut Gutur dari kursi kantornya yang besar.


"Permisi pak," ucap seorang pria setengah baya begitu membuka pintu ruang kantor.


"Silahkan duduk pak Iwan," ucap Guntur.


"Makasahi pak," balas pak Iwan.


"Gimana hasil pertemuan dengan kliennya pak?" tanya Guntur begitu pak Iwan sudah duduk diseberang mejanya yang lebar.


"Alhamdulillah lancar sesuai dengan yang pak Guntur sarankan dan semua klien-klien kita sangat tertarik dengan terobosan dan gagasan bapak," ucap pak Iwan kemudian menyodorkan berkas.


"Syukurlah," ucap Guntur kemudian memeriksa berkas-berkas yang disodorkan pak Iwan.


Beberapa proyek besar bernilai ratusan miliyar sudah 99% ada ditangan. Proyek kakap berhasil digaet perusahaan Guntur, proyek tersebut didapatnya berkat gagasan cemerlang pemikiran kreatif dan kecerdasan Guntur yang membuat klien-kliennya sangat tertarik. Semua gagasan itu bukan hanya memberikan keuntungan bagi duta klien secara pribadi yang mewakili perusahaan-perusahaan mereka, namun juga berhasil meyakinkan dengan menunjukkan beberapa teknologi canggih yang akan menunjang pembuatan pabrik-pabrik transportasi dan elektronik sèhingga tidak membutuhkan waktu lama dalam pengerjaannya nanti.


Semua proyek-proyek yang tangani perusahaan yang sekarang ditangani Guntut Satriaji tidak satupun proyek yang bersumber dari proyen negara. Guntur sangat menjaga apa yang sudah dijalankan papahnya yang sangat menghindari proyek-proyek dari kementrian apapun. Itu salah satu komitmen papahnya untuk menghindari sandungan-sandungan yang akan muncul dikemudian hari. Tidak seperti perusahaan-perusahaan lain yang terkesan jorok kebanyakan asal dapat proyek saja hingga pada akhirnya ikut terseret kedalam penyeledikkan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ketika terendus ada indikasi korupsi.


"Terima kasih pak iwan, dan ini saya kasih bonus atas keberhasilan pak Iwan mendapatkan proyek besar ini." ucap Guntur menyodorkan amplop coklat yang terlihat tembal.


Pak Iwan mengambil amplop itu lalu membukanya sedikit lalu berkata; "Wow banyak sekali pak Guntur," ucap pak Iwan melotot menatap segepok uang yang terikat kertas berlogo bank.


"Itu sepuluh juta pak, ya itung-itung uang bensin, nanti ada bonus lagi ketika proyek selesai dikerjakan," ucap Guntur.


"Terima kasih banyak pak Guntur, o iya minggu depan rencananya Mr. Hiroshi akan berkunjung untuk meninjau lokasi pak," ucap pak Iwan.


"Okay, biar nanti Vina yang mengatur jadwalnya," ujar Guntur.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi kembali ke ruangan saya," ucap pak Iwan dengan senyum sumringah kemudian keluar dari ruangan kerja Guntur.


Para karyawan yang melihat pak Iwan keluar dari tuangan Guntur dengan wajah sumringah sambil menepuk-nepuk amplop cokelat ditangannya namun mereka juga melihat ada sorot kelicikkan dari matanya sehingga didalam hati mereka timbul kecurigaan. Mereka hanya menyimpannya dalam hati sambil mengerutkan dahinya dalam-dalam.


"Ini baru permulaan saja sudah menghasilkan uang banyak, apalagi menyingkirkannya." kata pak Iwan dalam hati sambil melangkah menuju ruangannya.


Pak Iwan tidak menyadari kalau semua karyawan sedang memperhatikannya dengan diam-diam. Dia terus saja berjalan menunduk sambil menepuk-nepuk amplop berisi uang itu. Tak berapa lama pak Iwan masuk kedalam ruangannya tanpa mengetahui kalau dirinya sedang diperhatikan oleh karyawan yang berada di area work yang dia lewati.


Pak Iwan melemparkan amplop coklat berisi uang itu keatas mejanya. Kemudian ia duduk di kursi besarnya lalu mengangkat kakinya diletekkan diatas meja. Diambilnya sebatang rokok kretek merek 123 dari dalam laci kemudian disisipkannya dibibir hitam tebalnya dan menyalakannya. Lalu dihisapnya dalam-dalam sesaat berikutnya dihembuskannya kuat-kuat.


"Saya harus meminta bantuan Baron dan teman-temannya untuk menjalankan rencana ini mumpung waktunya masih cukup lama satu minggu kedepan." gumam pak Iwan menyandarkan punggungnya.


Pak Iwan merogoh ponselnya lalu membuka layar mencari kontak sejenak. Senyumnya mengembang seiring memencet nomor kontak yang dicarinya setelah ketemu. Tak menunggu lama suara diseberang telpon terdengar menyahut.


"Ya, hallo Bar. Kamu ada dimana sekarang?" tanya pak Iwan.


"Oh, oke, oke setengah jam lagi pulang kantor saya langsung meluncur ke TKP," ujar pak Iwan membalas ucapan Baron diseberang telpon kemudian kembali mendendarkan suara Baron.


......................


Sore hari suasana jalanan kota Bandung seperti biasa padat merayap di jalan Ir. H. Juanda. Sebab jam-jam sore merupakan jam pulang kantor sama seperti pagi hari sebelum jam 7 jalan juga sama padatnya. Jam berangkat kerja dan jam pulang kerja itu menjadi nuansa setiap hari yang harus dijalani oleh para pengguna jalan. Terkecuali hari-hari libur seperti hari minggu atau tanggal merah kepadatan jalanan tidak berada pada pagi dan sore, justru kepadatan lalu lintas terjadi sepanjang hari karena kebanyakan dipadati oleh kendaraan-kendaraan pribadi berplat luar kota.


Dalam hati Guntur mengeluhkan kepadatan arus lalu lintas. Sebetulnya lebih cepat mengendarai kendaraan roda dua ketimbang menaiki mobil, tetapi mubazir juga jika mobil peninggalan papahnya tidak dipakai. Guntur sore itu berniat menemui pak Suro kembali untuk mengabarkan sekaligus memastikan kapan memboyong pak Suro pindah menempatu rumah mess kantor perusaahannya.


Butuh waktu sekitar 45 menitan untuk sampai ke tempat pak Suro menggelar lapak buku bekasnya. Guntur memarkirkan mobilnya didalam parkiran mall Bandung Indah Plaza. Sebelum belok memasuki parkiran di lantai bawah, Guntur sempat melihat lapak pak Suro yang kelihatannya sedang sepi pengunjung dan tidak melihat pak Suro disana.


Cepat-cepat Guntur melangkah meninggalkan parkiran menuju ketempat pak Suro. Tak lama kemudian ia sampai di lapak pak Suro namun tidak ada pak Suro ditempat biasanya ia duduk melayani pengunjung.


"Kemana pak Suro ya?" Gumam Guntur celingukkan mencari pak Suro.

__ADS_1


Matanya tertuju pada penjual buku bekas lainnya, Guntur kemudian beranjak ke lapak yang disebelah pak Suro yang berjarak 5 meteran itu bermaksud untuk menanyakannya. Namun tiba-tiba terdengar suara teriakkan dari belakangnya.


"Guuuun...!"


Guntur mengurungkan melanjutlan langkahnya, ia membalikkan badannya. Dikejauhan pak Suro dan Adi sedang berjalan cepat-cepat. Guntur tersenyum melihat keduanya. Tak lama kemudian pak Suro dan Adi pun sampai di lapaknya, keduanya langsung bersalaman.


"Darimana pak?" tanya Guntur menjabat tangan pak Suro dan Adi.


"Habis makan di warteg disebelah situ Gun. Kamu sudah makan belum, nanti biar Adi belikan," ucap Pak Suro.


"Udah, udah pak makasih," balas Guntur.


"Ayo duduk Gun," ujar Pak Suro mengahak Guntur duduk diatas terpal yang menjadi alas jualannya.


"Pak, saya lanjutin mangkal dulu. Permisi A Guntur," sela Adi kemudian mengambil koran yang menumpuk diatas buku-buku jualan pak Suro.


"Oh iya Di, semoga cepat habis ya..." ucap Guntur sembari mengelus kepala Adi sebelum meninggalkannya.


"Gimana hari ini jualannya pak, ramai?" tanya Guntur mendudukkan diri disebelah pak Suro.


"Yah lumayan Gun, tadi ramai banget," jawab pak Suro.


"O iya pak, saya mau mengabari kalau besok lusa bapak bisa mulai pindah pak menempati rumah kantor," ucap Guntur.


Pak Suro tertegun mendengar kabar dari Guntur itu. Dirinya tidak menyangka akan secepat itu akan meninggalkan rumah kontrakkan dan lapaknH yang sudah lama memberinya kehidupan.


"Wah, bapak harus cepat-cepat memberesi barang-barang di rumah Gun. Nggak nyangka akan secepat ini," ucap pak Suro.


"Iya pak, pegawai sebelumnya sudah keluar kemarin pak, dia mengundurkan diri untuk pulang kampung. Jadi sekarang sudah kosong," terang Guntur.

__ADS_1


"Satu lagi pak, bapak bisa langsung jualan buku juga kiosnya sudah siap pak," ucap Guntur.


......................


__ADS_2