TITISAN

TITISAN
KENAPA KI ?


__ADS_3

Haji Abas tak menjawab pertanyaan- pertanyaan dari Udin, pak RT Parno dan para ustad, ia terus saja berkonsentrasi mencari tanda- tanda kehidupan di tubuh Ki Wayan.


Kemudian telapak tangan haji Abas berpindah ditempelkan diatas dada Ki Wayan. Haji Abas sangat penasaran bercampur cemas segera merobek baju Ki Wayan yang basah akibat keringat.


“Cepat ambilkan air minum!” Seru haji Abas.


Salah seorang ustad paling muda yang semula jongkok turut melihat keadaan Ki Wayan, langsung beranjak pergi mengambil air yang diminta haji Abas.


“Bagaimana pak haji?!” sela Udin dengan wajah panik.


Haji Abas tak langsung menjawab, ia terlihat sedang memastikan kondisi Ki Wayan dengan menekan telapak tangannya di dada kiri Ki Wayan.


“Alhamdulillah... Ki Wayan masih bernafas,” jawab haji Abas menghela nafas panjang.


Tak lama kemudian datang ustad yang tadi mengambil air minum, lalu menyodorkannya pada haji Abas sebotol air mineral berukuran sedang.


Haji Abas menerima botol air mineral itu lalu segera membuka tutup botolnya. Ia nampak membacakan sesuatu kemudian ditiupkannya kearah dalam botol mineral tersebut dan meminumkannya pada Ki Wayan.


Akan tetapi air yang diminumkan itu sedikit tumpah membasahi sekitar mulut dan dagu Ki Wayan akibat mulut Ki Wayan yang sulit di buka. Bibir Ki Wayan menutup rapat seperti terkunci kaku.


“Mang Udin, tolong bantu bukakan mulut Ki Wayan ya,” pinta haji Abas.


“Muhun pak haji,” Udin langsung beralih posisi disebelah kanan tubuh Ki Wayan yang tergolek diatas rerumputan.


Udin berupaya keras membuka mulut Ki Wayan dengan susah payah. Sebentar mulut Ki Wayan dapat dibuka tetapi sebentar kemudian kembali mengatup tertutup rapat.


“Pak RT, tolong bantu mang Udin,” ujar haji Abas.


“Tarik dagunya pak RT,” timpal Udin yang menekan bagian kedua pipi Ki Wayan yang nampak keriput.


Pak RT Parno pun menuruti permintaan Udin, ia segera memegang dagu Ki Wayan yang berjenggot dengan sedikit dipaksakan.


Perlahan- lahan mulut Ki Wayan terbuka, haji Abas pun segera menuangkan air dalam botol itu ke mulut Ki Wayan.


Meskipun sebagian besar air mineral itu tumpah berceceran kemana- mana, tetapi masih ada sebagian air mineral itu berhasil masuk kedalam mulut Ki Wayan.


Haji Abas kemudian menuangkan setengahnua air mineral yang tinggal seperempat botol itu ke telapak tangannya kemudian ia memercik- mercikkannya ke wajah Ki Wayan. Dan sebagian lagi air mineral yang tersisa ia usapkan pada kepala Ki Wayan.

__ADS_1


Wajah -wajah tegang bercampur harap- harap cemas nampak terlihat jelas di wajah haji Abas, Udin dan yang lainnya.


Beberapa saat suasana hening seketika, mereka semua terdiam membisu menunggu dan berharap Ki Wayan tersadar dari pinsannya. Semua mata tertuju pada wajah tua Ki Wayan dengan cemas.


Suasana yang semua senyap itu tiba- tiba dikagetkan oleh tubuh Ki Wayan yang mendadak tersentak bangkit duduk.


Haji Abas serta yang lainnya terkejut bukan main, ketika melihat Ki Wayan secara tiba- tiba terduduk.


“Astagfirullah!” pekik mereka bersamaan.


Mata Ki Wayan celingukkan, ia melirik kesana kemari dengan liar, nafasnya pun terdengar tersengal- sengal. Di wajahnya terlihat jelas masih menyiratkan ketakutan yang teramat sangat.


“Genderuwo...! Genseruwo...!” teriak Ki Wayan histeris.


“Ki eling Ki, eling...!” sergah Udin menepuk- nepuk pundak Ki Wayan.


“Istigfar Ki...!” timpal haji Abas.


“Iya Ki, istigfar! Eling!” sela pak RT Parno.


KI Wayan lalu memutar- mutarkan kepalanya melihat kesekelilingnya. Sementara Udin tak henti- hentinya mengingatkan Ki Wayan untuk sadar.


“Udin....?” gumam Ki Wayan lirih.


Lalu dilihatnya pak RT Parno berjongkok di hadapannya dan terakhir menoleh kearah haji Abas yang berjongkok di sebelah kirinya bersama tiga orang ustad.


“Ustad ambilkan air minum lagi!” pinta haji Abas.


“Tenang... tenang Ki... Gunderuwo itu sudah nggak ada,” ucap haji Abas.


Ki Wayan reflek celingukkan seperti mencari sesuatu ketika mendengar haji Abas menyebutkan ‘Genderuwo’. Di wajahnya kian mengerutkan kecemasan dan ketakutan.


“Apa yang terjadi Ki?! Kenapa bisa sampai berada dibawah pohon beringin dan pinsan?!” Tanya Udin penasaran.


Mulut Ki Wayan nampak bergerak- gerak hendak berucap, namun disaat bersamaan ustad yang mengambilkan air minum itu datang dan memberikan botol air mineral. Sehingga Ki Wayan mengurungkannya.


“Ini Ki minum dulu biar tenang,” ucap haji Abas mengulurkan botol air mineral yang telah dibuka tutupnya lebih dulu.

__ADS_1


Ki Wayan menerima botol air mineral yang diulurkan haji Abas dan langsung meminumnya dengan tergesa- gesa layaknya orang yabg sangat kehausan sekali.


Glek... glek... glek... glek... glek... glek...


“Ahhhh....” decak Ki Wayan usai menuntaskan tegukkan terakhirnya, kemudian mengusap lelehan air yang membasahi dagunya.


Ki Wayan meminumnya tanpa berhenti sekalipun hingga air didalam botol itu tandas.


Haji Abas dan yang lainnya hanya memperhatikan dengan melongo melihat tingkah Ki Wayan.


“Ki kenapa bisa sampai seperti ini?!” tanya Udin memecah keheranan semuanya.


“Iya Ki, gimana kejadiannya?!” timpal pak RT Parno.


Dahi Ki Wayan mengerut dalam- dalam mengingat- ingat peristiwa sebelumnya. Ia celingukkan pandangan matanya menyapu sekeliling melihat- lihat dari satu objek ke objek lainnya.


Ki Wayan mendongakkan kepalanya melihat rimbunan dedaunan beringin, kemudian dialihkan pandangannya kearah tempat sebelumnya Udin memanggang daging gagak.


Ingatannya mulai menampilkan kejadian demi kejadian secara utuh dan yang terakhir diingatnya adalah sebuah hujaman telapak tangan besar datang dari atas kepalanya.


Saat tangan Karbala meluncur deras memantek tubuh dirinya, secara reflek dirinya bergerak melompat kebelakang sambil bergulingan menghindari hantaman itu.


Di saat itu dirinya masih mendengar suara dentuman keras, bersamaan itu Ki Wayan merasakan tubuhnya terhempas keras melayang hingga menabrak batang pohon beringin dengan telak.


Pandangannya seketika gelap gukuta setelah tubuhnya membentur batang pohon beringin dan sempat merasakan sakit yang luar biasa. Dan setelah itu Ki Wayan sudah tidak ingat apa- apa lagi.


Setelah rentetan kejadian itu sudah lengkap diingat didalam kepalanya, Ki Wayan hendak menceritakannya pada haji Abas serta yang lainnya.


Akan tetapi mulut Ki Wayan yang baru saja terbuka hendak menceritakannya, seketika diurungkannya. Ki Wayan menutup mulutnya rapat- rapat setelah secara tiba- tiba muncul hembusan angin datang dari arah rerimbunan pohon Beringin.


Hempasan angin itu menerpa Ki Wayan dan yang lainnya dengan sangat kuat. Hingga membuat mereka semua limbung di tempatnya berjongkok yang sesang mengerubungi Ki Wayan.


Beberapa detik setelah kemunculan angin, terdengar sebuah suara yang tidak asing di telinga Ki Wayan dan mereka semua.


Seketika wajah mereka semua terkesiap memucat. Tanpa sadar mereka semua beringsut dari tempatnya semula berusaha menjauh dari bawah pohon beringin.


Ki Wayan serta yang lainnya kontan menolehkan wajahnya kearah rimbunan pohon beringin dengan mata membelalak.

__ADS_1


......................


BERSAMBUNG...


__ADS_2