
"Mah... mamah..." seru Guntur.
Mamah Karmila terlihat masih mematung menghadap pintu gerbang yang barusan ditutup oleh Guntur. Matanya menatap nanar dan kosong pikirannya dipenuhi memori-memori terkutuk yang membuatnya merasa menanggung beban berat didalam batinnya.
"Mah, mamah!" Guntur mengeraskan suaranya disamping Mamah Karmila sambil mengguncang-guncangkan bahunya.
"Ehh, i, iya Gun. Ayo masuk," jawab Mamah Karmila sekenanya.
Seketika mamah Karmila tersentak gelagapan keluar dari lamunannya. Dia menoleh tergagap melihat Guntur yang sedang menatapnya dengan dahi berkerut dalam-dalam.
"Mamah kenapa? Dari tadi mamah memandang kedepan terus tak berkedip," tanya Guntur.
"Ng.. nggak apa-apa Gun, ayo," ucap mamah Karmila kemudian merangkul pundak Guntur mengajaknya masuk rumah.
Di ruang tamu yang lumayan luas tempat menggelar tahlilan terlihat Kunto sedang menggulung karpet merah yang terakhir saat Guntur dan mamahnya masuk. Baru dua langkah melewati pintu tiba-tiba terdengar teriakan dari arah dapur.
"Aaaaaaaaakkkkhhh...!!!"
Guntur, mamah Karmila dan Kunto terkesiap kaget lalu bergegas berlari menuju arah sumber suara. Guntur yang duluan tiba di dapur mendapati bi Sum tengah meringkuk memeluk lututnya disudut dapur. Tubuhnya gemetaran, bi Sum nampak sangat ketakutan dengan mata terbelalak menatap jendela dapur.
"Kenapa bi?!" seru Guntur tertegun melihat kondisi bi Sum yang gemetaran.
"I, i, ittttu!" Jawab bi Sum sambil menunjuk kearah jendela.
Guntur bergegas melangkah kedekat jendela, pandangannya diedarkan keluar jendela. Namun terlihat hanya pepohonan dan tanaman-tanaman beragam bunga yang diterangi lampu disudut taman. Tidak ada sesosok apapun diluar jendela sana.
"Nggak ada apa-apa bi!" seru Guntur.
"Ada apa Gun?!" tanya Kunto sesampainya di dapur.
"Kenapa bi?!" Songsong mamah Karmila yang muncul setelah Kunto dan melihat bi Sum terduduk gemetaran.
Mamah Karmila langsung membangunkan bi Sum dan membimbingnya keluar dari ruang dapur. Sementara Kunto turut melongokkan kepalanya keluar jendela disamping Guntur.
__ADS_1
"Ada apa sih Gun?" Tanya Kunto penasaran.
"Nggak tau bi Sum, nunjuk nunjuk ke jendela. Dia seperti ketakutan banget," jawab Guntur yang juga masih penasaran berulang-ulang mengedarkan pandangannya ke taman samping diluar dapur.
"Nggak ada apa-apa Gun," ujar Kunto.
"He eh, ya udah kita tanya ke bi Sum Kun." ucap Guntur kemudian menutup jendela dapur dan menguncinya.
Di ruang tengah kondisi bi Sum terlihat sudah sedikit tenang namun nampaknya masih syok dengan kejadian yang dialaminya. Hal itu terlihat dari sorot matanya yang begitu tegang melirik kesana kemari.
"Minum dulu bi," ucap mamah Karmila menyodorkan segelas air putih.
Bi Sum meraih gelas dari tangan mamah Karmila dengan gemetaran lalu segera meminumnya. Suara tegukkan demi tegukkan terdengar jelas sampai air minun itu tandas masuk mendinginkan kerongkongannya.
"Bi Sum tadi kenapa?" Tanya Guntur lembut agar meredam ketegangan suasana.
Guntur dan Kunto kemudian langsung duduk didepan bi Sum yang nampak sudah lebih tenang. Nafasnya tidak lagi terengah-engah seperti habis berlari sejauh puluhan kilo meter, gemetarannya pun sedikit mereda.
Ada rasa takut bi Sum menyebut adanya sosok mahluk hitam itu, bulu kuduknya meremang bersamaan ia menyebut sosok mahluk itu. Kemudian bi Sum menutup wajahnya dengan kedua tangan seolah- olah ada kengerian sehingga ia tak mau lagi untuk membayangkan wajah sosok hitam itu.
Mamah Karmila nampak tertegun mendengar penuturan bi Sum, didalam hatinya sangat yakin apa yang dilihat oleh bi Sum itu mahluk yang tak asing baginya. Batinnya langsung menyebut sebuah nama, "KARBALA!".
Mengingat sosok Karbala membuat mamah Karmila terdiam dengan wajah membesi. Selama ini dirinya menerima kehadiran sosok mahluk gaib itu dengan sebang hati dan merasa dapat menjadi sosok pengisi kehampaan batiniyahnya. Akan tetapi setelah Aryo meninggal dirinya terbebani rasa bersalah dan harus menanggung persaan dosa besar telah menghianati suaminya. Kini hatinya sudah diliputi rasa kebencian yang teramat sangat terhadap Karbala.
Guntur dan Kunto nampak masih bingung karena yang dikatakan bi Sum tidak dijumpainya saat memeriksa di luar jendela. Namun didalam hati kecil Guntur sudah menduga-duga kalau sosok hitam yang dilihat bi Sum adalah sosok yang sama yang pernah muncul didalam kamarnya dan didalam mimpinya.
"Saya pulang sekarang aja ya bu," ucap bi Sum memecah keheningan sekaligus membuyarkan lamunan mamah Karmila dan Guntur yang memikirkan sosok yang sama.
"Bi Sum tidur disini aja menemani saya ya," ucap mamah Karmila.
"Iya bi, udah mau jam sebelas bi. Udah malam," timpal Guntur.
"Punten pisan bu, mas Gun saya benar-benar takut dengan yang tadi saya lihat. Saya pulang aja ya, masih banyak angkot ko..." ujar bi Sum memaksa untuk pulang.
__ADS_1
"Tapi, bi Sum tidak kenapa-kenapa?" Tanya mamah Karmila memastikan kondisi bi Sum.
"Saya nggak apa-apa bu, sekarang sudah mendingan sudah nggak lemas lagi," ucap bi Sum.
Mamah Karmila dan Guntur tidak bisa menahannya lagi, keduanya lantas membantu bi Sum berdiri dari duduknya. Beberapa saat setelah mengemasi tas jinjingnya bi Sum pun beranjak melangkah keluar untuk pulang.
"Bi, bi sebentar... Kun tolong ambilkan besek buat bi Sum," kata mamah Karmila pada Kunto.
Kunto membawakan dua kantong besek sisa tahlilan tadi dan memberikannya pada bi Sum. Meskipun jarak rumah bi Sum tidak terlampau jauh namun tetap menaiki angkot karena sudah larut malam. Walau suasana jalananan kota Bandung tak pernah sepi tetapi sangat riskan kalau seorang perempuan jalan kaki sendirian ditengah malam.
......................
Malam sudah semakin larut menunjukkan pukul 1.15 wib. Didalam kamarnya, Guntur nampak gelisah tak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Sosok mahluk yang menghantui bi Sum menjadi penyebabnya ia tak bisa tidur. Terlintas prasangka buruk terhadap mahluk gaib itu kalau papahnya meninggal karena ulahnya. Papah dan mahluk gaib itu merupakan rangkaian misi yang sudah direncanakan Guntur jauh-jauh hari sebelumnya.
Guntur ingin mengungkap kenapa papahnya jarang sekali pulang dan seperti tidak mau tinggal di rumah ini. Kemudian tentang mahluk gaib itu sebelumnya Guntur sudah menarik benang merahnya kalau papahnya sama sekali enggan tinggal di rumah akibat ada campur tangan dari mahluk itu. Keyakinan kesimpulannya itu muncul setelah dirinya mendapatkan mimpi yang menyebut dirinya sebagai anaknya oleh suara besar dan sember yang jelas-jelas bukan suara papahnya. Ditambah lagi pemilik suara didalam mimpi itu muncul didalam kamarnya dengan wujud menyeramkan sama persis seperti yang dilihat oleh bi Sum yang juga mengatakan hal yang sama kalau dirinya adalah bapaknya.
Meninggalnya papahnya bukan malah mengurangi misinya untuk mengungkap misteri itu. Justru kini upaya Guntur untuk mengungkap misteri yang ada di rumahnya kian bertambah. Semula ia tidak mengaitkannya sama sekali dengan mamah Karmila, kini mamahnya masuk dalam bidikkan penyelidikkannya. Namun Guntur merasa semakin menemukan titik terang jalur penelusurannya karena kunci jawabannya ada pada mamahnya.
......................
Didalam kamarnya, mamah Karmila juga belum dapat memejamkan matanya meski waktu sudah menunjukkan pukul 2.10 wib dinihari. Rasa benci terhadap Karbala merasuki segenap pikirannya, Karmila pun berprasangka sama dengan Guntur kalau Aryo meninggal akibat perbuatan Karbala. Kalau Guntur tidak memiliki alibi terhadap tuduhan mahluk gaib itu tetapi tidak dengan mamah Karmila. Karmila memiliki alasan kalau meninggalnya Aryo itu agar mahluk gaib bernama Karbala dapat memiliki dirinya seutuhnya.
......................
🔴BUTUH SUPORT NIH,
✅LIKE
✅KOMEN
✅RATE
🔴DITUNGGU JEJAKNYA YAAAAA...
__ADS_1