
Meski pun Guntur dan mamah Karmila tidak saling buka mulut menceritakan mimpinya masing- masing, akan tetapi di dalam hatinya sama- sama timbul memiliki tujuan yang sama, yakni mencegah penebangan pohon beringin!
Saat ini Guntur dan mamah Karmila hanya bisa mengikuti alur situasi sedang berlangsung sambil terus mengamati dan menyamakan situasi mimpi dengan situasi selanjutnya yang akan terjadi.
Guntur mencoba mengingat- ingat mengurutkan rangkaian peristiwanya setelah melihat mendung yang tiba- tiba tebal menaungi langit di atas rumah Tahfiz. Sambil terus menerus memikirkan mencari- cari celah yang tepat untuk membuat tindakkan untuk mencegah Ki Wayan gagal menebang pohon Beringin.
Guntur memperhatikan langkah Ki Wayan, haji Abas beserta yang lainnya sudah berbelok dan telah sampai di belakang rumah tahfiz.
“Mereka pasti berkumpul dan berdiri dibawah kanopi seperti yang ada dalam mimpi,” batin Guntur menyamakan dengan yang dilihatnya dalam mimpi.
Sementara Guntur dan mamah Karmila sendiri berjalan dibelakang rombongan Ki Wayan, tertinggal 5 langkah di belakangnya.
Sebwlum sampai di pojok belakang rumah, tiba- tiba Guntur menghentikan langkahnya. Ia menongok kebelakang, teringat dengan satu adegan dimana Karbala menikmati panggangan daging gagak yang diumpankan Ki Wayan.
Pandangan Guntur mencari posisi saat Karbala memakan panggangan daging gagak. Lalu pandangan matanya berhenti pada satu posisi yang diperkirakan Karbala akan berada di tempat itu saat pohon beringin di tebang.
“Hmm, ya ya ya...” batin Guntur dengan kepala manggut- manggut.
“Gun, kenapa berhenti?! Ayo jalan...” sergah mamah Karmila mengerutkan kening keheranan sambil mencolek lengan Guntur.
Guntur kontan sedikit tersentak membuyarkan ide nya yang baru saja muncul di kepalanya.
“Mah, mah... sebaiknya kita pamit saja sekarang,” ucap Guntur tiba- tiba.
“Pamit?! Maksudmu kita pergi dari sini?!” sergah mamah Karmila menunjukkan penolakkan.
Mamah Karmila nampak tidak setuju dengan ajakan Guntur untuk pamit pergi dari rumah ini. Rupanya di dalam pikirannya, sudah memiliki perkiraan sendiri yang sekaligus yang akan dapat menggagalkan penebangan pohon beringin itu.
“Gawat! Kalau pergi dari sini, berarti kejadian dalam mimpi itu akan menjadi kenyataan. Bagaimana ini?!” batin mamah Karmila.
“Tapi, Gun...”
“Udah pokoknya mamah ikuti saja ya?! Kita pamitan sekarang sama pak haji dan yang lainnya," sergah Guntur meyakinkan mamahnya.
__ADS_1
Mamah Karmila nampak ragu- ragu. Didalam hatinya sangat keberatan meninggalkan tempat itu karena ia tak ingin pohon beringin berhasil di tebang sehingga membuat Karbala begitu nelangsa melihatnya.
Namun jauh di lubuk hati mamah Karmila yang paling di khawatirkannya adalah kemurkaan Karbala. Mamah Karmila merasa ngeri membayangkan akibatnya oleh kemarahan Karbala andai peristiwa dalam mimpi itu terjadi.
Kali ini Guntur dan mamah Karmila berbeda pendapat tentang cara menggagalkan penebangan pohon beringin itu.
Jika saja Guntur dan mamah Karmila saling menceritakan mimpinya masing- masing yang ternyata sama, mungkin situasinya akan lebih mudah.
Tetapi sayangnya keduanya sama- sama tak ingin saling mengetahuinya dengan berbagai alasannya masing- masing.
Beberapa saat lamanya mamah Karmila diam membatu, ia dihadapkan pada situasi bimbang yang teramat sangat. Disisi lain, mamah Karmila juga mencemaskan kecurigaan Guntur.
Jika dirinya menolak ajakan Guntur dan bersikeras meminta berada di rumah haji tanfiz itu, pasti akan menimbulkan pertanyaan besar serta menimbulkan kecurigaan.
“Ayo mah, kita temui pak haji. Kita pamitan ya,” ucap Guntur sedikit menarik lengan mamahnya melanjutkan langkahnya.
Tanpa menjawab sepatah kata, mamah Karmila pun menurut saja dan mengikuti Guntur menemui haji Abas.
“Punten, pak haji kami pamitan saja. Udah siang,” ucap Guntur begitu sampai di hadapan haji Abas dan yang lainnya.
Ki Wayan yang berdiri disebelah haji Abas, sempat melirik menatap Guntur dalam- dalam saat Guntur mengucapkan pamit.
Lantas Ki Wayan begitu terkejut saat ketika melihat Guntur mengulurkan kedua tangannya untuk bersalaman dengan haji Abas.
Ki Wayan melihat dengan jelas sebuah noda hitam di lengan kiri Guntur dibalik kemeja kotak- kotak lengan panjangnya yang dilipat sebatas punggung tangan.
Tanpa Guntur sadari lengan kemeja yang dilipat itu tertarik bersamaan ia mengulurkan tangannya hingga tersibak meski hanya nampak menyembul sedikit.
Pemandangan itu di lihat oleh Ki Wayan dengan jelas karena posisinya sangat dekat disebelah kanan haji Abas.
Sebagai seorang yang menggeluti bidang supranatural, melihat tanda- tanda hitam yang dilihat pada lengan Guntur itu tentu sangat menarik perhatiannya.
Di kalangan orang- orang yang mendalami ilmu kebatinan serta seringkali berhubungan atau melihat mahluk- mahluk gaib tentunya memahami tanda hitam seperti yang ia lihat di lengan Guntur.
__ADS_1
“Tanda itu...” batin Ki Wayan.
Dahinya mengerut dalam- dalam sambil sekilas memperhatikan wajah Guntur yang sedang tersenyum ramah ngobrol dengan haji Abas.
“Lalu kenapa dia berada disini disaat akan melakukan penebangan pohon beringin itu?! Apakah hanya cuma kebetulan?! Ataukah dia....?” batin Ki Wayan bergejolak sibuk memperkirakan segala kemungkinan.
Sesaat kemudian Guntur pun selesai berbincang basa- basi untuk berpamitan, lalu menyalami satu persatu. Setelah menyalami haji Abas, giliran Ki Wayan menerima jabat tangan Guntur.
Seketika ekspresi wajah Ki Wayan berubah sehingga membuat senyumnya nampak canggung. Saat menjabat tangan Guntur, Ki Wayan merasakan ada aura yang tak asing langsung menjalar ke telapak tangannya.
Disisi lain, Guntur merasakan dadanya seketika berdebar- debar ketika menyalami Ki Wayan. Akan tetapi Guntur tak terlalu memikirkannya sama sekali perasaan yang tiba- tiba muncul itu.
Karena Guntur tak begitu mengerti dan memahami hal- hal yang berbau mistis, membuatnya mengabaikan perasaan itu.
Kemudian Guntur berganti menyalami pak RT Parno, Udin dan ketiga orang ustad pembimbing rumah tahfiz. Sementara mamah Karmila hanya menangkupkan kedua telapak tangan di dadanya sambil menganggukkan kepala.
Guntur dan mamah Karmila lantas segera meninggalkan haji Abas dan yang lainnya. Ki Wayan menatap lekat- lekat punggung Guntur yang berjalan hingga tak terlihat di balik pojok tembok rumah.
Ki Wayan menghembuskan nafas dengan kasar seiring Guntur menghilang dibalik sudut rumah. Ia masih menyimpan tanda tanya besar didalam hatinya.
“Apakah dia ada hubungannya dengan genderuwo di pohon itu?” Batin Ki Wayan.
“Ayo Ki, apa di mulai sekarang?” Tanya haji Abas membuat Ki Wayan tergagap.
“Oh, mu, muhun pak haji,” jawab Ki Wayan.
Kemudian Ki Wayan meminta Udin untuk mengambilkan tas perkakas penebangan di dalam karung yang dibawa Udin.
......................
Sepanjang berjalan di halaman samping itu tatapan mata Guntur tak lepas dari sudut pagar yang ada di depan. Tempat itu diyakini sebagai tempat pemanggangan daging gagak dan tempat Karbala memakannya.
Disaat yang sama mamah Karmila pun tanpa disadari, matanya melihat ketempat yang sedang ditatap Guntur. Diingatannya muncul rangkaian peristiwa di tempat itu dimana Karbala asyik menikmati makanan kesukaannya.
__ADS_1
Ibu dan anak itu terus melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir di depan teras depan.
......................