
Guntur benar-benar kepincut dengan rumah yang di tawarkan Dani padanya. Meski type rumahnya sama yaitu type 54 tetapi bangunan rumah Dani dari segi arsitektur bangunan dan interior ruang-ruang di dalam rumah lebih modern. Selain itu halamannya juga lebih luas jika di bandingkan dengan halaman rumah peninggalan papahnya. Guntur sendiri tidak tahu pasti berapa luas rumahnya karena yang tahu betul papah dan mamahnya.
"Berani banget hanya 1 M, di lihat dari lokasinya kalau pun di jual lagi bisa nyampe 2 M nih," batin Guntur sambil menatap lurus jalanan di depannya.
Pemikiran bisnisnya langsung bekerja dengan mempertimbangkan dari segala sudut pandangnya. Ia satu pemikiran dengan papah Aryo saat pertama kali meninjau rumah yang hendak di belinya 23 tahun yang silam. Rupanya darah pebisnis Aryo ikut mengalir di dalam darah Guntur, ia begitu jeli melihat peluang yang ada di depannya.
"Gun kamu yakin jadi membeli rumah itu?" tanya Kunto membuyarkan angan-angan Guntur.
"Yakin banget lah!" tukas Guntur.
"Saya lihat ada perempuan pakai gaun merah di halaman rumah itu Gun. Hiiii...! mukanya serem banget!" ujar Kunto tanpa menoleh, matanya fokus ke jalan yang di laluinya.
"Hallah! Mata lu aja karena kelamaan jomblo, jadinya batang pohon aja kelihatannya cewek," timpal Guntur.
"Beneran Gun! Saya lihat sangat jelas kok," tukas Kunto.
"Kalau pun ada mahluk halus, ya tinggal minta bantuan pak Suro. Beres...!" ujar Guntur.
"Lagian Kun, kata Dani rumah itu karena jarang di tempati. Dani dan keluarganya sudah lama menetap di Jakarta dan rumah itu hanya untuk persinggahan aja kalau liburan. Tapi kalau sudah di tempati nanti juga mahluk halus itu akan menyingkir dengan sendirinya," kata Guntur.
"Idiiih, kamu kaya ustad aja bisa tahu soal mahluk halus Gun," cibir Kunto.
"Ya, kata mbah Google sih, hehehehe...." timpal Guntur diiringi ketawa ringan.
Tanpa terasa perjalanan pulang dari rumah Dani memasuki jalan Simpang Dago. Lalu lintas di jalan yang memiliki 4 jalur itu dikenal orang-orang dengan menyebutnya 'Simpang' seperti biasa selalu ramai padat. Dari arah jalur Dago suasana lalu lintasnya lebih padat dibanding dari 3 jalur lainnya saat mendekati lampu merah karena selain ada pasar umum, sekitar 200 meteran terdapat keluar masuknya kendaraan dari dan menuju ke jalan Tubagus Ismail.
"Kun, lewat kantor ya mampir dulu di kiosnya pak Suro," ucap Guntur saat berhenti di lampu merah.
"Siap boss, udah lapar belum bos?" ujar Kunto.
__ADS_1
"Bilang aja laper, pake diplomasi segala. Nanti di sana aja sama-sama pak Suro dan Adi," balas Guntur.
......................
Karmila sedang tiduran di ruang tengah sambil menonton televisi di kursi panjang. Biarpun matanya melihat ke televisi namun pikirannya melayang memikirkan keinginan Guntur. Bukan soal karena membeli rumahnya juga bukan karena harganya, akan tetapi yang dipikirkan Karmila adalah soal rumah ini yang rencananya akan di jual.
Rumah peninggalan Aryo ini sudah di tinggalinya sejak menikah meskipun tidak banyak kenangan indah bersama almarhum suaminya yang terukir, namun bagi Karmila sendiri memiliki histori lain yang membuatnya sangat berat melepaskannya.
Tiba-tiba terdengar suara pecahan benda jatuh di dekat kepalanya, Karmila terlonjak kaget sekaligus membuyarkan lamunannya, ia terduduk menengok ke meja yanga ada di sebelah kursi panjang yang di tidurinya. Pecahan beling dari gelas yang semula ada di atas meja, dilihatnya sudah berserakkan di bawah. Belum sempat keterkejutannya hilang, tiba-tiba terdengar suara sember dan besar yang sangat di kenalinya.
"Ingat! Tidak ada seorang pun yang akan bisa membeli rumah ini!"
"Karbala!" pekik Karmila beringsut.
Suara itu terdengar cukup jelas memenuhi ruang tengah dimana Karmila terduduk. Walau sudah tak asing dengan suara itu tetapi tetap saja Karmila merasa kaget.
Beberapa saat Karmila masih menunggu apa yang akan di ucapkan Karbala lagi namun setelah di tunggu-tunggu suara itu tak muncul lagi. Karmila memutarkan kepalanya memperhatikan sekeliling mencari sosok Karbala tapi tidak di temukan.
Ketika Guntur mengetahui ulah Karbala, mungkin juga akan mencari tahu penyebabnya Karbala melakukan itu dan bukan tidak mungkin runtutan akar masalahnya akan kembali pada diri Karmila. Dan hal itulah yang sangat tidak diinginkan Karmila, maka dari itu dirinya tidak ikut memberikan keputusan mengiyakan ataupun mecegahnya ketika Guntur mengutarakan pindah rumah dan menjual rumah ini.
......................
Satpam Agus langsung berlari keluar dari pos jaganya melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan pagar Kantor PT. ELANG TRABAS. Pandangannya langsung mengenali mobil yang berhenti melintang di depan pagar kantor itu dan bergegas keluar pagar menyongsong penumpangnya turun.
"Pak Agus..." sapa suara seiring pintu mobil terbuka.
"Pak Bos?!" sahut Satpam Agus keheranan.
"Pak bos mau masuk ke dalam kantor? Sebentar saya buka pagarnya," sambung Satpam Agus.
__ADS_1
"Oh, nggak, nggak usah pak Agus. Saya mau ke pak Suro," ujar pemuda yang turun dari mobil itu yang tak lain adalah Guntur.
"Muhun, muhun. Siap pak Bos!" sahut Satpam Agus bersikap siaga layaknya seorang prajurit menghadap Jendral.
"Ya sudah, saya ke situ dulu pak Agus, ya." ujar Guntur.
"Siap!" sahut Satpam Agus.
Guntur senyum-senyum melihat sikap Satpamnya yang begitu menghormatinya dari hati, bukan sikap hormat yang penuh kepura-puraan hanya untuk mencari perhatian dari bossnya. Guntur dapat merasakan sikap tulus itu, bahkan sikap itu bukan hanya ditunjukkan Satpam Agus tetapi seluruh karyawannya pun semuanya bersikap demikian.
Guntur melangkah menuju kios pak Suro yang ada di depannya. Kios pak Suro nampak ramai oleh pengunjung, Guntur pun tersenyum senang sepertinya semakin hari kios buku loak pak Suro makin ramai saja pengunjungnya. Dia merasa tak sia-sia membuatkan pak Suro kios dan pindah tempat jualan buku bekasnya.
Pak Suro tidak tahu kalau ada Guntur bersama Kunto berdiri diantara pengunjung. Di samping pak Suro, ada Adi nampak sibuk membantunya mencarikan buku-buku yang diminta konsumennya.
"Pak, tolong minta buku yang judulnya alam gaib ya.." ucap Guntur menyelip diantara pengunjung.
Beberapa pengunjung yang berada dekat dengan Guntur langsung menoleh kearah Guntur, lalu kembali fokus melihat-lihat buku di depannya. Tetapi Pak Suro tidak menoleh sama sekali, ia langsung mencarikan buku yang judul sampulnya di sebutkan Guntur tadi.
"Siapa tadi yang nyari buku ini?..." kata pak Suro melihat para pengunjungnya.
"Saya pak," sahut Guntur mengacungkan tangannya, barulah pak Suro kaget melihat kearah Guntur.
"Guntur?!" pekik pak Suro kaget lalu tertawa.
Semua pengunjung buku loak itu kontan menoleh kearah Guntur lalu berganti melihat pak Suro dengan wajah penuh keheranan karena mengenali seorang pemuda tampan diantara pengunjung kios itu.
"Masuk, masuk... Ayo Gun, Kun. Punten, punten ya..." ucap pak Suro minta jalan kepada para pengunjung kiosnya.
Semua mata memandang Guntur dan Kunto yang berjalan diantara pengunjung yang berdiri dengan wajah heran, mereka merasa dua pemuda itu begitu spesialnya bagi penjual buku loak tersebut.
__ADS_1
......................