
“Astagfurllahal azdim... Astagfurllahal azdim... Astagfurllahal azdim... Astagfurllahal azdim... “ rintih ustad Sofyan meracau tak henti- henti.
Ustad Sofyan tak bisa mengira- ngira sosok apa yang muncul di dalam kamar kecil bersama dirinya. Kesadaranya hampir hilang karena rasa takut yang teramat sangat.
Ia hanya bisa merasakan bulu kuduknya meremang disekujur tubuh dan itu sangat diyakininya ada mahluk halus bersamanya. Di dalam pikirannya, kontan tergambar sosok mahluk atau hantu yang menyeramkan seperti di film- film sehingga membuatnya menggigil gemetaran.
Dalam puncak kekalutannya, ustad Sofyan memberanikan diri untuk melihatnya dari sela- sela kedua tangannya.
Dengan dada berdebar- debar, ia mulai membuka matanyanya sedikit menyipit. Mula- mula yang dia lihat adalah benda berwarna putih diujung kakinya yang tak lain adalah ubin kamar kecil, lalu perlahan meluaskan pandangannya dengan sedikit mendongak.
Deg!
“Astagfurllahal azdim... Astagfurllahal azdim... “ gumam ustad Sofyan dengan bibir gemetar.
Jantung ustad Sofya tambah berdegub kencang. Ia melihat sepasang kaki tanpa alas nampak terlihat tak wajar. Besar kaki itu seukuran batang pohon kelapa, dipenuhi dengan rambut- rambut berwarna hitam dan tebal.
“Astagfirullah azim!” pekiknya kian gemetaran.
Anehnya, Ustad sofyan tak kuasa untuk memalingkan pandangannya, ia seakan- akan dipaksa untuk melihat wujud mahluk didepannya.
Pandangannya perlahan naik... ia melihat selembar kain putih yang nampak usang tersampir melilit menutupi bagian alat fital, seperti kain cawat.
Kemudian pandangannya kembali naik, jantungnya kian berdegup saat melihat pada bagian atasnya yakni perut. Dan seketika Ustad sofyan bergidik melihat bagian perut yang nampak buncit itu tertutupi lebatnya rambut hitam.
Lalu matanya menangkap dua bagian lengan tangan pada kedua sisi samping kanan dan kiri perut. Pandangan ustad Sofyan tercekat memperhatikan sepasang lengan tangan berukuran sebesar paha orang dewasa yang terjulur lurus kebawah disamping tubuh mahluk itu.
Sepasang tangan itu juga dipenuhi rambut hitam lebat. Pada ujung kedua tangannya yang terkembang memperlihatkan kuku- kukunya yang yang panjang berwarna hitam kecoklatan.
Deg! Deg! Deg!
Dada ustad Sofyan kian berdebar- debar keras, detak jantungnya sudah tak beraturan lagi. Tubuhnya dalam posisi berjongkok disudut kamar kecil itu tak lagi bisa bergerak bebas. Ia semakin menggigil gemetaran menyaksikan bagian- bagian tubuh menyeramkan itu.
Didalam otaknya ingin sekali menggerakkan kepalanya untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain, akan tetapi tidak bisa. Seolah- olah mata dan kepalanya seperti tidak mau merespon keinginannya.
Sekali lagi, ustad Sofyan merasa seperti terus dipaksa untuk melihat sosok mahluk di hadapannya. Bahkan untuk sekedar berkedip saja tak mampu ia lakukan.
Dengan tubuh menggigil gemetaran, ia pun perlahan- lahan kembali memperhatikan tubuh menyeramkan itu. Pandangannya naik menelusuri kebagian atas mahluk itu.
Mata ustad Sofyan kembali terbelalak, ia melihat bagian dada sosok mahluk itu yang nampak dipenuhi bulu- bulu lebat dan warna hitamnya lebih tebal dari bagian lain tubuhnya.
__ADS_1
Ustad Sofyan kian gemetar bergidik ngeri, bibirnya bergetar- getar sembari tak henti- hentinya menggumamkan istigfar.
“Astagfurllahal azdim... Astagfurllahal azdim... “
Cepat- cepat pandangan matanya beralih terus merayap naik melihat bagian atas mahluk itu. Keningnya berkerut saat melihat ada helaian- helaian seperti rambut yang menjuntai menutupi bagian dada dan juga dibelakang punggung yang tampak kaku dan kasar. Seperti rambut gimbal.
Dan, saat pandangannya terus naik ke bagian wajah... Ustad Sofyan seketika berteriak keras.
“Aaaaaaakkhhh...!”
Ustad sofyan menjerit histeris melihat keseluruhan wajah mahluk itu.
Mula- mula yang dilihatnya adalah bagian mulut yang terbuka memprlihatkan dua taring sebesar jempol kaki orang dewasa yang mencuat dikedua sudut bibir hitam mahluk itu.
Mahluk itu nampak sedang menyeringai kearah dirinya. Dan ketika pandangan beradu mata dengan mahluk itu, ia dapat merasakan kemarahan yang memancar dari sepasang matanya yang berkilat berwarna merah. Ustad sofyan histeris menjerit sekeras- kerasnya.
Bersamaan teriakkannya, ia langsung bergerak melompat keatas bak berisi air penuh. Naluri alam bawah sadarnya menuntunnya bergerak untuk menjauhi mahluk itu.
Namun karena sempit dan terbatasnya ruang kamar kecil yang sekaligus di fungsikan sebagai tempat mandi anak- anak santri itu membuatnya tak banyak yang bisa dilakukannya.
Satu- satunya yang dia bisa hanyalah melompat keatas bak mandi.
Sesaat kemudian tubuh ustad Sofyan jatuh kedalam bak mandi. Keciprat Suara air didalam bak itu terdengar keras memercikkan sebagian air tumpah kebawah.
Tubuh ustad Sofyan nampak masih terlihat kejang- kejang dengan liarnya. Semakin lama tubuhnya semakin melemah, lalu perlahan tenggelam di dalam bak berisi air penuh itu.
......................
Selepas melaksanakan sholat magrib berjamaah, seperti biasanya para anak- anak santri putra dan putri mengantri untuk menyalami haji Abas serta para ustad dan ustazah.
Dibarisan depan anak- anak santri putra, lalu disusu anak- anak santri putri. Mereka berderet mengular untuk bergiliran menyalami.
Beberapa saat lamanya setelah anak- anak sudah semuanya menyalami, kini giliran ustad pembimbing yang menyalami haji Abas. Sedangkan para ustazah hanya menangkupkan telapak tangan sebagai isyarat bersalaman.
“Ustad Sofyan mana?!” tanya haji Abas tiba- tiba.
Mereka semua baru menyadarinya kalau salah satu rekannya tidak bersama mereka. Para ustad dan ustazah saling berpandangan satu sama lain dengan wajah bingung.
“Lah, iya ya. Tadi ada, saya bertemu di tempat wudlu pak haji. Saat itu ustad Sofyan juga hendak berwudlu, malahan saya juga sempat ngobrol sama ustad Sofyan tadi,” ujar Ustad Ikhwan keheranan.
__ADS_1
Wajah haji Abas serta para ustad dan ustazah semakin dibuat keheranan.
“Benarkah ustad?!” Haji Abas meyakinkan lagi.
“Sumpah demi Allah pak haji. Dia bahkan sempat menyampaikan hasilnya usai menemani pak haji sowan ke Kiyai,” tegas ustad Ikhwan.
“Kalau begitu, ayo ayo kita periksa di sekitar tempat wudlu!” seru haji Abas.
Seketika semuanya bergegas bangkit berdiri mengikuti haji Abas yang berjalan di depan.
Hati dan perasaan mereka semua sama- sama diliputi kegundahan. Mereka semua heran sekaligus bingung, namun tak terlintas sedikit pun didalam pikiran mereka tentang hal buruk tentang keadaan ustad Sofyan.
Sebab tidak ada alasan bagi mereka untuk menduga- duga hal buruk karena semuanya berjalan normal dan terlihat baik- baik saja.
Saat sampai di tempat wudlu, haji Abas serta yang lainnya melihat suasannya sepi, mereka tak melihat adanya ustad Sofyan di tempat itu.
“Tidak ada ustad!” kata haji Abas di tujukan pada ustad Ikhwan.
“Saya sempat ngobrol disini nih pak haji. Setelah itu saya masuk masjid dan ustad Ikhwan katanya mau berwudlu,” ujar ustad Ikhwan meyakinkan.
“Coba ustad periksa di kamar- kamar mandi itu,” perintah haji Abas.
Semua para ustad yang berjumlah 8 orang itu bergegas melangkah ke kamar mandi sekaligus kamar kecil itu yang berderet berjajar ada 10 kamar mandi.
Selang beberapa saat setelah 8 orang ustad itu masing- masing memeriksa kamar mandi yang di masukinya, mereka pun langsung samling sahut- menyahut memberikan laporan.
“Tidak ada pak haji,”
“Di kamar nomor 7 juga yidak ada!”
“Kamar nomor 6 kosong!”
Semua ustad yang memeriksa kamar mandi itu melaporkan tidak menemukan ustad Sofyan.
Kini hanya tinggal 2 kamar mandi lagi yang belum diperiksa.
“Coba periksa itu di kamar mandi nomor 1 dan nomor 2 yang belum!” seru haji Abas nampak cemas.
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG...