
Karmila menyembunyikan apa yang dilihatnya. Dia mengalihkan pandangannya dari sosok mahluk yang berdiri dibawah pohon Palm, pandangannya berganti pura-pura mempethatikan mobil pak Asrul yang penyok. Terbayang oleh Karmila berapa puluh juta uang yang dikeluarkan cuma-cuma untuk membetulkan mobil sedan Mercy akibat ulah Karbala, membuat wajah Karmila mengerut menyiratkan rasa jengkel bukan main. Kini dia benar-benar sangat membencinya, dirinya sudah merasa didikte oleh Karbala, sudah dua kali ini kejadian yang sangat merugikan orang. Karmila membuat kesimpulan setiap kali ada tamu lelaki, Karbala selalu menunjukkan reaksi marah.
"Cih, cemburu?" Gumam Karmila tersenyum sinis.
"Mahluk gaib juga punya rasa cemburu?" senyum sinis bercampur oleh rasa benci menggurat di wajahnya.
Karmila ingin sekali menertawakannya namun ditahannya karena hanya akan menjadi kesalah pahaman di mata pak Asrul dan Guntur. Sementara mereka masih kebingungan mencari-cari penyebab penyoknya kap mobil, dirinya justru tertawa meskipun tujuannya menertawakan Karbala.
"Biar nanti saya ganti kerusakan mobilnya Om," ucap Guntur merasa bersalah.
"Nggak usah, Gun. Biar suruh orang Om yang mengurusnya," ujar pak Asrul.
"Tapi Om, saya dan mamah merasa nggak enak karena Om tamu mamah," ucap Guntur garuk-garuk kepala.
"Udah Gun, nggak apa-apa. Kan bukan salah kamu dan mamah kamu juga," timpal pak Asrul menepuk bahu Guntur.
"Tapi Om,"
"Nggak apa-apa Gun, ya mungkin Om lagi sial aja, hehehe..." sergah pak Asrul menenangkan Guntur.
"Ya sudah sekalian Om pamit ya, Gun bu Mila..." lanjut pak Asrul.
"Iya Om, maaf ya Om baru kali ini ada kejadian aneh seperti ini. Saya juga bingung bisa begini..." ucap Guntur menggaruk-garuk keningnya.
"Pak Asrul saya minta maaf atas kejadian ini ya," sela Mamah Karmila.
"Iya, iya nggak apa-apa bu Mila. Udah nggak usah dipikirin ya, saya langsung pamit bu." ujar pak Asrul kemudian membuka pintu mobilnya dan masuk duduk dibelakang kemudi.
"Hati-hati dijalan pak," ucap Karmila.
"Hati-hati Om," timpal Guntur kemudian melambaikan tangan.
Mobil sedan Mercy itu kemudian melaju keluar rumah dan membaur dengan kendaraan-kendaraan lain dan tak terlihat lagi. Suasana arus lalu lintas masih nampak ramai meski malam sudah menunjukkan pukul 21.12 wib. Guntur berlari kecil untuk menutup pintu gerbang, setelah menguncinya lalu kembali ketempat mamah Karmila berdiri mematung dan menggandengnya memasuki rumah.
"Aneh ya Mah, kenapa mobil pak Asrul sampai bisa penyok begitu. Padahal nggak ada batu ataupun batang kayu disekitarnya.Kenapa kira-kira ya?" tanya Guntur masih keheranan kemudian menutup pintu dan menguncinya.
"Mamah juga nggak tau Gun," ucap mamah Karmila berbohong.
"Sebentar mah!" seru Guntur tiba-tiba menahan mamahnya.
"Saya jadi teringat kejadian kaca jendela yang pecah. Situasinya sama pada saat ada tamu," kata Guntur menatap wajah mamahnya.
__ADS_1
"I, i...iya mungkin," ucap mamah Karmila sedikit gugup oleh analisa Guntur.
"Apakah papah nggak rela kalau ada lelaki yang berkunjung dan menemui mamah, ya?" tanya Guntur gamang.
"Jangan ngaco ah, udah mamah masuk kamar ya Gun." ujar mamah Karmila.
"Iya mah," timpal Guntur kemudian melangkah masuk ke kamarnya.
......................
Udara malam kota Bandung semakin berasa dingin, Karmila sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal diatas kasur empuknya. Namun dibalik selimutnya tubuh Karmila gelisah, ia miringkan tubuhnya kekiri berusaha untuk tidur tetapi tetap saja tidak kunjung bisa terlelap. Sesaat berikutnya ia merubah posisi tubuhnya miring ke kanan namun tetap saja tidak bisa terlelap. Karmila melirik jam dinding yang tergantung diatas violetnya, dibawah cahaya lampu temaram ia melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Lama-lama ia merasa kesal juga karena susah sekali untuk bisa terlelap. Karmila kemudian bangkit dari pembaringannya lalu duduk ditepi kasur, sejenak membenahi rambutnya lalu meraih ikat rambut yang tergeletak diatas meja kecil disampingnya dan mengikatnya.
Beberapa saat kemudian Karmila merasakan ada hembusan angin yang santer menerpa punggungnya. Spontan Ia menolehkan wajahnya melihat kearah jendela dikiranya belum ditutup. Namun tidak seperti yang dipikirkannya, jendela kamar itu sudah tertutup tetapi darimana hembusan angin itu datang? Wajahnya masih memandang heran kearah jendela.
Tiba-tiba Karmila dikejutkan dengan munculnya asap putih diatas kasur. Mula-mula tipis, semakin lama asap putih itu semakin menebal dan mulai nampak jelas membentuk sebuah tubuh. Karmila mulai merasakan bulu kuduk disekujur tubuhnya berdiri meremang, tanpa disadari ia terus menatap memperhatikan asap yang terus menebal itu seakan-akan menuruti rasa penasarannya akan menjadi apa asap itu.
Karmila terlonjak kaget dari duduknya hingga berdiri dengan mata terbelalak lebar melihat sosok mahluk berbaring disisi kasur sebelahnya. Asap yang semula tipis itu kini sudah berubah menjadi sosok mahluk hitam berbulu hitam lebat sedang menatapnya.
"Karbala!" pekik Karmila beringsut mundur makin menjauh dari kasur.
"Hahahaha... Mari sini Karmila..." suara berat dan sember itu melambaikan tangannya.
Karmila bergidik ngeri, matanya terbelalak lebar melihat wujud asli Karbala sedekat itu. Sekujur tubuhnya dipenuhi bulu, wajahnya terlihat sangat menyeramkan dengan sorot mata yang berkilat merah ditambah dua taring putih mencuat keluar dikedua sudut bibirnya.
"Bukankah kamu menikmatinya Karmila, HAHAHAHA..." Suara Karbala kian menambah bergidik mendengarnya.
Wajah Karmila mulai memucat, ketakutannya benar-benar sudah memuncak. Ia merasakan pandangannya mulai mengabur, saat melihat Karbala mulai berdiri dan hendak mendekatinya. Karmila masih dapat melihat samar-samar Karbala melangkahkan kakinya diatas kasur namun setelah itu pandangannya menjadi gelap, Karmila terkulai pinsan dibawah pintu kamarnya.
......................
Suara bising knalpot kendaraan menyeruak dari jendela kamar Karmila. Karmila terusik dari tidurnya, dengan mata yang masih terpejam ia meregangkan tubuhnya, tangannya dijulurkan kuat-kuat keatas bersamaan dengan mengulurkan kakinya. Ia merasakan tubuhnya begitu letih dan kembali meraih bantal guling berniat tidur lagi, tetapi saat itu juga dia terlonjak dari pembaringannya.
Karmila teringat sesuatu, ia langsung menyibakkan selimutnya, kontan matanya terbelalak lebar dengan mulut ternganga. Dirinya melihat tubuhnya tidak tertutup sehelai benang pun, penuh kebingungan ia mengingat-ingat kembali kalau semalam dirinya merasa sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Sesaat kemudian Karmila baru teringat dengan kemunculan Karbala lalu setelah itu dia sudah tidak ingat apa-apa lagi.
Karmila reflek meraba bagian tubuh sensitifnya, jemarinya merasakan bekas cairan yang sudah mengering. Ia beringsut bangkit lalu duduk bersandar pada ranjang dengan menekuk kakinya rapat didadanya. Wajahnya dibenamkan diantara kedua lututnya dan seketika tangisnya membuncah.
"Ya Tuhan..." ucap Karmila lirih.
Air matanya meleleh membasahi kedua lututnya yang putih. Dirinya merasa sudah sangat kotor dan entah kesekian kalinya telah dinodai mahluk gaib itu. Hatinya berontak tidak menerima perlakuan Karbala yang semalam telah menggaulinya pada saat dirinya tak sadarkan diri. Sesaat kemudian Karmila mendongakkan wajahnya menatap langit-langit kamar, tatapannya nanar penuh dengan amarah dan kebencian yang memuncak.
"Akan aku tebang pohon itu!!!" Seru Karmila, tangannya mengepal mencengkeram sprey kuat-kuat.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
"Maaaah..."
Suara ketukan dan panggilan dari luar pintu kamar membuat Karmila sedikit kaget lalu buru-buru mengusap air matanya dan beranjak turun dari kasur. Saat kakinya turun dari kasur, bukan karpet yang diinjaknya. Ia memandang kebawah, dilihatnya dibawah kakinya terinjak baju tidurnya. Cepat-cepat ia meraih dan mengenakannya. Lalu bergegas melangkah kedepan violet untuk merapihkan rambut dan wajahnya yang terlihat sembab akibat tangisannya. Sejenak ia mengolesnya dengan mengusapkan pelembab di wajahnya untuk menghilangkan kemuraman di wajahnya.
Tok... Tok... Tok...
"Maaaaah... sudah siang tuh," suara Guntur dari luar pintu kamar Karmila kembali memanggil.
"Iya Gun, sebentar..." sahut mamah Karmila.
Kreteeeeek....
Pintu dibuka mamah Karmila dari dalam, dihadapannya Guntur berdiri hendak mengetuk pintu lagi tapi urung begitu pintu terbuka. Kemudian mamah Karmila keluar dan menutup pintunya kembali.
"Tumban mamah bangunnya siang," ucap Guntur mengikuti langkah mamahnya kebelakang.
"Iya nih Gun, jam berapa sekarang?" tanya mamah Karmila.
"Jam delapan mah, hayu mah sarapan," jawab Guntur tidak begitu memperhatikan wajah mamahnya.
"Mamah belum masak Gun," ujar mamah Karmila bergegas menuju kamar mandi.
"Saya sudah pesan delevery mah, tuh udah siap di meja makan," ujar Guntur kemudian duduk di kursi meja makan, sementara mamah Karmila memasuki kamar mandi.
Tidak berapa lama kemudian mamah Karmila sudah keluar dari kamar mandi untuk sekedar mencuci mukanya agar tidak terlihat bekas-bekas tangisnya, lalu duduk berhadapan di meja makan.
"Sepi ya mah nggak ada Kunto," ucap Guntur sambil membuka paketan makanannya.
"Iya, Gun. O iya gimana dengan pak Suro dan anaknya? Kapan mereka akan pindah?" Tanya mamah Karmila.
"Kemungkinan hari Senin atau Selasa pak Suro dan Adi mulai menempati rumah kantornya Mah. Kiosnya juga sudah bisa dipakai buat jualan buku bekasnya," ujar Guntur kemudian menyuap makanannya.
Mamah Karmila berusaha menutupi suasana hatinya rapat-rapat dihadapan Guntur. Ia tidak ingin membuat Guntur kecewa dan marah jika mengetahui kejadian semalam.
"Gun, mamah ingin pohon itu ditebang secepatnya," ucap mamah Karmila.
Guntur menghentikan suqpannya, ia memandang mamahnya sejenak penuh dengan keheranan. Bukankah mamahnya melarangnya sebelumnya, pikir Guntur. Tetapi Guntur tidak mempersoalkan itu, ia tak mau mengecewakan mamahnya.
"Iya mah, nanti saya minta tukang potong kayu untuk menebangnya." ujar Guntur.
__ADS_1
......................