TITISAN

TITISAN
KENA BATUNYA


__ADS_3

Kondisi mamih Osa yang terpengaruh oleh mantra mbah Sakri terlihat menggeliat- geliat makin liar. Kedua kakinya yang jenjang dan terbuka dengan bebas di lahap oleh tatapan kedua mata mbah Sakri.


Kedua mata mbah Sakri melotot lebar pandangannya menyapu dari wajah perlahan- lahan turun ke bibir mamih Osa yang tipis berwarna merah alami yang terbuka merekah sedikit.


Nafas mbah Sakri tak lagi teratur, lebih tepatnya dengusan. Dadanya naik turun menahan gejolak yang meledak- ledak akibat pemandangan erotis di depan matanya.


Sementara Mamih Osa masih bergerak- gerak gelisah di luar kesadarannya. Kedua tanannya *******- ***** sprey disamping tubuhnyanya. Sedangkan kedua kakinya yang jenjang bergerak- gerak menekuk dan meluruskan secara bergantian hingga membuat spreynya menjadi lusuh.


Mbah Sakri melanjutkan fantasi liarnya mengikuti pandangan matanya yang beralih ke bagian dada mamih Osa yang menonjol dominan.


Dengusan mbah Sakri kian keras, nafasnya memburu. Tangannya yang hitam dan kasar perlahan- lahan bergerak hendak menjamah gundukkan di dada Mamih Osa.


Tiba- tiba sebuah benda melayang meluncur deras menghantam kepala mbah Sakri.


Praaaang...!!!


“Aduh..!” pekik mbah Sakri.


Benda itu hancur seketika setelah mengenai kepala bagian belakang mbah Sakri. Tubuh mbah Sakri terdorong kedepan nyaris tersungkur diatas tubuh mamih Osa andai tangannya tidak reflek menopangnya.


Diatas lantai disekitar kakinya pecahan kaca berserakkan, nampaknya baru saja gelas kaca yang menghantam belakang kepalanya.


Buru- buru mbah Sakri berdiri tegak, lalu membalikan badannya dengan wajah terkejut penuh ketakutan. Di dalam hatinya ia menduga aksi be jat nya telah di ketahui Jin An.


Mbah Sakri terperangah! Pandangannya tidak menemukan Jin An seperti yang ia duga. Bahkan pintu kamarnya pun masih tertutup dan terkunci rapat.


Mata mbah Sakri terbelalak lebar, ia memutar- mutarkan kepalanya celingukkan kesegala arah mencari siapa yang melemparkan gelas tersebut. Namun tidak menemukan siapa- siapa.


Wajah mbah Sakri kian heran bercampur takut, keningnya yang sudah keriput semakin mengerut. Tubuhnya mulai gemetar, mendadak rasa takut seketika mengusai hatinya.


Mbah Sakri bergegas buru- buru melangkah ke pintu kamar. Tetapi baru saja dua langkah berjalan, langsung terhenti. Dia merasa kakinya sangat sukar di gerakkan.


Sekujur tubuh mbah Sakri tiba- tiba kaku tak bisa digerakkan sama sekali hanya kesua matanya yang membelalak lebar melirik liar ke samping kiri dan kanan mencari- cari sosok yang menyerangnya.


Rasa takut menghinggapi perasaan mbah Sakri berlangsung sekitar 5 menitan, kedua tagannya mengepal erat tak bisa di gerakkan. Sepasang kakinya juga sama kakunya nampak mulai goyah terlihat geetaran.


Tiba- tiba muncul desiran angin menerpa wajah mbah Sakri disertai bau amis dan busuk yang sangat menyengat. Di dalam hati Mbah Sakri ingin sekali menutup hidungnya karena tak tahan dengan bau amis dan busuk itu akan tetapi tangannya tak bisa di gerakkan sama sekali.


Mbah Sakri menahan nafas sembari menggerak- gerakkan raut wajahnya berusaha agar bau amis dan busuk itu tidak terhirup.


Kepanikan Mbah Sakri kian membesar bercampur dengan rasa takut yang kian membayangi angan- angannya. Dia mulai histeris dan putus asa oleh ketakutan yang memenuhi isi kepalanya.


Wuuuusshhhhh.....


Satu hembusan lebih besar dari sebelumnya mendadak menghantam wajah mbah Sakri. Bau amis dan busuk semakin santer menyengat terhiruo hidungnya hingga perutnya mendadak mual.


“Hooekkkh... hoekkkhhh... hoekkkhh...”


Kontan saja mbah Sakri memuntahkan isi perutnya yang mual karena sudah tak kuat lagi menahan bau amis dan buauk tersebut.


Buuussssshhh...

__ADS_1


Sepasang mata mbah Sakri terbelalak lebar dengan mulut ternganga. Hanya berjarak satu langkah di depannya berdiri sosok mahluk tinggi besar. Sekujur tubuh mahkuk itu di penuhi oleh bulu- bulu lebat berwarna hitam.


Sekujur tubuh mbah Sakri seketika gemetaran. Sorot matanya yang membelalak menyiratkan ketakutan yang tak terkira.


Pada bagian bawah pakaiannya, nampak basah kuyup. Mbah Sakri histeris hingga terkencing- kencing di dalam celana. Ingin sekali berlari sekuat tenaga, namun dia tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.


“Manusia kurang ajar!” bentak sosok berbulu hitam dengan suara sember dan besar yang menghidikkan.


Mbah Sakri melotot ngeri, matanya melotot melirik liar ke kanan dan ke kiri. Tubuhnya berguncang keras, ia gemetaran hingga tumpahan air nampak kian deras membasahi celana mbah Sakri.


Mata mbah Sakri kian melotot ketakutan saat melihat tangan sosok mahluk tinggi besar dan berbulu lebat itu mengangkat tangannya. Mbah Sakri spontan memejamkan matanya dengan pasrah, instingnya merasa akan mendapatkan hantaman dari mahluk itu.


Plaaakkkh!!!


“Aaaakkhhh...!” pekik mbah Sakri.


Kepala mbah Sakri seketika terhentak menengok kesisi kiri setelah mendapat tamparan telak dari sosok mahluk tersebut.


Sesaat setelah mbah Sakri di tampar, tiba- tiba terdengar suara pintu kamar di gedor- gedor dari luar. Handel pintu pun bergerak- gerak seperti hendak di buka namun tidak bisa karena pintu di kunci mbah Sakri dari dalam.


Doggg... dogg.. doggg...


“Mbah...! Mah Sakri...!” teriak suara dari luar pintu kamar.


Wuuussshhh...!


Sosok mahluk berbulu hitam lebat itu seketika lenyap dari hadapan mbah Sakri bersamaan dengan tereengar suara panggilan itu.


Pintu kamar di dobrak dari luar hingga terbuka. Di pintu nampak Jin An dan Parno terkejut bukan main setelah melihat pemandangan di dalam kamar.


“Mbah, kenapa mbah?!” tanya Parno buru- buru menghampiri mbah Sakri disusul Jin An.


Jin An dan Sakri melihat mbah Sakri hanya berdiri tegak, kedua tangan terkepal dikedua sisinya. Sedangkan kepalanya dalam posisi menengok ke sebelah kiri dengan mata melotot bergerak- gerak liar penuh kengerian.


Parno dan Jin An berhenti satu langkah di depan mbah Sakri, keduanya tak berani menyentuhnya. Sesaat kemudian Parno mengendus- enduskan hidungnya, ia mencium bau pesing yang sangat menyengat.


“Pak bau pesing!” Seru Parno sambil menoleh kebelakang pada Jin An.


Jin An Spontan cepat- cepat menutup hidungnya sambil mengernyitkan keningnya dalam- dalam.


“I, i... itu...!” Seru Jin An menunjuk bagian bawah mbah Sakri dengan jijik.


Sementara mbah Sakri hanya memelototkan matanya kian lebar seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi mulutnya terasa kelu dan kaku. Kini sorot matanya menyiratkan kengerian bercampur rasa malu yang teramat sangat.


Jin An dan Parno dibuat bingung bukan main, keduanya tak tahu apa yang harus di lakukannya terhadap mbah Sakri yang berdiri kaku.


Setelah beberapa saat lamanya tertegun dengan keadaan mbah Sakri, Jin An baru tersadar teringat dengan istrinya. Buru- buru Jin An menghampiri mamih Osa melewati posisi mbah Sakri tanpa mempedulikannya.


Jin An berdiri di sisi tempat tidur memprrhatikan istrinya yang nampak masih tergolek diatas tempat tidur seperti sebelumnya.


Akan tetapi sesaat kemudian wajah Jin An nampak keheranan melihat tubuh istrinya yang bergerak- gerak gelisah. Kedua tangannya mencengkeram sprey dengan erat dan kedua kakinya bergerak menekuk dan meluruskan secara intens.

__ADS_1


“Mih... mamih...!” seru Jin An menepuk- nepuk pipi mamih Osa.


Uoaya Jin An menyadarkan istrinya tak juga berhasil. Parno yang melihat keganjilan pada gerak- gerik mamih Osa, ikut menghampiri. Parno berdiri disebelah Jin An sambil memperhatikan dengan heran.


Terlintas di dalam pikirannya untuk mengumandangkan Azan dan iqomah untuk menghilangkan ketidak wajaran di dalam kamar.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)


Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)


Hayya 'alashshalaah (2x)


Hayya 'alalfalaah. (2x)


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)


Laa ilaaha illallaah (1x)


Setelah selesai mengumandangkan azan, Parno langsung melantunkan Iqomah;


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Asyhadu allaa illaaha illallaah


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah


Hayya 'alashshalaah


Hayya 'alalfalaah


Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah


Bersamaan dengan akhir lantunan Iqomah, tiba- tiba terdengar suara tubuh jatuh keatas lantai kamar.


Buuuggghh..!!!


Parno dan Jin An kontan menoleh ke sumber suara jatuh. Keduanya melihat tubuh mbah Sakri sudah tersungkur diatas lantai, dari mulutnya terdengar erangan kesakitan.


Jin An mengalihkan pandangannya melihat kondisi mamih Osa disusul Parno. Tubuh mamih Osa tampak tak lagi bergerak- gerak gelisah, kini tubuhnya terdiam. Kedua tangannya terkulai lemah kedua sisi tubuhnya, begitu pun pada kedua kakinya tak lagi bergerak.


Sekilas mamih Osa terlihat seperti sedang tertidur pulas.


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2