
Di depan sebuah bangunan kosong yang sepertinya dibiarkan terbengkalai rusak yang entah siapa pemiliknya itu terlihat dua buah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir saling berhadapan. Suasananya lumayan sangat sepi. Gedung bertingkat yang lumayan besar sekilas jika dilihat dari arsitekturnya mirip seperti sebuah bangunan pusat perbelanjaan yang nampaknya gagal dibangun. Letaknya 200 meter masuk kedalam dari jalan besar dan alternatif yang ada didepan bangunan itu pun sangat jarang ada kendaraan yang lewat. Sekilas nampak angker mungkin karena terlalu lama dibiarkan kosong.
Dari salah satu mobil sedang berwarna hitam turun salah seorang pria berkaca mata hitam dan memakai jaket hitam itu memiliki berbadan kekar dan tegap dengan postur yang cukup tinggi sekitar 180 cm. Wajahnya sangar dan tatapan matanya mencerminkan kebengisan. Pria itu melangkah menghampiri mobil sedan didepannya. Ia langsung menuju sisi kanan menghampiri seorang pria berbadan kurus duduk dibelakang setir yang juga memakai kaca mata hitam.
"Masuk!" Perintah pria dibalik belakang kemudi sambil mengarahkan jempol tangannya agar duduk disebelahnya.
Pria berbadan tegap dan berwajah sangar itu langsung melangkah menuju pintu mobil disisi kiri langsung membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk disebelah pria kurus itu.
"Buka dashboar itu," perintah pria kurus.
Pria berbadan kekar dan tegap itu kemudian membuka dashboar didepannya. Lantas pria itu tersenyum lebar saat melihat sebuah amplop coklat teronggok didalam dashboard. Lalu ia mengambilnya, dirabanya sesaat isi amplop yang lumayan tebal itu sambil menyeringai kemudian disimpannya dibalik jaket.
"Itu lima puluh juta sebagai depe, sisanya setelah tugas kalian selesai. Ingat harus clean jangan ada jejak setitik pun dan jangan pernah hubungi saya, hanya saya yang menghubungi kalian. Mengerti?!" Kata pria kurus dibelakang kemudi tanpa menoleh.
"Siap boss!" sahut pria berbadan kekar itu.
"Jalankan sesuai rencana awal, saya akan kabari jika dia sudah meninggalkan kantor menuju proyek. Kalau rencana tidak berubah dia akan berangkat pada hari sabtu lusa," kata pria kurus.
"Siap boss!" Sahut pria itu.
"Ok, out!" ujar pria kurus.
Pria berbadan kekar itu langsung bergegas keluar dari dalam mobil, setelah menutup pintunya mobil sedan hitam langsung melaju meninggalkan tempat itu. Pria berwajah seram menyeringai sambil berjalan menuju mobilnya.
......................
Tok... tok... tok...
"Masuk..." sahut Guntur sedikit membuatnya kaget sekaligus membuyarkan lamunannya.
Vina, sekertaris Guntur muncul memasuki ruangan, "Permisi pak,"
"Silahkan duduk Vin," ucap Guntur.
"Ini data-data proyek yang akan pak Guntur tinjau," Vina memberikan berkas didalam map menyodorkannya diatas meja.
Guntur kemudian mengambilnya lalu diperiksanya dengan seksama lembar demi lembarnya. Guntur manggut-manggut membaca semua datanya, setelah memeriksa lembaran terakhir berkas kemudian Guntur mengembalikannya pada Vina, sambil berkata; "Ok."
"O iya, sekedar mengingatkan aja pak, jadwalnya lusa pak," ucap Vina tersenyum.
"Ok, makasih Vin. Nanti kamu ikut juga ya," ujar Guntur.
__ADS_1
"Baik pak. Kalau begitu saya permisi kembali ke tempat." ucap Vina kemudian berdiri.
"Iya Vin, sekali lagi terima kasih ya." timpal Guntur.
Vina mengangguk sambil tersenyum manis lalu melangkah keluar dari ruangan Guntur. Guntur menyandarkan punggungnya di kursi, ia pun kembali mengulang memikirkan cerita peristiwa dua pekerja yang menebang pohon di rumahnya yang sempat buyar oleh kemunculan Vina.
"Penasaran sekali, apa sebaiknya saya minta bantuan ustad aja untuk mengusir mahluk gaib itu, ya." Gumamnya dalam hati.
Saat Guntur sedang memikirkan itu tiba-tiba terdengar suara benda pecah. Guntur tersentak kaget reflek menoleh ke sumber suara. Wajahnya terkesiap penuh dengan keheranan melihat sebuah vas bunga yang terbuat dari kaca yang semula berada diatas meja tamu didepannya sudah berada dibawah berserakan dilantai dalam kondisi pecah hancur.
"Kenapa pak?" pekik Vina muncul di pintu karena mendengar suara pecahan benda jatuh.
"Nggak... nggak tau Vin. Vas bunga itu tiba-tiba saja jatuh dan pecah, aneh!" ujar Guntur sambil garuk-gatuk kepalanya yang tidak gatal.
"Masa sih pak?" Vina pun dibuat keheranan.
"Beneran... kamu kan lihat saya belum kemana-mana setelah kamu keluar tadi," timpal Guntur.
"Iya juga sih pak. Kenapa ya pak? Apakah sebagai firasat buruk?" ucap Vina.
"Hussss..! Jangan gitu ah Vin," sergah Guntur dengan wajah serius.
"Iya Vin."
Guntur tertegun tak habis pikir memandangi vas bunga yang jatuh hingga pecah berserakan dengan sendirinya. Ucapan Vina soal firasat buruk langsung terngiang-ngiang memenuhi pikirannya. Didalam hatinya sedikit membenarkan juga ucapan Vina namun cepat-cepat disangkalnya karena dirinya merasa selama ini baim-baik saja tidak ada sesuatu perselisihan apapun didalam pekerjaannya.
"Apakah mahluk gaib itu?"
Guntur bangkit dari kursinya berniat menemui pak Suro di kios buku loaknya yang berada disebelah perusahaannya untuk meminta dipanggilkan seorang ustad sekaligus mau menceritakan kejadian yang telah menimpa dua orang penebang pohon yang direkomendasikan oleh pak Suro.
Sementara itu diluar kantor cuaca sore udaranya tak begitu panas. Di teras pintu utama kantor Guntur melihat ke halaman parkir dan orang yang hendak ditemuinya berada disana sedang menyapu. Sudah menjadi kebiasaan pak Suro ketika kiosnya sedang sepi pengunjung, ia melakukan bersih-bersih tanpa disuruh oleh Guntur sebagai bagian dari bentuk tanggung jawabnya yang telah diberikan tempat tinggal dan kios tanpa harus menyewa. Tumpukkan dedaunan kering bercampur dengan sampah plastik dan kertas yang telah disapu itu dikumpulkan disudut pagar tembok kantor kemudian diseroknya dan diangkutnya dimasukkan kedalam bak sampah yang berada dibelakang kiosnya. Kemudian Guntur melangkah menghampiri pak Suro.
"Loh, pak lagi sepi pengunjung?" Tanya Guntur yang tiba di halaman parkiran.
"Iya Gun, hari ini lumayan sepi apa karena hari Kamis ya hehehe..." sahut pak Suro.
"Memangnya kalau tiap hari Kamis sepi gitu pak?" Guntur berdiri disamping pak Suro sambil melongok kios.
"Ya nggak juga sih Gun, tapi seringnya sepi." ujar pak Suro kemudian mengangkut sampah menuju bak sampah.
Guntur mengikutina dari belakang namun dia berhenti di kios dan langsung masuk ke dalamnya. Sementara pak Suro membuang sampah di belakang kios. Tak lama kemudian pak Suro sudah kembali dengan tangan basah habis mencuci tangannya.
__ADS_1
"Gimana Gun, pohonnya sudah di tebang?" Tanya pak Suro sambil menata buku-bukunya.
"Kemarin sempat ada insiden pak," ujar Guntur.
"Insiden? Insiden apa?" Tanya pak Suro lagi dengan terkejut.
"Iya pak, salah seorang penebang jatuh dari atas pohon lukanya lumayan serius. Sekarang masih dirawat di rumah sakit," ungkap Guntur.
"Siapa? Ujang atau Pakde?" Pak Suro menghentikan aktivitasnya merqpihkan buku-buku.
"Yang masih mudanya pak," ujar Guntur.
"Oh si Ujang, kenapa sampai jatuh begitu. Mereka sudah pengalaman," kata pak Suro mengernyitkan dahinya.
"Katanya saat dia turun habis mengikat pohon itu muncul kepala di batang pohon. Karena kaget dilepas tangan akhirnya jatuh," terang Guntur.
Pak Suro terdiam, pikrannya langsung tertuju pada sosok mahluk gaib di pohon itu. Apa yang dilihatnya beberapa waktu lalu kalau pohon itu merupakan rumah tempat tinggalnya berarti memang benar. Menurutnya akan sulit mengusirnya karena mahluk gaib itu metasa sudah lebih dulu meninggali tempat itu.
"Saya bermaksud meminta tolong lagi pak untuk mencarikan ustad atau kiyai yang bisa mengusir mahluk gaib penghuni pohon itu," ucap Guntur lagi memecah keheningan.
"Ya sudah kalau begitu nanti saya hubungi orangnya Gun, kapan?" Tanya pak Suro sedikit bimbang.
"Ini kan hari Kamis, kayaknya pas kalau nanti malam aja pak, gimana menurut bapak?" Guntur meminta saran dari pak Suro.
"Malam Jumat ya... Mmm...." pak Suro menghentikan ucapannya, ia seperti berpikir lalu meneruskannya.
"Ya udah Gun, nanti saya hubungi orangnya dan nanti saya antar langsung ke rumah." Kata pak Suro.
Kemudian Guntur merogoh saku celannya lalu memberikan selembar uang seratus ribuan kepada pak Suro sambil berkata, "Ini buat ongkosnya pak."
"Nggak usah Gun, bapak juga ada kok." Pak Suro berusaha menolaknya, dia ingin turut membantunya tanpa pamrih sebagai balas budi.
"Yeee... uang bapak biar buat makan aja sama Adi, pakai uang saya aja pak. Nggak apa-apa, ini pak..." sergah Guntur.
Pak Suro tetap kekeh nggak mau menerima uang pembetian Guntur tetapi Guntur meletakkan uang itu diatas hamparan buku lalu pergi meninggalkan kios pak Suro.
"Sampai ketemu di rumah ya pak." Ucap Guntur berlalu sambil menepuk bahu Pak Suro.
"Masya Allah, begitu baiknya anak itu. Semoga Guntur dan keluarganya dilindung dari segala macam bahaya dan kejahatan." Gumam pak Suro dalam hati sambil memandangi punggung Guntur yang berjalan memasuki kantornya.
......................
__ADS_1