TITISAN

TITISAN
KEJUTAN


__ADS_3

Hari-hari berganti hari setelah Guntur melewati berbagai peristiwa aneh bahkan beberapa kejadian yang mengancam nyawa, kini keadaannya sudah berjalan seperti sedia kala. Setiap pagi Guntur berangkat ke kantor, Kunto pergi kuliah dan mamah Karmila menyibukkan diri dengan aktifitas rumah tangganya, mencuci, menyapu dan menyiram tanaman. Semua dilewati dengan normal tanpa menemui hal-hal krusial lagi.


Suasana di perusahannya pun sudah kembali berjalan normal, meski ada sedikit perubahan struktural setelah pak Iwan terbukti bersalah telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Guntur.


Terakhir kali dalam sidangan putusan beberapa hari yang lalu, pak Iwan terbukti menjadi tersangka utama di balik kecelakaan tunggal di kawasan hutan Alas Roban dengan korbannya Guntur, Kunto dan Vina. Setelah polisi melakukan pengembangan dan penyelidikan, akhirnya di temukan fakta serta barang bukti berupa senjata tajam dan pistol serta sisa uang pembayaran yang di terima dari pak Pak Iwan dari pelaku-pelaku lainnya. Para tersangka itu antara lain Carok beserta 3 orang komplotannya. Dan Pak Iwan sendiri telah mengakui semuanya di hadapan Hakim sesuai dengan apa yang diungkapkannya pada saat di introgasi polisi.


Berdasarkan pemeriksaan oleh tim penyidik diketahui bahwa pelaku penembakan yang dilakukan Boni Pariaman alias Carok berusia 37 tahun sebagai eksekutornya. Dari keterangannya terungkap bahwa ia melakukan penembakkan mobil korban atas suruhan pak Iwan. Ketika hasil introgasi itu di samakan dengan hasil introgasi terhadap pak Iwan, hasilnya pun sinkron. Pak Iwan mengaku alasan mencoba membunuh Guntur motifnya karena ingin menguasai perusahaan. Pelaku dijerat Pasal 338 dan Pasal 340 KUHP junto Pasal 53 KUHP tentang percobaan pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.


Pagi ini wajah Guntur nampak cerah duduk di balik setir menuju ke kantornya. Senyumannya tak pernah berhenti semenjak keluar dari rumah. Meski jalanan sebentar-sebentar melambat akibat arus lalu lintas pada tetapi tidak mengurangi binar-binar kebahagiaan yang tampak di wajahnya yang tampan. Kalau di lihat-lihat sih mirip-mirip dengan almarhum aktor Rian Hidayat.


Tulilittt... tuliliiit... tuliliiit...


Tiba-tiba terdengar suara dering panggilan di hape Guntur yang ada di saku kemeja biru dongker, Guntur pun segera merogohnya menjawab panggilan itu.


"Ya Vi..." sambut Guntur membuka telponnya.


"Maaf pak, sekarang pak Guntur posisi dimana?" sahut Vina dari seberang telpon.


"Lagi di jalan nih, sebentar lagi sampai..." kata Guntur.


"Semuanya sudah siap pak," sahut Vina.


"Ok, oke. saya segera sampai Vin. Makasih ya," Guntur menutup telponnya kemudian sedikit mempercepat laju mobilnya.


Guntur kembali konsentrasi ke jalan yang di laluinya dengan sedikit lebih cepat. Sebelumnya Guntur melajukan mobilnya sedikit santai hingga tidak pernah menyalip kendaraan di depannya tetapi kini harus menyalipnya agar cepat sampai di kantor.


Sementara itu di dalam ruangan meeting nampak semua kursinya sudah terisi. Meeting kali ini tidak sedikit pun terlihat ada raut ketegangan di wajah-wajah karyawan dan karyawi PT ELANG TRABAS, perusahaan yang di pimpin Gintur. Bahkan sebaliknya dari raut wajah yang hadir di ruang meeting itu nampak sumringah, suasana pun menjadi ramai oleh canda tawa mereka.


Dari deretan kursi-kursi di ruang meeting hanya ada satu kursi yang tidak terisi. Ya, kursi itu biasa di tempati oleh pak Iwan. Nampaknya semua karyawan tidak ada seorang pun yang memperdulikan kekosongan kursi itu. Kalau mau jujur ketiadaannya pak Iwan diantara mereka sebetulnya sangat di syukuri. Naluri mereka yang merasa tidak nyaman dengan sikap pak Iwan akhiŕnya terbukti, kalau sikapnya selama itu merupakan cerminan watak jahatnya.


Tok... tok.. tok...


“Assalamualaikum, selamat pagi semuanya...” suara seorang pemuda tampan muncul dari pintu ruang meeting.

__ADS_1


“Wa’alaikum salam, pagi....” sahut semua yang ada di ruang meeting kompak lalu berdiri.


Suara-suara canda tawa yang menghiasi ruangan itu langsung terhenti. Pandangan mereka tertuju pada satu titik yaitu sosok Guntur yang berjalan kalem penuh wibawa menuju ujung kursi besar diujung meja.


“Silahkan duduk kembali,” ucap Guntur tersenyum sembari duduk di kursinya.


Semua karyawannya kembali duduk dengan santai menanti kejutan apa yang akan disampaikan oleh atasannya itu. Sebelumnya, Vina sekertaris pribadi Guntur hanya menyampaikan bahwa pagi ini diminta untuk berkumpul di ruang meeting.


Sejenak Guntur memperhatikan semua karyawannya sebelum membuka suaranya untuk menyampaikan maksud dan tujuannya mengumpulkan karyawannya di ruangan tersebut.


“Terima kasih sebelumnya buat rekan-rekan semuanya. Pagi ini sengaja saya minta pada Vina untuk rekan semua agar berkumpul di ruangan ini, tetapi bukan untuk membahas suatu tender seperti biasanya. Tapi....” Guntur menggantungkan kalimatnya, membuat penasaran semua yang ada di ruang meeting.


Wajah-wajah yang semula santai kini sedikit menegang dengan mengerutkan dahinya penuh tanda tanya.


“Loh, kok jadi pada tegang semua, santai saja jangan terlalu tegang begitu hehehe...” Ucap Guntur melihat perubahan wajah pada karyawannya.


“Abisnya pak Guntur bikin penasaran kita-kita ya...?” celetuk salah satu karyawan.


“Siapa pak?” tanya salah satu karyawan.


“Calon istri ya pak?” timpal karyawan lainnya.


Gerrrrr...


Suasana ruang meeting pun mendadak menjadi riuh oleh tawa semua karyawan, Guntur pun ikut tertawa dibuatnya.


Tok... tok... tok...


“Assalamualaikum...” suara seorang wanita terdengar diantara riuh tawa di dalam ruangan.


“Wa’alaikum salaaaam...” sahut semuanya bersamaan kemudian mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


“Nah, ini orang yang kita tunggu-tunggu. Masuk, masuk,” ucap Guntur lalu beranjak dari kursinya untuk menyambutnya.

__ADS_1


Seorang gadis berhijab hijau muda muncul dari balik pintu dengan senyuman manis mengembang di bibirnya. Wajahnya cantik seperti wajah khas orang Turqi.


Guntur menyambut wanita itu lalu membimbingnya menuju kursi satu-satunya yang kosong. Sekarang mereka mulai sedikit menduga-duga namun di simpan saja di dalam hatinya.


“Baiklah, ini orang yang kita tunggu-tunggu yang saya katakan sebelumnya. Saya perkenalkan namanya Hafizah, ia akan menggantikan posisi pak Iwan. Saya harap kalian bisa menerimanya dengan baik. Silahkan Hafizah,” kata Guntur kemudiàn mempersiahkan Hafizah untuk mengenalkan dirinya.


Hafizah berdiri dari kursinya, sejenak ia memandang semua karyawan yang ada di ruangan itu dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.


“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh...” ucap Hafizah membuka perkenalannya.


“Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuuuuh....” jawab semuanya serempak.


“Perkenalkan saya Hafizah, teman-teman bisa memanggil saya dengan Fizah. Saya diminta pak Guntur untuk mengisi kekosongan yang posisi yang sebelumnya diisi oleh pak Iwan. Tetapi, saya hanya sementara saja disini. Meski begitu saya harap kita dapat bekerja sama dan menciptakan kebersamaan seperti yang sudah terjalin selama ini. Bagaimana teman-teman, apakah saya bisa di terima disini?” kata Hafizah mengajak interaksi untuk menciptakan keakraban.


“Kalau pak Gunturnya menerima, kita-kita juga pasti menerima dengan senang hati bu, iyakan teman-teman, hehehehe...” ucap salah seorang karyawan lalu di sambut riuh tepuk tangan dan tawa bersahabat.


“Bagaimana pak Guntur? Karyawan anda meminta persetujuan anda,” ucap Hafizah memggoda Guntur.


“Gimana pak?” timpal beberapa karyawan.


Suasana pun kembali riuh, membuat Guntur sedikit kikuk merasa para karyawannya pun turut menggodanya. Kemudian Guntur hanya tersenyum lalu mengangguk mantap. Tepuk tangan diiringi celetukan-celetukan menggoda saling bersahutan.


“Sudah, sudah... pada mau makan nggak nih...?!” kata Guntur di sela-selah keriuhan.


“Mauuuuu...” sahut mereka bersamaan.


Guntur menoleh pada Vina di meja sebelah kirinya, lalu bertanya, “Vin, sudah siap?”


“Sudah pak,” jawab Vina.


“Ayo kita semuanya serbu rumah makan padang yang ada di sebelah kantor kita,” kata Guntur.


......................

__ADS_1


__ADS_2