TITISAN

TITISAN
REAKSI TAK TERDUGA


__ADS_3

Bias jingga merona semburatnya menghampar dilangit senja ufuk barat seiring hari akan segera berganti malam. Hembusan angin diatas rumah tahfiz begitu terasa membawa hawa dingin udara Bandung.


Pak Suro sedikit menggigil kedinginan oleh hawa dingin yang menerpa tubuhnya yang hanya dilapisi kain switer yang tak begitu tebal. Namun tidak demikian dengan haji Abas, ia tampak biasa saja karena memakai jaket kulit tebal dan kepalanya tertutup kopyah.


Kemudian Pak Suro dan haji Abas berjalan beriringan menapaki atas rumput Jepang yang tertata rapih di samping halaman rumah tahfiz. Raut wajah haji Abas nampak begitu muram memendam amarah yang teramat sangat. Guratan- guratan dikeningnya nampak begitu jelas membentuk tiga garis yang menandakan sedang mengerut dalam- dalam.


Sementara Pak Suro yang berjalan disampingnya mulai merasakan ada debaran- debaran di dadanya kian besar seiring jarak langkahnya semakin mendekati pohon beringin di sudut belakang rumah tersebut.


Sambil melangkah, bibir pak Suro tak henti- hentinya bergerak komat- kamit merapalkan suatau bacaan yang mengandung kekuatan supranatural. Haji Abas pun merasakan adanya energi kekuatan gaib yang bersumber dari pak Suro sehingga membuat haji Abas menoleh pada pak Suro. Namun sedetik berikutnya pandangannya kembali diarahkan pada pohon beringin yang jaraknya semakin dekat.


"Mmm, punten sebentar pak Suro. Ini bertepatan dengan azan magrib jadi saya nggak bisa menemani pak Suro. Saya harus mengimami sholat di masjid pak. Apakah pak Suro tetap melanjutkan atau ikut sholat magrib dulu?" tanya haji Abas sambil menyentuh lengan pak Suro menahannya sebentar.


Pak Suro pun menghentikan langkahnya kontan menoleh pada haji Abas seraya menjawab; "Pak haji punten, saya harus tetap melanjutkan. Setelah ini baru saya sholat magtib."


"Baiklah kalau begitu, nggak apa- apa saya tinggal ya pak?" tanya haji Abas meyakinkan pak Suro.


"Muhun, muhun. Nggak apa- apa pak haji, sok mangga..." sahut pak Suro.


"Ya sudah kalau begitu saya tinggal ya pak, Assalamualaikum!" ucap haji Abas.


"Wa alaikumsalam, muhun mangga... Mangga!" balas pak Suro. Haji Abas pun melangkah pergi meninggalkan Pak suro sendirian menuju pohon beringin.


Cahaya senja kian temaram, warna jingga diufuk barat mulai menghitam dan langit pun mulai gelap bertanda sesaat lagi hari akan berganti malam. Pak Suro sendirian melanjutkan kangkahnya berjalan mendekati pohon beringin dengan dada berdebar- debar kian kencang.


Tak berapa lama kemudian pak Suro menghentikan langkahnya pada jarak 5 meter menghadap kearah pohon beringin. Ssejenak pak Suro memandangi pohon yang dijadikan tempat tinggal mahluk Genderuwo tersebut penuh dengan tatapan menyelidik. Aura spiritual secara kasat mata tampak menyelimuti seluruh tubuhnya dengan cahaya kuning gading. Di depan pak Suro tampak pohon beringin berdiri kokoh, batangnya yang besar serta dedaunannya yang rimbun membentuk siluet seperti tubuh gemuk tinggi besar.


Tiba- tiba datang hembusan  angin menerpa tubuh pak Suro! Meski terasa halus menyentuh kulitnya yang hanya dilapisi kemeja koko, namun terasa mampu mendirikan bulu roma disekujur tubuh pak Suro. Ia berdiri mematung menghadap batang pohon beringin tak bergeming, tubuh pak Suro tampak seakan-akan tertelan separuh badan dipayungi oleh rindangnya dedauan beringin.

__ADS_1


Beberapa saat pak Suro berupaya meredam debaran di dadanya dan berusaha untuk tenang. Ia menarik nafas dalam- dalam lalu dihembuskannya perlahan- lahan. Hal itu dilakukannya hingga tiga kali untuk menenangkan pikirannya. Sesaat kemudian pak Suro perlahan- lahan duduk bersila diantara akar- akar pohon beringin yang bertonjolan menjalar keluar.


Baru saja pak Suro hendak membaca mantra untuk masuk ke dunia gaib menuju tempat kediaman Karbala, tiba- tiba terdengar suara azan magrib dari masjid membuat pak Suro memekik terkaget- kaget.


“Astagfirullah!!!” pekik pak Suro.


Suara azan terdengar sangat keras sekali di telinga pak Suro sehingga membuat pak Suro sangat terkejut tak terkira, bahkan pak Suro sampai berjingrak saking terkejutnya dan kontan beringsut mundur dari tempat duduknya.  Suara yang keluar dari pengeras suara masjid itu begitu keras karena jarak antara pak Suro dan masjid tak terlalu jauh sekitar 10 meteran saja.


Jika saja pak Suro memiliki riwayat penyakit  jantung mungkin ia sudah jatuh tak sadarkan diri atau mungkin meninggal seketika. Degub jantung pak Suro bergetak kencang, namun kali ini akibat dari rasa kagetnya bukan karena pengaruh kekuatan gaib dari pohon beringin.


Beberapa saat lamanya pak Suro kembali harus menenangkan dirinya dan  menstabilkan kembali konsentrasinya yang buyar.  Matera yang tak jadi dibacanya pun kembali di baca ulang untuk memasuki alam gaib tempat Karbala mengurung sukma Kunto.


Mulut pak Suro nampak kembali komat- kamit membaca mantera, tetapi sebelum matera itu selesai dibaca hingga tuntas, tiba- tiba terdengar suara tawa yang sember dan besar menggema berbaur diantara suara azan magrib.


“HAHAHAHA... HAHAHAHA... HAHAHA... Kenapa ikut campur pak tua?!”


“Karbala!” gumam pak Suro sedikit berdebar.


Seketika mulut Pak Suro langsung komat- kamit seperti membaca kalimat- kalimat bertuah. Dan benar saja bersamaan mulutnya komat kamit, perlahan- lahan muncul cahaya kuning gading lebih tebal langsung membungkus seluruh tubuh pak Suro.


“Karbala! Lepaskan sukma anak itu!” teriak pak Suro.


“Melepaskan anak itu?! Hahahaha… hahaha… Hahahaha… apa jaminanmu pak tua?!” bentak Karbala.


Seketika pak Suro terdiam, ia tak dapat menjawabnya. Sebelumnya Pak Suro tidak terpikrikan sama sekali di benaknya kalau Karbala akan meminta jaminan.


“Sialan Karbala!” ucapnya dalam hati merasa sangat geram.

__ADS_1


“Jangan harap bisa seenaknya saja mengambil anak itu dariku. Anak itu telah berbuat lancang! Tidak ada alasan untuk memaafkannya!” bentak Karbala, melihat pak Suro terdiam.


“Saya datang secara baik- baik Karbala. Dan saya pun akan meminta secara baik- baik untuk melepaskan sukma anak itu!” seru pak Suro geram.


“Kalau aku tidak menuruti permintaanmu, lalu kau mau apa pak tua?! Hahahaha… hahaha…” Karbala tergelak keras, dia merasa kedatangan pak Suro bukan suatu ancaman untuk dirinya.


“Baiklah Karbala, kalau begitu terpaksa saya akan mamakai cara kasar!”ancam pak Suro, kemudian merangkapkan kedua telapak tangan didepan dadanya dan langsung komat- kamit membaca mantera.


“Hahahaha… Hahahaha… Hahahaha… Hahahaha…”


Bukannya takut, Karbala malah tertawa keras seakan mengejek reaksi yang diperlihatkan pak Suro. Tiba- tiba Karbala meniupkan sesuatu dari mulutnya yang lebar dan bertaring kearah pak Suro yang nampak masih membaca mantera.


Pak Suro yang melihat gerakkan Karbala yang mengeluarkan sesuati dari mulutnya itu, seketika  segera mendorong kedua telapak tangannya kedepan secara bersama- sama untuk memapras selarik cahaya bulat sebesar buah jeruk yang meluncur deras kearahnya.


Wuuussss….!!!


Bummm…!!!


Suara dentuman terdengar hingga menggetarkan pijakan pak Suro serta menggetarkan pohon beringin. Seketika daun- daun berjatuhan menghujani tubuh pak Suro yang diam tertegun menatap pohon beringin. Wajahnya nampak pucat pasi, dan perlahan- lahan dari kedua sudut bibirnya keluar cairan berwarna merah kehitaman.


“Hekkhhh!” pekik pak Suro langsung jatuh berlutut sambil menekan dadanya keras- keras.


“Pulanglah pak tua, aku tak ingin berurusan denganmu, karena kau teman dekat anakku!” kata Karbala tak lagi membentak.


Pak Suro hanya bisa melototkan matanya menatap pohon beringin, sembari mencari- cari wujud Karbala. Namun wujud Karbala tidak dapat di temukan, pak Suro hanya melihat batang pohon dan rimbunan daun beringin saja.


Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki mahluk gaib. Mereka dapat melihat manusia dengan mudah, tetapi golongan manusia membutuhkan kekuatan batin untuk dapat melihat golongan mahluk gaib.*

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2