TITISAN

TITISAN
TEBANG POHON


__ADS_3

"Kuuun.. buruan atuh, laper nih...!" Seru Guntur dari ruang makan.


"Guntur, jangan teriak-teriak gitu ah," timpal mamah Karmila sembari mengambilkan nasi di piring yang ketiga.


Meski itu rumahnya sendiri namun Guntur tetap mengedepankan solideritasnya. Bisa saja Guntur dan mamahnya makan duluan namun itu tidak dilakukannya mereka tetap menghargai keberadaan orang lain. Bahkan Guntur dan mamahnya tidak lagi menganggap Kunto sebagai orang lain walau pun tak ada hubungan darah setetes pun.


Tak lama kemudian Kunto nongol dengan wajah kusut, lalu berkata;


"Duluan aja ya Gun, tante. Saya lagi ngerjain tugas kampus," ujar Kunto kemudian langsung balik badan lagi.


"E e,e... keriting, makan dulu..." timpal Guntur.


"Duluan aja deh," ujar Kunto berlalu.


"Kunto makan dulu, selesai makan lanjutin ngerjain tugas lagi. Ini sudah diambilkan," sergah mamah Karmila.


Kunto menghentikan langkahnya untuk kembali ke kamar, ia pun menuruti ucapan mamah Karmila dan duduk di kursi yang dihadapannya sudah diambilkan nasi diatas piring oleh mamah Karmila. Kunto susah menolaknya kalau mamah Karmila sudah turun tangan.


Malam ini kota Bandung diguyur hujan sejak petang tadi. Udara dingin menyelimuti keluarga Guntur yang sedang menikmati makan malamnya sambil diiringi obrolan-obrolan ringan.


Seandainya Sosok Kunto adalah Aryo mungkin suasananya akan terasa semakin hangat dan semakin lengkap pula kebahagiaan yang dirasakan Guntur dan mamah Karmila.


Tetapi sayangnya suasana seperti itu tidak pernah ada dan sudah hilang semenjak Guntur lahir. Sebab sejak saat itu Aryo secara aneh merasa tidak kerasan berlama-lama tinggal di rumah apalagi untuk menginap.


Misteri tidak kerasannya itu tidak ada yang tahu bahkan Aryo sendiri pun tidak mengerti dengan semua yang dirasakannga saat berada di rumah. Sepertinya ada yang terus-menerus menyuruhnya pergi dan misteri itu tidak terungkap hingga Aryo meninggal.


“Gun, gimana kasus kemarin, apa ada perkembangan baru?” Tanya mamah Karmila kemudian menyuapkan sesendok makanan terakhir ke mulutnya.


“O iya tadi sore Om Asrul telpon, beliau ngabari kalau hari ini juga polisi bergerak melakukan penangkapan terhadap otak pembunuhannya mah,” jawab Guntur kemudian menyudahi makannya.


“Mamah heran kenapa sampai kamu mau dibunuh ya Gun? Apa ini ada kaitannya dengan bisnis kamu?” Tanya mamah Karmila penasaran.


“Awalnya aku juga nggak ngerti mah, tapi setelah Om Asrul cerita banyak ternyata hanya karena ketidak sukaan si boss itu terhadap aku mah,” ujar Guntur.

__ADS_1


“Loh boss yang mana? Berarti masalah perusahaan dong,” mamah Karmila mengernyitkan dahinya bingung.


“Nah, itu dia mah. Guntur juga mengira ada hubungannya dengan persaingan bisnis tapi ternyata hanya karena masalah Hafizah,” ucap Guntur.


“Hafizah? Kenapa dengan Hafizah? Mamah Karmila semakin bingung.


“Jadi gini mah, mamah ingat waktu di acara syukuran itu, ketika pak Robi menunjuk seseorang boss yang badannya gemuk duduk di meja tengah bersama istri dan seorang pemuda gondrong?” Tanya Guntur sesaat.


“Mmm, ya ya,” jawab mamah Karmila mengangguk meskipun masih agak samar mengingatnya.


“Itu loh Tan, yang kata pak Robi ngingetin Guntur agar jangan pernah kerja sama dengan boss perusahan itu yang katanya jahat,” sela Kunto.


“Oooo, ya ya mamah ingat sekarang,” timpal mamah Karmila.


“Nah, orang itu namanya Anggoro. Si Anggoro ini menginginkan Hafizah menikah dengan anaknya yang gondrong itu. Sampai-sampai dia memaksa dengan mengancam Om Asrul segala. Saat di acara kemarin si Anggoro dan anaknya itu melihat kedekatan Hafizah dan aku katanya mah,” terang Guntur.


“Sesimpel itu? Sampai mau membunuh kamu Gun?” mamah Karmila merasa heran.


“Bukan hanya itu mah, setelah kita pamit diacara itu si Anggoro menanyakan tentang aku pada Om Asrul karena melihat Hafizah begitu akrab katanya. Kata Om Asrul bahwa aku itu calon menantunya, maksud Om Asrul mengatakan itu agar si Anggoro membatalkan niatnya memaksa Hafizah jadi menantunya. Katanya setelah itu Om Asrul juga diancam akan dibunuh. Ya semoga cepat tertangkap si Anggoro itu mah," kata Gunawan mengakhiri penjelasannya.


"O iya mah, katanya mamah mau pohon di belakang itu ditebang, jadi nggak? Aku sudah minta tolong sama pak Suro suruh cari orang tukang tebang pohon.


Mamah Karmila terdiam beberapa saat, pikirannya diliputi kebimbangan. Kalau kemarin-kemarin mengatakan itu dalam kondisi emosi tetapi sekarang merasa ragu setelah melihat peristiwa kemarin saat Guntur selamat dari serangan para penjahat itu. Dirinya meyakini kalau Karbala yang melindungi Guntur.


"Ya terserah kamu aja Gun," ucap mamah Karmila gamang.


......................


Cuaca pagi itu di langit nampak mendung menyelimuti kota Bandung sudah sejak selepas subuh. Dinginnya udara membuat semua orang malas menyingkapkan selimutnya dan enggan keluar rumah jika saja tidak harus menjalankan rutinitas dan kewajibannya berangkat kerja atau sekolah.


"Kun, saya berangkat kantor dulu ya. Awas jangan kemana-mana, dampingi para penebang pohon barangkali ada hal yang dibutuhkan mereka." ucap Guntur.


"Siap bos jomblo," jawab Kunto kemudian memberi hormat dengan menaruh tangannya di sisi kepala.

__ADS_1


"Aaah, sialan lu. Bentar lagi gue kawin tau!" sungut Guntur kemudian berlalu dari hadapan Kunto.


Dihalaman belakang Kunto berdiri memperhatikan dua orang pekerja yang akan menebang pohon yang berada dibelakang runah Guntur. Pohon rindang itu ternyata berjenis beringin kelihatannya sudah berusia sangat lama karena terlihat dari akar-akarnya yang bertonjolan keluar keatas permukaan tanah disekitarnya. Batangnya cukup besar dan berdaun sangat lebat.


Harusnya Kunto sudah berangkat kuliah pukul 8 pagi tadi namun karena perintah si boss jomblo memuntanya untuk memandori penebangan pohon itu akhirnya terpaksa tidak masuk kuliah.


Mau meminta pak Suro untuk menemani Kunto tetapi diurungkan oleh Guntur karena nggak tega melihat kiosnya selalu ramai dikunjungi para penggemar buku-buku lawas. Sementara itu mamah Karmila sudah sibuk didapur untuk memasak makan siang para pekerja penebang pohon.


"Pak berapa lama kira-kira selesainya?" Tanya Kunto pada para penebang pohon.


"Kalau nggak ada kendala sebelum Duhur juga kelar mas," jawab seorang yang memakai topi cowboy.


"Memang menebang pohon ada kendalanya pak?" Tanya Kunto mengerutkan keningnya merasa heran.


"Biasanya kalau pohon-pohon tua seperti ini nih mas, ada aja hambatannya," jawab penebang pohon bertopi cowboy.


"Susah gitu pak, keras batangnya?" Tanya Kunto polos.


"Kalau batang pohon sih semuanya sama bisa ditebas dengan gergaji mesin mah, tapi tidak semua pohon itu kosong mas," ujar penebang pohon.


"Maksudnya?" Kunto makin bingung tidak mengerti arah pembicaraan maksud si penebang pohon.


"Kadang suka ada penunggunya mas," ujar penebang pohon kemudian melangkah mendekati temannya yang sedang meyiapkan mesin gergaji.


Salah seorang penebang pohon terlihat sedang mempersiapkan peralatannya memasang mata gergaji pada mesin gergaji. Kemudian seorang penebang yang memakai topi cowboy melangkah dan berdiri dibawah pohon beringin sekitar berjarak 10 langkah dari batangnya, menghadap pohon beringin itu.


Sejenak dia menunduk mulutnya nampak komat-kamit membaca sesuatu. Ritual itu selalu dilakukan oleh para penebang pohon setiap kali akan memulai melakukan pekerjaannya menebang pohon.


Bagi mereka profesi sebagai penebang pohon juga memiliki aturan dan tata krama tersendiri tidak asa tebang saja. Sebab tak jarang mereka harus berurusan dengan mahluk halus yang mengaku sebagai penunggu pohon dan mengklaim kalau pohon tersebut adalah rumahnya.


Kunto duduk dibawah tembok pagar diatas rumput memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh para pekerja penebang pohon sambil menikmati secangkir kopi dan makanan ringan yang disediakan mamah Karmila.


......................

__ADS_1


__ADS_2