TITISAN

TITISAN
TRAGEDI PUTRI 2


__ADS_3

Tubuh putri gemetaran, rasa ngeri, takut dan jijik bercampur aduk didalam pikiran bocah berusia 10 tahunan itu. Bahkan untuk berlari saja tidak bisa, sekujur tubuh Putri terpaku di tempat. Putri di paksa menyaksikan adegan tak seharusnya ia lihat.


Hanya hitungan detik Putri terpaku di tengah- tengah pintu melihat adegan yang nampaknya tengah berada pada puncak kulminasinya sebelum sosok berbulu hitam lebat itu menoleh pada Putri.


Meski hanya hitungan detik, cukup bagi bocah perempuan kecil itu untuk mengerti kalau ibunya sedang diperlakukan tidak senonoh oleh mahluk yang sangat menyeramkan itu.


Seketika itu juga Putri reflek memejamkan matanya tak tak mau melihat adegan diatas ranjang itu. Bersamaan mata putri terpejam, sosok hitam berbulu lebat itu menoleh kearah Putri berdiri.


Dengan satu dengusan keras sosok menyeramkan yang tak lain adalah Karbala itu langsung meloncat dari atas tubuh Mamih Osa. Tubuh besarnya melenting di udara dan dalam sekejap mata sudah berdiri di hadapan Putri.


Putri yang baru saja memejamkan matanya tak melihat kehadiran mahluk genderuwo muncul di depannya. Namun Putri merasakan ada hembusan angin yang menderu menerpa wajahnya.


Putri tidak tahu hembusan angin itu merupakan dengusan nafas Karbala. Sepasang mata merah Karbala berkikat marah karena merasa telah di ganggu. Dia menatap lekat- lekat wajah bocah kecil itu, sementara mulutnya yang tersembunyi oleh lebatnya bulu- bulu hitam, seketika menyeruak menampakkan taringnya.


Karbala menyeringai dengan sorot mata penuh kesal. Kepala Karbala yang tertutupi oleh rambut gimbal dan panjang nampak bergerak pelan meliuk- liuk memperhatikan Putri. Sepasang mata merahnya sesaat berkilat memperhatikan Putri lekat- lekat dari kepala hingga ke ujung kaki dengan mulut menyeringai.


......................


Sore hari pukul 5.10 wib, Jin An sampai di halaman depan rumah bergegas buru- buru turun dari mobilnya setengah berlari memasuki rumah.


Semenjak lepas duhur, di kantornya Jin An merasakan tidak tenang. Perasaannya tidak enak, entah kenapa pikiranya selalu tertuju pada Putri.


“Putriiii... Putri....” seru Jin An begitu membuka pintu rumah.


Jin An melangkahkan kaki dengan tergesa langsung menuju ke kamar Putri. Saat tiba di depan kamar Putri, sejenak termangu ragu untuk mengetuk pintu ataupun membukanya.


Dilema baginya, jika mengetuk pintu atau membuka pintu kamar, Jin An khawatir Putri sedang tidur. Akan tetapi jika ia tidak membukanya, ia sangat penasaran ingin memastikan langsung kalau keadaan Putri baik- baik saja.


Setelah beberapa saat terdiam, Jin An pun memutuskan untuk mengetuk pintu kamar lebih dulu.


Tok... tok... tok...


“Putriiiii....” ucap Jin An hati- hati.


Lalu Jin An menunggu Putri menyahut dari dalam kamar. Namun yang di tunggu- tunggu tidak kunjung mènyahut. Jin An pun kembali mengulang mengetuk pintu dan memanggil- manggil namanya.


Tok... tok... tok...

__ADS_1


“Putriiiii....” ucap Jin An hati- hati.


Setelah beberapa saat ditunggu, tetap saja Jin An tak mendengar ada sahutan dari Putri dari dalam kamar.


Jin An pun kian penasaran, debaran di dadanya kembali menguat. Jin An memutuskan untuk membuka saja kamar Putri itu.


Jegreggg! Kreteeeekkk....


Pintu kamar Putri perlahan- lahan mula di bukanya. Mula- mula angel pandangan Jin An membentur ujung sudut tempat tidur.


“Putriiii...” panggil Jin An, mengira Putri sedang tidur.


Tidak ada sahutan dari Putri, Jin An kembali mendorong daun pintu kamar Putri melebarkan lagi sudut pandangnya lebih luas ke dalam kamar.


Mata Jin An tetap fokus tertuju keatas tempat tidur karena ia benar- benar mengira Putri sedang tidur. Namun setelah pandangannya jelas melihat keseluruhan tempat tidur, Jin An terkejut mendapati tempat tidur itu kosong.


“Putriiii... putri....”


Jin An mengedarkan pandangannya menyapu keseluruh ruangan kamar tidur Putri, tetapi tidak menemukannya. Kemudian Jin An melangkah mendekati meja belajar Putri, ia celingukan mencari sesuatu.


“Tas sekolah Putri nggak ada,” gumamnya.


Beberapa saat kemudian Jin An sampai di depan pintu kamarnya dimana mamih Osa berbaring sudah satu mingguan ini. Jin An langsung meraih handel pintu dan membukanya.


Jegregg..! Krettteeeekkkk....


Suara pintu kamar terbuka perlahan, Jin An melongokkan kepalanya mengintip kedalam kamar.


Jin An melihat istrinya terbaring diatas tempat tidur, sepertinya sedang tertidur. Pintu kamar dibuka lebih lebar lagi, pandangannya terfokus mencari Putri.


“Putriiii...” ucap Jin An pelan khawatir membangunkan mamih Osa.


Sambil melangkah mendekat ke tempat tidur, pandangan Jin An tertuju ke atas tempat tidur. Jin An sangat berharap dan memastikan ada Putri juga yang terbaring di sana.


Akan tetapi Jin An kecewa ternyata Putri tidak ada di sisi mamihnya. Hatinya mulai muncul kecemasan yang mendalam. Sejenak Jin An memperhatikan wajah istrinya yang nampak sedang tertidur.


Wajah mamih Osa terlihat sedikit pucat, namun Jin An melihatnya hal itu wajar karena istrinya itu kondisi sedang tidak sehat.

__ADS_1


Andai saja Jin An memperhatikan secara mendalam wajah pucat mamih Osa, mungkin ia akan dapat menemukan raut kelelahan di gurat wajahnya. Sayangnga Jin tidak menyadari itu.


Jin An tak mau mengganggu istrinya yang sedang tertidur, ia kembali bergegas keluar kamar untuk mencari putrinya. Perkiraannya Putri sedang bermain di taman halaman samping bersama Parno, tukang kebunnya.


Jin An berjalan keluar langsung menuju ke samping kiri rumahnya. Lagi- lagi, Jin An tidak menemukan Putri di halaman samping kiri itu. Bahkan Parno juga tidak ada di sana.


“Parnooo... Parnooo...!” Seru Jin An memanggil tukang kebunnya.


Sementara itu Parno sedang membersihkan rumput- rumput kering di halaman belakang tidak mengetahui kalau majikannya sudah pulang.


Parno nampak sibuk menyapu daun -daun kering dengan kepala menunduk fokus melihat dedaunan yang berserakkan.


“Parnoooo....” panggil Jin An sambil melangkah menuju arah belakang rumah.


Parno yang mendengar samar- samar suara memanggil namanya, sejenak menghentikan kerjaannya. Ia menajamkan pendengarnnya memastikan suara itu benar memanggilnya.


“Iya paaaak...” sahut Parno setelah dirinya yakin majikannya yang memanggil.


Jin An mempercepat langkahnya menuju belakang rumah setelah mendengar sahutan Parno.


“No... Parno...” seru Jin An saat melihat Parno berdiri yang sedang menoleh ke arahnya datang.


“Ada apa pak? Bapak kenapa?!” tanya Parno heran melihat raut wajah majikannya cemas.


“Putri diman no?!” Jin An langsung bertanya.


“Putri?!” gumam Parno kian heran.


“Iya, Putri dimana?!” tanya Jin An menekankan suaranya.


Parno tertegun masih tidak mengerti dengan majikannya yang menanyakan Putrinya. Sebab yang dia tahu Putri berada di dalam rumah dan sejak pulang sekolah itu Parno tidak pernah melihat Putri keluar rumah.


"Pppu, putri?!" Parno balik bertanya sekaligus memastikan pertanyaan Jin An.


"Iya, putri dimana?!" Jin An nampak mulai tak sabar bercampur cemas karena ia sendiri tidak melihat Putri bersama Parno seperti yang ia kira.


...................

__ADS_1


...


__ADS_2