TITISAN

TITISAN
TEKA-TEKI GUNTUR


__ADS_3

Tok... tok... tok...


“Assalamualaikum...” terdengar suara beberapa orang dari luar pintu kamar perawatan.


“Waalaikum salam...” sahut Guntur dan yang lainnya bersamaan.


“Renata, Joko, Jojo... kalian... masuk, masuk...” sambut Guntur surprize.


Renata, Joko, Jojo dan empat orang lainnya tertegun dengan mulut ternganga. Semuanya melongo menatap Guntur dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kepala Guntur yang masih terbalut perban dan beberapa luka goresan di tangan dan wajah membuat para karyawan itu terlihat kaget dan tak percaya.


“Kenapa kalian semua? Kok seperti heran dan bingung?” ucap Guntur melihat karyawannya tertegun.


“Eh, i,iya anu...” ucap Renata teegagap bingung mau menjawab apa.


Ketujuh karyawan itu saling berpandangan seolah-olah saling menyuruh untuk menjelaskan keheranannya.


“Kenapa? Ren, Jo, Jok ada apa?” tanya Guntur lagi penuh penasaran.


Mamah Karmila, Hafizah, pak Asrul dan Kunto turut menatap bingung pada karyawan Guntur. Namun mereka hanya diam karena mungkin masalah kantor, begitu pikir mereka.


“Ayo masuk, masuk, kok malah bengong di pintu sih,” ucap Guntur melambai-lambaikan tangannya.


Renata, Joko dan Jojo yang berada diposisi depan spontan tersadar dari keterkejutannya, kemudian melangkah masuk dan menyalami Guntur, mamah Karmila, Hafizah, pak Asrul dan Kunto.


“Pak Guntur... bebe, benar kecelakaan? Tanya Joko tergagap masih tak percaya melihat Guntur.


“Sudah berapa hari disini pak?” Jojo menimpali.


“Vina mana pak?” tanya Renata.


“Loh, loh... nanyanya borongan sih, ada apa sebenarnya? Kalian seperti bingung gitu, apa ada yang aneh dengan saya?” Guntur balik tanya penuh keheranan juga.


“Pak Guntur benar kecelakaan?” tanya Joko mengulangi.


“Iya Jok, tiga hari lalu saya bersama teman saya ini dan Vina kecelakaan, mobilnya masuk jurang di Alas Roban. Ini teman saya Kunto dan Vina di rawat di ruang sebelah. Tapi dia juga sudah membaik hanya luka ringan. Ini nih yang paling parah, kalian tau darimana?” terang Guntur.


“Berarti pak Guntur di rawat disini sejak hari Sabtu ya. Mmm, sabtu minggu, senin, selasa...” Renata menghentikan ucapannya sambil menghitung dengan jarinya.


“Hari senin dan Selasa pak Guntur masih disini?” tanya Renata polos.

__ADS_1


“Ya masihlah Ren, kondisi begini sudah balik lagi dan langsung berangkat kantor,” jawab Guntur logis.


“Ini, sungguh aneh bangèt deh pak. Ya, nggak masuk akal gitu,” ucap Renata.


Renata pun kemudian menceritakan dimulai dari proses kejadian sewaktu pak Iwan ditangkap. Namun ucapannya terhenti ketika dia hendak menceritakan kejadian saat dirinya dipanggil Guntur untuk memberitahukan kalau diluar ada tamu yang ingin bertemu dengan Guntur. Tetapi Renata tampak kebingungan bagaimana dirinya mengatakannya saat ketika dirinya menemui Guntur diruangannya sedangkan Guntur yang sebenarnya sedang dirawat di rumah sakit ini.


“Kenapa Ren, kok seperti kebingungan gitu?!” tanya Guntur heran.


“A, anu, pak... Duh, gimana nyeritainnya, ya...” Renata garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil menoleh kearah Joko meminta bantuan.


“Jadi gini pak, sebelum penangkapan pak Iwan itu Renata menemui pak Guntur di ruangan bapak. Dan dia menyampaikan kalau ada tamu dan saat itu bapak bilang katanya suruh masuk aja ke ruangan bapak. Tapi, pak Guntur kan ada...” Joko pun tak kuasa melanjutkan kalimatnya dengan kebingungan.


“Pada kenapa sih kalian ini? Bingung kok kompakkan,” ucap Guntur geregetan melihat wajah bingung mereka.


Wajah berkerut bingung juga nampak pada wajah mamah Karmila, Hafizah, pak Asrul dan Kunto. Mereka memandangi semua karyawan Guntur yang sedang kebingungan.


“Jadi begin pak Guntur,” sela Jojo yang kelihatan lebih tenang.


“Kami semua melihat pak Guntur dalam dua hari itu selalu berangkat ke kantor. Bahkan Renata sempat menemui bapak di ruangan,” ungkap Jojo.


Guntur terkejut mendengar penuturan Jojo, begitu pula dengan mamah Karmila, Hafizah, pak Asrul dan Kunto.


“Ah, mustahil. Nggak mungkin itu, ada-ada saja kalian ini,” sergah Guntur.


“Betul pak, saya juga melihat pak Guntur selalu ngantor,” ucap Joko.


“Betul pak, kami juga seperti biasa menyapa bapak setiap kali datang melewati kami,” ucap salah satu karyawan dibelakang Joko dan Renata.


“Saya sampai hari ini nggak pernah kemana-mana, apalagi berangkat ke kantor. O iya kalian juga lihat Vina disana?!” tanya Guntur mengerutkan keningnya dalam-dalam.


“Nah, justru itu pak kami juga heran. Vina nggak masuk dalam dua hari itu pak,” jawab Renata.


“Kok, bisa begitu?!” gumam Guntur.


Lain dengan ekspresi wajah mamah Karmila, meski terlihat terkejut mendengar perbincangan Guntur dan karyawannya namun didalam hatinya sudah memiliki perkiraan jawabannya sendiri.


......................


Bandung,

__ADS_1


Cuaca petang hari di kios buku loak pak Suro terlihat lenggang, didalam kios pak Suro duduk melamun sendirian. Pikirannya sedang bertanya-tanya kemana Guntur dalam dua hari ini tidak kelihatan. Biasanya setiap menjelang Duhur, Guntur selalu mendatangi kiosnya bahkan sering mengajaknya makan siang.


“Apa dia sakit ya? Sebaiknya saya ke rumahnya saja, perasaan saya nggak enak,” ucapnya dalam hati.


Pak Suro bergegas membereskan buku-bukunya, lalu memasukan kursi-kursi yang dijejer didepan kios tempat pengunjung duduk memilih ataupun membaca. Pak Suro memutuskan untuk pergi mengunjungi rumah Guntur.


Waktu Magrib masih satu jam lagi, nampak pak Suro turun dari angkot tepat didepan pintu gerbang rumah Guntur. Dia berdiri sejenak melongok-longokkan kepalanya diantara celah-celah teralis pagar melihat rumah Guntur.


“Kok sepi ya, ibu Mila biasanya jam-jam segini biasanya sedang menyirami tanaman,” gimam pak Suro.


Pak Suro menekan tombol bel yang ada ditembok pagar didepannya. Namun setelah sekian lama ditunggu-tunggu tidak ada yang datang membuka gerbang.


“Kemana Guntur dan ibu Mila ya?” pak Suro mematung didepan gerbang.


Pak Suro mencoba menggeser pintu gerbang barangkali bisa dibuka.


Grekkk!


“Nggak dikuci?” gumamnya.


Gredeeeekkkk...


Pak Suro membuka secukupnya selebar badannya dapat masuk. Ia melangkah menuju pintu rumah Guntur.


Tok... tok... tok...


“Assalamualaikum...”


Tok... tok... tok...


“Assalamualaikum...”


Pak Suro mengetuk pintu dan mengucap salam hingga beberapa kali namun tidak juga ada sahutan dari dalam.


“Gerbangnya nggak dikuci tapi sepertinya nggak ada orang didalam, wah kalau sampai malam Guntur dan ibunya nggak pulang juga ini bisa bahaya. Rentan pencurian,” batin pak Suro.


Pak Suro memutuskan untuk menunggu Guntur dan ibunya. Ia duduk di lantai teras sambil bersandar pada tiang saka disisi kanan. Pandangannya diedarkan ke hamparan halaman yang lumayan luas didepannya, sesekali menengok ke pintu berharap ada orang dari dalam yang membuka.


Beberapa lamanya pak Suro menunggu Guntur maupun ibunya tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Hingga kumandang azan Magrib terdengar dikejauhan, Pak Suro pun beranjak dari duduknya berniat untuk mengambil air wudlu melaksanakan sholat Magrib. Sejenak ia celingukkan mencari-cari kran air disekitarnya namun tidak ketemu. Pak Suro pun melangkah ke samping dan terlihat ada selang yang biasa digunakan ibu Mila untuk menyirami tanaman.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan pak Suro, ada sepasang mata sedang mengamati dari sudut belakang rumah Guntur.


......................


__ADS_2