TITISAN

TITISAN
PERMINTAAN GUNTUR


__ADS_3

Bulir-bulir air keringat nampak di dahi pak Suro, padahal cuaca malam lumayan sangat dingin namun pak Suro sangat kegerahan hingga baju kemejannya sedikit basah oleh keringat. Pak Suro terus berupaya membantu menyembuhkan mbah Dadan dengan segala kemampuan yang dimilikinya, akan tetapi sepertinya sia-sia. Kondisi mbah Dadan tidak mengalami perubahan, hanya matanya saja yang sebelumnya menutup rapat kini sudah terbuka dan sudah dapat melihat. Akan tetapi tubuh mbah Dadan masih tetap kaku tidak bisa di gerakkan.


Pak Suro menghela nafas berat, upayanya menyadarkan mbah Dadan tidak membuahkan hasil. ia mengamati sekujur tubuh Mbah Dadan sejenak kemudian pak Suro memjamkan matanya, saat itulah ia melihat melalui mata batinnya pada sekujur tubuh mbah Dadan terdapat seperti akar pohon berwarna hitam memiliki kekuatan besar yang mengikat tubuh mbah Dadan. Sontak saja raut wajah pak Suro tergurat kepanikan, dahinya mengerut dalam-dalam.


Setelah berhenti sejenak dan mengetahui penyebabnya, pak Suro tetap melanjutkan uoayanyanya berusaha untuk membuka ikatan gaib di tubuh mbah Dadan dengan kekuatan batinnya.


Sementara Karmila dan pak Asep berdiri termangu di belakang pak Suro, wajahnya nampak cemas menatap kondisi mbah Dadan. Karmila sempat berfikir melakukan tindakkan dengan mendatangi Karbala dan meminta untuk di sembuhkan akan tetapi niat yang terlintas di benaknya itu di urubgkannya. Karmila khawatir akan menimbulkan kecurigaan terutama pada Guntur. Guntur pasti akan sangat marah bahkan bisa saja meninggalkannya sama seperti papahnya ketika mengetahui kalau dirinya memiliki hubungan khusus dengan genderuwo itu.


Pak Suro nampak kembali bersila, ia memejamkan matanya. Penuh konsentrasi, mulut pak Suro terlihat komat-kamit membaca sesuatu. Tidak sampai satu menit setelah pak Suro selesai membaca sesuatu lalu ia meniupkan kedua telapak tangannya. Setelah itu pak Suro meletakkan tangan kirinya di atas dada mbah Dadan, sedangkan telapak tangan kanannya ia sapukan dari ujung kaki hingga bagian dada dan menyatukan telapak tangan kanannya itu dengan tangan kirinya.


Bersamaan dengan menyatunya telapak tangan itu tubuh pak Suro bergetar keras. Kedua tangan yang semula menyatu dan menempel di atas dada mbah Dadan tiba-tiba terpental keatas hingga kedua tangan pak Suro terangkat tegak lurus diatas kepalanya. Pak Suro merasakkan tangannya terdorong oleh kekuatan besar yang keluar dari energi yang mengikat tubuh mbah Dadan.


Pak Suro terkesiap mendapat benturan energi yang tidak ia perkirakan sebelumnya. Ia tak menyangka kalau kekuatan ikatan gaib sebesar itu. Ia merasakan kedua tangannya seperti kebas atau kesemutan yang rasa-rasanya bukan lagi semut yang kecil-kecil mungkin lebih tepatnya semut yang besar-besar. Tangan pak Suro nampak gemetar setelah berbenturan dengan energi yang mengikat tubuh mbah Dadan.


Di saat bersamaan dari arah ruang belakang muncul Guntur melangkah sambil memapah Kunto yang terlihat lemas. Sontak semua yang ada di ruangan itu memekik dengan mata membelalak tak percaya melihat Kunto sudah kembali.


“Kunto...!” teriak pak Asep sembari menyongsong membantu Guntur memapah Kunto.


"Bapak...? Bapak ada di sini?" tanya Kunto heran dengan wajah kuyu.


“Alhamdulillah...” ucap pak Suro dan Karmila.


"Kamu tidak apa-apa Kun?!" tanya pak Asep.


"Itu mbah Dadan ya pak?!" Tanya Kunto tak menghiraukan pertanyaan mamah bapaknya ketika melihat seseorang terbaring diatas karpet.

__ADS_1


"Iya Kun, bapak sengaja membawanya kesini untuk mencari kamu," ujar pak Asep kemudian mendudukkan Kunto di lantai beralaskan karpet itu.


Semuanya duduk setengah melingkar di ruang tengah menghadap tubuh mbah Dadan yang masih nampak kaku terbujur.


"Mbah Dadan belum siuman pak Suro?!" Tanya Guntur setelah duduk di samping Kunto.


"Emang mbah Dadan kenapa Gun?" Timpal Kunto menoleh pada Guntur.


"Belum Gun, bapak nggak sanggup. Ada kekuatan gaib yang mengikat tubuh mbah Dadan!" ungkap pak Suro.


"Hah?!" semuanya terpekik kaget mendengar penjelasan pak Suro.


Beberapa saat suasana hening, semua mata masih menatap lekat-lekat tubuh ringkih di depan mereka, demikian pula dengan Guntur memandang sekujur tubuh mbah Dadan yang kedua tangannya masih merekat di dadanya. Ia sempat bimbang memikirkan bagaimana caranya melepas ikatan gaib itu, kepada siapa lagi yang bisa di mintai pertolongan.


Sementara mamah Karmila juga termangu, di dalam hatinya bermacam-macam rasa tengah bergejolak. Ada rasa tak enak hati di rasakan oleh Karmila ketika pak Suro mengungkapkan penyebab mbah Dadan sepeti itu. Pikiran mamah Karmila langsung tertuju pada Karbala, ingin rasanya berteriak meminta Karbala untuk menyembuhkannya lagi.


"Sss, sa, saya pak Suro?!" sergah Guntur terbata-bata penuh ketidak pahaman.


"Iya kamu Gun," ucap pak Suro meyakinkan.


"Bagaimana caranya pak?!" Tanya Guntur tidak mengerti.


"Kamu bisa minta tolong Genderuwo itu untuk membuka ikatannya," ujar pak Suro.


Semua mata memandang kearah Guntur sekonyong-konyong memberikan kekuatan kepada Guntur mendukungnya untuk meminta bantuan pada mahluk gaib penghuni pohon beringin tersebut.

__ADS_1


Guntur terdiam menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dagunya menyentuh dada. Keberanian yang ditunjukkannya saat menghadang dan mencegah Genderuwo menyerang mbah Dadan merupakan gerakkan spontannya di tengah-tengah suasana panik. Tetapi sekarang, suasannya sudah mulai tenang, tiba-tiba harus menemuinya lagi? Ada rasa ngeri di hatinya membayangkan kembali sosok menyeramkan Genderuwo itu.


“Ayo nak Guntur, bapak mohon, ya nak. Apa kata orang-orang di kampung nanti kalau tiba-tiba mbah Dadan kondisinya begini dan khawatir beredar kabar yang nggak mengenakan. Mereka pasti menuduh bapak, gara-gara bapak mbah Dadan seperti ini,” ujar pak Asep memohon-mohon.


Ucapan pak Asep begitu menyentuh hati Guntur sekaligus memberikan kekuatan untuk melakukannya. Namun Guntur masih terlihat bimbang karena antara keinginannya menemui genderuwo lagi masih di dominasi rasa takutnya.


“Bapak temani kesana Gun,” ucap pak Suro mengerti dengan perasaan yang sedang di hadapi Guntur.


“Baiklah, saya akan coba. Mari pak Suro,” balas Guntur.


Pak Suro dan Guntur pun kemudian bangkit lalu melangkah bersama-sama melalui pintu samping menuju pohon beringin tersebut.


Sepeninggal Guntur dan pak Suro, mamah Karmila yang sedang termangu tanpa sengaja pandangan matanya membentur sebuah bungkusan daun yang ada di genggaman tangan kiri Kunto.


"Kamu bawa apa itu di tanganmu Kun?! timpal mamah Karmila.


Semua mata spontan tertuju pada bungkusan daun pisang yang ada di genggaman tangan kiri Kunto. Kunto sendiri ikut terkejut dengan benda yang ada di genggamnya, lalu spontan ia melemparkannya ke tengah.


Kunto terdiam seperti sedang mengingat-ingat dari mana asalnya bungkusan daun pisang itu. Dan sesaat berikutnya, sebuah rentetan peristiwa langsung teringat di dalam kepala Kunto seperti sebuah mimpi yang baru diingatnya. Selain asal usul bungkusan daun pisang itu, serangkaian peristiwa yang di alaminya ketika berada di alam lain pun membentang jelas.


"Astagfirullah!" pekik Kunto terkejut, tiba-tiba ia teringat rangkaian kisahnya di alam lain.


"Kenapa Kun?!" tanya pak Asep dan mamah Karmila bersamaan dengan raut muka ikut terkejut.


"Sssaa, sss, ssaya... aaa, anu dapat ini dari sana," ucap Kunto berusaha menceritakannya tetapi sangat sulit memilih kalimat yang tepat untuk menyampaikannya.

__ADS_1


"Nanti saya ceritakan kalau Guntur sudah kembali, ya Tan, pak..." ujar Guntur.


......................


__ADS_2