TITISAN

TITISAN
PERMINTAAN WANITA BERGAUN MERAH


__ADS_3

Guntur berjalan-jalan melihat-lihat seisi rumah yang akan di belinya didampingi Dani, sementara pak Suro dan Kunto turut mengekor di belakangnya. Rumah itu memiliki tiga kamar, salah satunya terletak di depan sejajar dengan ruang tamu yang cukup luas. Guntur keluar masuk dari ruangan ke ruangan, wajahnya nampak puas setelah melihat-lihat dan semakin memikat hatinya.


"Terima kasih banyak Gun. Ini saya serahkan kunci rumah dan surat-surat rumahnya," ucap Dani sambil berjabat tangan dengan Guntur setelah menerima pembayaran berupa selembar cek.


"Saya terima Dan, semoga kamu cepat pulih lagi usahamu," balas Guntur menerima kwitansi, kunci serta dokumen kepemilikan tanah dan bangunan dari Dani.


Secara simbolis acara pembayaran dan serah terima rumah dilakukan di rumah yang di beli Guntur dengan di saksikan Kunto dan pak Suro. Setelah beberapa saat ngobrol basa-basi, Dani pun langsung berpamitan langsung pulang ke Jakarta.


"Hati-hati Dan..." ucap Guntur mengiringi Dani keluar dari gerbang rumah dengan mobilnya.


Hari pun sudah menjelang magrib, semburat warna kemerahan dari ufuk barat menandakan hari akan berganti malam. Guntur berjalan melihat-lihat keliling rumah dengan hamparan rumput hijau dan beraneka ragam tanaman-tanaman bunga tertata indah dan rapih. Terdapat pula 3 pohon palm yang berdiri megah di setiap sisinya.


"Guuun... ayo sholat magrib dulu," suara pak Suro memanggil dari teras rumah.


"Iya pak," sahut Guntur.


Tak lama setelah Guntur menyahut kumandang azan Magrib terdengar bersahutan dari pengeras suara mushola dan masjid. Guntur pun segera masuk ke dalam rumah yang sudah menjadi miliknya itu untuk bergabung dengan pak Suro dan Kunto melaksanakan sholat magrib.


Beberapa saat kemudian Pak Suro, Guntur dan Kunto sudah bersiap-siap melaksanakan sholat magrib berjamaah. Pak Suro yang menjadi imamnya, sedangkan Guntur dan Kunto berdiri dibelakangnya menjadi makmum.


"Allaaaaahu Akbar," suara takbirotul ikhrom pak Suro terdengar memulai sholat lalu disusul suara Guntur dan Kunto.


Baru saja pak Suro akan membaca surat Al Fatikhah, tiba-tiba terdengar suara benda seperti jatuh dari diatas posisi Pak Suro, Guntur dan Kunto melaksanakan sholat.


Bletaaakkk...!


Pak Suro, Guntur dan Kunto sama-sama tersentak kaget bukan main. Namun ketiganya tetap melanjutkan sholatnya dengan perasaan dipenuhi tanda tanya dan juga timbul rasa was-was.


Bletaaakkk...!


Suara dari atas genting itu kembali terdengar, suaranya seperti benda yang sengaja di lempar keatas genting dengan keras.


Didalam hati pak Suro memperkirakan suara-suara yang muncul itu berasal dari bentuk interaksi mahluk halus yang menunjukkan ketidak sukaannya terhadap dengan apa yang sedang di kerjakannya. Pak Suro terus saja melanjutkan sholatnya diikuti Guntur dan Kunto, meskipun perasaannya sangat tidak tenang. Suara-suara dari atas itu sangat mengganggu sekali hingga membuat sholatnya tidak kusyuk.


Sampai akhirnya pada tahiyat akhir dan bersamaan dengan berucap salam akhir, tiba-tiba suara itu kembali terdengar. Dan suara kali ini kedengarannya lebih keras dari dua suara sebelumnya.

__ADS_1


Bruuukkk!


“Astagfirullah!” teriak Guntur dan Kunto serempak.


“Suara apa itu pak?!” tanya Kunto dan Guntur berbarengan.


“Sepertinya ada mahluk halus yang tidak suka kita berada di sini,” ucap Pak Suro.


“Wah, enak aja mahluk itu. Baru saja rumah ini dibeli, maen tidak suka aja,” sungut Guntur.


“Husss! Apaan sih Gun?!” sergah Kunto merasa ketakutan.


“Kun, kamu bisa di coba dengan penglihatanmu. Lihat dari depan,” kata pak Suro.


“Hiii.. takut pak,” tolak Kunto.


“Ayo, ayo kita keluar. Kita lihat ulah siapa yang usil ini,” ucap pak Suro.


Diawali Guntur lalu Kunto dan paling belakang pak Suro, mereka keluar ruma dan berkumpul berdiri di halaman depan rumah.


“Kun, kamu lihat diatas genting itu,” kata pak Suro sambil menunjuk ke atas tengah-tengah bangunan rumah.


Kunto pun menuruti permintaan pak Suro, ia langsung mendongakkan kepalanya. Matanya di edarkan mengelilingi atas genteng rumah mulai dari ujung belakang. Ketika pandangan matanya mengarah pada bagian tengah atas rumah, Kunto langsung menutup mukanya rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya.


“Kenapa Kun?!” tanya Guntur ikut panik melihat Kunto ketakutan.


“Peppp...ppperempuan itu... perempuan itu Gun!” kata Kunto tergagap sambil menunjuk keatas genteng.


“Mana?!” sergah Guntur sambil melihat kearah yang di tunjuk Kunto.


Perlahan-lahan Kunto merenggangkan jari-jarinya, matanya mengintip dari balik jemarinya melihat sosok wanita tersebut.


“Itu Gun, wanita ìtu memakai gaun merah. Dia sedang duduk ditepi genteng sambil uncang-uncang kaki!” seru Kunto.


Awalnya Guntur tidak merasa takut tetapi setelah Kunto menjelaskan rupa dan posisi wanita bergaun merah itu, Guntur pun merasa jadi seram sendiri.

__ADS_1


“Pak Suro...” gumam Guntur meminta pak Suro melakukan tindakkan.


Kemudian Pak Suro melangkah ke sisi samping rumah tepat dibawah posisi wanita bergaun merah duduk di bibir atap dengan dua kakinya yang menjuntai. Guntur dan Kunto mengikuti di belakang pak Suro saling mencengkeram kaos bagian ujung belakang satu sama lain.


Sosok yang duduk dengan kaki menjuntai di tepi atap genteng itu wajahnya tidak begitu jelas terlihat. Wajahnya hanya sebagian yang nampak dan sebagian lagi tertutup rambut terurai panjang.


“Asslamualaikum!” Seru pak Suro mencoba melakukan komunikasi dengan wanita bergaun merah itu.


“Assalamualaikum!” seru pak Suro kembali karena tak mendapat respon.


“Assalamualaikum!”


Usai mengucap salam yang ketiga, wanita bergaun merah itu nampak memandang pak Suro. Salah satu matanya yang tidak tertutup rambut jelas terlihat sedang menatap pak Suro dengan sorot tidak suka.


“Toloooong... toloooong...” suara wanita terdengar lembut dan jauh namun sangat jelas terdengar di telinga pak Suro, Guntur dan Kunto.


“Apa yang bisa saya bantu?!” tanya pak Suro dengan suara bergetar.


“Tolooong... saaayyaaa...”


“Iya saya akan tolong kamu, apa yang harus saya lajukan,” seru pak Suro.


“Kun, kun... lihat itu Kun!” tanpa sadar Guntur mencengkeram kuat-kuat ujung belakang kaos Kunto hingga melar.


Kunto masih menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya tak menjawab ucapan Guntur. Ia terus saja sembunyi dibelakang punggung pak Suro. Guntur sendiri ketakutan ketika sosok wanita bergaun merah itu terlihat dalam pandangan matanya. Seumur hidupnya penglihatan penampakkan mahluk halus tersebut sudah dua kali ini setelah melihat penampakkan Karbala.


"Kuburkan.. jasad... saya... dengan... semestinya..." kata wanita bergaun merah lirih.


Sontak saja pak Suro, Guntur dan Kunto bergidik ngeri. Isi kepanya langsung dipenuhi dugaan-dugaan buruk pada sosok wanita bergaun merah itu.


"Jasad kamu dimana?!" Tanya pak Suro kian bergetar suaranya.


Pak Suro sangat yakin sosok wanita bergaun merah itu merupakan arwah penasaran. Lalu kenapa sampai mahluk itu meminta menguburkannya dengan layak? batin pak Suro. 🔴BERSAMBUNG....


......................

__ADS_1


__ADS_2