
Di dalam masjid rumah Tahfiz, usai menggelar doa bersama itu Haji Abas kembali menginstruksikan untuk melakuakan pencarian Zahra lagi di dalam lingkungan rumah Tahfiz. Berharap Zahra akan dapat di temukan setelah dilakukan doa- doa itu.
Semua anak- anak santri Tahfiz, keluar dari masjid dengan berkelompok kembali menyebar mencari keberadaan Zahra. Sebelumnya haji Abas memberitahukan ada dua kemungkinan terkait hilangnya Zahra , yakni yang pertama Zahra benar- benar pergi dari tumah Tahfiz dengan diam- diam. Dan yang kedua, kemungkinan besar Zahra hilang ada campur tangan mahluk gaib. Sebab dari sekian banyak santri tak seorang pun yang melihat Zahra pergi keluar dari lingkungan rumah Tahfiz.
Beberapa ustad dan ustdzah turut mendampingi mengawasi santriwan santriwati dalam pencarian tersebut, sementara ustad Jalal, ustad Sofyan dan Ustad Amir tinggal di dalam masjid bersama haji Abas untuk mendiskusikan menghilangnya Zahra.
“Bagaimana menurut pendapat ustad semua?” Haji Abas membuka diskusi.
“Kalau menurut perkiraan saya pa haji, hilangnya Zahra ini sangat tidak wajar. Sangat aneh gitu pa haji, tapi apa mungkin di siang bolong ada mahluk gaib yang menampakkan diri?” kata ustad Sofyan.
“Iya juga sih, tapi seandainya Zahra keluar dari rumah Tahfiz rasanya tidak mungkin juga soalnya saya tidak pernah beranjak dari pintu gerbang mengawasi anak- anak pak haji,” timpal ustad Jalal.
“Apa mungkin ulah mahluk gaib penunggu pohon beringin itu?” kata ustad Amir menimpali.
Haji Abas nampak berpikir keras mempertimbangkan keterangan- keterangan dari para ustad tersebut. Instingnya kian menguat mengarah pada hal yang tidak wajar yang sudah di duga sebelumnya. Haji Abas membenarkan pendapat ustad Amir dan ustad Jalal yang sangat masuk diakal namun juga tidak menyangkal pendapat yang diutarakan ustad Sofyan.
Namun haji Abas tidak mau bertindak gegabah dengan memastikan hilangnya Zahra karena ulah perbuatan mahluk gaib penunggu pohon beringin. Dan satu- satunya cara untuk membuktikannya, haji Abas harus memastikan terlebih dahulu apakah Zahra benar- benar ada di alam gaib dibawa mahluk gaib tersebut atau tidak.
"Kita harus memastikannya dulu keberadaan Zahra," kata Haji Abas.
"Betul pak haji," sahut ketiga orang ustad itu mengangguk- angguk setuju.
"Siapa yang bersedia mendeteksinya?" tanya haji Abas.
"Saya juga nggap apa -apa pak haji," sela Ustad Amir.
"Tapi ingat! hanya sekedar memeriksanya jangan melakukan upaya apapun dulu, ya," kata haji Abas mengingatkan ustad Amir.
"Muhun," jawabnya singkat.
Ustad Amir pun segera merubah duduknya konsentrasi memulai membuka penglihatan batinnya. Matanya dipejamkan rapat- rapat, mulutnya mulai bergerak- gerak membaca amalan. Sementara haji Abas, ustad Sofyan dan ustad Jalal mengamatinya saja.
......................
__ADS_1
Di dalam rumah kuno berbentuk kastil, Putri dan Zahra nampak asyik sedang bermain drama dengan boneka – boneka. Sesekali derai tawa mengiringi dialog sambil memainkan boneka ditangan mereka.
“Putri udahan ah, capek...” ujar Zahra diakhir tawanya.
“Tidur aja Zahra disini ya,” kata Putri.
“Nggak apa- apa putri, aku tidur disini?” Tanya Zahra.
“Aku malah senang kalau kamu disini Zahra. Selamnya juga,” ujqr Putri.
“Beneran putri?” Wajah Zahra berseri-seri kegirangan.
“Iya Zahra, aku jadi nggak kesepian lagi,” kata Putri.
“Ya udah yuk, kita tidur aja putri aku ngantuk,” ajak Zahra.
Kedua anak perempuan itu lantas naik ke atas ranjang dan berbaring bersebelahan. Putri menarik selimut yang tergulung di bawah kakinya diujung ranjang menutupi badan dirinya dan Zahra. Tak beberapa lama kedua anak perrmpuan itu tertidur.
......................
"Gimana ustad?!" tanya haji Abas penasaran.
Begitu pula dengan ustad Sofyan dan ustad Jalal menatap ustad Amir menunggu jawaban.
“Zahra ada dialam gaib pak haji,” jawab ustad Amir membuat Haji Abas, ustad Sofyan dan ustad Jalal terperangah.
Kemudian ustad Amir pun menceritakan keadaan Zahra. Dalam penglihatan mata batinnya, ia menceritakan kalau Zahra sedang berada di dalam sebuah kamar dengan seorang anak seusianya tengah tertidur.
“Bagaimana ini pak haji?!” Sela ustad Jalal.
“Iya pak haji,” timpal Ustad Sofyan.
“Sampaikan kepada ustad dan ustazdah agar anak- anak berhenti mencarinya,” kata haji Abas.
__ADS_1
Ustad Sofyan dan ustad Jalal pun beranjak keluar dari masjid untuk meneruskan menyampaikan pesan haji Abas agar menghentikan pencarian Zahra.
Sementara waktu sudah beranjak memasuki senja hari, sekitar 30 menitan lagi akan memasuki waktu magrib. Haji Abas pun memutuskan untuk menarik paksa Zahra keluar dari alam gaib sebelum waktu magrib. Menurutnya akan semakin sulit jika dilakukan pada malam hari, sebab ia meyakini kekuatan mahluk gaib akan menjadi lebih kuat jika berada pada situasi malam hari.
“Kita ke pohon beringin itu ustad, kita harus segera mengeluarkan Zahra sebelum memasuki magrib,” kata haji Abas.
......................
Zahra tampak terlelap tidur di dalam sebuah kamar. Tiba- tiba kamar itu bergetar lalu disusul guncangan hebat pada kamar tersebut. Zahra pun seketika terbangun dengan wajah terkejut bercampur cemas.
Zahra menoleh ke tempat Putri sebelumnya berbaring di sebelahnya tetapi ia tidak mendapati Putri di tempatnya. Kecemasan Zahra berubah menjadi panik, rasa takutnya pun mulai menyelimuti hatinya.
“Putriiii... Put... Putriiii....” teriak Zahra panik.
“Putri.... Putriiii...”
Berulang kali Zahra memanggil- manggil Putri samb celingukkan melihat sekelilingnya yang nampak bergetar hingga menggerakkan benda-benda di dalam kamar.
“Putriiiiii....!” teriak Zahra kian panik menatap seisi kamar kebingungan.
Lantas Zahra beranjak turun dari atas ranjang, ia bermaksud hendak mencari Putri di luar kamar. Zahra berjalan sedikit limbung di sela- sela getaran dan guncangan ruang kamar., namun Zahra terus mencoba melangkah setapak demi setapak sambil berpegangan pada tepi- tepi ranjang menuju pintu kamar sambil memanggil- manggil Putri.
"Putriiii.... Putriiiii.... kamu dimana?!" seru Zahra dengan suara gemetar.
Selangkah demi selangkah, akhirnya tangan kecil Zahra berhasil meraih gagang pintu kamar yang besar itu.
Hawa panas perlahan- lahan mulai dirasakan Zahra di dalam kamar. Zahra langsung menggerakkan gagang pintu dengan panik untuk membukanya, akan tetapi pintu besar berukir itu tak kunjung bisa di buka. Zahra terus menggerakkan handel pintu kebawah dan keatas dengan putus asa, tapi tetap saja pintu besar itu sepertinya terkunci.
“Putriiiii.... Putriiiii....!” Teriak Zahra matanya mulai berkaca-kaca karena panik.
Didalam kamar itu Zahra merasakan sekelilingnya terus menerus bergetar dan berguncang- guncang hingga menjatuhkan benda- benda yang ada di dalam kamar. Zahra terduduk menggelosoh di bawah handel pintu dengan wajah kian panik dan ketakutan, kedua matanya melirik liar kesana kemari dari satu sudut kamar ke sudut kamar lainnya mengikuti suara- suara bemda berjatuhan.
Dalam kepanikan itu tiba- tiba sebuah suara menggema di dalam kamar menyebut- nyebut nama Zahra. Zahra terperangah hingga membuatnya kian menggelosoh, sekujur tubuh anak kecil itu nampak bergetar gemetar semakin ketakutan. Air matanya mulai deras mengalir di kedua pipinya sambil berteriak- teriak memanggil Putri.
__ADS_1
“Putriiii... kamu dimana... Putriiiii...!!!”
......................