
Dari sudut tembok, mula- mula pak RT Parno melihat sosok mahluk berbulu hitam lebat sedang berjongkok memunggungi. Pak RT Parno melihat sosok genderuwo sekilas memiringkan kepalanya melihat benda di tangan kirinya.
Tangan Karbala menggenggam kedua sisi kayu penusuk daging gagak itu, mata merahnya memperhatikan seonggok daging hitam sambil menggerak- gerakkan kepalanya. Sesekali hidungnya di dekatkan ke daging gagak mengendus- endus.
Pak RT Parno bergidik menyaksikan pemandangan tersebut, bulu kuduk disekujur tubuhnya langsung meremang.
“Sssttt... gimana pak RT?!” bisik haji Abas turut penasaran melihat pak RT menggidikkan badannya.
Udin dan tiga orang ustad tercekat menunggu jawaban pak RT Parno sekaligus ikut penasaran.
Pak RT Parno menoleh, lalu menjawab dengan memelankan suarannya; “Lagi mau makan...”
Haji Abas, Udin serta tiga orang ustad serentak bergerak perlahan- lahan tanpa menimbulkan suara mendekat ke tempat pak RT Parno. Mereka dibuat penasaran ingin melihatnya juga.
Sementara itu di tempat Ki Wayan yang sedang memotong batang pohon,
Ki Wayan sesekali mendongakkan kepalanya setiap kali mata gergaji mesinnya melesak lebih dalam ke batang pohon. Kali ini Ki Wayan benar- benar harus tepat perhitungannya agar pohon beringin itu tidak roboh menimpa bangunan lain.
Satu- satunya posisi roboh yang aman hanyalah ke sisi halaman samping. Ki Wayan pun menggeser sedikit posisi memotongnya lebih kearah kiri setelah memperhitungkannya secara matang.
Mata gergaji mesin kembali di benamkan. Kini batang pohon beringin seukuran dekapan dua orang dewasa itu sudah sepertiganya tertembus mata gergaji.
Daun- daun keringnya bertaburan jatuh ke tanah setiap kali Ki Wayan merubah posisi tebangannya. Nampak bulir- bulir peluh di dahi Ki Wayan mulai timbul.
Konsentrasi Ki Wayan terbagi dua, yang pertama dia mewaspadai pergerakan Karbala dan yang kedua mengatur pemotongan batang pohonnya agar robohnya sesuai dengan perhitungannya. Dan harus cepat- cepat menyelesaikan pemotongannyan.
Sesekali Ki Wayan menoleh ketempat Karbala yang sedang terbuai oleh makanan yang paling di sukainya, yakni sate daging gagak.
Nampak batang pohon beringin itu sudah terlihat lekukan potongan hampir mencapai setengahnya. Bersamaan itu daun- daunnya mulai terlihat goyah.
"Tinggal potongan sedikit lagi akan roboh..." gumam Ki Wayan.
__ADS_1
Ki Wayan menghentikan laju potongan gergajinya, lalu ia mendongak keatas rerimbunan pohon melihat pergerakkan batangnya untuk memastikan arah robohnya akan benar- benar sesuai perkiraannya.
Pohon beringin itu nampak mulai goyah, batang besarnya bergoyang- goyang sedikit. Ki Wayan kembali menoleh melihat posisi Karbala dibelakangnya yang masih menimang- nimang panggangan daging gagak.
Kemudian Ki Wayan cepat- cepat membenamkan lagi mata gergaji mesinnya lebih dalam. Butuh beberapa centi lagi membuat pohon beringin itu roboh.
Tidak ada pohon yang sakti di muka bumi ini, jika pun mendapati pohon seperti memiliki keistimewaan, hakikatnya bukan berasal dari pohon itu sendiri. Melainkan ada peran lain yang memberikan sesuatu kekuatan pada pohon tersebut.
Begitu pula dengan pohon beringin yang sedang di tebang oleh Ki Wayan. Sebelum- sebelumnya sempat tercetus dari para penebang pohon yang pernah melakukannya namun gagal, bahkan sempat mengancam jiwanya.
Mereka beranggapan kalau pohon beringin itu sakti, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah akibat pengaruh kekuatan sosok mahluk gaib yang mendiami pohon tersebut.
Mahluk gaib itu merasa kalau yang di lihat bangsa manusia itu berupa pohon, nyatanya adalah sebuah rumah tempat tinggalnya. Sehingga mahluk gaib akan menjaganya dan tak akan rela apabila tempat tinggalnya di rusak atau juga di hancurkan secara paksa.
Sementara itu suasana pagi yang beranjak memasuki pukul 10, nampak tak berubah. Cuacanya tertutup mendung yang mendadak menaungi semenjak Ki Wayan akan memulai penebangan pagi tadi.
Hembusan udara disekitar rumah Tahfiz itu pun terasa sejuk namun juga tak wajar, hawanya terasa begitu mistis.
Haji Abas dan yang lainnya serempak menoleh kearah sumber suara derakkan itu. Mata mereka seketika terbelalak kemudian cepat- cepat berlarian dari sudut tembok itu.
Krerkkk... krekkk... krekkkkeeeeekkkkk....
Wuuuusssshhhhh....
Braaakkk!
Brraaaakkk!
Bluggg!
Terdengar suara pohon beringin tumbang menuju halaman samping. Andai saja haji Abas, Pak RT Parno, Udin dan tiga orang ustad tidak buru- buru menghindar mungkin mereka akan tersambar ranting- rantingnya.
__ADS_1
Pohon beringin itu roboh kearah samping halaman sesuai perhitungan Ki Wayan. Beberapa rantingnya ada yang menimpa pinggir- pinggir atap rumah membuat kerusakan pada gentengnya. Genteng- genteng berjatuhan dan pecah dari atapnya yang rusak sepanjang 2 meteran tertimpa cabang dan ranting beringin.
Sesaat setelah pohon beringin itu berhasil di tumbangkan, Ki Wayan yang kini posisinya telah berpindah untuk menghindar dari rubuhnya pohon beringin langsung mengambil posisi duduk bersila menghadap lurus kearah Karbala.
Ki Wayan memejamkan matanya, mulutnya nampak komat- kamit dengan ekspresi raut wajah berkonsentrasi penuh. Tak lama kemudian kedua tangan Ki Wayan membuat gerakan seperti menggambar sebuah pola.
“Akan saya buat genderuwo itu tak dapat menemukan pohon beringin ini lagi!” Tersungging senyum jahat di bibir Ki Wayan.
Kemudian Ki Wayan bergegas berdiri lalu bejalan ke tempat tumbangnya pohon beringin sambil mengangkat tangannya. Ki Wayan kembali membuat gerakkan seperti menggambar sebuah pola segi empat yang di arahkan kesekeliling area pohon beringin yang sudah tumbang di tanah.
“Din...! Cepat potong semua cabang dan rantingnya!” seru Ki Wayan sambil melambaikan tangannya kearah Udin yang kini posisinya berdiri di tepi tembok bangunan masjid.
Udin dan juga haji Abas serta yang lainnya tak ada yang mendengar seruan Ki Wayan. Mereka masih terpana melihat tumbangnya pohon beringin.
"Diiiin...!" Seru Ki Wayan lebih keras.
Kali ini Udin menoleh, ia melihat Ki Wayan melambai- lambaikan tangannya. Udin pun buru- buru berlari ketempat Ki Wayan.
Sementara di tempat Karbala berada yang berada di sudut halaman depan, terlihat beberapa orang dari luar pagar rumah melongokkan kepalanya berusaha melihat ke dalam.
Namun anehnya, mereka seperti tidak melihat keberadaan mahluk Genderuwo yang sedang menikmati panggangan daging gagak. Padahal beberapa orang posisinya berada di depan genderuwo itu.
Warga sekitar penasaran dengan bunyi suara berderak akibat robohnya pohon beringin. Akan tetapi setelah mengetahui situasi di dalamnya mereka pun turun dari pagar dan kembali ke aktifitasnya tidak lagi melihat ke dalam halaman.
Sedangkan Karbala, kini posisinya sudah duduk dan nampak sangat menikmati memakan panggangan daging gagak di tangannya.
Sudah setengahnya panggangan daging gagak itu telah di lahapnya. Karbala terus saja memakan sedikit demi sedikit daging gagak itu tanpa merasa terganggu dengan sekitarnya.
Karbala terlihat masih terlena menikmati makanan kesukaannya. Nampaknya dia sudah sejak lama tidak memakan daging gagak dan baru merasakan lagi daging yang paling di sukainya itu.
......................
__ADS_1