
Kedatangan Zahra bersama ustazdah didalam asrama putri, membuat seisi asrama heboh penuh suka cita. Tatapan dari teman- teman sesama santri penuh keheranan, penuh tanda tanya dan berbinar- binar bahagia di mata mereka bercampur aduk menjadi satu, pandangan semuanya tertuju pada Zahra.
Zahra tampak masih belum mengerti dengan situasi dan kondisi saat ini. Kenapa semua teman- temannya memandang dirinya dengan penuh suka cita? Ia merasa tidak melakukan apa- apa, hanya bermain dengan teman barunya tetapi tatapan semua temannya terlihat seperti aneh melihat kehadirannya.
"Zahra kemana aja...?"
"Kita nyariin kamu tau..."
"Kamu tiba- tiba hilang dari sini..."
"Kamu seharian pergi kemana Zahra...?"
celotehan- celotehan anak- anak kecil itu saling bersahutan memberondong Zahra dengan penuh penasaran di tujukan pada Zahra. Zahra terlihat kian kebingungan dengan ucapan teman- temannya.
"Seharian?" gumam Zahra.
Anak perempuan itu mengerutkan dahinya dalam- dalam. Dirinya merasa hanya beberapa menit saja bermain dengan teman barunya, mengapa teman- temannya bilang seharian?
"Menghilang?" gumam Zahra.
Zahra mengingat- ingat lagi awal pertama pertemuannya dengan Putri. Dia merasa masih berada di dalam lingkungan rumah Tahfiz dan tidak kemana- mana ketika dirinya melihat Putri yang melambaikan tangan mengajaknya bermain.
Zahra diam terbengong- bengong mendengar beragam ucapan dari teman- temannya. Pikirian gadis kecil itu disesaki dengan hal- hal yang menurutnya aneh dan sama sekali tidak dimengerti olehnya. Ia merasa tidak kemana- mana dan hanya bermain dengan putri, tapi kenapa teman-temannya mengatakan mencarinya?
"Sudah, sudah biarkan Zahra istirahat dulu sejenak. Suci, ambilkan air minum buat Zahra ya," sergah ustazdah bernama Alia itu.
"Sebentar lagi masuk waktu sholat magrib, ayo kalian bersiap- siap sholat berjamaah di masjid ya," kata ustazdah Aulia lagi.
"Iya kak..." sahut anak- anak serempak, suaranya memenuhi ruangan asrama.
......................
Di dalam ruang tengah rumah utama rumah Tahfiz, ustad Jalal, ustad Sofyan, ustad Fajri, ustad Sihab dan beberapa ustad lainnya sedang mengerumuni tubuh ustad Amir yang tergolek di lantai beralaskan karpet.
Ustad Sofyan berusaha membanginkan ustad Amir dengan menepuk- nepuk pipinya, sementara rekan ustad lainnya memijat- mijat jari- jarinya. Namun ustad Amir tak kunjung tersadar juga. Tak lama kemudian haji Abas datang, wajahnya nampak sangat letih dengan keringat masih bercucuran di wajahnya. Sedangkan bajunya tampak basah kuyup oleh keringatnya.
__ADS_1
Seorang ustad bergegas melangkah pergi dari tempat itu untuk mengambilkan air minum saat melihat kedatangan haji Abas. Ustad Sofyan dan yang lainnya segera bergeser memberikan tempat untuk haji Abas.
“Bagaimana kondisi ustad Amir?” tanya haji Abas kemudian duduk di samping dekat kepala ustad Amir.
“Masih belum sadar pak haji,” jawab ustad Jalal.
Sebelum haji Abas membuka mulutnya hendak berkata meminta air putih, seorang ustad tiba dengan membawa dua gelas air putih. Haji Abas pun mengurungkan ucapannya.
“Ini untuk pak haji dan ini untuk ustad Amir, pak haji,” ucap ustad meletakkan dua gelas di depan haji Abas.
Haji Abah meraih salah satu gelas lalu meneguknya hingga tandas dan meletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu. Kemudian ia mengambil satu gelas lagi, tapi kali ini gelas itu hanya di dekatkan saja pada mulutnya. Mulut Haji Abas nampak berkomat- kamit membaca doa lalu sesaat berikutnya di tiupkannya ke dalam gelas berisi air putih itu.
Pelan- pelan haji Abas menuangkan air di dalam gelas itu kedalam telapak tangan kanannya agar tidak tumpah berceceran. Lalu air di telapak tangan itu di ciprat- cipratkannya ke wajah ustad Amir yang terbaring tak bergerak dengan kedua mata rapat terpejam.
Sesaat kemudian perlahan- lahan kelopak mata ustad Amir bergerak- gerak lalu membuka matanya. Seiring kedua mata ustad Amir terbuka kembali, ucapan syukur serempak keluar dari rekan- rekan ustad lainnya.
“Alhamdulillahirobbil alamaiiin...” ucap para ustad serempak dengan wajah sumringah memperhatikan ustad Amir.
“Za, Zah..hra, pak haji... gimana Zah..ra?!” ucap ustad Amir lirih dan terbata- bata.
“Alhamdulillah, syukurlah...” ucap ustad Amir kemudian berusaha bangkit untuk duduk.
Rekan- rekan ustad yang lainnya reflek turut membantu ustad Amir duduk. Ustad Amir celingukan melihat sekelilingnya, wajahnya dipenuhi keheranan.
“Kok, saya di sini...?” tanya ustad Amir.
Pertanyaan itu membuat semua ustad dan haji Abas tertawa geli. Sementara ekspresi raut wajah ustad Amir makin kebingungan, ia tampak berusaha mengingat- ingat kejadian sebelumnya.
"Sudah, sudah nanti saja ceritanya. Sekarang bersihkan badan kalian lalu bersiap- siap melaksanakan sholat magrib," sergah haji Abas.
"O, iya selesai sholat magrib nanti ada yang ingin bapak obrolkan dengan ustad- ustad semuanya terkait syarat yang diminta mahluk gaib itu," lanjutnya.
"Syarat?!" sela ustad Zaqi.
"Syarat apa pak haji?!" timpal ustad Jalal.
__ADS_1
Sementara ustad yang lainnya hanya menganggukkan kepala mengiyakan pertanya yang sama di dalam hati mereka.
"Iya, syarat. Jadi kembalinya Zahra itu dengan satu syarat. Tapi tenang saja bapak sudah punya rencana dan siasat dengan syarat itu. Sudah nanti saja kita obrolin lebih lanjut usai sholat magrib." kata haji Abas kemudian beranjak memasuki salah satu kamar untuk membersihkan diri.
......................
Usai melaksanakan sholat magrib, semua santri Tahfiz mengikuti tadarus dan belajar membaca dan menghafal Al quran. Mereka di bagi dalam kelompok- kelompok kecil menurut tingkatan dan lamanya waktu masuk rumah Tahfiz. Dengan bimbingan seorang ustad dan ustadzah pada masing- masing kelompoknya. Suara di dalam masjid pun ramai oleh lantunan- lantunan bacaan ayat- ayat suci Al quran memenuhi ruangan masjid.
Sementara haji Abas dan sebagian ustad yang tidak bertugas mengajar duduk melingkar di lantai teras depan masjid. Sesuai yang di bicarakan sebelumnya, haji Abas hendak menyampaikan tentang syarat yang sudah dia setujui dengan Karbala.
“Lalu apakah kita benar- benar akan pindah pak haji?!” tanya ustad Sofyan keberatan.
“Ya nggak lah, makanya dari itu saya mau diskusikan ini ustad. Saya memang meng-iya-kan saja pada saat mahluk gaib itu mengajukan syarat karena yang saya pikirkan hanya untuk supaya Zahra di kembalikan,” ungkap haji Abas.
“Kalau nggak pindah, lantas gimana pak haji?” tanya ustad Jalal tak mengerti.
“Kita lakukan perlawanan!” tegas haji Abas.
Para ustad terperangah mendengar siasat dan keputusan haji Abas. Dari raut wajah mereka tergambar keraguan dan bimbang. Mereka teringat dengan kondisi ustad Amir yang tak sadarkan diri saat menghadapi mahluk gaib penunggu pohon beringin.
“Punten pak haji, bagaimana dengan kekuatan mahluk penunggu pohon itu? Apakah kita dapat mengatasinya?” Tanya ustad Sofyan cemas.
Haji Abas terdiam sejenak, pertanyaan ustad Sofyan cukup membuat hatinya menjadi bimbang. Ia sendiri sudah merasakan bagaimana kedahsyatan kekuatan mahluk gaib itu dan sudah dapat mengukur seberapa kuat mahluk itu.
Namun sedetik berikutnya haji Abas tersenyum, kemudian ia menyampaikan siasat yang terlintas di benaknya saat itu. Bukan siasat seperti yang dipikirkan para ustadnya dengan melakukan pertempuran adu kekuatan.
“Siasat saya bukan melawan dengan bertarung ustad mengadu kekuatan. Tetapi siasat yang ada dipikiran saya adalah menebang pohon itu!” tegas haji Abas.
"Hah! di tebang?" sergah ustad serempak.
"Apakah tidak akan membuat mahluk gaib itu semakin marah pak haji?!" timpal ustad Jalal.
"Secara logika kalau rumahnya di musnahkan otomatis mahluk itu akan pindah dengan sendirinya. Nanti kita minta tolong pak RT untuk mencarikan tukang tebqng. Biasanya tukang tebang memiliki caranya tersendiri menghadapi mahluk- mahluk gaib yang mendiami pohon." terang haji Abas.
......................
__ADS_1