
Tiga hari telah berlalu, haji Abas duduk di serambi belakang rumah Tahfiz menghadap masjid. Sesekali ia melirik pohon beringin yang berdiri kokoh dengan daun- daunnya yang rimbun.
Haji Abas masih penasaran dengan peristiwa- peristiwa yang di ceritakan pak RT Parno. Di dalam pikirannya bergejolak, di satu sisi ia percaya dengan peristiwa masa lalu yang menimpa keluarga pemilik rumah yang pertama. Namun disisi lain batinnya terus- menerus menentang untuk tidak mengalah pada mahluk gaib tersebut.
Ditambah lagi dengan kenyataan yang ada dengan melihat keluarga pemilik rumah yang kedua yakni keluarga Guntur dan ibu Karmila. Haji Abas melihatnya kalau keluarga itu sepertinya baik- baik saja, tidak ada cerita yang aneh- aneh.
"Lalu kenapa keluarga pak Guntur dan ibunya tidak mengalami kejadian apapun?" begitu pikir haji Abas.
Pada saat haji Abas melakukan negosiasi pembelian rumah ini, Guntur maupun mamahnya memang tidak menceritakan sesuatu yang ganjil. Dan tampaknya semuanya baik- baik saja, tidak ada kesan mengalami peristiwa setragis keluarga pemilik rumah pertama, Jin An.
Logika itu menjadi penguat untuk menumbuhkan egonya sebagai manusia yang beriman dan tidak kalah atau pun pantang mengalah dengan mahluk gaib apalagi sudah sampai mengganggu.
"Pohon itu harus di tebang!" tekad haji Abas dalam hati.
......................
Sore itu Karmila duduk sendirian di bangku halaman taman bunga samping rumahnya. Meski matanya memandang bunga- bunga yang sudah bermekaran, namun didalam pikirannya dipenuhi dengan beragam praduga yang menimpanya tiga hari yang lalu.
Malam itu Karmila merasakan badannya serasa terbakar diatas pembaringannya. Dinginnya udara daerah Dago atas tak membuatnya kedinginan, justru malam itu tubuhnya berkeringat tanpa diketahui penyebabnya.
Karmila berguling ke kanan dan ke kiri diatas kasurnya karena tak tahan merasakan panas di sekujur tubuhnya. Wajah cantiknya yang putih basah oleh keringat yang bercucuran.
“Aaaakkkhhhh...”
Karmila mengerang sendirian sambil berguling- guling liar diatas kasur. Ia *******- ***** rambutnya sendiri saking tak tahannya dengan rasa panas yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya.
Kejadian yang sangat menyiksa itu berlangsung sekitar 15 menitan. Sampai pada puncaknya, tubuh Karmila terhentak tiba- tiba lalu terkulai lemah. Pandangan matanya seketika mengabur lalu gelap dan dirinya tak ingat apa- apa lagi.
Sudah tiga hari ini Karmila masih memikirkan peristiwa yang di rasakannya malam itu. Semenjak itu pula mendadak pikirannya dipenuhi oleh bayangan- bayangan situasi rumah yang dulu. Ada perasaan yang sekonyong- konyong terus -menerus menariknya untuk kembali.
Bahkan dalam tiga hari itu terkadang kepalanya terasa pening seperti terombang- ambing juga terkadang badanya terasa panas.
“Apakah ada kaitannya dengan...” dugaan- dugaan buruk seketika tertuju pada sosok Karbala.
Meskipun Karmila sudah mulai sedikit bisa melupakan sosok Karbala, akan tetapi ia tidak mengerti setiap kali badannya merasa sakit, saat itu pula pikirannya memunculkan bayangan sosok Karbala.
Selama Karmila dan Guntur pindah rumah, sosok Karbala tidak pernah sekali pun muncul di rumah barunya. Dan semenjak itu pula Karmila sudah mulai bisa sedikit melupakannya atau lebih tepatnya Karmila sudah bertekad ingin mengubur semua segala sesuatu yang terjadi di rumah itu.
__ADS_1
Hingga saat ini peristiwa terkutuk di rumah itu di tutupnya rapat- rapat di dalam hatinya. Walau pun menjadi sebuah beban batin yang bakal Karmila tanggung sepanjang hidupnya, namun itu jauh lebih nyaman ketimbang Guntur mengetahuinya.
......................
Sementara itu 3 hari yang lalu malam itu Guntur yang sudah tertidur di kamarnya, tiba- tiba tersentak bangun. Guntur merasakan dadanya berdebar- debar keras disertai dengan rasa panas yang menjalari sekujur tubuhnya.
“Kenapa ini?!” Keluh Guntur mengucek- ngucek matanya lalu memperhatikan sekeliling kamarnya yang gelap.
Guntur terduduk diatas tempat tidurnya sambil memegang dadanya yang serasa panas. Wajahnya bingung merasakan kondisi tubuhnya yang tiba- tiba sakit disertai dengan dada berdebar- debar kencang.
Selama 15 menitan keadaan itu sangat menyiksa Guntur, namun Guntur tak bisa melakukan apa- apa selain membungkukan badannya, meringkuk sambil memegangi dada diatas kasur.
Selama itu pula di kantornya pun Guntur nampak gelisah, ada perasaan yang mengganjal di hatinya tetapi entah karena apa.
Di dalam ruangan di kantornya pun hingga tiga hari itu Guntur hanya duduk melamun memikirkan kejadian malam itu. Melihat kondisi Guntur yang tak biasa itu membuat para karyawannya saling bertanya, namun tak ada satupun yang tahu sebabnya.
“Pak Bos kenapa ya?”
“Apakah pak Guntur sedang ada masalah?”
“Apa mungkin pak Guntur sedang bertengkar dengan Hafizah...?”
Kasak- kusuk membicarakan Guntur terjadi di ruang kerja team work, para karyawan itu sangat menaruh simpatik melihat keadaan Guntur. Mereka melihatnya pimpinannya seperti memiliki persoalan berat yang sedang menimpanya.
Meski begitu tak satu pun diantara para karyawan itu ada yang berani bertanya langsung pada Guntur.
Pada hari ketiga, salah satu karyawan memberanikan diri untuk memberitahukan pada pak Suro. Mereka tahu kalau Guntur dan pak Suro memiliki hubungan yang dekat.
Siang itu sekitar pukul 11.17 wib, di kios buku loak pak Suro nampak sedang sepi pengunjung. Pak Suro sedang merapihkan buku- buku yang terhampar tak beraturan bekas di baca- baca pengunjung sebelimnya.
“Assalamualaikum...” ucap Renata dan Joko berbarengan.
“Wa’ alaikum salam,” sahut pak Suro menghentikan aktifitasnya membenahi buku dan menoleh.
“Eh mas Joko, mbak Renata... mari- mari masuk,” sambut pak Suro ramah.
Renata dan Jojo pun masuk mengambil duduk di sisi kiri meja di samping pak Suro.
__ADS_1
“Ada apa nih, tumben- tumbenan kemari, hehehe...” ucap pak Suro.
“Anu, pak. Itu pak Guntur...” ujar Renata.
“Guntur?! Kenapa dengan Guntur?!” tanya pak Suro seketika panik.
“Pak, pak... tenang, tenang...” sela Joko melihat pak Suro panik.
“Pak Guntur nggak kenapa- napa pak, hanya saja kami kasihan melihatny. Kami khawatir pak Guntur ada masalah, soalnya sudah tiga hari ini kelihatan bingung,” ungkap Renata.
"Pantesan sudah tiga hari ini, dia nggak pernah kesini. Kenapa kira- kira ya," ucap pak Suro dalam hati.
"Ya sudah nanti bapak coba tanya kenapa ya," ujar pak Suro.
"Iya ya pak, kasihan kelihatannya ada beban berat gitu," kata Renata.
Saat Renata dan Joko saling menimpali menceritakan kondisi Guntur dalam tiga hari itu, tiba- tiba sebuah suara mengucap salam.
"Assamualaikum..."
"Wa' alaikum salam..." sahut Renata, Joko dan pak Suro bersamaan.
"Gun..." sambut pak Suro sedikit terkejut.
"Pak Guntur?" timpal Joko dan Renata.
"Loh, kalian kok disini?" tegur Guntur melihat Joko dan Renata.
"I, iya maaf pak. Ada perlu sebentar dengan pak Suro tapi sekarang sudah selesai mau kembali ke kantor kok pak," kata Renata segan dan tak enak hati.
"Oh, iya nggak apa- apa," ujar Guntur melangkah masuk kedalam kios.
Renata dan Joko bangun dari duduknya memberikan hormat pada pimpinannya yang hendak melewatinya.
"Sudah, sudah duduk saja. Santai aja..." ujar Guntur lewat.
"Sekalian kami permisi pak, kembali ke kantor." kata Joko yang di iyakan Renata.
__ADS_1
"Oh, iya deh." balas Guntur singkat.
......................