TITISAN

TITISAN
TAPAK KAKI ANEH


__ADS_3


Pagi hari pukul 6.05 wib udara dingin kota Bandung sangat menusuk tulang sum sum. Namun bunyi klakson dari kendaraan-kendaraan di jalan raya sudah ramai berseliweran. Kunto terbangun dari tidurnya oleh suara klakson mobil beruntun dari luar, dia mendengus kesal merapatkan selimutnya sambil menutup telinganya dengan bantal untuk kembali tidur. Akan tetapi upayanya untuk memejamkan mata tak kunjung berhasil malah membuatnya kesal karena susah sekali untuk bisa terlelap ditambah lagi rasa ingin buang air kecil mendorongnya untuk bangkit ke kamar mandi.


"Huhh!" dengus Kunto kemudian melompat dari atas kasurnya lalu melangkah keluar.


Baru saja selangkah keluar dari kamar, langkah Kunto mendadak terhenti. Matanya terkesiap melihat jejak-jejak kaki diatas lantai dengan bentuk yang tak biasa. Matanya menelusuri mengikuti arah jejak kaki aneh itu. Dan muka Kunto berkerut dalam dalam memperhatikan jejak kaki aneh itu terputus didepan kamar mamah Karmila.


Kemudian pandangan Kunto kembali diarahkan ke jejak kaki pertama yang nampak di tengah-tengah ruang tamu. Kunto memperhatikan dengan seksama bentuk jejak kaki yang dirasanya aneh. Tapak itu memang mirip dengan tapak kaki orang namun saat diperhatikan lebih detil lagi, terntata bentuknya memiliki ketidak samaan dengab bentuk kaki manusia. Pada tapak kaki bagian tumit terlihat mengerucut sedang pada bagian dibawah jari jari nampak lebar. Dan yang membuat Kunto mengernyitkan dahinya, tapak kaki pada jarinya hanya berjumlah empat. Kunto lantas bergegas melangkah menuju kamar Guntur disebelahnya.


Tok...!


Tok...!


Tok...!


Tok...!


"Guuuun, Guntuurrr...!" Seru Kunto didepan pintu kamar Guntur sambil menggedor-gedor pintu.


Guntur yang masih terlelap tidur didalam kamarnya langsung terlonjak kaget mendengar kerasnya suara gedoran pintu. Sambil mendengus kesal Guntur malas-malasan menyibak selimutnya lalu beranjak turun dari kasur tanpa mempedulikan suara gedoran yang terdengar penuh kepanikan. Dengan langkah gontai dan memicingkan matanya yang masih berat ia membuka pintu kamarnya.


Krettteeeekkk...


Suara deritan pintu dibuka terlihat wajah penuh kepanikkan dari Kunto yang berdiri didepan pintu kamar. Guntur tidak terlalu merespon ekspresi raut wajah Kunto yang penuh kecemasan kemudian menguap dihadapan Kunto sambil menyandar pada daun pintu yang terbuka.


"Apa sih Kunnnn ah, ganggu aja lu!" Sungut Guntur kemudian kembali menguap.


"Haduuuueehhh, melek dulu atuh Gun!" seru Kunto kemudian menarik tangan Guntur keluar kamar.


"Ada apaan sih Kun?!" tanya Guntur bersamaan tubuhnya ditarik Ķunto.


"Itu, itu, melek Gun. Lihat ituuuu...!" Ucap Kunto menekan suaranya gemas mendapati Guntur menggelayut di daun pintu dengan mata merem.


Guntur sedikit memicingkan sebelah matanya dengan berat hati. Matanya melirik noda hitam diatas lantai mengikuti arah telunjuk Kunto. Akhirnya Guntur tertarik juga dengan gambar telapak kaki yang ditunjukkan oleh Kunto.


Guntur berubah posisinya yang semula bergelayut dipintu kini tegak sembari mengucek-ngucek matanya dua kali. Sesaat kemudian dahinya nampak mengerut memperhatikan delapan pasang telapak kaki. Kedua matanya mengikuti arah telapak kaki itu hingga gambar telapak kaki itu tidak ada lagi didepan pintu kamar mamahnya.


"Lu ngintip mamahku ya?!" seru Guntur kemudian menjitak kepala Kunto.

__ADS_1


"Aduh! Sembarangan aja lu Gun, mana berani ngintip. Bisa-bisa aku tidur di emperan toko," sungut Kunto sambil mengusap-usap kepalanya yang dijitak Guntur.


"iya juga ya," ucap Guntur dalam hati mempercayai ucapan sahabatnya itu.


Guntur kontan menoleh pada Kunto, Kunto pun reflek melihat Guntur hingga keduanya saling berpandangan penuh tanda tanya di hatinya masing-masing. Setelah pikirannya tersadar 100% dari kantuknya kemudian timbul kekhawatiran dihatinya pada keadaan mamahnya. Lalu Guntur lekas-lekas keluar dari kamarnya melangkah merunduk-runduk sambil mengamati jejak jejak kaki itu yang menuju kearah kamar mamah Karmila. Kunto pun spontan mengekor dibelakang Guntur hingga beberapa saat kemudian Kunto menabrak punggung Guntur saat Guntur menghentikan langkahnya.


"Aduhhh!" pekik Kunto dan Guntur berbarengan.


"Apaan sih Kun?!" Sungut Guntur.


"Ya elu berhenti mendadak," ujar Kunto.


"Mata lu taroh dimana?" sungut Guntur gemas kemudian meletakkan jari telunjuknya dibibirnya agar Kunto tidak lagi ngeyel menyalahkannya.


Kunto yang hendak membalas omelan Guntur pun mengurungkannya melihat kode diam dari Guntur.


Didalam hati Guntur terheran-heran dengan jejak kaki jejak kaki yang sangat aneh dan tidak umum. Ya, sangat aneh karena jejak kaki itu sepintas seperti jejak kaki manusia tetapi hanya ada empat jari juga dengan ujung tumit yang meruncing. Lalu kenapa jejak kaki itu seperti menuju kamar mamahnya? Hal itulah yang membuat Guntur semakin penasaran dibuatnya.


"Gun, menurut lu jejak kaki apa ini?" tanya Kunto berbisik di telinga Guntur hingga membuat Guntur bergidik kegelian.


"Meneketehe..." jawab Guntur cuek mengangkat bahunya.


"Astagfirullah!"


Guntur dan Kunto terkejut bukan main, keduanya terlonjak hingga terjengkang kebelakang. Tubub Guntur menindih perut Kunto membuat Kunto harus menahan berat beban diatas perutnya.


"Ada apa dengan kalian?!" seru mamah Karmila ketika keluar kamar melihat Guntur dan Kunto saling tindih.


Mamah Karmila juga terkejut sekaligua keheranan melihat Guntur dan Kunto berada didepan kamarnya di pagi-pagi seperti ini. Guntur lekas-lekas beringsut dari atas perut Kunto dan bergegas berdiri sambil memperhatikan mamahnya, disusul kemudian Kunto sambil mengibas-ngibaskan tangannya pada pada celana kolor bagian pantatnya membersihkan debu.


"Mah, mamah nggak apa-apa kan mah?!" sergah Guntur kemudian memperhatikan mamahnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Memangnya ada apa sih?!" Mamah Karmila balik tanya dengan raut wajah keheranan.


"Lihat itu mah," kata Guntur menunjuk pada jejak-jejak kaki yang tercetak jelas diatas keramik putih dari ruang tengah menuju kamar mamah Karmila.


Tapak kaki seukuran orang dewasa paling besar itu cukup membuat wajah mamah Karmila terkejut bukan main. Saking penasarannya mamah Karmila maju selangkah kedepan Guntur dan Kunto lalu berjongkok memperhatikan gambar jejak kaki itu.


"Siapa yang ngintip mamah?!" tanya mamah Katmila geram menatap Kunto dan Guntur bergantian.

__ADS_1


Guntur dan Kunto saling melempar pandangan kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu ya Kun?!" tuduh mamah Karmila dengan mata melotot.


"Waduh, nggak tante! Sumpah nggak!" jawab Kunto panik.


Mau menuduh Guntur tapi diurungkan karena didalam akal sehat mamah Karmila mengatakan tidak mungkin anaknya sendiri berbuat songong kepada orang tuanya sendiri.


"Mah, mah. Perhatikan jejak kaki ini dulu mah, jangan main tuduh aja kasian Kunto ntar kalau diusir mau tidur dimana dia," sergah Guntur yang kasihan melihat Kunto tersudut oleh tuduhan mamahnya.


Mamah Karmila kemudian memperhatikan lebih seksama gambar telapak kaki yang ada dihadapannya. Beberapa saat kemudian setelah menelitinya barulah dia sadar dan mengerti maksud Guntur. Keningnya berkerut dalam-dalam melihat keanehan dari telapak kaki itu.


"Jari-jarinya ada empat?" gumam mamah Karmila setengah bertanya kemudian menatap Guntur.


"Nah, itu dia mah," ujar Guntur lalu menoleh pada Kunto.


"Coba Kun lihat kakinya," sambung Guntur.


Kunto nurut saja mengikuti perintah Guntur, ia menyodorkan kakinya. Secara reflek ketiganya menghitung jari kaki Kunto.


"Ada lima kan Tan?!" seru Kunto sambil nyengir.


Mamah Karmila secepatnya mengalihkan pandangannya jengah. Kenapa dirinya harus menghitung jari kaki Kunto? Kan sudah jelas-jelas berbeda bentuknya.


"Mamah semalam nggak ngalamin kejadian apa-apa mah?" Tanya Guntur kemudian kembali berdiri diikuti Kunto dan mamah Karmila.


"Nggak Gun, mamah malah semalam tidur subuh karena nggak bisa tidur." jawab mamah Karmila.


"Iya aku juga mah tidur jam tigaan tapi nggak mendengar suara apa-apa." ucap Guntur.


"Kun, ambil hape lu potoin jejak kaki ini aku mau cari tau kaki jenis mahluk apa ini." sambung Guntur menoleh pada Kunto.


"Siap boss!" sahut Kunto sambil mengangkat tangannya memberikan hormat.


"Ah dasar lu!" timpal Guntur kemudian hendak menjitak Kunto tapi Kunto lebih cepat menghindar bergegas lari menuju kamarnya.


Mamah Karmila tidak terlalu memperhatikan tingkah Guntur dan Kunto, dirinya masih fokus memikirkan jejak kaki misterius dihadapannya. Hatinya bertanya-tanya apakah ini jejak kaki milik Karbala?


......................

__ADS_1


__ADS_2