TITISAN

TITISAN
PENASARAN


__ADS_3

“Apa? Serius lu?!” seru Guntur. Guntur terkejut bukan main mendengar kabar dari suara ditelpon genggamnya.


“Di rumah sakit mana?” Tanya Guntur dengan wajah tegang.


“Ok , ok ya udah gua kesana sekarang.” Guntur langsung menutup telponnya kemudian langsung beralih meraih gagang telpon diatas meja.


“ Hallo Vin, saya ke rumah sakit dulu, urgen. Tolong handel aja sama kamu profosal dari Pak Agung dia mau datang tiga puluh menit lagi, sampaikan maaf saya tidak bisa menemuinya, ya.” Ucap Guntur pada sekertarisnya dan menutup telponnya.


Guntur bergegas keluar ruangannya dengan tergesa-gesa melewati tempat para karyawan-karyawati yang ada di area work team hanya melihatnya dengan wajah penuh tanda tanya.


......................


Di langit mendung masih menaungi langit Bandung namun hujan belum juga menampakkan tetes-tetes hujamannya. Guntur turun dari mobilnya yang di parkir tidak terlalu jauh dari pintu utama Rumah Sakit, lalu cepat-cepat berjalan memasuki Rumah Sakit Hasan Sadikin. Terlihat banyak lalu lalang orang-orang dengan beragam ekspresi di wajah meraka ketika Guntur memasuki lobi utama rumah sakit. Namun dari sekian banyak orang yang betpapasan nyaris tak ada yang menemukan ekpresi gembira di wajah-wajah mereka. Tentu saja situasinya bertolak belakang dengan ekspresi wajah dengan orang-orang di dalam mall.


Kemudian Guntur menghampiri petugas jaga untuk menanyakan ruangan tempat Kunto dan penebang pohon di rawat seperti yang dikatakan Kunto melalui telpon. Setelah mendapatkan petunjuk Guntur langsung melangkah meninggalkan lobi menuju ruangan tersebut. Guntur berjalan tergesa-gesa diantara orang-orang yang lalu lalang dengan berbagai urusannya masing-masing dan raut wajah yang berbeda-beda. Setelah melewati lorong pertama, Guntur berbelok melewati lorong dan bangsal sebelah kanan.


“Nomor dua lima... dua lima... dua lima...” Guntur bergumam sembari melihat nomor-nomor kamar perawatan.


“Nah itu dia nomor dua lima,” gumamnya.


Guntur tiba didepan pintu kamar nomor 25, sejenak dia melongok kedalam dari celah kaca selebar 20 cm yang ada di pintu untuk memastikan ada Kunto didalam kwawatir salah kamar memasuki kamar orang tak dikenal.


"Ah benar itu si keriting," gumamnya kemudian membuka pintu kamar.


Guntur melangkah masuk sambil mengucap salam. Terdengar suara dua orang menyahut dan itu suara Kunto dan Pakde si penebang pohon. Wajah keduanya nampak cemas sambil menyalami Guntur.


"Gimana kondisinya Kun?" Tanya Guntur lalu melihat Ujang yang tergolek miring.


Ujang nampaknya sedang tertidur akibat pengaruh obat pencegah rasa sakit. Punggung Ujang terlihat dibalut perban putih melingkari perutnya. Guntur merasa heran melihat luka yang memanjang yang lebih mirip dengan luka sayatan bukan seperti luka orang jatuh pada umumnya. Sepanjang perjalanan tadi Guntur hanya memperkirakan paling tidak patah tulang ternyata setelah melihatnya jauh diluar perkiraannya.


"Lukanya lumayan parah Gun, tapi untungnya tidak ada tulang yang patah," ujar Kunto.


"Kok lukanya kaya kena bacokkan gitu Kun, gimana ceritanya bisa luka begitu?" tanya Guntur heran.

__ADS_1


"Makanya dokter juga awalnya mengira terkena bacokkan. Dokternya aja sempat nanya kejadian tawuran dimana katanya, setelah dijelasin barulah dia paham." ungkap Kunto.


"Kalau kejadian persisnya saya nggak begitu jelas Gun karena jarak saya dengan bapak dan Mas ini sekitar 20 meteran. Mungkin bapak ini yang tau persisnya," sambung Kunto menunjuk pakde.


"Pak, bapak nggak apa-apa?" tanya Guntur menoleh pada Pakde yang berdiri di sisi lain bangsal Ujang tergolek.


"Alhamdulillah kalau saya mah nggak apa-apa pak," jawab Pakde.


"Syukurlah, gimana kejadiannya Pak bisa terluka seperti itu," tanya Guntur lagi.


"Saat Ujang sudah selesai mengikat dia turun...." Pakde menceritakan secara rinci kejadian itu dari awal. Namun Pakde sendiri tidak mengetahui persis penyebab Ujang bisa jatuh seperti itu.


Kalau dikatakan akibat kelalaian Ujang atau kurang pandai dalam memanjat, rasanya itu sangat tidak mungkin. Mengingat sudah puluhan bahkan ratusan pohon yang dinaiki Ujang tidak pernah mengalami kecelakaan seperti ini. Yang pohonnya lebih besar dan tinggi dari pohon beringin di rumah Guntur sekalipun tidak pernah masalah. Ujang sudah menjadi asistennya selama 10 tahun lebih semenjak Ujang masih bujangan hingga sekarang sudah menikah. Rasanya kalau dibilang kurang ahli dalam memanjat itu sangat mustahil. Pakde sendiri masih belum mengetahui penyebab sebenarnya Ujang sampai jatuh karena belum sempat bertanya ataupun Ujang belum menceritakan sebabnya. Kini tinggal menunggu penjelasan dari Ujang langsung, karena pasti ada hal lain yang membuatnya terjatuh.


"Punten ya Pak, apa tidak memakai tali pengaman pak?" Tanya Guntur setelah mendengarkan penjelasan Pakde.


"Iya pak, karena dia pikir pohonnya tidak terlalu tinggi dan mudah dipanjat," ujar Pakde.


"Tapi pak, saya merasa pasti jatuhnya Ujang ini karena ada sesuatu yang lain pak," sambung Pakde.


Namun didalam hati Guntur sudah menebak arah pembicaraan yang dimaksud lelaki paruh baya dihadapannya. Tapi Guntur pura-pura tidak mengetahuinya.


"Pohon itu... pohon itu...." Pakde terlihat ragu-ragu dan bingung mengungkapkannya.


"Katakan saja pak, nggak apa-apa..." sela Guntur menenangkan Pakde yang terlihat takut-takut mengatakannya.


"Anu pak, pohon itu ada penunggunya," ungkap Pakde dengan wajah serius.


Guntur pura-pura tersentak kaget namun tidak dengan Kunto yang terlihat sangat terkejut beneran. Wajahnya terkesiap melongo ketika mendengar ucapan Pakde. Tanpa sadar tangannya mencengkeram lengan Guntur kuat-kuat.


"Apa sih lu! Sakit tau," sungut Guntur melotot kearah Kunto.


"Eh, maaf, maaf hehehehe...." ujar Kunto cengar-cengir.

__ADS_1


Benar juga kata Pak Suro kalau pohon itu ada penunggunya. Atau jangan-jangan mamah juga sebenarnya sudah tahu tentang pohon itu, begit pikir Guntur dalam hati.


Setelah suasana hening beberapa saat, tangan Ujang nampak bergerak-gerak. Lalu disusul matanya terbuka dan melirik melihat kesekelilingnya. Ujang beringsut berusaha bangun sambil meringis menahan nyeri di punggungnya.


"Jang, kamu sudah siuman?" sergah Pakde melihat Ujang bergerak kemudian membantunya duduk.


"Pakde, Mas, Pak..." ucap Ujang berhasil duduk dipinggir ranjang menghadap Kunto dan Guntur.


"Gimana kondisinya mas?" tanya Guntur menatapnya prihatin.


"Alhamdulillah sudah lebih baikan Pak," jawab Ujang pelan.


"Jang, pak Guntur pengen tau ceritanya bisa sampai kamu jatuh." Sela Pakde yang berdiri dibelakangnya.


"Iya mas, kenapa? Pasti ada penyebabnya," ucap Guntur penasaran walaupun sebenarnya Guntur sendiri sudah memiliki perkiraan penyebab Ujang jatuh.


Ujang terdiam menunduk, sepertinya dia berusaha kembali mengingat-ingatnya. Awalnya raut wajah Ujang yang hanya menahan nyeri, mendadak berubah merasa ngeri bersamaan ingatannya kembali terbayang dengan jelas seraut wajah dipenuhi bulu, matanya besar menyala merah menatap tajam dirinya. Ujang langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa mas?" tanya Guntur khawatir.


"Kenapa Jang?" tanya Pakde menimpali.


"Mu.. mu..muka itu..." Ucapan Ujang terhenti, ia kembali menutup wajahnya rapat-rapat.


"Apa yang Mas lihat?" Tanya Guntur kemudian mengusap bahu Ujang mencoba menenangkannya.


"Sa.. sa.. saya.. meli..hat.. kepala.. keluar dari tengah ba.. tang.. pohon pak," ungkap Ujang terbata-bata menunjukkan betapa ngerinya membayangkannya. Kemudian Ujang menarik nafasnya dalam-dalam lalu menceritakannya lagi.


"Mukanya dipenuhi... dengan... rambut... matanya besar... seperti menyala merah... sebagian mukanya... tertutup sama rambutnya... yang.. se.. se.. seperti gimbal," ungkap Ujang dengan ekspersi ngeri.


Guntur tercekat mendengar penuturan Ujang. Sesuai dengan dugaannya kalau itu ulah dari mahluk gaib yang menghuni pohon itu. Geraham Guntur gemerutuk menahan emosinya, amarahnya muncul tiba-tiba karena mahluk gaib itu sudah membuat orang celaka hingga nyaris mati.


"Aku harus tetap tebang pohon itu!" teriaknya dalam hati.

__ADS_1


......................


__ADS_2