
Lembayung sutra diufuk barat mulai menampakkan semburat cahayanya. Cuaca sore hari daerah Dago Atas sudah sangat terasa udaranya yang dingin.
Di halaman rumah sisi samping, Mamah Karmila sedang asyik menatap satu demi satu tanaman hias kesukaannya. Ia nampak begitu menikmati momen di sore hari itu dengan memandangi tanaman- tanamannya.
Ada tanaman anggrek merah, anggrek putih, gelombang cinta, tanduk rusa, puring, keladi red star dan ada beberapa jenis lagi.
Mata mamah Karmila serasa tak jemu berlama- lama memandangi tanaman- tanaman hiasnya, hatinya berasa sangat dimanjakan dengan taburan warna warni dari daun- daun dan bunga yang menghampar tertata rapih.
Dengan mengenakan t-shirt tanpa lengan berwarna orange dipadu dengan bawahan memakai celana jeans yang sangat pendek memperlihatkan keindahan sepasang kakinya yang jenjang kuning langsat tanpa noda.
Andai saja halaman samping rumah itu tak terhalang pagar sehingga orang yang melintas di depan rumah dapat melihat mamah Karmila bebas tanpa halangan, mungkin sudah ratusan pasang mata yang meliriknya.
Sedang asyik- asyiknya menikmati keindahan tanaman- tanaman hias, tiba- tiba mamah Karmila dikagetkan oleh suara klakson mobil dari depan rumah.
Tiiim... tiiin...
Mamah Karmila kontan menoleh kearah depan pagar rumah, sesaat kemudian ia tersenyum. Lalu Mamah Karmila menolehkan kepalanya melihat depan pintu rumah berharap ada Kunto yang akan membukakan pintu gerbangnya.
Sesaat kemudian mamah Karmila bernafas lega. Perkiraannya benar, ia melihat Kunto setengah berlari muncul dari pintu menuju pagar rumah.
Tak lama kemudian setelah pintu Gerbang dibuka, mobil Pajero warna putih memasuki halaman dan berhenti depan rumah.
Guntur turun dari mobilnya, baru saja satu kakinya menapak di tanah, Kunto datang menghamipiri.
“Gun, ada surat dari kampus. Ku taroh di kamarmu tuh,” kata Kunto.
“Surat apa Kun?” Guntur balik tanya sambil melanjutkan turun dari mobilnya.
“Nggak tau, tagihan kali,” balas Kunto.
“Tagihan apa? Gua lunas nggak kaya lu ah,” sungut Guntur.
“Ya kali, hehehe...” sahut Kunto.
“Mamah dimana Kun?” Tanya Guntur berjalan memasuki rumah diikuti Kunto disampingnya.
Sesaat Kunto tampak celingukkan mencari mamah Karmila.
“Tadi sih aku lihat di taman samping, kayaknya masih disana deh,” jawab Kunto.
“Oh,” gumam Guntur, kemudian mengurungkan menuju kamarnya. Ia langsung balik badan melangkah menuju ke halaman samping rumah untuk menemui mamahnya.
__ADS_1
Beberapa langkah setelah berjalan keluar ke sisi samping, Guntur dapat melihat mamah Karmila sedang berdiri memunggungi diantara tanaman- tanaman hias.
"Mah..." seru Guntur dari jauh.
Mamah Karmila menoleh dengan senyuman manis menghiasi bibir tipisnya, lalu menyahut; "Gun, udah pulang...?"
"Iya Mah, udah mau magrib tuh mah, masuk yuk..." ajak Guntur lalu menyalami tangan mamah Karmila.
Mamah Karmila mengangguk lalu mengikuti tarikan tangan Guntur. Keduanya berjalan menuju ke dalam rumah.
"Gimana kondisi mamah?" tanya Guntur sambil berjalan beriringan.
"Yah, mamah udah nggak apa- apa Gun. Hanya saja tadi pagi sewaktu mamah menyirami tanaman- tanaman itu tiba- tiba saja kepala, dan badan mamah sakit- sakit gitu," ungkap mamah Karmila.
"Hah! sebaiknya cek ke dokter aja ya mah. Aku khawatir masih ada pengaruhnya dari mamah pinsan kemarin," ujar Guntur cemas.
Guntur menghentikan langkahnya, lalu menempelkan punggung telapak tangannya ke dahi mamah Karmila.
"Nggak usah Gun, beberapa menit saja sakit- sakit di kepala dan badan mamah itu hilang dengan sendirinya. Sampai saat ini mamah nggak kenapa- kenapa lagi tuh," ucap mamah Karmila.
"Kira- kira Jam berapa waktu mamah sakit- sakit itu mah?" tanya Guntur sambil kembali berjalan.
"Mmm... sekitar jam 10- an kayaknya," balas mamah Karmila.
Seketika dada Guntur berdebar keras, Guntur teringat dengan kejadian dirinya saat di ruangan kerjanya. Di jam 10- an itu Guntur merasa dirinya sangat marah yang muncul tanpa ada sebabnya.
Guntur tak lagi berbicara hingga memasuki rumah. Ia merasa sedikit keheranan, kenapa kejadiannya diwaktu yang bersamaan.
"Sebenarnya apa yang menyebabkan kejadian ini?" batin Guntur.
......................
Di rumah tahfiz di senja hari menjelang waktu magrib...
Diluar masjid ramai riuh oleh anak- anak santri rumah tahfiz yang mengantri untuk berwudlu untuk melaksakan sholat magrib.
Anak – anak yang sudah berwudlu langsung masuk ke dalam masjid menunggu waktu masuk sholat sambil menunggu yang lainnya.
Sementara para ustad dan ustazah pembimbing hanya memperhatikan dan mengawasi santri putra dan putri berwudlu dari kran air yang berjajar.
Selang beberapa saat lamanya akhirnya semua anak- anak santri satu- persatu sudab masuk kedalam masjid. Kemudian disusul para ustad dan ustazah giliran berwudlu.
__ADS_1
Setelah semua ustad dan utazah pembimbing juga selesai berwudlu, datang belakangan ustad Sofyan dengan tergesa- gesa.
“Ustad baru sampai?” tegur ustad Ikhwan.
“Iya ustad,” jawab ustad Ikhwan sambil berjalan menuju ke tempat wudlu.
“Gimana ketemu dengan orangnya ustad?” tanya ustad Ikwan lagi.
“Alhamdulillah, ketemu dan bersedia katanya.” Jawab ustad Sofyan.
“Saya duluan ustad,” ujar ustad Ikhwan kemudian melangkah memasuki masjid setelah ustad Sofyan menjawab dengan anggukkan kepala.
Setelah kejadian dua anak santri kesurupan, haji Abas berinisiatif meminta bantuan untuk menangani gangguan di rumah tahfiz.
Usai situasi kesurupan berhasil ditangani, selepas duhur ustad Sofyan diajak menemani haji Abas untuk menemui seorang kiyai di suatu daerah yang masih berada di Bandung juga.
Lampu- lampu dilingkungan rumah tahfiz nampak sudah menyala menerangi area sekelilingnya. Begitu juga di area sekeliling masjid karena cuaca di langit pun sudah nampak mulai gelap.
Ustad Ikhwan melangkah ke tempat wudlu, namun sebelum mengambil air wudlu ia masuk ke kamar kecil karena kebelet buang air kecil.
Sesaat kemudian ustad Sofyan masuk ke kamar kecil dan menguncinya dari dalam. Baru saja bersiap- siap hendak buang air kecil, tiba- tiba dari atas kepala ustad Sofyan meluncur deras deru suara angin.
Wuuuusssss!
Kontan saja ustad Sofyan mendongakkan kepalanya. Bersamaan kepalanya mendongak, ia merasakan deru angin menghujam deras tepat kearahnya.
“Astagfirullah!” Pekik ustad Sofyan.
Ustad Sofyan reflek kembali menundukkan kepalanya akibat tekanan angin itu sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.
Ia tersurut mundur hingga terpojok di sudut kamar kecil yang berukuran 2X3 meter persegi itu sembari menyembunyikan kepalanya diantara kedua tangannya.
Bluggg!
Disusul terdengar suara yang begitu keras seperti benda jatuh dari atas hingga menimbulkan getaran yang dirasakan oleh ustad Sofyan.
Dari mulut ustad Sofyan tak henti- hentinya mengucapkan istigfar. Sementara Ia masih meringkuk disudut kamar kecil tanpa berani untuk melihatnya.
Ustad Sofyan tak bisa mengira- ngira sosok apa yang ada di dalam kamar kecil bersama dirinya. Kesadaranya hampir hilang karena rasa takut yang teramat sangat.
Ustad Sofyan hanya merasakan kalau di dalam kamar kecil itu kini bukan lagi hanya ada dirinya, melainkan ada orang lain lagi usai terdengar suara benda jatuh dari atas.
__ADS_1
......................