TITISAN

TITISAN
TAK TAHU DIMANA


__ADS_3

“Zahra..... Zahra.... Zahra....”


“Zahra..... Zahra.... Zahra....”


“Zahra..... Zahra.... Zahra....”


“Zahra..... Zahra.... Zahra....”


“Zahra..... Zahra.... Zahra....”


“Zahra..... Zahra.... Zahra....”


Suasana di lingkungan rumah Tahfiz benar- benar menjadi riuh oleh suara- suara memanggil nama Zahra. Namun hngga sudah 3 jam berlalu tidak ada satu pun tanda- tanda ada santri yang mengabarkan menemukan keberadaan Zahra.


Pencarian Zahra tersebut dengan mengerahkan para ustad dan ustazah pembimbing serta seluruh santri yang berjumlah 80- an anak itu belum juga membuahkan hasil. Bahkan tiga orang ustad yang mencari di luar lingkungan rumah Tahfiz pun sudah kembali dengan membawa kabar hampa.


Sementara itu teman- teman dekat Zahra yang sering bersama- samanya yakni Suci, Anisa dan Alvi kini menjadi pusat pertanyaan semua teman- teman santri dan ustazdah. Karena sebelumnya banyak yang melihat ketiga anak tersebut memang bersama Zahra saat terakhir kali sebelum Zahra di kabaroan menghilang.


“Sebelumnya Zahra pergi kemana?”


Pertanyaan yang sama dan terus berulang- ulang seperti itu selalu mampir pada ketiga anak itu dan jawaban yang sama pula yang dapat mereka berikan.


“Zahra nggak kemana- mana, dia disini sama kita- kita, kok...”


Hanya sebatas jawaban itu yang dapat Suci, Anisah dan Alvi katakan, karena memang pada saat itu ketiga anak itu masih melihat Zahra sedang mencabuti rumput- rumput liar tak jauh dari mereka.


Tak terasa hingga tiba- tiba terdengar suara azan dari corong masjid menandakan waktu memasuki sholat Ashar, pencarian Zahra pun di hentikan. Semua anak- anak santri dan ustad serta ustadzah pembimbing pun menyuruh mereka menyudahi pencariannya untuk melaksanakan sholat ashar berjamaah.


Usai melaksanakan sholat ashar berjamaah, suara Haji Abas kembali terdengar melelui pengeras suara menindak lanjuti kabar tentang pencarian Zahra.


“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh..” suara Haji Abas mengawali.


“Wa’ alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh...” sahut para santri dengan serempak. Suaranya menggema memenuhi ruangan masjid.


“Anak- anakku tercinta, saudara kalian ananda Zahra masih belum diketahui keberadaannya. Perlu anak- anaku sekalian ketahui, ananda Zahra itu sebelum berada bersama kita di rumah Tahfiz dia hidup sebatang kara di jalanan. Zahra tidak ingat dan tidak tahu dirinya berasal dari mana dan juga tidak ingat saudaranya dimana. Jadi tidak mungkin Zahra pulang,” ungkap Haji Abas dengan suara sedikit bergetar menahan haru.


“Sekarang mari kita mengadakan doa bersama meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Zahra dapat kembali berkumpul bersama kita,” ucap Haji Abas.

__ADS_1


......................


Zahra dan putri yang sudah berada di dalam kamarnya Putri nampak riang gembira sedang bermain drama dengan boneka- boneka. Sesekali suara derai tawa menghiasi kamar Putri.


“Putri, Bapak sama ibumu kemana? Dari tadi aku nggak melihatnya?” Tanya Zahra polos dengan memainkan bonekanya.


“Bapak dan ibuku sedang keluar jauh Zahra,” balas Putri juga dengan memainkan bonekanya.


“Aduh!”


Tiba -tiba Putri dan Zahra berteriak kaget, tiba- tiba kamar bergetar.


“Kenapa ini Putri?!” Tanya Zahra panik.


“Aku tidak tahu Zahra, aduh!” sahut Putri spontan berpegangan pada sisi tempat tidur saat kamar kembali berguncang-guncang.


Kamar putri bergetar dan berguncang-guncang, perlahan lahan guncangannya kian keras terasa seperti sedang terjadi gempa bumi. Awalnya Putri dan Zahra saling berpegangan, lalu berganti saling berpelukkan penuh rasa panik dan ketakutan. Kedua anak perempuan itu saling menyembunyikan wajah keduanya masing-masing di dada.


"Zahra.... Zahra... Zahra..."


"Zahra.... Zahra... Zahra..."


"Zahra.... Zahra... Zahra..."


Setelah beberapa saat lamanya bersamaan dengan guncangan yang perlahan- lahan mereda kemudian suara panggilan Zahra itu pun hilang.


......................


Sebuah mobil Fajero sport berwarna putih memasuki sebuah lahan yang sedang dalam perataan tanah. Lahan tersebut terletak diantara pemukiman penduduk dan lokasi perkotaan namun jaraknya sedikit jauh.


Sebelumnya lahan yang akan di bangun perumahan nasionak tersebut merupakan pekarangan yang di tumbuhi pohon- pohon besar berbagai jenis. Kini, terhampar luas menjadi tanah lapang yang membentang tetapi ada satu pohon besar berdaun rimbun yang masih berdiri tegak di tengah- tengah lahan tersebut.


Guntur turun dari mobilnya diikuti Hafizah, keduanya di sambut seorang pimpinan proyek bernama Sugiantoro beserta beberapa orang bawahannya.


“Apa kabar pak Toro?” ucap Guntur sambil menyalami Sugiantoro.


“Alhamdulillah baik pak Guntur, ini Pak Deni, lalu di sebelahnya pak Dudi, pak Heri, pak Sumarno dan pak Lukman,” Sugiantoro menjawab sambil mengenalkan bawahannya.

__ADS_1


Guntur tersenyum menyalami mereka satu persatu dan juga mengenalkan dirinya diikuti Hafizah.


“Oh pohon yang itu ya pak?” Guntur langsung menunjuk satu- satunya pohon yang masih berdiri tegak di tengah- tengah lahan.


“Betul pak Guntur. Sudah tiga alat berat di terjunkan untuk merobohkannya tetapi tidak juga roboh,” ungkap Toro dengan dahi berkerut.


Guntur manggut- manggut mendengarkan penjelasan Toro. Dia tak langsung merespon penjelasan itu, wajahnya menyiratkan keraguan antara percaya dan tidak.


“Bisa di coba lagi pak, saya ingin melihatnya langsung,” kata Guntur penuh rasa penasaran.


“Baik pak,” jawab Toro.


Kemudian Toro langsung memerintahkan pak Sumarno untuk menjalankan kembali alat berat sesuai perintah Guntur. Orang yang bernama Sumarno pun bergegas menuju Buldozer yang terparkir tak jauh dari pohon asam itu.


Guntur, Hafizah dan yang lainnya kini terfokus memeperhatikan pak Sumarno yang mulai menaiki Buldozer. Sesaat kemudian terdengar suara mesin alat berat itu di nyalakan.


Perlahan- lahan Buldozer bergerak maju menuju pohon asam. Tameng besi yang menjadi pendorong dan pengikis tanah pun bergerak perlahan turun saat mendekati pohon tersebut.


Sementara Guntur dan yang lainnya menyaksikan dari tepi lahan wajahnya tampak berharap- harap cemas melihat Buldozer itu bergerak akan menggusur pohon.


Perlahan alat berat itu melaju dan tameng besinya diturunkan setengah meter hingga mengeruk tanah di dekat pohon asam. Tiga meter... dua meter... satu meter... tameng besi yang kokoh itu mendekati pangkal bawah pohon.


Dan tiba- tiba suara mesin Buldozer itu meraung- raung keras tidak dapat melaju lagi. Roda silinder besi nampak berputar akan tetapi badan Buldozer itu tidak juga bergerak maju sehingga roda besi itu hanya berputar di tempat.


Suara mesinnya meraung- raung semakin keras namun alat berat itu nampak tak bisa bergerak maju sama sekali.


“Lagi!” teriak Toro dari tepi lahan.


“Hentak!” teriaknya lagi.


Raungan mesin Buldozer sudah keras terdengar dan sepertinya sudah sangat maksimal pak Sumarno menginjak pedal gas namun tetap saja tak bisa bergerak sama sekali. Buldozer itu tampak mengeluarkan asap tebal dari bagian mesin di belakangnya.


“Cukup pak Toro!” seru Guntur diantara bising raungan mesin Buldozer.


......................


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2