TITISAN

TITISAN
FIRASAT


__ADS_3

Keesokan harinya, kesibukkan para pekerja bangunan di rumah Tahfiz berjalan seperti biasanya. Di halaman bagian samping kanan nampak sebuah bangunan sudah separuhnya dinding-dindingnya terbentuk. Begitu juga dengan bangunan masjid yang ada di halaman belakang pun sudah terlihat dinding- dinding dari batu batu nampak meninggi.


Di halaman belakang di sudut satunya di bawah pohon palm, Haji Abas bersama ustad Ikhwan, ustad Sofyan, ustad Jalal dan ustad Hadi nampak serius sedang memperbincangkan kejadian tadi malam. Ke empat ustad itu menyangsikan bacaan-bacaan ayat Al Quran yang mereka baca atas seruan Haji Abas yang tidak berpengaruh sama sekali terhadap mahluk Genderuwo. Justru Haji Abas dan para ustad itu malah terhantam oleh serangan balasan mahluk halus tersebut.


"Pak Haji, kenapa ayat Kursi yang kita baca itu tidak berpengaruh atau tidak bisa mengusir Genderuwo itu?" tanya ustad Ikhwan yang di iyakan tiga ustad lainnya.


"Bukannya tidak berpengaruh ustad Ikhwan, kemungkinannya hanya dua. Yang pertama, saat membaca ayat itu kondisi kita tidak dalam kondisi yakin atau dalam keadaan ketakutan dan panik sehingga hati dan pikiran kita pun menjadi gamang yang akhirnya hati kita tidak yakin. Yang terjadi hanya sekedar suara membaca biasa saja yang membuat karomah dari ayat- ayat itu tidak muncul sebagaimana mestinya," ungkap Haji Abas dengan wajah menyesal.


"Yang kedua bisa jadi mahluk Genderuwo itu memiliki kekuatan yang sangat tinggi," sambung Haji Abas.


“Lalu gimana kedepannya pak Haji, saya khawatir mahluk halus itu akan mengganggu santri-santri disini,” kata ustad Hadi.


“Saya belum sempat kepikiran sampai kesana ustad, tapi ya bisa jadi kalau mahluk itu merasa terganggu dengan kegiatan kita disini,” kata haji Abas.


“Lalu apa yang akan kita lakukan pak haji?!” sela ustad Ikhwan.


Terllihat ada keraguan di wajah haji Abas untuk menjawabnya, hingga suasana menjadi senyap sejenak. Haji Abas menarik nafas dalam- dalam lalu di hembuskannya dengan berat seraya berkata; “Kita mahluk Allah yang paling mulia dan nggak mungkin menyerah atau kalau dengan golongan setan, jin ataupun merkayangan. Kita hajar dia!” tegas haji Abas kemudian memandang rimbunnya dedaunan pohon beringin yang berada di sudut yang satunya diikuti oleh pandangan mata ke empat ustad.


......................

__ADS_1


Pagi itu Pak Suro duduk melamun di kios buku loaknya usai bersih-bersih dan merapihkan buku-buku jualannya. Bayang-bayang Karbala terus-menerus menggangu pikirannya semenjak rumah itu di tinggalkan Guntur dan mamahnya. Ia sangat mengkhawatirkan penghuni baru tersebut akan mendapat teror dari Karbala, setelah pak Suro sendiri baru mengetahui sehari yang lalu dari cerita Guntur pada saat mengantarkan pindahan Guntur dan Mamah Karmila ke rumah barunya. Guntur menceritakan kalau yang membeli rumah tersebut adalah pemilik yayasan dan rumah itu akan di jadikan rumah Tahfiz, dimana akan ada kegiatan keagamaan seperti mengaji, membaca Al Quran, pengajian dll.


Kecemasan pak Suro bukan tanpa alasan, sebab Karbala itu bukanlah mahluk halus yang biasa-biasa saja. Karbala itu mahluk halus golongan Genderuwo tersebut merupakan mahluk gaib yang sudah berusia ratusan tahun serta memiliki tingkatan kekuatan diatas rata-rata mahluk halus lainnya. Bahkan pak Suro sendiri pun merasa tidak akan mampu jika harus beradu kekuatan dengan Karbala. Jika sampai berurusan dengan Karbala, haruslah orang yang memiliki kekuatan kebatinan yang benar-benar tinggi untuk bisa menaklukkannya. Atau Karbala hanya akan tunduk pada satu-satunya orang yang mampu menaklukkannya tanpa harus terjadi pertumpahan darah dan adu kesaktian.


“Pagi- pagi sudah melamun pak!”


Sebuah suara tiba-tiba terdengar membuat pak Suro tersentak sekaligus membuyarkan lamunannya tentang Karbala. Pak Suro tergagap mengerjap- ngerjapkan matanya menoleh kearah seorang pemuda yang sudah berdiri di seberang meja besar tempat buku- buku jualannya di pajang.


“Guntur?! Ah bikin kaget saja, hehehehe...” sahut pak Suro tersipu malu diringi derai tawa kecil.


“Tumben pagi- pagi ke kios Gun, lagi nggak sibuk?” sambung pak Suro.


Pak Suro kontan menoleh menatap wajah Guntur dalam-dalam dengan wajah serius menantikan Guntur melanjutkan ucapannya.


Guntur pun menceritakan perasaan tak enaknya yang dialaminya dalam dua hari ini kepada pak Suro dan juga menceritakan mimpi-mimpi yang sama yang muncul dua malam berturut- turut. Di dalam mimpinya Guntur mendengar dengan jelas sebuah suara yang berat dan sember akan tetapi dirinya tidak melihat sosok pemilik suara itu. Suara itu memintanya untuk tidak meninggalkan rumah yang sudah di jualnya. Di dalam mimpi itu mulut Guntur seakan kelu terkunci sehingga tak bisa mengeluarkan suaranya untuk menanyakan sosok tersebut.


"Anehnya malam berikutnya mimpi yang sama kembali muncul dan suara itu mengatakan hal yang sama agar tidak meninggalkan rumah tersebut." ungkap Guntur dengan mimik serius.


Pak Suro semakin dibuat mengerutkan keningnya kian dalam. Di dalam hatinya timbul prasangka-prasangka dan dugaan tentang sosok yang berada di dalam mimpi Guntur tersebut.

__ADS_1


Guntur kembali melanjutkan menceritakan mimipinya yang berarti sudah dua malam berturut- turut mimpi itu datang. Guntur sempat kepikiran kalau suara itu adalah papahnya, yang tidak rela rumah tersebut di jualnya, akan tetapi saat mengingat suara dalam mimpi itu rasanya bukan milik suara papahnya. Dirinya sèmpat terlintas rasa bersalah yang menyelimuti hatinya atas rumah peninggalan papahnya itu yang ia jual.


Sementara itu pak Suro terkesiap mendengarkan cerita mimpi Guntur tersebut, wajahnya langsung berubah tersirat kengerian dengan mengerutkan keningnya dalam-dalam. Di dalam hati pak Suro menyeruak kekhawatiran yang selama ini ia pikirkan. Sepertinya perkiraan-perkiraan yang mengganggu pikirannya itu akan benar-benar muncul menjadi sebuah tragedi peristiwa besar.


"Apa masih bisa seandainya rumah itu kembali kamu beli Gun?" tiba-tiba pak Suro menyela.


"Membelinya lagi?!" Guntur terkesiap.


Dari raut wajahnya menunjukkan ekspresi penolakkan, kemudian menjawab dengan tegas, "Rasanya sangat tidak mungkin untuk saya lakukan pak. Seperti menjilat ludah sendiri yang sudah terbuang."


Pak Suro tak bisa berkata-kata lagi, di kepalanya seolah-olah buntu tidak ada jalan keluar lain hingga membuatnya tertunduk lesu penuh kekhawatiran.


"Kenapa ya pak suara itu menyuruh saya untuk tidak meninggalkan rumah itu?!" Tanya Guntur terlihat kebingungan.


Pak Suro tercekat tak bisa berkata apa-apa dalam beberapa saat. Bagaimana dirinya menjelaskan kepada Guntur bahwa sebenarnya bukan karena rumah belaka melainkan ada pohon beringin yang menjadi penyebab suara itu memintanya kembali.


Sepertinya Guntur sendiri masih belum juga menyadari kalau keberadaan Karbala yang mendiami pohon beringin itu sangat krusial. Padahal ia sendiri sudah pernah berhadapan dengan Karbala langsung, akan tetapi tak dianggapnya terlalu penting, apalagi semenjak Karbala menyebut-nyebut dirinya adalah bapaknya. Semenjak itu pula Guntur memendam kebencian yang teramat dalam kepada Karbala.


......................

__ADS_1


__ADS_2