TITISAN

TITISAN
ILUSI 2


__ADS_3

"Kun... Kuntooo...!" suara Guntur terdengar memanggil-manggil dari teras rumah.


Kunto yang masih berdiri terbengong-bengong sambil garuk-garuk kepala seketika tersadar, ia buru-buru masuk dan menutup kembali pintu pagar.


"Ya Guuuun!" sahut Kunto kemudian berlari kecil menghampiri Guntur.


"Ada orang yang datang nggak Kun?" tanya Guntur sambil memberi kode minta hapenya.


"Tadi aja barusan ada yang telpon katanya sudah ada di depan rumah tapi saya lihat kedepan situ, eh nggak ada satu pun mobil yang parkir..." ujar Kunto menunjuk posisi dia berdiri sebelumnya.


"Ah, masa?!" sungut Guntur.


"Tapi Gun, aneh deh! saat saya nengok ke lampu merah, nah barulah saya lihat mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan orang itu tapi mobil itu sudah pergi," ujar Kunto.


"Nggak mungkin! Coba saya telpon," kata Guntur membuka hapenya.


"Nomor ini ya Kun?" tanya Guntur sambil memperlihatkan daftar panggilan masuk.


"Iya kayaknya mah," sahut Kunto.


Guntur langsung menelpon nomor terakhir di daftar panggilan tersebut. Dan beberapa saat kemudian telpon pun diangkat.


"Ya Hallo pak, punten jadi nggak lihat rumahnya?" tanya Guntur.


"Anda jangan main-main ya?!" sahut seberang telpon.


"Maksud bapak?!" ujar Guntur heran suara seberang telpon sepertinya marah.


"Saya sama istri saya sudah ke alamat rumah yang di iklan itu. Ternyata alamat yang ada di iklan itu tidak ada rumah yang ada hanya pekarangan kosong dan bekas reruntuhan bangunan saja!" sahut suara seberang telpon, kemudian terdengar kasak-kusuk suara perempuan meminta telpon untuk bicara.


"Hallo! Pak Guntur! Anda jangan main-main ya, mau saya pidanakan hah?!" ucap suara seorang perempuan yang sama yang sore tadi menelpon.


"Main-main gimana maksud ibu?" kata Guntur benar-benar tidak mengerti.


"Maaf, maaf sebentar ya bu ada orang datang yang mau lihat rumah." ucap Guntur tidak menutup teloknnya sehingga dapat di dengar dari seberang telpon.


"Kun, kun.. tolong itu bukain pintu pagarnya," kata Guntur.


Klik!


Suara sambungan telpon di tutup dari seberang saat Guntur hendak berbicara lagi. Guntur merasa tak enak hati dengan orang yang di telponnya tadi sekaligus masih bingung tidak mengerti dengan maksudnya hingga mengancamnya segala.


Sebuah mobil sedan Mercedes Bens warna silver berhenti di halaman depan persis di hadapan Guntur berdiri di teras. Lalu keluar dari pintu depan sedan itu seorang pria gemuk berusia 50 tahunan dengan pakaian perlente. Dari penampilannya nampak seperti seorang boss besar lalu menyongsong Guntur.


"Assalamualaikum, dengan pak Guntur?" sapa pria itu mengulurkan tangannya.


"Wa'alaikum salam, betul pak," sambut Guntur menyalami pria gemuk itu.

__ADS_1


"Saya Hermawan, saya nggak mengira pak Guntur masih muda, hehehehe..." ucap pria gemuk.


"Hehehehehe... Mari silahkan, silahkan masuk pak," ucap Guntur.


"Silahkan duduk pak, mau minum apa pak Hermawan?" tanya Guntur.


"Nggak usah repot-repot pak Guntur, teh aja deh," sahut pak Hermawan.


"Sebentar saya panggilkan mamah dulu," ucap Guntur kemudian melangkah keluar.


Guntur mencari mamah Karmila di halaman samping yang sebelumnya sedang sibuk menyirami tanaman kesayangannya. Namun mamahnya tak di temukan, hanya ada Kunto sedang menenteng gunting rumput hendak melanjutkan pekerjaannya.


"Kuun, mamah mana?" seru Guntur.


"Itu di sam..." ucapan Kunto terhenti ketika menengok ke tempat mamah Karmila yang tadi di lihatnya sedang menyirami tanaman ternyata sudah tidak ada.


"Kun, sini!" seru Guntur.


"Ada apa Gun?" tanya Kunto tergopoh-gopoh menghampiri Guntur.


"Sssttt, bikinin minuman teh panas buat tamu, ya" bisik Kunto.


Kunto bergegas masuk disusul Guntur di belakangnya melewati pak Hermawan yang sedang sibuk memandangi sekeliling ruang tamu sambil duduk, seraya berucap; "Sebentar ya pak."


Pak Hermawan hanya mengangguk sambil tersenyum lalu kembali melihat-lihat ruangan tamu, "Dindingnya masih nampak lumayan bagus," batin pak Hermawan.


"Ehemm, maaf pak Hetmawan perkenalkan ini mamah saya," ucap Guntur membuat pak Hermawan menoleh.


"Saya Hermawan, Boss textil..." ucap pak Hermawan percaya diri menyodorkan tangannya.


Mamah Karmila tersenyum kecil lalu menerima uluran jabat tangan pak Hermawan dengan sedikit ragu-ragu. Dan benar saja seperti dugaan mamah Karmila, instingnya mengatakan kalau lelaki yang menyebut dirinya boss textil ini mata keranjang.


"Karmila..." balas mamah Karmila.


Ketika pak Hermawan menjabat tangan halus mamah Karmila dengan erat, salah satu jemarinya mencolek-colek telapak tangan Karmila seperti memberi kode, entah kode apa yang di maksud. Mamah Karmila cepat-cepat menarik tangannya secara halus setelah menyebutkan namanya.


Lalu Guntur mengajak mamahnya duduk di sebelahnya. Sekilas Guntur menangkap gelagat tak baik dari sikap pak Hermawan yang terus menatap mamahnya, namun ia tahan di hatinya.


"Ehemm, maaf kalau bapaknya kemana?" tanya pak Hermawan yang entah di tujukan pada Guntur atau mamah Karmila.


Guntur langsung menoleh ke mamah Karmila, begitu pun mamah Karmila seolah menyerahkan pada Guntur untuk menjawabnya.


"Papah sudah meninggal pak Hermawan," jawab Guntur.


"Oh, maaf... Saya tidak tahu," sela pak Hermawan sambil menangkupkan tangannya di depan dada.


"Iya, nggak apa-apa pak," ujar Guntur.

__ADS_1


Sesaat kemudian Kunto muncul di ruang tamu membawa segelas teh hangat di atas nampan, "Silahkan pak," ucap Kunto setelah meletakkan gelas teh diatas meja, kemudian kembali masuk.


"Hmm," sahut pak Hermawan tak menghiraukan Kunto.


"Langsung saja pak Guntur, ibu Karmila... Saya sangat tertarik dengan rumah ini, saya tidak menawar lagi sesuai harga di iklan saja," kata pak Hermawan.


Wajah Guntur langsung berubah sumringah mendengar pernyataan dari pak Hermawan, seraya memastikan; "Serius pak?"


"Ya, pak Guntur. Dua miliyar kan? saya bisa langsung transfer sekarang juga," kata pak Hermawan kemudian mengeluarkan hapenya.


"Mm, punten pak. Apa nggak di lihat-lihat dulu supaya tidak kecewa di belakang hari," sergah Mamah Karmila.


Pak Hermawan menutup kembali hapenya, lalu menatap Karmila sejenak dan berkata; "Baiklah, betul kata mamah anda. Saya lihat-lihat dulu ya pak Guntur."


"Mangga, mangga, silahkan pak. Mari kami antar berkeliling. Mulai dari mana dulu nih?.." ucap Guntur kemudian berdiri.


"Saya mau lihat halaman dulu pak Guntur. Kalau rumah sih saya percaya terawat dan bersih karena mamah anda sepertinya suka kerapihan, hehehehe.." kata pak Hermawan mulai tebar pesona.


Pak Hermawan pun berdiri lalu melangkah menuju pintu keluar, Guntur dan mamah Karmila berjalan di belakangnya.


Di luar cuaca nampak sudah mulai redup menjelang magrib. Lalu pak Hermawan berhenti berdiri di teras depan memandangi hamparan hijau halaman rumah yang tertata indah dengan tanaman-tanaman yang kebetulan sedang berbunga di sore hari. Wajahnya nampak puas dan menyukai halaman rumah tersebut.


"Berapa luasnya pak Guntur, saya sedikit lupa," tanya pak Hermawan, kemudian melangkah ke halaman.


"Berapa luasnya mah?" Guntur menoleh ke mamah Karmila.


"Mm, kurang lebih 150 meter persegi pak," sahut mamah Karmila.


"O, ya ya ya..." ucap pak Hermawan lalu melangkah menuju bagian samping kanan halaman.


Pak Hermawan nampak menikmati suasana halaman samping kanan rumah itu. Tiga batang pohon palm berjajar berjarak seimbang satu di tengah sedang yang dua pohon lagi berdiri di sudut depan dan belakang halaman, dipadukan dengan tanaman bunga-bunga aneka warna tertata rapih seperti sebuah taman kecil.


Kemudian pak Hermawan melanjutkan langkahnya menuju bagian belakang rumah. Dia berhenti di sudut rumah di bawah kanopi dan kembali memperhatikan halaman bagian belakang itu. Di sudut pagar belakang dan bagian tengah halaman juga ada pohon Palm, namun tatapan matanya terhenti pada pohon di sudut satunya.


"Beringin?" gumam pak Hermawan dalam hati.


Pak Hermawan mengulang kembali tatapannya mulai dari sudut kanan yang terdapat pohon palm. Lalu menatap pohon palm yang ada di tengah dan meneruskan menatap pohon Beringin yang terletak di sudut kiri.


"Kok yang di sudut itu pohonnya lain, bukan palm pak Gun..." kalimat pak Hermawan terhenti ketika menoleh kearah Guntur, kemudian langsung berteriak-teriak histeris.


"Ja, ja, jangaaaaan...!!!" teriak pak Hermawan tersurut mundur melihat Guntur.


Wajahnya terlihat sangat ketakutan, kemudian sontak berlari ke depan rumah meninggalkan Guntur dan mamah Karmila yang terus menatap pak Hermawan penuh keheranan.


"Pak... pak... tunggu!" seru Guntur.


"Tidak! tidak! Ampuun, ampuuun!" teriak pak Hermawan histeris kemudian langsung memasuki mobilnya.

__ADS_1


Guntur bergegas berlari mengejar pak Hermawan namun terlambat, ia hanya melihat mobil Mercedes Bens silver itu sudah mundur keluar pagar halaman rumah. Guntur hanya menatapnya terbengong-bengong sambil garuk-garuk kepalanya.


......................


__ADS_2