
Mamah Karmila mengerjap- ngerjapkan matanya berharap bayangan itu tidak terus menerus menghantui di kepalanya.
Segunung rasa bersalah hinggap memenuhi relung hatinya, namun sekejap berikutnya rasa bersalah itu tertutupi oleh rasa malu, takut dan khawatir sehingga rasa bersalah itu terkikis olehnya.
Barbagai dugaan- dugaan buruk bermunculan menutup mata hatinya, sehingga mendorong rasa egonya untuk menutup rapat- rapat perbuatan terkutuk itu.
Tekad Karmila kian menguat agar perbuatannya tidak terbongkar dan diketahui oleh Guntur. Dan satu- satunya kunci itu semua hanya pada Kunto.
Pergolakan gejolak di dalam hati Karmila semakin sengit. Di satu sisi aibnya tak ingin terbongkar, akan tetapi disisi lain naluri seorang wanitanya pun turut merasakan bersalah dan merasa kasihan dengan kondisi Kunto saat ini.
“Entah apa yang Karbala lakukan pada Kunto, membuat Kunto seperti itu,” batin Karmila.
Beberapa saat lamanya suasana kamar rawat senyap, hanya terdengar suara dari layar monitor alat pendeteksi jantung. Semua mata memandang kearah Kunto diatas ranjang dengan perasaan masing- masing.
Tiba- tiba Guntur yang berdiri di samping kiri Kunto sedari tadi tak berkedip memperhatikan sekujur tubuh Kunto, menunjukkan sikap yang sangat gelisah. Raut wajahnya seketika menegang.
“Kuun... Kuntooo... Kuntooo...!” panggil Guntur sambil menggoyang- goyangkan lengan tangan Kunto.
Guntur melihat dengan jelas perubahan pada wajah Kunto yang semula terlihat tenang, kini ekspresi wajah Kunto nampak menunjukkan ekspresi menegang.
Kedua mata Kunto nampak sudah setengahnya membuka. Namun hanya warna putihnya saja yang tampak di kedua matanya.
Semua mata tertuju pada Guntur yang terlihat mencemaskan Kunto. 6 orang karyawan tak begitu mengerti dengan situasi dan kondisi yang tengah terjadi.
Lain halnya dengan mamah Karmila, wajah cantiknya menunjukkan kekhawatiran. Dahinya berkerut sambil memicingkan matanya memperhatikan raut wajah Kunto.
Sulit mengartikan ekspresi di wajah mamah Karmila yang kerap kali berubah- ubah. Kadang rautnya terlihat cemas dan khawatir, kadang terlihat takut.
Tiba- tiba mata semua yang ada disekitar ranjang mengerubuti tubuh Kunto terkesiap kaget. Mereka melihat dengan jelas tubuh Kunto melonjak- lonjak datas ranjang.
Tubuh Kunto bagian perutnya mendadak terangkat, kepalanya mendongak dan sepasang matanya seketika membelalak lebar.
“Ggggrrrrrhhhhkkkk....” erang Kunto.
Tubuh Kunto mengejang dengan kedua tangan mengepal kuat- kuat, sekujur tubuhnya terlihat sangat kaku.
“Kuuun! Kuntooo!” pekik Guntur sambil mengguncang- guncang lengan tangan Kunto.
Ekspresi pada wajah Kunto terlihat sama seperti pada saat ketika pertama kali Guntur menemukannya di kamar.
Wajah Kunto penuh gurat ketakutan, sepertinya rasa traumatis yang dirasakan Kunto sudah melampaui batasnya.
__ADS_1
“Dokteeeerrr...!” teriak Guntur Histeris.
Tepat bersamaan Guntur berteriak, pintu kamar tiba- tiba dibuka dari luar. Seketika semua mata menoleh kearah pintu.
Terlihat dokter Hilman dan Joko berjalan tergesa- gesa mendekat ke arah Kunto yang sedang kontraksi.
“Permisi.. permisi... “ ucap dokter Hilman menyeruak ke sisi samping kanan ranjang.
Dua orang karyawan segera mundur memberikan tempat untuk dokter Hilman.
Dokter Hilman terkesiap kaget saat melihat reaksi Kunto. Epresi yang dilihatnya sama seperti saat pertama kali ia memeriksanya di ruang I G D.
Sesaat dokter Hilman menengok kearah layar monitor pendeteksi jantung diatas kepala Kunto, dokter Hilman memperhatikan layar tersebut dengan cermat.
Kemudian ia mengambil jarum suntik dan sebotol kecil dari dalam saku jas putihnya. Sesaat kemudian segera dokter Hilman menyuntik Kunto pada bagian lengan.
Tak kurang dari satu menit, setelah dokter menyuntikkan obat ke lengan Kunto, perlahan- lahan tubuh Kunto melemas. Tubuh kaku Kunto dengan bagian perutnya yang terangkat seketika jatuh kembali keatas kasur.
Kedua tangannya yang terkepal kuat- kuat pun perlahan terbuka dan terkulai lemas. Begitu pula dengan kedua pasang matanya yang membelelak penuh ketakutan, perlahan- lahan menutup.
Dokter Hilman menghela nafas berat, lalu melihat sekelilingnya. Ia terlihat ragu- ragu hendak manyampaikan sesuatu pada Guntur.
Guntur yang melihat gelagat dokter Hilman segera berkata; “Nggak apa- apa dok, ini semua karyawan saya,”
Deg!
Jantung mamah Karmila seakan- akan berhenti berdetak. Sekujur tubuhnya seketika berasa dingin diselimuti rasa kekhawatiran yang teramat sangat. Mamah Karmila sangat merasa ketakutan.
“Gawat! Dokter tahu!” pekik hati Karmila.
Disaat yang sama wajah Guntur tersentak seketika mendengar penjelasan dokter Hilman. Di benaknya terlintas apakah Kunto memiliki musuh di kampusnya? Sampai- sampai menggunakan cara halus untuk mencelakainya.
“Coba cari orang pintar untuk mengetahui hal mistisnya, sementara untuk yang berhubungan dengan medis saya akan tangani semaksimal mungkin,” bisik dokter Hilman pada Guntur.
“Baik dok, terima kasih,” balas Guntur mengangguk.
“Saya sudah menyuntikan obat penenang pada mas Kunto. Mungkin hanya bertahan 2 hingga 5 jam dan nanti saya cek lagi pak Guntur.
“Baik dok,” sahut Guntur.
“Kalau begitu saya pamit dulu,” ucap dokter Hilman.
__ADS_1
Tak berselang lama setelah dokter Hilman keluar, 7 orang karyawan pun juga menyusul berpamitan.
“Kalau begitu kami juga pamitan pak Guntur,” ucap Joko mewakili rekan- rekannya.
“Oke deh, o iya titip pesan buat pak Suro. Suruh ke sini ya, secepatnya..” ujar Guntur.
“Siap bos, kami akan sampaikan pada pak Suro,” sahut Joko.
“Terima kasih ya semuanya sudah mau menengok,” ucap Guntur mengiringi para karyawannya keluar.
“Sama- sama bos, kami siap siaga kapan pun bos membutuhkan kami. Iya kan teman- teman?” Ujar Joko.
“Betul pak!” ucap mereka serempak.
“Wah, terima kasih, terima kasih semuanya. Hati- hati di jalan ya,” ujar Guntur melambaikan tangan.
Setelah 7 karyawannya tak lagi terlihat, Guntur tak langsung kembali masuk ke kamar rawat. Ia duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar itu.
Guntur duduk termenung sambil menyandarkan punggungnya, wajahnya tengadah keatas bersama dengan gejolak pikirannya yang terus terngiang- ngiang mengingat bisikkan dari dokter Hilman.
“Coba cari orang pintar untuk mengetahui hal mistisnya, sementara untuk yang berhubungan dengan medis saya akan tangani semaksimal mungkin,” bisik dokter Hilman pada Guntur.
Guntur masih mengingat- ingat ucpan dokter Hilman itu. Pikirannya langsung mencari- cari jawaban apa yang dimaksud ‘hal mistis’ itu.
“Kunto... Kunto... apa sih yang kamu lihat Kun?! Apa yang sudah kamu alami Kun...?!” batin Guntur.
Bagi kalangan dokter hal- hal yang berkaitan dengan penyakit mistis itu bukan barang yang aneh. Dan ada sebagian besar dokter juga yang memiliki indera spiritual.
Instingnya akan mengatakan penyakit itu bukanlah penyakit medis manakala menemui beberapa kejanggalan pada pasiennya.
Dan biasanya dokter itu akan memberikan saran kepad anggota keluarga pasien untuk meminta bantuan pada orang pintar. Kalau sudah begitu berarti dokter itu telah merasakan ada unsur magis yang di alami si pasien.
Meski begitu tidak semuanya dokter memiliki dan mempercayai hal- hal ganjil semacam itu.
Dan beruntung bagi Guntur yang mendapat saran dari dokter Hilman karena dapat melihat sisi lain dari sakit yang ada di pasiennya.
Guntur pun nampaknya sangat mempercayai ucapan dokter Hilman, makanya yang terlintas di benaknya untuk meminta bantuan pak Suro.
Ia juga sangat yakin dengan ilmu spiritual yang dimiliki oleh pak Suro. Meskipun pak Suro tidak pernah menunjukkannya langsung pada Guntur, tetapi dari beberapa momen Guntur dapat mengetahui kalau pak Suro memiliki ilmu spiritual yang mumpuni.
“Semoga saja pak Suro dapat membantu menyembuhkan Kunto,” batin Guntur.
__ADS_1
......................
BERSAMBUNG.....