TITISAN

TITISAN
KORBAN


__ADS_3

Setelah 8 orang ustad memeriksa kamar mandi yang dimasukinya itu dan mereka langsung berseru melaporkan bahwa tidak menemukan ustad Sofyan, lalu mereka semua keluar dari kamar mandi masing- masing nyaris beramaan.


Saat kemuadin kedelapan orang ustad itu bermunculan keluar dari kamar mandi mulai kamar nomor 3 sampai dengan nomor 10 dengan wajah bingung.


“Coba periksa itu di kamar mandi nomor 1 dan nomor 2 yang belum diperiksa!” seru haji Abas nampak cemas.


Kini harapannya hanya ada 2 kamar mandi lagi yang belum diperiksa. Berharap penuh kalau didalam salah satu kamar mandi itu keberadaan ustad Sofyan ada disana.


Ustad Ikhwan beserta ustad Bunawi yang posisinya paling dekat dengan kamar 1 dan 2 bergegas memeriksanya.


Kedua ustad muda yang sebelumnya memeriksa kamar mandi nomor 3 dan nomor 4 itu pun langsung memasuki kamar mandi.


Ustad Bunawi memasuki kamar mandi nomor 2, sedangkan ustad Ikhwan memasuki kamar mandi nomor 1.


Dengan langkah hati- hati ustad Bunawi mendekat ke pintu kamar mandi nomor 2. Lalu perlahan- lahan ia dorong pintu itu.


kreeooootttt...


Mula- mula ustad Bunawi hanya melongokkan kepalanya kedalam kamar mandi. Pandangannya diedarkan keseluruh ruangan tetapi tak ada apa- apa didalam sana.


Ia penasaran lalu melebarkan pintu dan melangkah memasuki kamar mandi itu. Ustad Bunawi melongokkan kepalanya di balik pintu memeriksanya, namun tak ada apapun.


Kemudian ia melangkah mendekati bak yang berisi air yang terisi setengahnya. Ia melongokkan kepalanya melihat isi bak tersebut dan kosong juga tak ada ustad Sofyan.


Ustad Bunawi pun segera berseru untuk melaporkannya;


"Kosong pak haji!"


Mendengar laporan ustad Bunawi wajah haji Abas kian cemas, kini perhatiannya tertuju pada kamar nomor 1. Satu- satunya harapan kabar terakhir yang diperiksa oleh ustad Ikhwan.


Usai ustad Bunawi melaporkan, tiba- tiba perasaan haji Abas merasa tidak enak. Dadanya berdebar- debar menunggu laporan dari ustad Ikhwan di kamar mandi nomor 1.


Di waktu bersamaan, Ustad Ikhwan perlahan membuka pintu kamar mandi nomor 1. Akan tetapi pintu itu tidak bisa dibuka, ia dorong lagi lebih kuat tetap saja tidak bisa dibuka.


“Dikunci dari dalam, pasti ustad Sofyan disini,” batin ustad Ikhwan.


Karena kamar mandi nomor 1 yang posisinya berada di paling ujung, membuat haji Abas serta ustad dan ustazah lainnya tak begitu jelas apa yang dilakukan oleh ustad Ikhwan.


Tok.. tok.. tok...


“Ustaaad...! Ustad Sofyaaan...!” Seru ustad Ikhwan.


Namun tak ada jawaban ataupun sahutan dari dalam kamar mandi. Ustad Ikhwan pun terpaksa mengerahkan tenaganya sedikit mendorong paksa pintu itu.

__ADS_1


Ia mundur sejenak mengambil ancang- ancang satu langkah. Lalu dengan sekuat tenaga ia menerjang pintu dengan lututnya.


Kreeeteekkk...


Bluggg!


“Aduh!”


Ustad Ikhwan jatuh terjerembab di tengah- tengah pintu dengan satu kakinya masuk kedalam kamar mandi, sedang kaki satunya masih diluar pintu.


“Ppi, pintu itu terbuka sendiri!” gumamnya menahan sakit.


Ustad Ikhwan melihat sendiri dengan jelas sebelum lututnya mengenai pintu, pintu itu terbuka bergerak sendiri.


Ia segera bangun, seketika muncul rasa takut menghinggapi perasaannya. Ustad Ikhwan menarik kakinya keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan pintu sembari celingukkan ke kanan dan kiri.


Sama dengan yang dilakukan oleh ustad Bunawi, kemudian ia hanya melongokkan kepalanya saja kedalam kamar mandi.


Karena ukuran ruangannya yang tak terlalu besar, maka dengan hanya melongokkan kepala saja dari luar sudah dapat melihat keadaan didalam kamar mandi tersebut, begitu pikirnya.


Ustad Ikhwan mengedarkan pandangan matanya ke sudut -sudut ruangan kamar mandi. Tetapi tak ada sosok ustad Sofyan di dalamnya.


Saat hendak berseru melaporkan keadaan, sudut matanya terpaku pada lantai kamar mandi, ustad Ikhwan pun mengurungkan teriakannya.


“Lantai ini masih basah seperti baru saja di pakai,” ucap ustad Ikhwan dalam hati.


“Apa ustad Sofyan tadi mandi ya,” pikir ustad Ikhwan.


Meski masih dipenuhi rasa penasaran, namun ustad Ikhwan bergegas langsung balik badan tidak jadi masuk ke dalam kamar mandi untuk memeriksanya.


“Pak haji, di kamar nomor satu juga tidak ada,” kata ustad Ikhwan.


Mendengar laporan ustad Ikhwan, raut wajah haji Abas kian bertambah kebingungan bercampur rasa cemas. Perasaannya merasa tidak enak, instingnya merasa yakin ada sesuatu di dalam kamar mandi nomor 1.


“Apa ente sudah benar- benar memeriksanya ustad?!” tanya haji Abas tak percaya.


“Sudah pak haji, di dalam tidak ada ustad Sofyan. Tapi, ada sedikit aneh,” ujar ustad Ikhwan.


“Aneh?! Aneh kenapa?!” buru haji Abas semakin dibuat penasaran.


“Iya pak haji. Waktu saya buka pintu itu seperti dikunci dari dalam. Dan saat hendak saya dobrak pintu itu terbuka sendiri,” ungkap ustad Ikhwan sambil garuk- garuk kepalanya padahal tidak gatal.


“Setelah saya periksa tidak ada siapa- siapa. Tetapi saya lihat seperti ada bekas orang mandi disitu,” ungkap ustad Ikhwan.

__ADS_1


“Kamu yakin sudah memeriksa semuanya?!” tanya haji Abas penasaran sekali.


“Muhun pak haji, ya saya lihat dari luar nggak masuk ke dalam,” terang ustad Ikhwan.


“Ayo periksa lagi!” ajak haji Abas menahan kesal sekaligus penasaran.


Haji Abas pun segera melangkah menuju kamar mandi nomor 1 diikuti ustad dan ustazah dibelakangnya.


Sepanjang jalan menuju kamar mandi diujung itu debaran di dadanya kian kencang. Mulutnya tak henti- hentinya berucap istigfar.


Tak berapa lama sampailah haji Abas serta yang lainnya di depan kamar mandi nomor 1. Dibelakang haji Abas ustad dan ustazah melongok-longokkan kepalanya berusaha untuk dapat melihat kedalam kamar mandi.


Sementara itu haji Abas yang berdiri paling depan diam terpaku melihat ke dalam kamar mandi lewat pintu yang dalam keadaan sudah terbuka.


“Benar, tidak ada siapa- siapa,” batin haji Abas.


Namun di dalam hatinya Haji Abas masih diliputi penasaran. Kemudian ia melangkah memasuki kamar mandi.


Pandangannya segera diedarkan keseluruh pojok ruangan dan tidak ada apa pun disana. Haji Abas menundukkan kepalanya teringat penuturan ustad Ikhwan ada bekas mandi.


“Benar juga, kamar mandi ini seperti habis di pakai,” gumamnya.


Tak sengaja pandangan haji Abas melihat ke dinding. Di sana ana bekas cipratan air yang tak wajar. Kalau misalkan habis dipakai mandi, cipratan air itu tak sebanyak seperti yang dilihatnya.


Jantungnya kian berdegup kencang, mengingat jarak tembok dan besarnya cipratan air itu tak masuk akal, haji Abas pun bergegas melangkah mendekat ke bak air.


Baru saja satu langkah, mata haji Abas terbelalak lebar, seraya memekik keras; “Astagfirullahal azdim! Innalillahi wainnailaihi rojiuun!”


Mendengar pekikan haji Abas dari dalam kamar mandi, ustad Ikhwan dan beberapa ustad lainnya bergegas memasuki kamar mandi.


“Innalillahi wainnailaihi rojiuun!”


“Innalillahi wainnailaihi rojiuun!”


“Innalillahi wainnailaihi rojiuun!”


“Innalillahi wainnailaihi rojiuun!”


“Astagfirullahal azdim!”


Pekikan -pekikan dari dalam kamar mandi itu seketika membuat 5 orang ustazah itu mulai menggigil histeris. Sebab ccapan innalillahi tersebut sudah sangat melekat terucap manakala mendapati orang meninggal dunia.


Hal itulah yang merasuki perasaan para ustazah. Beberapa ustazah pun tak kuasa membendung tangisnya.

__ADS_1


......................


BERSAMBUNG...


__ADS_2