TITISAN

TITISAN
TANDA BAHAYA


__ADS_3

Renata dan Joko bangun dari duduknya memberikan hormat pada pimpinannya yang hendak melewatinya.


"Sudah, sudah duduk saja. Santai aja..." ujar Guntur lewat.


"Sekalian kami permisi pak, kembali ke kantor." kata Joko yang di iyakan Renata.


"Oh, iya deh." balas Guntur singkat.


Sementara pak Suro sekilas memperhatikan raut wajah Guntur yang sedang berjalan menuju sampingnya.


Bersamaan Renata dan Joko berlalu dari kios buku loak pak Suro, Guntur duduk di kursi plastik disamping pak Suro menghadap jalan raya.


“Kamu kemana aja Gun tiga hari ini nggak kelihatan?” Pak Suro memancing obrolan padahal ia sudah tahu sebelumnya dari cerita Renata dan Joko.


“Nggak kemana- mana pak, hanya saja dalam tiga hari ini perasaan saya nggak enak gitu pak. Bahkan tiga malam yang lalu tiba- tiba badan saya sakit- sakit pak, panas, kepala teras pusing,” jawab Guntur.


“Apa kamu sudah cek ke dokter?” Tanya pak Suro.


“Nggak pak, saya rasa bukan sakit karena penyakit. Soalnya, sakit itu muncul sewaktu saya sedang tidur dan hanya berlangsung sekitar 15 menitan. Setelah itu hilang dengan sendirinya, normal lagi...” ungkap Guntur.


“Hm...” pak Suro melepas nafas sambil memikirkan dugaan- dugaan penyebab sakutnya Guntur.


“Aneh juga ya,” gumam pak Suro.


“Dan satu lagi pak Suro, sampai dengan hari ini dada saya berdebar- debar terus. Seperti firasat bakal ada kejadian apa gitu pak,” ujar Guntur.


“Apa ya? Bingung juga ya Gun,” timpal pak Suro.


Pak Suro dan Guntur saling terdiam larut dalam pikirannya masing- masing. Di kepala Pak Suro sempat terlintas memunculkan sosok Karbala. Namun kemudian di buangnya jauh- jauh dugaan itu setelah ia mencari- cari objek yang menjadi persoalan yang berkaitan dengan Guntur itu tidak ketemu.


Tetapi berbeda dengan yang ada di pikiran Guntur, terlintas di dalam pikirannya tertuju pada rumah lamanya bukan pada sosok Karbalanya.


“Apa karena rumah itu saya jual ya pak?” tanya Guntur setengah bergumam.


Deg!

__ADS_1


Tiba- tiba jantung pak Suro berdegup kencang setelah Guntur mengatakan itu. Ia teringat dengan mimpi yang pernah Guntur ceritakan untuk kembali membeli rumah itu.


“Apa mungkin ada kaitannya dengan mimpi kamu sebelumnya ya Gun?” pak Suro balik bertanya mengingatkan Guntur.


“Iya juga ya Pak, selama ini saya tak terlalu menganggap serius mimpi itu. Tapi kenapa harus kembali ke rumah itu?” ujar Guntur menengadahkan wajahnya menerawang ke langit- langit kios.


“Itu kar..” seketika ucapan pak Suro terhenti sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Pak Suro hampir saja keceplosan hendak mengatakan tentang Karbala. Sayangnya hal itu membuat Guntur penasaran dengan ucapan yang hendak di sampaikan pak Suro.


“Karena apa pak?!” sergah Guntur penasaran.


Pak Suro tahu hingga sampai saat ini Guntur tidak pernah mau menganggap Karbala itu bapaknya. Meskipun seringkali Guntur bercerita kalau ada sosok Genderuwo yang muncul dalam mimpi- mimpinya yang sangat ingin diakui sebagai bapaknya.


Pak Suro sedikit bingung didesak rasa penasaran Guntur, namun ia lebih memilih mengalihkan pembicaraan karena khawatir membuat Guntur marah.


“Mm, mungkin itu karena rumah itu peninggalan papahmu Gun. Sehingga tersugesti seolah- olah tidak boleh meninggalkan rumah itu,” ucap pak Suro berbohong.


Pak Suro tidak mau menyinggung perasaan Guntur, apalagi untuk memaksanya mengakui kalau dirinya merupakan titisan Karbala.


Mungkin Guntur akan membenci mamahnya atau bahkan mungkin juga merasa jijik hingga bisa mungkin akan meninggalkan mamahnya. Namun yang pasti Guntur akan sangat marah pada mamahnya dan akan dianggap telah menghianati papahnya.


Makanya pak Suro lebih memilih memendam saja apa yang menjadi kekhawatirannya selama ini. Sudah lama ia memikirkan segala kemungkinan yang terjadi semenjak mengenal Guntur hingga hubungannya sedekat ini yang sudah dianggap sebagai saudara.


Pak Suro tak sepenuhnya menyalahkan Karmila, ia sangat yakin Karmila merupakan perempuan yang berhati baik. Tidak mungkin juga dengan sukarela menjalin hubungan terlarang dengan mahluk gaib padahal sudah memiliki suami yang telah mencukupi segalanya.


Pasti karena keterpaksaan atau mungkin juga karena ketidak sengajaan sehingga terjadi peristiwa terkutuk dan Guntur di klaim sebagai putranya oleh Genderuwo itu.


Lama sekali pak Suro terdiam menundukkan kepala, ia terhanyut dalam pikirannya yang sudah lama ia pendam. Pak Suro melihat dan menilai situasi dan kondisi keluarga Guntur dengan pemikiran yang bijaksana.


Dia pun tidak menyalahkan Guntur yang tidak mau menerima pengakuan Genderuwo bernama Karbala itu sebagai bapaknya. Situasi yang dialami Guntur pun dinilai sangat wajar, manusia mana yang bangga jika bapaknya adalah mahluk halus.


"Berdoa saja Gun semoga tidak terjadi apa- apa," ucap pak Suro memecah keheningan.


"Iya pak, o iya pak saya jadi lupa. Tadinya sekalian saya mau membicarakan Adi dan pak Suro," sahut Guntur.

__ADS_1


"Kenapa dengan Adi dan saya Gun? Apakah Lahan ini mau di bangun gedung lagi ya Gun? Nggak apa- apa Gun, Saya dan Adi bisa pindah kok," tanya pak Suro menduga- duga.


"Bukan, bukan pak. Gini, beberapa hari yang lalu saya dan mamah sempat membicarakan kalau pak Suro dan Adi pindah ke rumah aja. Masih ada kamar yang kosong pak, kan sayang kalau di anggurin," terang Guntur.


"Fffhht..." Pak Suro melepaskan nafas lega.


"Biar rumah nggak sepi pak," ujar Guntur lagi.


......................


Di sore hari menjelang waktu magrib tiba, haji Abas dan beberapa ustad sedang duduk- duduk santai di teras depan lantai masjid sambil menunggu sholat magrib.


Haji Abas mengajak beberapa ustad untuk mendiskusikan masalah gangguan mahluk gaib yang menghuni pohon beringin di samping masjid itu.


Haji Abas mengutarakan keinginannya untuk menebang pohon itu dengan harapan mahluk penunggunya akan menyingkir dengan sendirinya.


“Ya mesti begitu Abah, masa kita manusia diperbudak mahluk halus... Kenapa kita takut?” Celetuk salah satu ustad dengan penuh antusias.


Haji Abas hanya tersenyum kecil mendengarnya, ia memaklumi ucapan ustadnya itu karena belum pernah melihat, merasakan atau mengalami langsung kekuatan mahluk penghuni beringin tersebut.


"Ustad Amir belum tahu sih bagaimana kuatnya perlawanan mahluk gaib itu," timpal ustad Sofyan.


"Memangnya bisa melawan?" sergah ustad Amir dengan logat sundanya yang kental.


"Sudah, sudah nggak usah di ributkan. Besok ustad Sofyan dan ustad Jahid hubungi tukang tebang kayu ya," kata haji Abas.


"Muhun bah," sahut kedua ustad muda tersebut bersamaan.


"Kenapa nggak kita- kita aja yang menebangnya ustad? Saya siap! temen -temen juga pasti bersedia!" sela ustad Amir penuh heran.


Haji Abas menggelemgkan kepalanya pelan seraya menjawab; "Biar tukang tebang aja yang ngerjain. Mereka sudah terbiasa menebang pohon, mungkin memiliki caranya sendiri." pungkas haji Abas.


Obrolan tak berlanjut karena terdengar suara azan dari salah satu santri menandakan waktu sudah memasuki sholat magrib.


......................

__ADS_1


__ADS_2