
Cuaca malam Jumat ini cukup cerah, bulan muncul dengan bulatan penuh berwarna keemasan bertepatan dengan bulan Purnama. Cahayanya yang temaram berpendar dilangit berpadu dengan cahaya-cahaya bintang yang tersebar bertaburan seakan-akan turut menunjukkan eksistensinya.
Didalam rumah Guntur nampak duduk di ruang tamu ada Guntur, mamah Karmila, Kunto yang baru saja kedatangan pak Suro yang membawa serta seorang pria seuisa dengan pak Suro berkisar 50 tahunan. Pria itu berpakaian baju koko di kepalanya memakai kopyah hitam biasa, di tangannya menggengam seuntai tasbih. Sebelumnya Guntur sudah membicarakan dengan mamahnya soal dirinya meminta pak Suro mencarikan orang pintar untuk mengusir mahluk gaib di pohon beringin itu.
Awalnya mamah Karmila meminta untuk dibatalkan saja dengan berbagai alasan yang berbelit-belit. Bukan tanpa sebab ia ingin mencegahnya, Karmila tiba-tiba merasa berat hati setelah dalam peristiwa percobaan pembunuhan di jalan tol itu dirinya melihat sosok Karbala berdiri didepan Guntur. Kehadirannya saat itu untuk melindungi Guntur dari serangan senjata tajam dan peluru pistol. Sehingga dia sangat yakin adanya Karbala akan selalu melindungi Guntur kemanapun dia pergi dan itu sangat membuatnya tenang.
Tetapi Guntur bersikukuh dengan mengatakan sudah membahayakan hingga membuat orang celaka yang membuat mamahnya mengalah dan membiarkannya.
"Adi nggak diajak pak?" Tanya Guntur membuka percakapan.
"Dia mau jaga kantor aja Gun, kalau berangkat semua siapa yang jaga katanya," jawab pak Suro.
"Hehehehe... Adi, adi..." timpal Guntur.
"O iya kenalkan ini ustad Mustakim," sambung pak Suro menoleh pada pria setengah baya disampingnya.
Ustad Mustakim tersenyum dan mengangguk. Dari sorot matanya nampaknya ustad Mustakim memiliki ilmu kebatinan yang kuat. Seseorang yang memiliki ilmu kebatinan dapat dilihat hanya dari tatapannya, jika tatapan itu memiliki kharisma dan terasa tajam hingga menggetarkan hati maka sudah dipastikan orang tersebut memiliki kekuatan batiniyah.
"Jadi gimana pak ustad prosesinya, apa yang dibutuhkan?" Tanya Guntur.
"Nanti insya Allah saya coba terawang dulu tempatnya Mas," jawab ustad Mustakim beriwibawa.
Mamah Karmila nampak tertegun, didalam dadanya berdebar-debar hatinya berkecamuk membayangkan apa yang akan terjadi. Hatinya tiba-tiba merasakan iba jika Karbala diusir dari tempat tinggalnya.
"Apakah ditempatnya langsung atau gimana pak Ustad?" Tanya Guntur lagi.
__ADS_1
"Sebaiknya saya melihat langsung ke tempat yang akan saya bersihkan," ujar ustad Mustakim.
"Kalau begitu mari kesana pak ustad," ucap Guntur kemudian berdiri.
Kelima orang itu lantas beranjak meninggalkan ruang tamu melalui pintu depan menuju belakang rumah. Guntur berjalan didepan bersama mamah Karmila disusul pak Suro, ustad Mustakim dan Kunto berjalan dibelakangnya.Tak berapa lama mereka tiba dibelakang rumah. Mereka berhenti tepat disudut belakang rumah.
"Itu pohonnya pak Ustad," ucap Guntur sambil menunjuk pohon Beringin di sudut tembok pagar.
Ustad Mustakim mengangguk lalu melengkah mendekati pohon Beringin dengan jarak 5 meteran meninggalkan Guntur, mamah Karmila, Kunto dan pak Suro yang berdiri menatapnya.
Ustad Mustakim sudah merasakan energi besar yang menerpa tubuhnya. Energi penolakkan yang sangat kuat membuat dahinya berkerut. Kemudian ustad Mustakim duduk bersila datas rumput tanpa alas. Perlahan memejamkan matanya sambil bibirnya bergerak-gerak membaca doa. Dengan mengerahkan kemampuan mata batinnya ustad Mustakim dibuat terperangah! Tiba-tiba dihadapannya terbentang bangunan megah dengan arsitektur kuno menyerupai kastil. Kemudian tiba-tiba Ustad Mustakim terseret masuk kedalam dunia gaib yang membawanya ke dimensi lain dan melihat kehidupan di masa lampau.
......................
Ustad Mustakim diperlihatkan gambar seperti sebuah untaian film dimana saat pertemuan Dayang Sumbi dengan seorang pemuda gagah yang sangat sakti tengah menolong Dayang Sumbi dari kejaran seorang raja yang hendak dijadikannya istri. Seiring berjalannya waktu Dayang Sumbi dan pemuda itu yang tak lain adalah Sangkuriang saling menaruh hati. Dan Dayang Sumbi yang masih terlihat muda dan cantik itu membuat Sangkuriang mabuk kepayang. Namun pada suatu malam ketika Dayang Sumbi dan Sangkuriang sedang berduaan memadu kasih, kala itu Sangkuriang merebahkan kepalanya dipangkuan Dayang Sumbi. Dayang Sumbi mengelus-elus kepala Sangkuriang dengan penuh kasih sayang. Tanpa disadari jari-jarinya tangan yang mengelus kepala Sangkuriang merasakan sesuatu di kepala itu. Dayang Sumbi menyibakkan rambut Sangkuriang dan melihat ada bekas luka dikepala. Wajah Dayang Sumbi itu terkesiap, dia ingat sesuatu.
"Kang Mas, bekas luka apa ini?" Tanya Dayang Sumbi.
"Ini bekas lemparan gayung emakku, Nimas..." ucap Sangkuriang cuek.
Deg! Jantung Dayang Sumbi serasa berhenti mendengar jawaban Sangkuriang. Ingatannya terbang pada peristiwa 10 tahun yang silam dimana dirinya sangat marah karena putranya yang berusia 10 tahun telah membunuh anjing jelmaan suaminya yang juga bapaknya Sangkuriang. Padahal Sangkuriang saat itu tidak sengaja memanahnya sekaligus tidak tahu kalau Si Tumang adalah anjing jelmaan bapaknya tatkala ibunya ingin makan hati Menjangan. Namun Dayang Sumbi tidak mau menerima apapun alasannya, putranya diusir dan dilempar dengan gayung yang terbuat dari batok kelapa tepat mengenai kepalanya.
Menyadari kalau Sangkuriang itu putranya setelah melihat tanda bekas luka di kepala Sangkuriang, Dayang Sumbi bersikeras menolaknya dan menerangkan jka dirinya adalah ibunya. Akan tetapi Sangkuriang tidak percaya dan terus memaksa Dayang Sumbi menjadi istrinya. Akhirnya untuk menghindari terjadinya perkawinan itu Dayang Sumbi memberi syarat dengan harapan Sangkuriang gagal memenuhinya. Sayangnya upaya Dayang Sumbi itu diluar perkiraannya, dengan kesaktian yang dimiliki Sangkuriang, Candi diatas danau yang di syaratkan itu mampu dibangunnya. Tetapi Dayang Sumbi tak hilang akal, dia kembali mencari cara untuk melunturkan syarat yang akan berhasil dipenuhi oleh Sangkuriang. Dia pun meminta bantuan warga untuk menabuh alat penumbuk padi agar ayam-ayam jago berkokok untuk menandakan hari sudah pagi yang berarti Sangkuriang telah gagal. Padahal kala itu malam menuju fajar masih cukup lama, seperempat waktu lagi. Dan pasukkan gaib yang diperintahkan Sagkuriang sedang menyelesaikan satu candi lagi sementara Sangkuriang sendiri sendiri sedang membuatkan perahu yang juga hampir selesai.
Tong... Tong... Tong...
__ADS_1
Tong... Tong... Tong...
"Kukuruyuuuuuukkk...."
"Kukuruyuuuuuukkk...."
"Kukuruyuuuuuukkk...."
Suara penumbuk padi menggema di langit malam disusul suara kokok ayam jago saling bersahutan terdengar oleh Sangkuriang dan pasukan gaibnya. Sangkuriang terperanjat seketika, wajahnya meradang menyiratkan kemarahan yang teramat sangat. Dia melihat pasukan mahluk gaib saling melarikan diri mendengar kokok ayam karena mengira hari sudah pagi.
"Tidaaaaakkkk..! Tidak mungkiiiin...!!!" Teriak Sangkuriang sangat marah.
"Kembaliiii... teruskan kerjaan kalian...!!!" Teriak Sangkuriang melihat pasukan mahluk halus berlarian pergi.
Sangkuriang sangat marah melihat pasukan gaibnya melarikan diri meninggalkan pekerjaannya yang belum jadi. Kemudian Sangkuriang menendang perahu yang dibuatnya kuat-kuat hingga perahu itu terpental jauh dan menyapu sebagian pasukan mahluk halus yang sedang melarikan diri karena dikiranya hari sudah pagi. Mahluk halus yang terkena sambaran perahu, berpentalan kesegala arah.
Mahluk halus yang terkena sambaran dan terhempas itu salah satunya dari golongan pasukan Genderuwo. Salah satu Genderuwo itu terpental jauh hingga terdampar di wilayah Bandongan yang sekarang bernama Bandung. Tubuhnya tersangkut dan terhenti di rerimbunan pohon beringin dan Genderuwo itu akhirnya menetap tinggal di pohon Beringin yang hingga sekarang pohon itu masih berdiri kokok berada di belakang rumah Guntur.
Ustad Mustakim seketika tersadar dan keluar dari dimensi alam masa lampau. Wajahnya terperangah ternyata energi gaib yang menyeretnya kedalam dunia masa lampau itu menunjukkan asal muasal mahluk gaib penunggu pohon Beringin yang hendak diusirnya.
"Itu seperti cerita rakyat Pasundan mirip sekali dengan kisah legenda Gunung Tangkuban Perahu. Berarti mahluk gaib ini sudah sangat tua sekali usianya, legenda itu menurut buku yang saya baca ada dikisaran tahun 90.000." Gumam ustad Mustakim dalam hati.
Ustad Mustakim tertegun memandangi rerimbunan pohon beringin didepannya. Didalam hatinya timbul keraguan dan merasa kekuatan energinya tidak akan mampu jika harus bertarung dengan penghuni pohon itu.
......................
__ADS_1