TITISAN

TITISAN
JANGAN DI TEBANG!


__ADS_3

Keesokkan paginya di halaman samping rumah mamah Karmila dan Hafizah nampak asyik menyirami tanaman sambil ngobrol. Kalau urusan bangun pagi kaum hawa emang jagonya, tak memandang hari biarpun hari minggu juga, tetap bangun pagi.


Setelah puas berkeliling dari satu tanaman bunga ke tanaman bunga lainnya, Mamah Karmila dan Hafizah kemudian beristirahat duduk di bangku taman sambil memandangi menikmati tanaman- tanaman yang bermekaran di hadapannya.


Ketika sedang ngobrol dengan Hafizah, tiba- tiba mamah Karmila memegangi dadanya. Hafizah terkejut melihat perubahan pada raut wajah mamah Karmila dengan kedua tangannya mendadak memegangi dada.


"Kenapa tante?!" tanya Hafizah cemas.


"Nggak tahu neng, tiba- tiba saja jantung tante berdebar- debar," jawab mamah Karmila.


"Sebentar tante, neng panggilkan mas Guntur dulu ya. Tante tunggu ya," ujar Hafizah kemudian buru- buru meninggalkan mamah Karmila di bangku taman.


......................


Di waktu yang sama,


Pak RT terlihàt kebingungan saat melihat penghuni rumah yang muncul bukan seorang wanita cantik yang pernah membuatnya kesengsem atau seorang pria muda ganteng. Sebab yang dia tahu selama ini rumah itu sebelumnya di beli oleh keluarga Aryo.


Pak RT memang tidak mengetahuinya kalau rumah itu sudah di jual karena pada saat akad jual beli itu tidak melibatkan orang lain termasuk pak RT. Berbeda ketika papahnya Guntur membeli rumah itu yang memang melalui perantara dirinya.


“Pak RT, mari masuk pak,” ajak haji Abas sesaat melihat pak RT terbengong.


“Oh, e i, iya pak haji,” sahut pak RT menebak kalau orang itu sudah haji karena memakai kopyah putih.


Haji Abas menjelaskan maksud dan tujuannya memanggil pak RT ke rumahnya setelah keduanya duduk di ruang tamu yang sekarang di sekat menjadi dua ruang dengan ruangan satunya digunakan untuk ruang Tata Usaha.

__ADS_1


Setelah mengutarakan niatnya meminta tolong untuk mencarikan tukang penebang pohon, Haji Abas juga menceritakan berbagai kejadian mistis yang bersumber dari pohon beringin itu sekaligus juga mengatakannya sebagai alasannya kenapa ia ingin menebangnya. Namun haji Abas tidak menceritakan tentang keberadaan mahluk gaib berwujud genderuwo itu yang pernah di lihatnya.


“Karena hal itulah saya ingin menebangnya pak RT,” mengakhiri ceritanya.


Raut wajah Pak RT berubah seketika, raut wajahnya menunjukkan keterkejutan bercampur cemas yang tak terkira. Haji Abas melihat perubahan pada sikap pak RT itu membuatnya terheran- heran hingga menimbulkan pertanyaan di hatinya.


“Kenapa pak RT?” tanya haji Abas.


Pak RT tak langsung menjawab, di wajahnya nampak tergurat keraguan yang dalam. Haji Abas memperhatikannya, dan di pikirannya timbul dugaan kalau pak RT itu sepertinya menyimpan sebuah rahasia besar terkait pohon beringin itu.


“A, anu pak... apa nggak sebaiknya di biarkan saja? Saya khawatir...” pak RT menghentikan ucapannya.


“Khawatir kenapa pak?” sergah haji Abas.


“Dulu pemilik rumah ini berniat sama ingin menebang pohon beringin itu tapi...” ucapan pak RT kembali berhenti tapi kali ini dipotong haji Abas.


“Bb, bu bukan pak. Kalau bu Mila itu pemilik kedua,” terang pak RT.


“Pemilik rumah pertama itu orang keturunan cines namanya Jin An atau warga sekitar sini memanggilnya pak Gunawan. Saya sendiri salah satu tukang kebunnya...”


Kemudian Pak RT mulai menceritakan kehidupan pemilik rumah yang pertama itu secara gamblang kepada haji Abas.


......................


Keluarga Jin An atau lebih dikenal warga sekitarnya dengan nama Gunawan merupakan keluarga kecil yang sangat bahagia. Ketika rumahnya selesai di bangun Gunawan bersama istrinya yang bernama Rosma dan seorang putrinya berusia 10 tahunan pun menempatinya.

__ADS_1


Gunawan memiliki tiga orang yang bekerja di rumahnya. Dua orang perempuan berusia paruh baya yang memiliki tugas berbeda. Yang satu bernama bi Suti yang mengurusi bagian dapur sedangkan yang satunya bernama bi Tari yang mengurusi putri Gunawan. Sedangkan satu orang pegawai lagi merupakan seorang laki- laki bernama Parno yang mengurusi bagian luar rumah meliputi kebersihan halaman dan keamanan rumah.


Pada malam pertama keluarga Gunawan menempati rumah baru itu, bertepatan dengan malam Jumat entah keliwon atau bukan namun yang Pak RT ingat hanyalah malam Jumat.


Malam itu sekitar pukul 11 lebih, Parno duduk di undakan teras depan rumah setelah sebelumnya berkeliling memeriksa keadaan sekitarnya. Senternya ia letakkan di sebelahnya, Parno pun membungkus tubuhnya dengan sarung untuk menahan hawa dingin yang menyerang tubuhnya.


Sementara suasana jalan raya dari balik pagar rumah masih cukup ramai karena suara- suara klakson dan deru mesin maupun knalpot kendaraan jelas terdengar. Parno menyalakan sebatang rokok untuk menghangatkan tubuhnya, lalu meraih segelas kopi yang sudah dingin diatas meja tak jauh dari duduknya.


Meskipun suasana terdengar ramai dari luar pagar rumah akan tetapi Parno merasakan suasana di rumah yang ia jaga itu terasa sedikit janggal. Parno merasakan perasaannya tak nyaman dan cemas yang tak diketahui sebabnya.


Sekitar 15 menitan duduk, Parno pun kembali beranjak dan berjalan ke arah gerbang yang terhalang oleh penutup transparan untuk menghilangkan kegelisahannya. Ia melongkokkan kepalanya mencari celah-celah untuk melihat suasana di luar. Sesekali Parno melihat kendaraan roda empat melintas. Intensitas kendaraan yang lewat nampaknya sudah mulai berkurang, Parno pun kembali mengayunkan kakinya menyusuri tepian pagar sebelah kanannya dengan menyalakan lampu senternya.


Lampu senternya di arahkan jauh- jauh hingga ke sudut pagar hingga lampunya membentur tembok pagar sisi kanan. Kemudian parno mengarahkan lampu senternya jauh ke sudut belakang.


Cahaya senternya menerangi sebuah pohon di sudut belakang. Pohon itu tak lain adalah pohon beringin dengan daunnya yang sangat rindang. Parno melangkah ke belakang sambil terus mengarahkan lampu senternya kearah pohon.


Tanpa di sadari oleh Parno, pikirannya tiba- tiba saja tertarik untuk terus melihat kearah pohon beringin itu sambil terus berjalan mendekat. Sorot cahaya dari senter membuat bayangan raksasa di belakang pohon itu yang tergambar pada tembok pagar, langkah Parno semakin dekat. Matanya mulai jelas melihat untaian- untaian akar yang menjuntai hingga ke tanah.


Jarak Parno dengan pohon beringin sekitar 10 langkah lagi. Tiba- tiba langkah kakinya tertahan, Parno berdiri terpaku menatap kearah pohon beringin. Matanya ia kucek- kucek sebentar lalu diarahkannya lagi melihat kearah pohon.


Samar- samar Parno melihat sebuah sosok didalam rimbunan daun beringin, namun tidak begitu jelas. Parno kembali menggerakkan kakinya satu langkah dengan pelan- pelan karena penasaran.


Parno menajamkan penglihatannya fokus menatap rerimbunan pohon yang dilihatnya itu sesosok bayangan hitam. Kali ini Parno melihat dua cahaya merah di dalam kegelapan rimbunan daun itu. Parno kian dibuat penasaran oleh dua cahaya merah bulat sebesar telor, ia pun maju lagi selangkah.


Jantung Parno mulai berdegub cepat, namun rasa penasarannya menuntunya untuk terus mendekati pohon beringin itu.

__ADS_1


......................


Bersambung....


__ADS_2