
Sepanjang melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir di halaman depan itu tatapan mata Guntur tak lepas dari sudut pagar yang ada di bagian depan halaman. Tempat itu diyakininya sebagai tempat pemanggangan daging gagak dan tempat Karbala memakannya.
"Disitu tempatnya! sama persis seperti di mimpi..." batin Guntur.
Disaat yang sama mamah Karmila pun tanpa disadari matanya terpaku menatap tempat yang sedang ditatap Guntur. Diingatannya muncul rangkaian peristiwa di tempat itu dimana Karbala asyik menikmati makanan kesukaannya.
Ibu dan anak itu terus melangkahkan kakinya diatas rerumputan halaman menuju mobilnya yang terparkir di depan teras depan.
Mamah Karmila melirik sekilas melihat wajah Guntur yang sedang memperhatikan lokasi Karbala yang nantinya akan memakan umpan yang disediakan Ki Wayan. Ia pun kontan mengikuti arah tatapan Guntur.
Deg!
Jantung janda muda yang cantik itu berdegub kencang, hatinya merasa heran melihat Guntur menatap tempat itu dengan intensnya.
“Apakah Guntur tahu soal tempat itu?! Ah, nggak mungkin!” batin mamah Karmila sambil berjalan di samping Guntur menuju mobil.
Di dalam hatinya terlintas kalau Guntur juga mengetahuinya, akan tetapi logikanya menolak keras. Darimana Guntur tahu kalau itu tempat Karbala memakan umpan?
Sebab tidak mungkin juga Guntur mengalami mimpi yang sama dalam satu waktu pula dengan dirinya.
Ki Wayan masih menatap tempat dimana Guntur menghilang dibalik sudut tembok rumah walau pun yang di tatapnya sudah tak terlihat.
Dadanya mulai berdebar- debar mengingat tanda hitam di tangan kiri Guntur yang sempat dilihatnya sekilas. Ki Wayan hafal betul kalau tanda itu merupakan salah satu tanda keterikatan dengan mahluk dari golongan Genderuwo.
“Apakah dia ada hubungannya dengan Genderuwo yang menghuni pohon beringin itu?” Batin Ki Wayan penuh tanda tanya kecurigaan.
“Lalu kenapa dia ada disini saat pohon itu akan di tebang? Lalu bagaimana dia tau kalau pagi ini pohon itu mau di tebang?” pikir Ki Wayan.
Ki Wayan termangu dengan tatapan kosong pada sudut tembok, sampai dengan haji Abas mengingatkannya,
“Ki... Ki Wayan...” ucap haji Abas menyentuh lengan Ki Wayan.
“Eh, i, iyya pak haji,” sergah Ki Wayan tergagap.
Buru- buru Ki Wayan hendak melangkah menuju pohon beringin, tapi baru 3 langkah ia berhenti karena teringat sesuatu lalu menoleh kearah Udin.
“Din peralatannya,” kata Ki Wayan.
__ADS_1
Udin pun menyerahkan dua karung yang berisikan perkakas penebangan pohon dan satu karung lagi didalamnya berisikan barang- barang untuk syarat ritual yang sudah disiapkannya semalam.
Namun pikiran Ki Wayan saat ini sedikit terganggu dipenuhi dengan kecurigaan tentang kehadiran sosok Guntur dan mamahnya di lokasi. Hingga membuat Ki Wayan tak biasa fokus terhadap pekerjaannya.
Setelah sampai dibawah pohon Beringin, Ki Wayan langsung mengeluarkan salah satu karung yang berisikan barang- barang syarat ritual sebelum melakukan penebangan.
“Din...!” Seru Ki Wayan memanggil menoleh kepada Udin yang berdiri diantara haji Abas, Pak RT Parno serta 3 orang ustad.
Udin pun bergegas berlari kecil menuju tempat Ki Wayan, “Ada apa Ki?!” tanya Udin.
“Kamu bakar daging ini,” terang Ki Wayan kemudian celingukkan.
Ki Wayan celingukkan sejenak mencari lokasi untuk membakar daging yang tak lain adalah daging burung gagak.
“Bakar daging ini di sudut depan sana Din, pakai lilin ini,” ucap Ki Wayan.
“Sekarang Ki?” tanya Udin mengerutkan kening.
“Iya, sekarang. Cepat kamu pergi ke sudut depan sana,” jawab Ki Wayan.
“Baik Ki,” sahut Udin kemudian balik badan hendak menuju tempat yang di tunjuk Ki Wayan.
Udin menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menunggu Ki Wayan melanjutkan ucapannya.
“Kalau sudah siap membakarnya, kamu lambaikan tangan ya, saya langsung akan membuat pagar penghalang!” seru Ki Wayan.
Udin membalas dengan menganggukkan kepala lalu kembali bergegas menuju sudut halaman depan.
......................
Sementara itu Guntur dan mamah Karmila sudah masuk ke dalam mobil. Guntur tak langsung menghidupkan mesin mobilnya dan sengaja tak langsung pergi dari rumah Tahfiz itu.
“Gun, nggak jadi pergi?” Tanya mamah Karmila heran.
“Nanti mah,” jawab Guntur singkat kemudian mengalihkan tatapan matanya dari wajah mamahnya ke arah lain diluar jendela pintu mobil.
Mamah Karmila merasa sedikit lega saat Guntur menangguhkan untuk pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa di sadari, mama Karmila pun mengikuti pandangan Guntur yang mengalihkan tatapannya jauh diluar jendela mobil disisi kirinya..
__ADS_1
Selang beberapa saat kemudian, Guntur dan mamah Karmila melihat seseorang lelaki muncul berjalan menuju sudut halaman depan.
Di tangan kanan orang tersebut menenteng sebuah benda hitam, sedang di tangan kirinya menggenggam sebatang lilin besar berwarna merah.
“Orang itu pasti akan membakar daging gagak!” pekik Guntur dalam hati.
Sementara mamah Karmila pun mengerutkan keningnya dalam- dalam, ia teringat dengan salah satu adegan didalam mimpinya.
“Dia hendak memancing Karbala keluar?! Orang itu pasti mau membakar daging gagak!” Batin mamah Karnila.
Tanpa disadari oleh Karmila, bibir tipisnya ternganga saat menatap orang yang ada di dalam mimpinya itu.
Melihat perubahan ekspresi wajah mamahnya, raut Guntur pun kontan mengerut penuh keheranan. Hatinya mulai bertanya- tanya dan timbul kecurigaan kalau mamahnya juga mengetahui tentang orang yang sedang ditatapnya itu.
“Ah, tidak mungkin mamah juga bermimpi yang sama!” logika Guntur bereaksi menolak dugaan kecurigaannya.
Yang di lihat Guntur dan mamah Karmila sama seperti yang dilihat mereka didalam mimpinya.
Terlihat Udin mulai membuat tempat untuk memanggang daging gagak dengan kayu- kayu ranting untuk menyangga daging gagak yang sudah di tusuk dengan sebatang kayu.
Guntur menahan nafas menyaksikan satu adegan itu sambil mengingat- ingat adegan selanjutnya dengan dada berdebar- debar.
Begitu juga dengan Mamah Karmila, ia pun merasakan degub jantungnya mulai berdegub kencang memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya.
Di kejauhan, Udin pun mulai menyalakan lilin besar berwarna merah. Kemudian sebatang kayu tusuk yang berisi daging berwarna hitam mulai di letakkan diatasnya dengan kedua ujung kayu tusuknya diletakkan dikedua kayu penyangga disisi lilin merah besar itu.
Asap tipis mulai mengebul ketika daging gagak itu terkena bara api dari lilin merah. Perlahan- lahan bau khas daging terbakar mulai tercium oleh Guntur dan mamah Karmila yang berada di dalam mobil.
Melihat adegan di luar mobil itu, jantung Guntur dan mamah Karmila kian berdegup kencang. Diingatan keduanya sama- sama menebak kalau sebentar lagi Karbala akan muncul menghampiri panggangan daging gagak tersebut.
"Aku harus bertindak!" batin Guntur.
Berbeda dengan Guntur yang sudah memiliki rencana didalam pikirannya, mamah Karmila justru merasa bingung mengingat adegan selanjutnya.
"Apa yang harus ku lakukan kalau Karbala muncul?!" batin mamah Karmila.
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG....