TITISAN

TITISAN
BAGAI PETIR TAK BERHUJAN


__ADS_3

............ "Dok, gimana keadaan Aryo?!" Karmila langsung menyongsong dokter yang baru keluar dari pintu IGD.


"Maaf ibu siapanya pak Aryo?!" Tanya dokter.


"Saya istrinya dok!" sergah Karmila cemas.


Seketika senyum di wajah dokter itu berubah namun sulit diartikan maknanya oleh Karmila dan yang lainnya. Dokter itu diam sesaat sambil menatap dalam-dalam wajah Karmila entah akan menyampaikan kabar baik atau buruk karena ekspresi dari dokter itu terlihat datar.


"Ibu harus tabah ya...."


Baru saja dokter mengucapkan kalimat itu dada mamah Karmila dan Guntur langsung berdebar-debar kencang dengan raut kecemasan yang teramat memdalam.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi Tuhan berkehendak lain. Pendarahan di otak Pak Aryo akibat benturan keras di kepalanya membuat nyawanya tidak tertolong, maaf..." terang dokter kemudian pergi berlalu dari hadapan mamah Karmila dan Guntur.


Bagai petir disiang bolong mendengar jawaban dokter itu. Firasat buruk yang sedari tadi dipendam akhirnya kini telah menemukan jawabannya. Tangis mamah Karmila pun langsung membuncah manakala sebuah belangkar didorong keluar pintu oleh seorang suster dari ruang IGD didepannya.


"Sus, Sus maaf sebentar!" cegah Guntur menghentikan Suster mendorong belangkarnya.


Diatas belangkar terbaring sosok tubuh yang sudah ditutupi kain putih dari ujung kaki hingga ujung kepala. Guntur perlahan-lahan menyibak kain putih yang menutupi kepala tubuh itu dengan tangan gemetar.


Wajah yang tak begitu asing terpampang jelas dihadapannya dengan mata menutup. Kepalanya masih terlilit perban yang masih terdapat noda-noda darah merembas.


"Papah..." ucap Guntur menecup kening jasad terbujur kaku itu.


Mamah Karmila langsung terkulai lemas melihat wajah suaminya yang terbaring kaku, ia pun memeluknya tanpa kuasa membendung air matanya berlinangan luruh membasahi kedua pipinya. Seketika itu juga rasa bersalah dan merasa berdosa yang tiada terampuni menghinggapi segenap perasaannya.


"Maafkan aku masss..." ucapnya sambil tersedu-sedu memeluk jasad Aryo.


Kunto dan Juki menatap terenyuh Guntur dan mamahnya, matanya berkaca-kaca turut merasakan nestapa. Begitu pula dengan empat orang karyawan yang salah satunya mengusap matanya agar air matanya tak jatuh. Namun tidak dengan tiga karyawati, mereka bertiga saling berpelukkan dan menumpahkan tangisnya bersama-sama.


Batin mereka saling membicarakan kebaikan-kebaikan bossnya selama ini dan yang paling tidak disangka-sangka sebelum kejadian yang merenggut nyawa bossnya adalah membelikan makanan dan makan bersama. Rupanya momen terakhir itu merupakan momen pamitan Aryo pada karyawannya.


"Maaf bu, almarhum akan segera dimandikan..." ucap Suster kemudian mendorong belangkar yang diatasnya terbaring jasad Aryo menuju kamar mayat.

__ADS_1


Guntur meraih tubuh mamah Karmila yang sudah lunglai untuk melepaskan pelukkannya pada jasad papahnya lalau mengalihkan pelukannya pada Guntur.


Terbayang seluruh momen-momen indah saat bersama dengan Aryo memenuhi ruang kepala Karmila. Dari awal perktemuannya dengan Aryo yang tidak disengaja pada sebuah mini market tak disangka-sangka akan berlanjut menumbuhkan benih-benih cinta di hati keduanya.


"Semuanya dua ratus tujuh lima mbak," kata kasir mini market.


Karmila langsung mencari dompetnya didalam tas, namun setelah dicari-cari dompet itu tidak juga ditemukan. Wajah Karmila mulai panik anatara harus membayar belanjaannya dengan memikirkan dompetnya yang entah hilang terjatuh atau ada yang mencuri. Sejenak dipikir-pikirnya lagi sebelum mampir ke mini market dirinya pergi ke pasar yang penuh sesak untuk membeli kebutuhan dapur. Karmila ingat betul terakhir kali membuka dompetnya saat membayar telur 10 kg.


"Apakah dompetnya dicuri?"


Karmila langsung memeriksa sisi luar tasnya dan saat itulah matanya terbelalak melihat sebuah sayatan panjang. Saat diraba-raba sayatan itu tembus kedalqm tasnya, seketika lemaslah tubuhnya. Berarti benar dompetnya telah dicuri, sial baginya karena didalam dompet itu ada kartu ATM, KTP, SIM dan semua uang gaji yang baru saja diambilnya sebelum belanja. Kemungkinan besar penjahat itu sudah mengikutinya semenjak dari tempat ATM.


"Maaf mbak nggak jadi, dompetnya hilang..." ucap Karmila pasrah.


"Mm, maaf berapa semuanya belanjaan mbak ini, mbak?" Sergah seorang pria tampan yang berdiri mengantri dibelakang Karmila.


"Semuanya dua ratus tujuh lima, mas..." kata petugas kasir.


"Mas..."


"Sudah, sudah nggak apa-apa. Silahkan diambil belanjaannya mbak." ucap pria itu kemudian mengambilkan dua kantong kresek belanjaannya Karmila.


Karmila menerima dua kresek belanjaannya dengan perasaan tidak menentu lalu bergegas pergi dari depan kasir. Untungnya tidak banyak orang yang mengantri, saat itu hanya ada dirinya dan seorang pria yang tadi membayari belanjaannya sehingga tidak terlalu malu-malu amat dengan kejadian tadi.


"Astagfirullah, sampai lupa nggak ngucapin terima kasih..." Gumam Karmila sesampainya diluar pintu mini market.


Karmila masih berdiri didepan mini market, dirinya sengaja menunggu pria itu keluar untuk mwngucapkan terima kasih sekalian berniat menyampaikan akan menggantinya. Beberapa saat kemudian pria yang ditunggu-tunggunya keluar juga.


"Loh mbak masih disini?" Tanya pria itu sedikit keheranan.


"Anu, mas... aku mau ngucapin terima kasih sekalian mau mengganti uang mas tadi. Aku minta nomor rekeningnya ya," ucap Karmila malu-malu.


"Hehehehe... Mbak, mbak.. sudah, nggak usah," ujar pria itu.

__ADS_1


"Nggak mas, aku serius. Aku mau menggantinya kok," kata Karmila memaksa.


"Jangan mbak, sudah nggak apa-apa. Lain kali hati-hati ya jangan sendirian kalau ke pasar ajak suaminya," ucap pria itu.


"Suami?" Sergah Karmila sambil memicingkan matanya.


"Aku belum menikah mas, apa karena penampilanku kaya emak-emak ya mas?" ujar Karmila mengerutkan keningnya pura-pura kesal.


"Oh, maaf maaf mbak. Atau ya diantar sama pacar lah," ujar Aryo menangkupkan kedua telapak tangan di dadanya.


"Jangan meledek aku terus toh mas," ujar Karmila kemudian membalikkan badannya membelakangi pria itu sambil menghentakkan kaki kanannya ke lantai mini market.


"Loh, loh... Kok aku salah terus ya, apa salahku mbak?" ucap pria itu mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Ya aku belum menikah terus aku juga belum punya pacar," sungut Karmila mencemberutkan wajahnya.


"Ooooo, maaf maaf aku nggak tau tapi masa sih cantik-canti nggak punya pacar hehehehe..." seloroh pria itu.


"Jadi aku gimana gantiin uang belanjaan ini mas?" timpal Karmila.


"Udah mbak, nggak usah... swerrrrr nggak usah diganti," ujar pria itu sambil mengangkat dua jari ke wajah Karmila.


"Mah.. mah...!"


Suara panggilan Guntur dan tepukan halus di punggung mamah Karmila seketika membuyarkan momen terindah sepanjang hidupnya saat pertama kali mengenal Aryo. Mamah Karmila melepaskan pukkannya pada Guntur, buru-buru diusapnya air mata yang masih deras mengalir membasahi pipinya.


"Kita ke bagian administrasi dulu mah untuk mengurus semua biayanya," ucap Guntur.


Juki, Kunto dan tujuh orang karyawan dan karyawati itu hanya memandang nanar merasakan kedukaan yang dirasakan mamah Karmila dan putra semata wayangnya.


......................


menapaki hidup baru bersama Aryo

__ADS_1


__ADS_2