
"Terpaksa harus saya eksekusi disini," pikir Carok sambil berjalan memasuki rumah sakit.
Lalu lalang keluar masuk orang-orang di lobi rumah sakit menguatkan niat Carok mencari informasi dengan mendatangi petugas jaga di meja lobi. Tindak-tanduknya dibuat sewajar mungkin untuk menghilangkan kecurigaan petugas, namun tetap saja raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan ketegangannya.
Salah seorang petugas lobi rumah sakit sudah mengamati gerak-gerik Carok semenjak ia memasuki pintu utama rumah sakit. Carok tidak menyadarinya sama sekali kalau dirinya sedang dalam pengamatan seorang wanita yang ada di balik meja lobi.
“Selamat malam, ada yang bisa kami bantu pak?” sambut salah seorang petugas jaga saat Carok menghampiri mejanya.
“Mm, a, anu mau tanya pasien atas nama Guntur?” tanya Carok sedikit gugup.
Wanita disebelah petugas yang menyambut Carok terus memperhatikan secara diam-diam. Instingnya langsung menemukan kejanggalan pada pria berbadan tinggi besar itu.
“Maaf, bapak siapa?” tanya wanita petugas yang menyambut Carok.
“Sss, sa, saya... saya.. te, temannya Sus,” jawab Carok tergagap tidak mengira bakal ditanya seperti itu.
“Sebentar saya cek dulu ya pak,” ucap Suster jaga itu.
Wanita petugas jaga kemudian kembali duduk, berpura-pura mengecek nama yang disebutkan Carok melalui komputer. Dia melirik wanita disebelahnya yang sedang menelpon. Wanita itu mengangguk memberi kode.
Wanita yang duduk disebelah petugas jaga yang menyambut Carok diam-diam menekan nomor kontak di hape yang selalu stanbay ditangannya. Dari posisi duduknya dengan posisi berdirinya Carok diseberang meja lobi, keberadaan wanita itu tidak begitu terlihat hanya ujung kepalanya saja yang kelihatan sekilas oleh Carok. Carok pun mengabaikan keberadaannya, dia pikir hanyalah seorang Suster yang juga sedang bertugas di lobi.
“Ada Sus?!” tanya Carok lagi penasaran begitu Suster itu kembali berdiri.
“Ada pak, pak Guntur ada di kamar nomor 20 VIP,” ucap Suster.
“Terima kasih Sus,” ucap Carok kemudian langsung berlalu meninggalkan meja lobi.
Wanita yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Carok itu langsung berbicara pada seseorang melalui telpon begitu lelaki berbadan tegap itu pergi.
......................
__ADS_1
Di kamar rawat nomor 7 VIP yang ditempati Guntur, seorang petugas polisi berpakaian preman bersama tiga rekannya langsung menyampaikan rencananya kepada Guntur dan keluarganya setelah mendapat telpon dari seorang polwan yang berjaga di lobi rumah sakit. Meski awalnya raut wajah Mamah Karmila, pak Asrul dan Hafizah menegang, namun setelah dijelaskan situasi dan kondisinya akhirnya mereka pun mengerti.
"Selama menjalankan strategi ini kami mohon pak Guntur, ibu dan mbak jangan keluar kamar. Ini sesuai dengan perkiraan kami bahwa komplotan pembunuh bayaran itu sangat profesioanl, mereka akan mengejar pak Guntur untuk memastikan kondisi targetnya. Kami sudah memasang jebakkan di kamar nomor 20. Kamar itu sudah diberi nama Guntur dan rekan kami sudah mempersiapkan semuanya." terang petugas.
"Baik pak, terima kasih banyak semoga berhasil," ucap Guntur.
Empat orang petugas yang sedang menyamar itu langsung bergerak meninggalkan kamar Guntur untuk bergabung dengan rekan-rekannya di kamar nomor 20 VIP.
Baru saja empat orang petugas berpakaian preman itu berlalu, seorang pria berbadan tinggi besar memakai jaket kulit hitam datang lalu berdiri sejenak sembari celingukkan tepat didepan pintu kamar Guntur. Pria tersebut yang tak lain adalah Carok, lalu melihat nomor yang tertera pada daun pintu.
"Nomor 7 nama bapak Salman, didepan itu nomor 12 ibu Siska, berarti masih kesana lagi," gumam Carok membaca tulisan di pintu.
Kemudian Carok hendak meneruskan langkahnya tetapi berhenti saat melihat seorang suster berjalan dari arah depannya.
"Permisi Sus, kalau nomor 20 VIP dimana ya?" tanya Carok pada Suster.
"Oh, kamar nomor 20 itu belok ke kanan paling pojok pak," jawab Suster tersenyum ramah.
"Iya persimpangan lorong didepan itu pak," jawab Suster kemudian kembali meneruskan langkahnya meninggalkan Carok.
Carok juga kembali bergegas melangkah mengikuti petunjuk dari Suster. Diperempatan lorong, Carok kembali berhenti sejenak memperhatikan sekelilingnya yang nampak lenggang dan biasa saja. Kamar nomor 20 yang disebutkan Suster berada paling sudut sudah terlihat oleh Carok, ia pun mempercepat langkahnya menuju kamar itu.
Tak berapa lama langkah Carok sampai didepan kamar nomor 20. Carok berhenti didepan pintu, dia mengangguk-anggukkan kepalanya sesaat ketika melihat papan nama dan nomor kamar.
"Nomor 20 nama Guntur, berarti dia masih hidup," gumam Carok kemudian melihat ke kanan dan kirinya melihat sekelilingnya.
Didepan kamar sebelahnya nampak ada dua orang lelaki sedang duduk di kursi memainkan hape ditangannya. Satu orang memakai kaos oblong dan celana pendek memakai topi, sedangkan seorang lagi terlihat biasa-biasa saja memakai sandal jepit.
"Mungkin keluarga pasien sedang menungguinya," pikir Carok melihat dua lelaki itu.
Carok memasukkan tangan kanannya ke pinggang di balik jaket kulitnya. Tangannya menggenggam pistol tertutup jaket sambil melongokkan kepalanya melihat keadaan didalam kamar melalui kaca yang ada ditengah-tengah pintu. Pandangan Carok tertuju pada satu-satunya sosok tubuh yang terbaring diatas ranjang. Ia mengedarkan pandangannya kesekitar ruangan kamar tetapi pandangannya terbatas oleh ukuran kaca persegi yang tak terlalu lebar.
__ADS_1
Carok melihat suasana di dalam kamar hanya ada satu ranjang yang diatasnya nampak terbaring sesosok tubuh yang diselimuti rapat hingga ke batas leher. Carok memperhatikan wajah sosok yang terbaring itu dengan seksama, namun wajahnya tidak terlalu jelas karena seluruhnya dibalut perban.
kreetttteeeekkkk...
Perlahan-lahan Carok mendorong pintu kamar nomor 20 tersebut lalu menutupnya kembali tanpa menoleh ke pintu, pandangannya fokus menatap sosok yang terbaring diatas ranjang. Kamar itu nampak sepi hanya ada sesosok yang terbaring diatas ranjang ditutupi selimut. Carok menatap dalam-dalam wajah sosok yang terbaring itu, seluruh wajahnya terbalut kain perban hanya bagian rambutnya saja yang tampak jelas.
Diantara perban yang membalut bagian wajah ada selang oksigen yang terpasang di hidung. Carok segera mengeluarkan tangan kanannya yang dari tadi berada dipinggang dibalik jaket kulitnya. Sepucuk pistol jenis refolver nampak tergenggam ditangannya sambil melangkah perlahan mendekat ke bibir ranjang.
Sejenak Carok memperhatikan sekali lagi wajah sosok yang terbaring itu lalu mengambil satu bantal yang ada dipinggir ranjang. Pelan-pelan sekali bantal itu diangkatnya lalu ditindihkannya pada kepala sosok yang terbalut perban itu kemudian ia mengarahkan pistol ditekankan diatas bantal.
“Mampus kau Guntur! Ucapnya dengan nada tertahan.
Dorrr..! Dorrr...! Dorrr!
Suara letusan pistol sedikit teredam oleh bantal. Tiga timah panas menembus bantal dan bersarang pada bagian kepala yang dibalut perban. Sesaat kemudian Carok tertegun menatap targetnya, ia merasa heran tidak ada reaksi sedikit pun, tidak ada teriakkan serta tidak ada respon tubuh korbannya. Lalu diangkatnya bantal yang dijadikannya sebagai peredamnya itu, Carok semakin keheranan melihat bantal tersebut tidak nampak ada darah setetes pun. Sebelum mencari tahu lebih jauh sosok dihadapannya, tiba-tiba suara teriakkan dari arah belakang mengejutkannnya.
“Jangan bergerak!”
Dengan reflek Carok membalikkan badannya dan langsung mengarahkan pistolnya kearah sumber suara. Tetapi sebelum jari telunjuknya bergerak menarik pelatuk pistolnya, tiga letusan senjata apa terdengar lalu disusul teriakkan melengking dari mulut Carok.
Dorrr!
Dorrr!
Dorrr!
“Aaaaakkkhh!”
Satu peluru mengarah tangan kanan Carok membuat pistolnya lepas dari genggamannya terpental ke sudut kamar, sedangkan dua peluru lagi bersarang pada kedua kakinya. Tangan kanan Carok mengeluarkan darah akibat tertembus timah panas petugas, begitu pula dengan betis dan pahanya.
Tubuh Carok terhuyung ambruk menimpa sosok yang terbaring diatas ranjang lalu menggelosoh. Tangannya spontan mencengkeram selimut yang menutupi sosok yang sebelumnya dikira Guntur itu. Selimut itu pun tertarik bersamaan tubuhnya menggelosoh ambruk ke lantai. Matanya terbelalak lebar ketika sempat melihat apa yang ada dibalik selimut tersebut yang ternyata hanyalah berisi setumpukkan bantal. Tubuh Carok langsung diringkus dalam sergapan tiga petugas berpakaian preman bersamaan tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.
__ADS_1
......................