TITISAN

TITISAN
DEBAR-DEBAR HALUS


__ADS_3

Sabtu pagi pukul 7.12 wib, diseberang jalan nampak ada dua orang pemuda memakai topi hitam usianya diperkirakan kurang lebih 20 tahunan duduk menghadap lurus kearah rumah Karmila yang gerbang pintunya terbuka lebar. Keduanya sedang memperhatikan rumah Karmila sambil pura-pura membaca koran. Sesekali koran ditangannya yang menutupi wajah diturunkan sebatas hidung hingga hanya menampakkan sepasang matanya yang menatap tajam melihat situasi rumah. Di halaman depan rumah Karmila sebuah mobil Pajero Sport terparkir menghadap jalan nampaknya bersiap keular. Dua pemuda itu menampakkan senyuman menyeringai.


Sementara itu didalam mobil, Kunto sudah stanbay duduk dibalik belakang kemudi mobil Pajero Sport warna putih. Disebelahnya Guntur duduk santai sambil menunggu mamah Karmila masuk mobil. Tak beberapa lama krmudian mamah Karmila masuk membuka pintu mobil dan duduk di jok tengah.


"Sudah dikunci semua kan mah?" tanya Guntur menoleh pada mamah Karmila.


"Sudah bos jomblo..." celetuk mamah Karmila.


"Haisss, jangan ikut-ikutan Kunto mah, fitnah itu ah," ujar Guntur kemudian memukul bahu Kunto.


"Gara-gara elu nih," ujarnya lagi.


"Hahahaha..." Kunto dan mamah Karmila tertawa terkekeh.


"Udah yuk, berangkaaat..." seru Guntur diantara tawa Kunto dan mamahnya.


"Nggak sabar amat yang mau ketemu cewe, ibarat kucing garong mau di kasih ikan pindang nih, hahahaha..." celetuk Kunto tertawa terbahak-bahak.


"Hikhikhik..." mamah Karmila pun dibuat cekikikan mendengarnya.


Guntur hanya senyum-senyum kuda saja diledek Kunto. Secara spontan pikirannya langsung membayangkan mengira-ngira seperti apa wajah Hafiza karena pak Asrul sama sekali tidak memperlihatkan fotonya ketika menyampaikan undangan itu. Pak Asrul hanya mengatakan "ingin mengenalkannya pada Guntur".


Guntur sama Kunto benar-benar sahabatan yang klop, sebab dua-duanya sangat tidak percaya diri untuk mendekati wanita. Wajah Kunto masuk jajaran pria ganteng dengan rambut kritingnya tetapi kehidupan asmaranya jauh dari kata indah. Dia pernah patah hati pada cinta monyetnya di SMA, rasanya benar-benar sakit. Sejarah bilang orang yang sakit hati itu tidak bisa tidur nyenyak dan tidak nafsu makan itu benar-benar nyata adanya, seperti yang dirasakan Kunto saat itu.


Sebenarnya bukan trauma yang dialami Kunto tetapi lebih cenderung malas berurusan dengan masalah hati. Semenjak masuk perguruan tinggi Kunto hanya fokus menekuni kuliahnya saja tak pernah terlintas sedikit pun dibenaknya mencari gadis. Kebetulan teman pertama Kunto di kampus berkenalan dengan Guntur, secara komunikasi dan obrolan nyambung jadilah Kunto dan Guntur akrab. Bahkan keduanya memiliki sifat kekonyolan yang sama yang membuatnya klop hingga sahabatan sampai sekarang.


Guntur tak kalah ganteng bahkan kalau dirunut menurut grafik level, Guntur berada tiga tingkat diatas Kunto. Ditambah lagi dari grafik ke-tajirannya, Guntur melesat jauh diatas Kunto. Tapi Guntur tidak memiki sifat sombong sama sekali, justru dengan segala fasilitas hidupnya yang tercukupi jiwa sosialnya sangat tinggi tak segan-segan menolong orang yang berada disekitarnya bahkan orang yang tak dikenalnya sekalipun.


"Bos, di daerah mana Jakartanya nih?" tanya Kunto memecah keheningan didalam mobil.


"Kita cari hotel disekitaran Bintaro yang dekat dengan rumah pak Asrul Kun, nanti kalau sudah masuk Jakarta aja lihat Google maps-nya." sahut Guntur sedikit mendengus karena Kunto sudah membuyarkan lamunannya.


Mobil Pajero Sport putih itu sudah meluncur di jalan tol Pubaleunyi. Di jok tengah Mamah Karmila terlihat memejamkan matanya bersandar pada kaca pintu mobil dengan bantal lehernya. Terlihat tertidur padahal pikirannya tengah dipenuhi oleh kekhawatiran akan kehamilannya. Dia sangat takut jika akibat malam Jumat terkutuk itu akan membuatnya hamil. Dan satu-satu cara apakah positif atau negatif dirinya harus menunggu hingga bulan depan dengan melihat siklus menatruasinya lebih dahulu. Jika masih menstruasi berarti aman tetapi jika ternyata tidak mengalami menstruasi itu berarti.....?


"Uhhhh!" gumam mamah Karmila tanpa sadar membuat Guntur dan Kunto menoleh kearahnya.


"Kenapa mah?!" tanya Guntur spontan.


"Mm, nggak, nggak apa-apa," jawab mamah Karmila gelagapan.


"Mah dari tadi aku deg-degan terus, ada firasat apa ya mah?" tanya Guntur.


"Halahhh, dasarnya aja jomblo akut, itu sugesti karena mau ketemu cewe tuh Gun," timpal Kunto menoleh pada Gunyur lalu kembali menatap jalanan didepannya.

__ADS_1


"Ini serius kriting! Pintu rumah udah di kunci semua kan Mah?" tanya Guntur lagi meyakinkan.


Perasaan tidak enak itu tiba-tiba saja menghantui pikiran Guntur. Dan instingnya tertuju pada rumah yang mereka tinggalkan dalam keadaan kosong tanpa seorang pun yang menjaganya.


"Kenapa nggak kepikiran minta tolong pak Suro ya Mah selama kita pergi untuk jagain rumah," ucap Guntur garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya mungkin itu hanya perasaan kekhawatiran aja Gun," ujar mamah Karmila.


"Nah, itu bener tuh kata tante..." timpal Kunto.


......................


Dua orang pemuda nampak berdiri didepan gerbang rumah Karmila, satu orang berdiri menghadap ke jalan matanya waspada memperhatikan sekelilingnya. Sedangkan satu pemuda lagi nampak melongok-longokkan kepalanya melihat kedalam rumah dari sela-sela teralis besi pagar. Gerak-gerik keduanya nampak sangat mencurigakan.


"Sssttt... Gopar gimana? Aman?" seru pemuda yang berdiri mengawasi sekitarnya berbisik.


"Saya yakin tidak ada orang, tidak ada yang jaga Mar!" balas pemuda yang dipanggil Gopar.


"Bagus! Bagus.. ayo bobol gemboknya Par, cepat!" seru Komar semakin meningkatkan kewaspadaannya mengamati sekitar depan rumah Karmila.


"Sssttt.. Komar, masuk!" seru Gopar dengan suara ditekan kemudian lebih dulu menyelinap.


Komar segera bergerak melangkah mundur perlahan-lahan sambil matanya melirik kesana kemari melihat sekeliling. Kemudian ia menyusul Gopar yang sudah lebih dulu berhasil menyelinap masuk kebalik pintu gerbang pagar. Kedua pemuda memiliki tato yang memenuhi lengan tangannya itu lalu berjelan setengah membungkuk mengendap-endap menuju samping rumah.


Meskipun suasana siang hari dan jalanan pun teihat ramai tetapi itu hanya ada didepan rumah Karmila sedangkan diarea dalam rumah Karmila nampak sepi senyap. Memang situasi seperti inilah yang paling empuk dan sangat diharapkan oleh duo maling itu.


Komar yang tidak tertarik dengan yang ada di ruang tamu kemudian kembali mengendap-endap melangkah melewati Gopar yang sedang mengintip dari jendela ruang tengah. Komar menemukan pintu samping, lalu memeriksa sekitarnya sebentar dan dia melihat sebuah jendela. Dia pun segera melongokkan kepalanya untuk melihat kedalam.


"Dapur..." Gumam Komar kemudian memanggil temannya untuk mendekat.


"Par, Gopar! Sini!" seru Komar menekan suaranya setengah berbisik.


Gopar pun beranjak hati-hati melangkah kearah Komar yang sudah kembali berdiri didepan pintu dapur. Dia mengerti kalau temannya butuh alat untuk merusak kunci pintu, lalu segera dikeluarkannya sebatang linggis kecil sepanjang tangan orang dewasa yang terselip dibelakang tertutup jaketnya.


Gopar kemudian mulai merusak kunci pada pintu dengan mencongkel paksa pada bagian handelnya. Tak butuh waktu lama pintu berhasil dibuka. Kedua pemuda itu bergegas masuk kedalam rumah Karmila lalu menutup pintunya kembali.


"Par, kita cari kamar utama," bisik Komar sambil terus celingukan tengok sana sini melihat barang-barang yang ada didalam ruangan itu.


"Kenapa mesti kamar utama bos?!" tanya Gopar konyol.


Plakkk!


Tamparan tangan Komar mendarat diubun-ubun Gopar, seraya berkata; "B e g o lu! Dikamar utama biasanya di tempati orang tua, nah orang tua biasanya punya uang, uangnya pasti disimpan dikamarnya, paham???" sungut Komar gregetan.

__ADS_1


"Oooooo... yayaya..." sahut Gopar sambil memegangi kepalanya bekas tabokkan.


Komar melanjutkan langkahnya berjalan didepan dan Gopar mengikutinya dibelakang. Setelah melewati dapur, kedua pencuri itu sempat tertegun melihat ruang tengah yang luas serta banyak barang-barang elektronik mewah. Televisi 40 inc, tape vsd, subwofer, salon aktif yang tertata rapih diatas bufet besar.


"Sepertinya itu kamar utama Par, ayo lekas buka!" bisik Komar menunjuk kamar Karmila.


Gopar kembali melakukan keahliannya mencongkel dan merusak kunci pintu dengan menggunakan linggis kecilnya. Hanya butuh waktu ķurang dari tiga menitan pintu kamar Karmila sudah dapat dibuka.


"Wow! Kita panen besar Paaaar... kita paneeen!" seru Komar melihat is kamar Karmila dengan mata melotot senang.


"Ayo cari perhiasan maupun uang didalam laci-laci dan lemari. Periksa semuanya!" seru Komar lagi kemudian langsung menuju kesebuah lemari besar.


Gopar sejenak celingukkan lalu pandangannya terhenti pada sebuah meja yang ada disebelah tempat tidur. Dia langsung melangkah mendekatinya penuh dengan antusias sambil menyeringai merasa akan mendapatkan tenggakkan banyak dari aksi malingnya kali ini.


"Pasti disini ada uang!" ucapnya dalam hati.


Ketika tangannya hendak menyentuh gagang laci, gerakkannya terhenti. Perasaannya tidak enak seperti ada yang sedang memperhatikannya, dengan reflek Gopar menolehkan kepalanya.


"Sundel!!!" teriak Gopar latah.


Seketika tubuhnya gemetaran, matanya terbelalak lebar melihat sosok tubuh diatas kasur sedang melihatnya sambil tiduran. Didalam pikirannya ingin segera berlari tetapi kakinya terasa membeku, rasanya sangat sulit digerakkan.


"A... u.. u..a.." Gopar tergagap-gagap ingin mengatakan sesuatu pada temannya yang posisinya sedang membelakangi mahluk diatas kasur itu.


Gopar berusaha membuat gerakkan-gerakkan pada tangannya agar Komar melihatnya. Namun Komar tidak juga menoleh, hingga tangan Gopar tanpa sengaja menyambar vas bunga diatas meja sampai vas bunga itu terpental jatuh dan pecah berantakan hingga menimbulkan suara gaduh.


Komar berjingrak kaget langsung menoleh kesumber suara dengan muka geram. Dia pikir Gopar telah bertindak ceroboh, tetapi ia melihat Gopar beridiri kaku tangannya menunjuk-nunjuk kearah kasur sambil mulutnya terlihat seperti berteriak-teriak namun tidak ada suara keluar. Jadilnya hanya gerak-gerak bibirnya saja seperti komat-kamit membaca mantra.


Beberapa saat lamanya Komar melongo tidak mengerti apa maksud Gopar, tetapi melihat tangannya menunjuk-nunjuk, spontan Komar pun mengikuti arah yang ditunjuk Gopar.


"Sss.... Se..sesss..settt..setaaaaan!!" teriak Komar histeris langsung berlari sambil terus menoleh keatas kasur.


Bruuukkk!!!


"Aduh!" pekik Gopar.


Komar manabrak tubuh Gopar lalu kembali bangkit, disusul Gopar yang reflek mengikuti Komar yang berlari keluar dari kamar Karmila. Kali ini tubuhnya bisa digerakkan dan langsung lari kocar-kacir menyusul Komar.


"WUAHAHAHAHA...." suara berat dan sember menggema memenuhi ruang kamar Karmila.


Suara tawa mahluk didalam kamar itu terdengar jelas oleh Komar dan Guntur. Dua orang pemuda yang hendak mencuri itu histeris sangat ketakutan sehingga menambah kian santer berlari menuju pintu dapur agar lekas-lekas bisa keluar dari rumah itu.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA..."

__ADS_1


"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA..."


......................


__ADS_2