
Harga 1 M untuk tanah seluas hampir mencapai 200 meter persegi berikut dengan bangunan rumah type 54 dan masih terlihat bagus sangatlah murah. Untungnya lagi beberapa perabotan seperti bufet, kursi tamu maupun beberapa kursi di teras depan sengaja di tinggalkan Dani katanya anggap saja sebagai bonus.
Jika menghitung dari mahal tidaknya, dapat dibandingkan dengan rumah peninggalan papahnya yang selama ini menjadi tempat tinggal Guntur dan mamah Karmila. Dulu, papahnya membeli rumah itu dengan bertype sama hanya luas tanahnya saja yang beda 20-an meter persegi itu dibeli dengan harga 200 juta. Perhitungan bisnisnya menurut Aryo kala itu jika rumah itu di jual lagi minimalnya harganya menjadi 2 kali lipat dari harga belinya.
Dapat dikatakan Guntur sangat beruntung membeli rumah Dani dengan harga segitu. Sama seperti papahnya, Guntur juga melakukan perhitungan matang dia mencari referensi harga terbaru tanah dan bangunan dengan luasnya. Guntur pun tercengang melihat harga pasaran tanah dan bangunan di wilayah tersebut yang mencapai 2 M.
"Kun, gimana udah di iklankan?" tanya Guntur di sela-sela makan malam.
"Beres boss, katanya mulai besok terbit. O iya saya cantumin nomormu Gun di iklan itu," sahut Kunto sibuk mengunyah makanan di mulutnya.
"Iklan apa Gun?" sela mamah Karmila.
"Ngiklanin rumah ini mah, kalau rumah ini laku kita langsung boyong ke rumah baru, yah" ujar Guntur.
"Oh," gumam mamah Karmila berat.
"Harga yang kamu cantumin berapa Kun," tanya Guntur lagi.
"Sesuai yang boss bilang kemarin itu dua miliyar," ujar Kunto.
"Hah? Dua miliyar?" Mamah Karmila memekik mendengar harga yang disebutkan.
"Iya mah, murah ya mah?!" sergah Guntur menoleh pada mamahnya.
"Bbbu, bukan... papahmu waktu beli rumah ini hanya lima ratus juta Gun," ungkap mamah Karmila.
"Serius mah? Murah banget," ujar Guntur.
"Iya, berarti papahmu hebat sesuai dengan perkiraannya. Papahmu perhitungannya jika di jual lagi minimal akan mendapat keuntungan dua kali lipat katanya," kata mamah Karmila tersenyum masam.
Usai mengatakan itu Karmila merasakan nyesek di dadanya, berarti rumah ini benar-bemar akan di jual. Perasaan gundah langsung menghinggapinya namun ia tidak mengutarakan keberatannya. Niat Guntur memang baik pindah rumah yang lebih baik kondisinya dan itu juga dia lakukan untuk membuat mamahnya senang.
__ADS_1
Senang? Justru sebaliknya, hanya saja Guntur tidak tahu kalau jauh di dasar hati mamahnya itu sangat keberatan bahkan kalau saja berdaya melakukan penolakkan, dirinya akan mentah-mentah menolak menjual rumah ini. Tetapi apalah daya, kondisi tersebut tak ubahnya sebuah dilema bagi mamah Karmila. Apabila mamah Karmila menyampaikan ketidak setujuannya, Guntur pasti akan bertanya 'kenapa' dan itu merupakan pertanyaan yang paling sulit untuk di jawabnya.
Setelah Guntur resmi membeli rumah di daerah Dago atas tersebut, sedikit demi sedikit mulai berbenah. Beberapa barang-barang prabotan rumah sedikit demi sedikit diangkut ke rumah barunya supaya saat pindahan tidak terlalu banyak barang-barang yang diangkut. Namun rumah barunya itu belum ditempati, Kunto sendiri saat di suruh menempati tumah itu menolaknya alasannya jauh dengan kampus padahal takut kalau tinggal sendirian.
......................
“Baiklah kita mulai saja meeting kita hari ini. Saya minta laporan perkembangan proposal-profosal kita sudah sampai mana saja, Renata dulu silahkan,” kata Guntur memimpin rapat awal pekan.
“Kabar terakhir sembilan puluh persen fix pak, tinggal tanda tangan acc pimpinan pusatnya saja katanya. Dan berkasnya sedang dievaluasi disana,” terang Renata.
“God job! Nanti begitu diel, kamu langsung handel sendiri aja Ren. Kamu bisa ajak Hafizah untuk mendampingi ya,” kata Guntur.
“Saya pak?” Sergah Renata tak percaya.
“Iya, kamu yang tangani Ren. Saya ingin kalian semua bisa melakukan seperti yang saya lakukan, mulai saat ini kalian bisa belajar menggarap proyek-proyek relasi yang mempercayai penggarapannya pada kita. Tapi ingat, kalian harus tanamkan dan menjadi prinsip kalian bahwa pekerjaan ini sebagai bagian dari ibadah dan harus jujur. Jangan sia-siakan kepercayaan yang saya berikan pada kalian,” tegas Guntur.
“Siap pak!” sahut Renata sumringah.
“Mulai bulan depan start penggarapannya pak. Seperti yang saya laporkan kemarin, di situ berkas-berkasnya sudah lengkap,” ungkap Jojo.
“Ya, ya, bagus... bagus... Kamu juga tangani Jo,” kata Guntur.
Tulilit... tuliliiitttt.. tuliliit...
Suara dering panghilan dari hape Guntur diatas meja berbunyi. Sebelum ia mengangkatnya, Guntur berkata; “Ya sudah sampai disini dulu, buat yang lainnya sesuai dengan laporan yang masuk ya? Nanti langsung kalian eksekusi masing-masing, terima kasih silahkan kembali ke tempat masing-masing.
“Hallo, assalamualaikum...” Guntur langsung membuka hapenya.
“Wa’alaikum salam, dengan pak Guntur?” suara dari seberang telpon.
“Betul pak, maaf dengan bapak siapa?” balas Guntur.
__ADS_1
“Saya Haji Rojak pak Guntur, ini saya tertarik dengan iklan rumah yang ada di surat kabar. Kalau boleh saya ingin melihat-lihatnya pak,” kata suara penelpon.
“Oh, silahkan, silahkan pak haji. Kapan mau lihat rumahnya?” balas Guntur.
“Mm, saya bisanya jam tujuh maleman pak, gimana bisa?” sahut pak Haji Rojak.
“Mangga, mangga... saya tunggu ya pak,” jawab Guntur.
“Terima kasih pak Guntur, sampai ketemu di rumah ya, assalamualaikum.” ujar H. Rojak mengakhiri telponnya.
Senyum Guntur langsung merekah, ternyata rumahnya ada yang meminatinya. Baru saja hendak beranjak keluar ruangan meeting, tiba-tiba hapenya kembali berdering. Guntur pun mengurungkan keluar ruangan, ia kembali duduk di tempatnya semula.
“Hallo, assalamualaikum...” Guntur kembali membuka hapenya.
“Wa’alaikum salam, dengan pak Guntur?” sahut suara seberang telpon.
“Betul pak, saya sendiri,” ucap Guntur.
“Saya Hermawan, saya ingin survey rumah yang bapak tawarkan,” sahut suara dari seberang telpon.
“Oh, silahkan, silahkan pak Hermawan. Kapan nih?” tanya Guntur sumringah.
“Kalau nanti sore gimana pak? Ya jam lima’anlah,” sahut Hermawan dari seberang telpon.
“Mangga, mangga... saya tunggu ya pak,” ujar Guntur.
Guntur pun menyudahi telponnya, lalu melangkah keluar ruang meeting sambil senyum-senyum. Guntur tak menyangka rumah yang di iklankan di koran itu banyak yang meminati, apakah harganya terlalu murah ya? batin Guntur.
Angan-angan Guntur sudah melambung tinggi, dengan menjual rumah tetapi dapat rumah yang lebih bagus dan lebih luas tanahnya yang menurutnya itu adalah sebuah keberuntungan. Dirinya tidak mengeluarkan serupiah pun membeli rumah, bahkan masih mendapatkan keuntungan dua kali lipatnya.
Kini tinggal bagaimana meyakinkan calon-calon pembelinya. Guntur sengaja menerima semua calon-calon pembelinya dan tidak memutuskan hanya pada satu calon pembeli saja, meskipun pak Haji Rojak yang lebih dulu yang menelpon. Akan tetapi Guntur berantisipasi, belum tentu juga calon pembeli yang melihat-lihat rumahnya itu langsung membelinya. Dan tidak ada salahnya menerima calon pembeli untuk melihat-lihatnya lebih dulu.
__ADS_1
......................