TITISAN

TITISAN
KUNTO HILANG


__ADS_3

Malam sudah cukup larut namun Guntur masih terlihat gelisah di atas tempat tidurnya. Pikirannya di penuhi bayang-bayang Karbala, Guntur berusaha menepis perbuatan baik Karbala yang telah menolong pak Suro dengan mencari-cari alasan untuk tetap membencinya. Andaikan Guntur tahu apa yang telah di lakukan Karbala bukan cuma telah membantu pak Suro, mungkin saja dia akan luluh hatinya meskipun tidak akan pernah mau menganggapnya sebagai bapaknya sampai kapan pun.


Guntur tidak menyadari sama sekali apa yang telah Karbala lakukan terhadapnya semenjak kecil hingga saat ini yang sudah banyak membantunya bahkan sudah menjaganya dari kejahatan apapun. Namun yang di ingat hanyalah peristiwa-peristiwa aneh yang seringkali ia alami setiap kali dirinya berada dalam ancaman. Sayangnya Guntur tak pernah menganggap kejadian aneh yang telah melindungi dirinya itu sepenuh dilakikan oleh Karbala.


"Apakah selama ini genderuwo itu tidak pernah mengganggu mamah? Sepertinya mamah sendiri tidak merasa ketakutan atau merasa di ganggu oleh mahluk itu," batin Guntur.


"Tapi beberapa minggu lalu mamah ngotot meminta untuk menebang pohon beringin itu, tetapi seminggu kemudian mamah melarang menebang pohon itu, aneh, apakah ada hubunganya!!" batin Guntur.


"Genderuwo itu juga pernah mengatakan kalau aku anaknya, cih! tidak mungkin! Tidak mungkin!" pekik Guntur dalam hati.


Guntur menutup wajahnya rapat-rapat di dalam hatinya terjadi pergolakan menolak mentah-mentah ucapan genderuwo itu yang selalu terngiang setiap kali membicarakan mahluk halus itu.


"Lalu tanda lahir ini?!" Guntur mengangkat tangan kirinya memperlihatkan sebuah tompel hitam dengan bulu-bulu halus di tengahnya.


......................


Siang itu selepas duhur Kunto memarkirkan sepeda motor sportnya di halaman depan rumah sepulangnya dari kuliah. Hari ini adalah hari pertama Kunto berangkat kuliah semenjak tragedi percobaan pembunuhan di Alas Roban itu.


Setelah menyetandarkan sepeda motornya, buru-buru Kunto melangkah masuk ke dalam rumah karena terdorong kebelet buang air kecil yang sudah di tahannya sejak di perjalanan pulang dari kampus. Kunto langsung meraih handel pintu seperti biasanya. Namun kali ini nampaknya pintunya terkunci.


Tok! Tok! Tok!


“Tante... tan...!” Seru Kunto sambil terus mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil-manggil mamah Karmila.


Tok! Tok! Tok!


“Tante... tan...! Kebelet pipis nih!” seru Kunto lebih keras.


Namun pintu tidak kunjung di buka. Kunto melongok-longokkan kepalanya melalui jendela melihat ke dalam rumah.

__ADS_1


“Sepi, sepertinya tante sedang keluar.” Gumam Kunto.


Dorongan buang air kecil yang sudah di ujung membuat Kunto berjingkat-jingkat menahannya mati-matian agar tidak keluar di celana. Setengah berlari Kunto langsung bergegas ke samping, dia berpikir untuk buang air kecil di tembok taman.


Kunto menoleh ke kanan dan kiri melihat situasi sambil menurunkan resleting celana jeansnya. Tetapi diurungkannya saat menengok ke sebelah kiri, nampak lalu lalang para pejalan kaki di trotoar depan pagar rumah. Posisinya berdiri untuk buang air di rasa akan ada yang melihatnya, lalu Kunto berlari terus kebelakang.


“Ah, disini aman nih!” ucapnya.


Di sudut tembok pagar belakang tepat dibawah pohon beringin Kunto merasa leluasa mengeluarkan air seninya yang nyaris tak terbendung lagi sambil berdiri.


Baru setengah air seninya keluar tiba-tiba angin berhembus kencang merontokkan daun-daun beringin kering berjatuhan diatas kepala Kunto. Mulanya Kunto menganggap angin biasa, akan tetapi lama kelamaan angin itu berhembus semakin kencang dan semakin kencang membentuk pusaran kecil berputar-putar diatas kepalanya.


Sedetik berikutnya pandangan mata Kunto mendadak gelap seketika. Dalam keadaan setengah sadar Kunto merasakan tubuhnya melayang dan merasakan tububnya berputar-putar terbawa angin membuat kepalanya pusing. Kunto merasakan seperti terlempar ke tempat yang sangat jauh ke dam ruang hampa lalu seketika dia sudah tak ingat apa-apa lagi.


Hanya berselang 30 menitan setelah Kunto lenyap di bawah pohon beringin, Karmila berjalan sambil menjinjing beberapa kresek belanjaan memasuki halaman rumah. Ketika berbalik badan usai menutup pintu pagar, Karmila melihat sepeda motor yang biasa di pakai Kunto terpakir di depan rumah akan tetapi Karmila tidak melihat adanya Kunto. Karmila menghentikan langkahnya di samping sepeda motor sport warna merah itu, pandangannya di edarkan melihat kesekilingnya namun tidak melihat Kunto.


"Kemana Kunto ya," gumamnya.


Sore hari pukul 17.10 wib, Guntur tiba di depan gerbang rumahnya pulang dari kantor. Ia turun dari mobilnya untuk membuka gerbang. Guntur mendorong pagar besi itu sambil menoleh ke halaman rumah dan melihat sepeda motornya yang di pakai Kunto masih terparkir di depan rumah.


“Mau pergi kemana si keriting sore-sore gini?” Gumam Guntur.


Setelah gerbang terbuka, Guntur pun segera kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya memasuki halaman dan berhenti di samping sepeda motor.


Guntur turun dari mobilnya lalu berjalan menghampiri sepeda motor. Di lihat-lihatnya sejenak sepeda motor kesayangannya itu yang mengingatkannya kembali dengan papahnya. Pikirannya terhanyut dengan momen saat-saat papahnya memberikan kunci sepeda motor itu untuk tunggangannya kuliah.


“Motor pah?!” seru Guntur berjingkrak saat Aryo memberikan kunci kontak.


Mamah Karmila saat itu ikut tersenyum senang melihat bapak dan anak itu saling resfek. Mungkin hanya momen itu yang di rasakan Karmila maupun Guntur merupakan momen paling membahagiakan.

__ADS_1


“Ini hadiah dari papah buat kamu pakai kuliah Gun,” ucap Aryo kala itu.


“Motor apa pah?” Guntur langsung berlari keluar rumah untuk melihat sepeda motor pemberian Aryo.


“Papah harap kamu rajin kuliahnya ya sampai sarjana!” seru Aryo mengiringi Guntur berlari ke depan rumah.


Guntur ternganga tak percaya melihat satu unit sepeda motor sport Kawasaki berwarna merah berdiri dengan standar tegak. Guntur langung memasukkan kunci kontak lalu menstarternya. Suara khas sepeda motor itu terdengar sangat indah di telinga Guntur yang terus-menerus melebarkan senyum sumringah di bibirnya.


“Motor idaman!” ucap Guntur sambil memainkan gasnya hingga suara gerungan dari knalpot itu menggema masuk ke dalam rumah.


“Gun, udah, udah berisik ah! Malu sama tetangga dan lihat tuh orang-orang pada nengok,” seru mamah Karmila yang berdiri di teras bersama papah Aryo.


“Pah, makasih ya pah!” seru Guntur tidak menanggapi seruan mamahnya.


“Guuun... Guuun!” seruan mamah Karmila mengagetkan Guntur yang termangu sudah duduk diatas sepeda motor.


“Iya mah...!” sahut Guntur kemudian melangkah meninggalkan sepeda motor itu.


Mamah Karmila sudah berdiri di bibir teras sambil memandang Guntur.


“Kunto mana mah?” tanya Guntur saat sampai di hadapan mamah Karmila.


“O iya mamah baru ingat Kunto. Dari siang mamah nggak melihat Kunto, Gun,” ujar mamah Karmila.


“Di kamarnya?” timpal Guntur.


“Sewaktu mamah pulang dari berbelanja, motor Kunto sudah terparkir tapi Kuntonya nggak ada mamah cari nggak ada,” ujar mamah Karmila.


“Coba aku telpon dia mah,” timpal Guntur merogoh hape di saku celananya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, terdengar nada sambung akan tetapi setelah ditunggu-tunggu telpon tidak juga diangkat. Guntur mencoba menghubunginya lagi, namun hasilnya tetap sama telpom tidak diangkat.


......................


__ADS_2