
Pak Suro hanya bisa tertegun membelalakan matanya menatap pohon beringin sembari mencari- cari wujud Karbala. Namun wujud Karbala tidak dapat di temukan, hanya terlihat batang pohon, akar- akar yang menjulur menggantung dan rimbunan daun beringin saja.
"Pulanglah pak tua! Hahahahaha... Hahahaha...." suara Karbala kembali membahana dengan tawanya yang menggidirkkan.
Pak Suro tampak terpaku di tempatnya dengan posisi masih bertekuk lutut memandang pohon beringin dengan tatapan kosonh. Sekilas pandang seolah- olah pohon beringin itu yang mengeluarkan suara itu.
Lelehan darah di kedua sudut bibirnya terus mengalir perlahan membentuk garis hingga ke dagunya. Nafas pak Suro tersengal- sengal sambil terus menekan dadanya yang terasa sesak.
Beberapa detik kemudian pandangannya mulai kabur, lalu menjadi gelap dan tidak ingat apa- apa lagi. Tubuh pak Suro seketika jatuh ambruk terjengkang kebelakang.
Sementara itu 5 menit sebelumnya, di dalam masjid, baru saja para jamaah yang melaksanakan sholat magrib barus saja mengucap salam terakhir mengakhiri sholat, lantai masjid tiba- tiba bergetar beberapa detik.
"Astagfirullah!"
"Subhanallah!"
"Masya allah!"
Seketika terdengar seruan- seruan keluar dari seluruh jamaah yang kesemuanya adalah santri tahfiz beserta para ustad pembimbing. Dengan spontan semua jamaah segera tiarap sambil menutupi kepala dengan kedua tangannya, mereka menyangka telah terjadi gempa bumi.
Haji Abas yang berada di barisan paling depan sebagai imam pun sempat terkejut merasakan lantai masjid bergetar keras. Namun tidak seperti para santir dan ustad pembimbingnya yang mengira telah terjadi gempa, Haji Abas justru langsung teringat dengan pak Suro.
"Astagfirullah! Gawat!" gumam Haji Abas, lalu segera bangkit dari duduknya dan tidak melanjutkan zikir serta doa yang rutin dilakukan usai sholat.
Para ustad pembimbing dan santri laki- laki yang melihat Haji Abas keluar tergesa- gesa hanya bisa mengikutinya dengan memandangnya saja yang menyiratkan beragam tanda tanya.
"Semoga pak Suro tidak kenapa- napa," doa haji Abas dalam hati.
Haji Abas buru- buru keluar dari dalam masjid menuju tempat pak Suro berada. Tak butuh waktu lama haji Abas langsung sudah dapat melihat keberadaan pak Suro begitu sampai di samping masjid.
"Innalillahi wainnailaihi rojiuun...!" seru haji Abas begitu melihat pak Suro tergeletak sekitar 5 meter dari pohon beringin.
Prasangka- prasangka buruk seketika bergolak menghantui pikiran haji Abas. Dengan wajah cemas segera bergegas berlari menuju tempat pak Suro tergelatak dengan posisi terlentang.
"Pak..! Pak Suro...!" teriak haji Abas sambil berlari.
Di suana temaram dan mulai gelap hanya diterangi dari cahaya lampu taman dan lampu belakang rumah, Haji Abas samar -samar melihat tubuh pak Suro diam tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
Setelah berada di dekat tubuh pak Suro dan melihat dengan jelas kondisinya, spontan haji Abas berteriak- teriak meminta pertolongan berharap para ustad pembimbing atau para santri mendengar dan datang ikut menolong membopong tubuh pak Suro kedalam rumah.
Dengan rasa panik, haji Abas memeriksa nafas pak Suro, lalu menempelkan telapak tangan di dada pak Suro memastikan apakah pak Suro masih bernafas atau tidak.
"Alhamdulillah, masih hidup," gumam haji Abas.
"Toloooong...! Tolooooong...!" teriak Haji Abas.
Beruntung teriakkan Haji Abas didengar oleh salah satu ustad pembimbingnya yang dengan diam- diam menyusul Haji Abas saat keluar masjid dengan terburu- buru.
Ustad Hadi yang mendengar teriakkan minta tolong Haji Abas langsung berlari menuju tempat Haji Abas berada.
"Kenapa pak Haji?!" tanya ustad Hadi begitu sampai di tempat Haji Abas dan pak Suro.
"Tolong bantu gotong ke dalam rumah ustad, nampaknya dia pinsan!" tegas haji Abas.
"Baik pak Haji," sahut ustad Hadi.
Segera ustad Hadi meraih tubuh pak Suro yang terlentang, lalu di dudukkan dengan dibantu haji Abas. Ustad Hadi lansgung memposisikan dirinya bersiap menggendong tubuh pak Suro.
Dengan sedikit kerepotan Haji Abas membantu mengarahkan tubuh pak Suro ke punggung ustad Hadi yang sudah berjongkok bersiap menerima tubuh pak Suro.
"Insya allah kuat pak haji," jawab ustad Hadi, lalu mulai mengangkat tubuh pak Suro dalam gendongannya.
Beruntung tubuh tua pak Suro kurus sehingga dengan mudah ustad Hadi dapat mengangkat dan menggendongnya. Tanpa banyak bertanya ustad Hadi mulai melangkah menggendong tubuh pak Suro masuk kedalam rumah melalui halaman samping menuju ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, di ruang tamu tubuh pak Suro di baringkan diatas kursi sofa berbantalkan sandaran tangan pada kursi tersebut.
"Tolong ustad ambilkan air minum ya," kata haji Abas.
"Muhun pak Haji," ustad Hadi bergegas pergi ke belakang.
Sepeninggal ustad Hadi, segera haji Abas kembali memeriksa tubuh ringkih pak Suro. Matanya yang tajam menelisik sekujur badan pak Suro mulai dari ujung kepala, wajah, dada, perut dan terus mencermati hingga ujung kaki.
"Aneh, tak ada luka apapun," gumam haji Abas geleng- geleng kepala.
Bersamaan dengan itu Ustad Hadi muncul membawakan segelas air putih lalu di berikannya pada haji Abas.
__ADS_1
Segera haji Abas memejamkan matanya lalu mulutnya komat- kamit membaca doa. Tak lama kemudian ia meniupkannya pada gelas air putih ditangannya, lalu ia menuangkannya sedikit pada telapak tangan kanannya kemudian meraupkannya pada wajah pak Suro.
Setelah selesai meraupkan air itu Haji Abas memperhatikan wajah pak Suro, menantikan reaksinya. Dan tak kurang dari 1 menit, tiba- tiba pupil kedua mata pak Suro terlihat bergerak- gerak, lalu perlahan- lahan mulai membuka matanya.
"Alhamdulillah..." ucap haji Abas setelah melihat pak Suro sudah siuman.
"Ssaa, saya dimana?" tanya pak Suro bingung. Matanya melirik kesana kemari melihat sekelilingnya, lalu pandangannya terhenti pada wajah haji Abas.
"Pak Haji Abas..." gumam pak Suro lirih.
"Muhun pak Suro, syukurlah pak Suro sudah sadar," balas Haji Abas.
Seketika Pak Suro bergerak berusaha bangkit dari berbaringnya. Melihat itu haji Abas dibantu ustad Hadi langsung membantu mendudukannya.
"Ssa, saya ti, tidak mampu pak Haji," ucap pak Suro terbata- bata.
"Tenangkan dulu pikiranmu pak Suro, minumlah..." sergah haji Abas sembari mengulurkan gelas air putih yang masih berada di genggamannya.
Pak Suro segera meraih gelas itu lalu meminumnya sampai tandas, dari cara minumnya tampak pak Suro sangat kehausan.
"Punten pak haji, boleh minta air minumnya lagi?" ucap pak Suro menyodorkan gelas kosong pada haji Abas.
"Muhun, pak Suro sebentar. Ustad tolong ambilkan air minum lagi," kata haji Abas pada ustad Hadi.
"Baik pak Haji," sahut ustad Hadi menerima gelas kosong dari haji Abas lalu kembali pergi kedalam.
"Kenapa pak Suro sampai tak sadarkan diri? Apa yang telah terjadi?" tanya haji Abas pelan- pelan.
"Saya ti, tidak bisa menolong Kunto temannya Guntur pak Haji. Kasihan dia sedang tersiksa dan saat ini anak itu di rawat di rumah sakit," ungkap pak Suro.
"Lalu apa hubungannya dengan Genderuwo itu pak Suro?" tanya haji Abas heran sekaligus penasaran.
Dari awal pak Suro sengaja menutup- nutupi alasannya datang ke rumah tahfiz tersebut. Namun mau tidak mau pak Suro pun harus menceritakannya pada haji Abas tentang sukma Kunto yang ditahan oleh Karbala.
Sontak saja wajah haji Abas tertegun, namun sorot matanya berkilat menjadi ikut tersulut amarahnya. Sebagai sesama manusia dirinya merasa terpanggil untuk turut andil menolong sahabatnya Guntur tersebut.
"Ini sudah keterlaluan pak Suro! mahluk menjijikkan itu harus di musnahkan!" kata haji Abas geram.
__ADS_1
"Mahluk itu sangat kuat pak Haji, dia sudah berumur ribuan tahun dan beringin itu adalah istananya sejak dahulu," terang pak Suro.
Haji Abas tertegun, tersirat merasa gentar juga setelah mendengar penjelasan tersebut. Beberapa detik lamanya haji Abas berpikir bagaimana mengatasi mahluk genderuwo tersebut.* BERSAMBUNG