TITISAN

TITISAN
AJAK PAK SURO


__ADS_3

Tak terasa hari sudah mulai memasuki waktu magrib, Guntur keluar dari kamar rawat mamah Karmila, sejenak ia berdiri ditengah pintu memperhatikan sekelilingnya nampak lampu- lampu rumah sakit sudah pada di nyalakan.


Guntur menoleh ke tempat Kunto duduk, ia melihat Kunto sedang rebahan. Wajahnya ditutupi dengan switer, sepertinya Kunto tertidur.


Perlahan Guntur menyentuh kaki Kunto dan menggoyang- goyangkannya, “Kun... Kun... Kun...” ucap Guntur setengah berbisik.


Rupanya Kunto lelap sekali tertidur hingga tak merasakan ada yang membangunkannya.


Guntur lebih keras lagi menggoyang- goyangkan kaki Kunto sambil memanggilnya dengan suara sedikit keras.


Barulah Kunto terjaga dari tidurnya, setengah kaget Kunto membuka switer yang menutupi wajahnya sambil bangkit duduk.


“Eh, udah malam ya Gun,” seloroh Kunto sambil mengucek-ngucek matanya.


“Kun jagain mamah dulu ya, aku pulang sebentar nanti kesini lagi dan gantian nanti kamu pulang jagain rumah,” ucap Guntur.


“Mmm...” balas Kunto menganggukan kepala kemudian menggelosoh lagi hendak membaringkan tubuhnya.


“Eeeee... mau tidur lagi?! Pamali, magrib- magrib tidur ntar didatengin suster ngesod lu,” seloroh Guntur sambil menahan bahu Kunto.


“Ngantuk banget gua... hoaaaahhhh,” sungut Kunto menguap.


“Mendongan lu cuci muka sono,” sergah Guntur.


“Iya, iya... hoaaaahhhh...” balas Kunto sambil menguap lagi.


“Ya udah ya, aku cabut Kun...” ujar Guntur, kemudian berlalu dari hadapan Kunto yang masih terkantuk- kantuk.


......................


Guntur keluar dari parkiran rumah sakit dan berbaur dengan kendaraan- kendaraan lainnya di jalan menuju rumah.


Lampu- lampu jalanan terlihat semarak berwarna warni menyala di kiri kanan sepanjang jalan yang dilalui Guntur. Seperti biasa di jam- jam senja lalu lintas sangat padat, ramai lancar ditambah lagi hari Minggu jadilah kemacetannya dua kali lipat.


Didalam mobil, Guntur mengecilkan volume AC ke angka 1 karena merasakan udaranya dingin banget karena senja ini cuaca Bandung nampak mendung.


Dibalik belakang setirnya, dalam kemacetan lalu lintas, sambil memandangi kemacetan di depannya pikiran Guntur kembali melayang pada mamahnya.


Guntur masih menyangsikan ucapan pria misterius itu yang mengatakan kalau mamahnya hendak melakukan bunuh diri. Hati kecilnya menolak pernyataan pria misterius tersebut, sebab dicari- cari alasannya tidak ada satu pun alasan yang Guntur temukan hingga membuat mamahnya berniat melakukan bunuh diri.

__ADS_1


“Gunting!” seru Guntur, tiba- tiba teringat dengan salah satu ucapan pria misterius itu.


Guntur kembali mengingat kalimat demi kalimat yang dilontarkan pria misterius dalam percakapannya singkatnya sewaktu di toilet rumah sakit.


Hatinya kian penasaran ingin membuktikan ucapan pria miaterius itu, membuatnya ingin secepatnya sampai di rumah.


“Pak Suro! ya sebaiknya aku ajak pak Suro sekalian membicarakan mimpi dan juga kejadian hari ini,” gumam Guntur.


Beberapa lama kemudian pada persimpangan lampu merah Guntur pun membelokkan mobilnya kearah kiri, ia merubah jalurnya menuju jalan ke kantornya untuk menemui pak Suro.


Butuh waktu 25 menit untuk sampai ke tempat pak Suro yang menempati mess di belakang kantornya. Dalam kondisi jalanan lancar untuk sampai ke tempat pak Suro paling membutuhkan waktu sekitar 15 menitan.


Guntur mengentikan mobilnya tepat didepan gerbang kantornya yang tampak sepi. Sebab ini hari libur, sehingga tidak ada aktifitas di dalam perkantoran.


Kios buku bekas pak Suro yang berada disebelah kantor pun sudah tutup atau mungkin ikut libur, Guntur tidak tahu juga.


Seorang satpam tiba- tiba datang menghampiri mobil Guntur dari sisi kiri. Satpam bernama Agus itu berusaha melihat orang yang ada di dalam mobil dari kaca jendela.


Guntur segera menurunkan kaca jendelanya sambil tersenyum melihat Satpam Agus.


“Sore pak Agus...” sapa Guntur.


“Eh, pak Bos... maaf, maaf pak Boss, kirain orang lain, hehehe....” balas Satpam Agus.


“Hehehe... belum pak,” jawab Satpam Agus cengengesan mengelus- elus perutnya.


“Oh iya, pak Suro ada?” tanya Guntur lagi sambil mengambil dompet dari saku belakang celana jeansnya.


“Ada pak boss, baru saja pulang dari mushola sama Adi,” jawab Satpam Agus.


“Nih, beli makanan sekalian sama pak Suro dan Adi juga, pak Agus.” Ujar Guntur mengulurkan uang 100 ribuan.


Tanpa bertanya lagi Satpam Agus ngeloyor pergi meninggalkan Guntur yang berdiri disamping kiri mobil.


Guntur sengaja tak langsung menemui pak Suro yang menempati mess di sisi samping belakang kantornya, melainkan melangkah masuk menuju ruangan Satpam yang ada di balik sudut pintu gerbang.


Di dalam pos jaga satpam yang berukuran 2 x 2 meter persegi itu terdapat meja, dua kursi serta televisi yang menggantung diatas.


Baru saja Guntur hendak duduk untuk menonton televisi, tiba- tiba dikejutkan oleh suara anak kecil yang menyapanya.

__ADS_1


“Om Guntur?!”


Guntur mengurungkan duduknya, ia balik badan menoleh kearah sumber suara. Di depan pintu sudah berdiri Adi sambil menenteng senter.


“Adi?” Balas Guntur.


“Kapan Om Guntur datang? Pak Agusnya mana Om?” Berondong Adi bertanya melongokkan kepalanya kedalam pos jaga satpam mencari Satpam Agus.


“Pak Agus sedang beli makanan, bapak mana Di? Sekalian ajak kesini, kita makan bareng,” ucap Guntur kemudian melanjutkan duduknya.


“Wah, kebetulan banget Om ini saya mau beli makan buat bapak. Kalau begitu saya nggak jadi beli nasinya ya Om, sebentar saya panggilin bapak dulu,” ungkap Adi.


Guntur tersenyum mengangguk membalas ungkapan Adi sambil memandangi Adi yang langsung berlari kembali ke mess untuk mengabari pak Suro.


Iseng- iseng Guntur mengganti chanel siaran tivi yang sedang menayangkan acara ajang pencarian bakat nyanyi, Guntur oun langsung menggantinya dari stasiun tv ke stasiun tivi yang lain.


Namun tak kunjung menemukan acara yang cocok dengan suasana hatinya atau pun acara yang cocok di hatinya. Hingga akhirnya ia berhenti pada acara yang sedang menayangkan perbincangan ekonomi.


“Assalamualaikum...” suara seorang pria paruh baya muncul dari depan pintu.


Adi sudah kembali muncul didepan pintu pos jaga satpam bersama pak Suro yang berdiri di belakangnya.


“Wa’ alaikum salam, eh pak Suro,” balas Guntur bangkit dari duduknya menyalami pak Suro.


Tak lama setelah Adi dan pak Suro datang, kemudian disusul satpam Agus pun tiba pula dengan menenteng kantong kresek berisi makanan.


“Nasi padaaaang...” seru satpam Agus bègitu sampai.


Jadilah suasana di pos jaga satpam itu ramai. Akhirnya mereka berempat menikmati makan bersamanya dengan lauk kesukaan Guntur.


Selang beberapa saat lamanya makan bersama itu pun selesai. Semuanya telah menghabiskan nasi bungkus padang tak ada yang tersisa.


“Mm... gini pak Suro, saya sengaja kemari mau ajak bapak menemani saya ke rumah,” ucap Guntur usai menghabiskan minumnya.


Dahi Pak Suro mengernyit, nampaknya tak mengerti maksud dari ucapan Guntur. Ia terdiam beberapa saat mencerna ajakan Guntur.


“Oh iya pak, mamah masuk rumah sakit tadi siang pak. Saya sama Kunto gantian jaga disana dan sekarang saya mau pulang dulu sekalian ada hal penting di rumah,” terang Guntur melihat pak Suro nampak bingung.


“Muhun, muhun... ayo Gun,” sahut pak Suro kini memahami maksud ucapan Guntur.

__ADS_1


......................


BERSAMBUNG...


__ADS_2