TITISAN

TITISAN
PANIK


__ADS_3

Guntur dan mamah Karmila awalnya masih mengira kalau Kunto benar-benar sedang pergi bersama teman-teman kuliahnya. Namun hingga waktunya makan malam tiba Kunto tak kunjung datang, Guntur dan mamahnya pun berubah khawatir.


“Kunto kemana ya mah?” Ucap Guntur sengengah bertanya.


“Mamah juga nggak tahu Gun, apa dia masih bareng teman-temannya ya,” sahut mamah Karmila.


Guntur merogoh saku celananya mengabil hape, sesaat kemudian Guntur mulai menghubungi hape Kunto. Setelah menunggu sambungan telpon terlihat wajah Guntur menggurat secercah harapan ketika telponnya terdengar nada tersambung.


Tuuuuut.... tuuuuut... tuuuut.... tuuuuut... tuuuut...


Wajah Guntur yang semula sempat sumringah kini kembali muram, dahinya mengerut dalam-dalam setelah telpon yanh dihubunginya tidak kunjung di mendapat jawaban. Guntur penasaran, ia kembali mengulanginya menghubungi telpon seluler Kunto.


Nada tersambung memang terdengar namun hingga sambung berakhir telpon Kunto tidak juga diangkat.


“Telponnya aktif Gun?” tanya mamah Karmila.


“Aktif mah tapi nggak diangkat-angkat,” ujar Guntur.


Guntur kemudian kembali melihat layar hapenya namun kali ini ia mencari nomor kontak teman kampusnya, Tiara.


Tuuuut... tuuuuut... tuuu


“Klik”


“Hallo, assalamualaikum Ra,” ucap Guntur setelah telpin yang di hubunginya terdengar diangkat.


“Wa’alaikum salam, hai Gun apa kabar? Tumben telpon, kangen yaaa, hikhikhik...” suara Tiara di seberang telpon langsung nyerocos.


“Hehehehe... kabar baik Ra, eh Ra aku mau tanya kamu lagi sama Kunto nggak?” tanya Guntur.


“Kunto? Aku lagi di rumah Gun, kenapa?” Tiara balik tanya.


“TlKalau tadi pagi di kampus kamu lihat dia?” tanya Guntur lagi.


“Ya tadi di kampus sih aku sempat makan bareng Kunto di kantin,” sahut Tiara.


“Terus, terus, sewaktu pulangnya?” Guntur sedikit terhibur oleh jawaban Tiara.


“Ya aku lihat sih dia pulang naik motor yang biasa kamu pakai tuh,” sahut Tiara dengan nada terdengar bimbang.


“Ada apa sih Gun, kenapa dengan Kunto?” Sambung Tiara.


“Iya motornya sih ada di rumah sejak siang, hanya saja Kuntonya hingga malam begini nggak kelihatan. Aku pikir pergi sama kamu atau teman-temannya,” ujar Guntur.

__ADS_1


“Sewaktu di kantin ngobrol-ngobrol sih kayaknya Kunto nggak ada acara kemana-kemana deh Gun. Malah dia mengatakan pengen cepat-cepat pulang mau istirahat, katanya gitu.” Kata Tiara.


“Waduh! Kemana dia ya?!” gumam Kunto.


“Ya udah ya Ra, makasih infonya, assalamualaikum...” ucap Guntur sesaat menunggu sahutan Tiara lalu menutup telponnya setelah Tiara menjawab salamnya.


“Kamu telpon temannya? Gimana katanya Gun?” mamah Karmila langsung bertanya begitu Guntur menutup telponnya.


“Iya mah, tadi Tiara. Yang dia tahu katanya Kunto nggak ada acara apa-apa sama temannya,” ujar Guntur.


“Duh, kemana sih tuh anak. Perasaan mamah jadi nggak enak gini Gun, mamah jadi khawatir Kunto kenapa-napa,” ucap mamah Karmila.


“Kita coba tunggu aja mah, kalau malam ini Kunto nggak pulang juga nanti aku ke Sumedang ke rumahnya,” ujar Guntur.


......................


Guntur keluar dari kamarnya sudah berpakaian rapih memakai kemejan lengan panjang garis-garis kecil hitam dengan dominan warna abu-abu muda dan celana kain berwarna hitam. Di tangan kanannya menenteng sepatu kulit sedangkan di tangan kirinya menenteng tas kantor.


Saat berjalan melintas di pintu kamar Kunto, ia menghentikan langkahnya. Guntur baru teringat kalau semalam Kunto belum pulang, ia pun segera mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


Tok... tok... tok...


“Kuuuun... Kuntoooo!” Seru Guntur.


Tok... tok... tok...


Guntur pun meraih handel pintu dan membukanya. Ia melongokkan kepalanya kedalam kamar dari balik pintu, tetapi di dalam kamar itu dalam keadaan kosong.


Guntur penasaran, ia pun sampai masuk ke dalam kamar. Guntur mengedarkan pandangannya melihat seisi kamar Munto, meja belajarnya dalam keadaan rapih, kasurnya juga dalam keadaan rapih tidak nampak ada tanda-tanda bekas di pakai tidur.


“Kunto kemana sih?!” Ucap Guntur mulai panik.


Kemudian Guntur keluar kamar dan menutup pintunya kembali. Guntur mempercepat langkahnya keluar rumah menemui mamahnya yang sedang menyirami tanaman di halaman.


“Mah, mamah...” panggil Guntur.


“Naon Gun?” Sahut mamah Karmila berada di ujung depan halaman dekat pagar rumah.


“Kunto nggak pulang ya mah?!” seru Guntur sudah berdiri di belakang mobil inventaris kantornya.


“Nggak Gun, iya kemana Kunto ya?! Sahut mamah Karmila menolehkan kepalanya.


“Ya udah deh mah, nanti aku ke kantor dulu mungkin agak siangan aku ke Sumdengan. Barangkali Kunto pulang,” ujar Guntur sambil berjalan ke arah mamah Karmila.

__ADS_1


“Aku ke kantor dulu mah,” ucap Guntur lalu mencium tangan mamahnya.


......................


Hamparan sawah hijau nampak seperti permadani menghampar luas terlihat indah di sebelah kanan kiri Guntur yang duduk di belakang setir. Mobilnya melaju di jalanan pedesaan menuju tempat tinggal Kunto. Beberapa lama setelah melewati persimpangan, Guntur membelokkan mobilnya masuk ke halaman sebuah rumah sederhana yabg tak begitu besar dengan arsitektur minimalis bercat putih.


Suasananya tak ada yang berubah, masih sama seperti dua bulan yang lalu saat Guntur ke rumah Kunto karena ibunya sakit saat itu.


Di serambi depan sisi kanan rumah itu nampak seorang lelaki paruh baya sedang duduk santai di sebuah kursi. Di hadapannya terdapat segelas berisi teh tubruk tersaji diatas meja kayu.


“Assalamualaikum...” ucap Guntur berdiri di depqn rumah.


“Wa’alaikum salam,” sahut pria paruh baya kemudian bangkit dari kursinya menyongsong Guntur.


“Sebentar, nak Gun... Guntur ya?” ucap pria paruh baya itu yang tak lain adalah bapaknya Kunto.


“Muhun pak, alhamdulillah pak Asep masih ingat saya,” ujar Guntur kemudian menyalami pak Asep.


“Ayo, ayo masuk nak. Duduk, duduk...” sergah pak Asep mengajak Guntur duduk di serambi.


Setelah Guntur dan pak Asep sudah duduk saling berhadapan, baru saja Guntur hendak berucap tiba-tiba pak Asep bertanya, “Nak Guntuk kok sendirian? Nggak sama Kunto?”


Deg! Jantung Guntur serasa berhenti di tanya seperti itu berarti Kunto tidak pulang. Ia terhenyak di kursinya, pikirannya sangat bingung apa yang harus ia katakan pada pak Asep. Guntur terdiam cukup lama hingga pak Asep mengulang lagi pertanyaannya.


“Nggak sama Kunto nak Guntur?” tanya pak Asep lagi.


“Mmm, anu pak. Sebenarnya saya ke sini mau menemui Kunto,” ucap Guntur berterus terang.


Dahi pak Asep kontan berkerut dalam-dalam. Wajahnya nampak bingung lalu berkata, “Kunto sudah lama nggak pulang-pulang nak semenjak terakhir sama nak Guntur kesini tuh.”


“Jadi Kunto nggak pulang pak?!” tanya Guntur menegaskan.


“Loh memangnya Kunto sudah nggak tinggal di rumah nak Guntur lagi?” tanya pak Asep belum menyadari sepenuhnya apa yang tengah di cemaskan Guntur.


“Kunto masih tinggal sama saya pak. Jadi gini pak, semalam itu Kunto nggak pulang ke rumah pak. Saya sudah mencarinya melalui teman-teman kuliahnya, katanya nggak tahu. Saya mengira kalau Kunto pulang, makanya saya ke sini,” ungkap Guntur.


“Tapi Kunto nggak pernah pulang nak Guntur, kemana Kunto ya?!” wajah pak Asep seketika berubah cemas.


“Yang jadi herannya itu pak, sepeda motor yang biasa di pakai Kunto ada dan terparkir di rumah. Kata mamah sih sepeda motor itu sudah ada sewaktu pulang dari pasar tetapi Kuntonya nggak ada,” terang Guntur.


Wajah pak Asep kian cemas dan nampak bingung sama halnya dengan Guntur. Suasana hening beberapa saat, Guntur dan pak Asep tenggelam dalam tanda tanya besar di dalam hatinya masing-masing.


“Ya sudah kalau begitu pak Asep, nanti kabari saya kalau misalkan Kunto benar-benar pulang. Saya juga nanti kabari pak Asep kalau Kunto sudah ketemu,” ucap Guntur memecah keheningan.

__ADS_1


“Muhun, muhun nak Guntur. Bapak minta tolong nak Guntur cari Kunto sampai ketemu ya,” ujar pak Asep dengan wajah penuh harap bercampur cemas.


......................


__ADS_2