TITISAN

TITISAN
TERGIUR


__ADS_3

Mbah Sakri menatap tubuh mamih Oca yang tergolek lemah tanpa berkedip. Hasrat kelelakiannya bangkit begitu saja melihat tubuh kuning langsat yang terbalut gaun tidur transparan.


Otak kotornya bekerja cepat mencari cara agar suaminya dan Parno keluar dari kamar sehingga membuatnya leluasa melihat pemandangan e r o t i s di hadapannya.


Jin An dan Parno memperhatikan Mbah Sakri yang segera melangkahkan kakinya mendekat di sisi tempat tidur. Beberapa saat kemudian tangan kanan mbah Sakri diangkat seolah- olah melakukan pendeteksian seperti yang umum di lakukan oleh para dukun.


Tangan kanan mbah Sakri berjarak sekitar 15 cm melayang diatas tubuh mamih Osa. Tanggannya terlihat bergetar- getar saat melakukan gerakan vertikal mengusap dari kepala ke ujung kaki dengan perlahan- lahan sekali.


Jin An dan Parno melirik sekilas raut wajah mbah Sakri yang terlihat memejamkan mata, lalu pandangannya kembali melihat tubuh mamih Osa berharap- harap ada perubahan yang terjadi.


Sementara di sisi lain, Mbah Sakri sebetulnya tidak benar- benar menutup matanya rapat- rapat. Dukun itu hanya menyipitkan matanya sambil sedikit menundukkan kepalanya sehingga terlihat oleh Jin An dan Parno nampak seperti betul- betul terpejam.


Gerakkan tangan Mbah Sakri kembali bergeser ke arah kepala setelah sampai di ujung kaki. Telapak tangan yang terbuka itu perlahan bergerak diatas lutut dan masih nampak bergetar. Lalu naik di bagian area vital, getaran telapak tangan mbah Sakri bertambah besar.


Koclak... koclak... koclak...


Terdengar bunyi suara dari cincin- cincin mbah Sakri yang besar- besar menambah mistis suasana di dalam kamar. Sementara mulut mbah Sakri samar- samar membacakan mantra tak henti- henti, entah bahasa apa yang keluar dari mulut dukun tersebut karena tidak begitu jelas.


Ketika telapak tangan mbah Sakri melintas diatas pada bagian dada mamih Osa, jari- jari kasar berwarna coklat gelap itu terlihat bergetar kian keras.


Mbah Sakri kembali menelan air liurnya melihat bagian dada mamih Osa yang sedikit terbuka yang nampak gaun tidurnya mencetak jelas bagian dalam. Nafas mbah Sakri kontan memburu namun dia menekannya sekuat tenaga agar tidak terlihat oleh Jin An dan Parno.


Tiba- tiba senyumannya yang menyerupai seringai mengembang di bibirnya yang tebal dan hitam. Isi kepalanya mendorongnya untuk melakukan sesuatu setelah menemukan cara agar lebih leluasa menikmati mahluk indah di hadapannya. Lalu segera mbah Sakri berbicara pada Jin An dan Parno.

__ADS_1


“Pak Jin An tolong minta air di ember, saya akan membuatkan pagar lebih dulu sebelum melakukan pengusiran aura jahat pada tubuh istri anda!” kata mbah Sakri kemudian menyunggingkan senyum jahat.


Tidak ada kalimat yang aneh- aneh dari ucapan mbah Sakri sehingga Jin An pun menuruti permintaan mbah Sakri dan bergegas keluar kamar untuk mengambilkan air.


Parno pun spontan mengikuti Jin An berniat membantunya membawakan air tersebut karena merasa itu adalah tugasnya sebagai pegawainya.


Kini didalam kamar hanya ada Mbah Sakri dan mamih Osa saja. Mbah Sakri tak menyia- nyiakan situasi tersebut, ini kesempatannya untuk memulai melancarkan aksi bejatnya.


Buru- buru mbah Sakri memejamkan mata, diikuti dengan mulutnya komit- kamit membaca mantera. Dahinya mengerut dalam- dalam nampak berkonsentrasi penuh, sesaat kemudian mbah Sakri meniupkan mantera yang selesai di bacanya pada wajah mamih Osa.


Sementara kondisi mamih Osa yang tergolek telentang dengan matanya masih menatap ke langit- langit kamar. Mamih Osa dapat merasakan ada hembusan udara yang di tiupkan dari mulut mbah Sakri menerpa wajahnya.


Sesaat kemudian tiba- tiba sorot matanya berubah meredup layu. Tubuhnya bergeram menggeliat, kedua tangannya meremas sprey erat- erat. Begitu juga dengan kedua kakinya yang lenjang bergerak- gerak gelisah.


Mbah Sakri menoleh sebentar memperhatikan daun pintu yang tertutup. Setelah dirasa aman, tangannya bergerak pelan menyentuh wajah mamih Osa yang nampak masih terlihat kecantikannya meskipun sedang sakit pskologisnya.


Hasrat mbah Sakri terpacu kian kencang, nyaria tak dapat dikendalikan lagi. Ia menggerakkan tangan kirinya perlahan- lahan mengarah pada bagian vital mamih Osa.


Nafasnya tak lagi biasa, kini nafasnya terdengar dengusan berat menahan gejolak biologisnya. Saat hendak menyentuh bagian vital itu, terdengar bunyi daun pintu di buka dari luar.


Buru- buru mbah Sakri menarik kedua tangannya. Mbah Sakri langsung membuat posisi bersedakap dengan memejamkan mata, sekonyong- sekonyong sedang bersemedi.


Jin An muncul lebih dulu dari balik pintu kamar, disuaul di belakangnya Parno dengan menenteng ember berukuran besar berisi air.

__ADS_1


“Taruh dimana mbah?” tanya Parno terengah- engah menenteng ember.


“Disini No,” sahut mbah Sakri sambil menunjuk posisi samping dirinya.


Mbah Sakri kemudian menyudahi posisi semedinya lalu turun dari atas kasur. Dia berjongkok menghadap ember berisi air bak, wajahnya terlihat konsentrasi membaca- baca mantera sambil memejamkan mata.


Jin An dan Parno hanya memperhatikan saja apa yang dilakukan oleh mbah Sakri. Jin An yang awalnya tidak begitu percaya dengan perdukunan, kini mulai terhanyut terbawa suasan mistis yang di ciptakan oleh mbah Sakri.


Beberapa saat kemudian mbah Sakri menyudahi memberikan jampi- jampinya pada air di dalam ember tersebut, kemudian berkata; “Pak Jin An, Parno.. air ini adalah air penangkal. Siramkan kesekeliling rumah, memutari rumah dengan air satu ember ini,” tegas mbah Sakri.


“Ingat! Jangan sampai airnya habis ditengah jalan. Jadi harus bisa sedapat mungkin mengaturnya hingga sekeliking rumah tersirami.” Tegas mbah Sakri lagi.


Raut wajah Jin An berbinar penuh asa, keyakinan istrinya sembuh mulai membuatnya kian percaya saja apa yang dikatakan oleh orang pintar tersebut. Sementara Parno yang sejak awal sangat yakin dengan kemampuan mbah Sakri agar dapat membantu majikannya itu juga merasa sangat percaya.


“Dan satu lagi, jangan buru- buru dan jangan dulu masuk kamar sampai saya yang keluar dari kamar!” tegas mbah Sakri lagi.


Parno segera mengangkat dan menenteng ember berisi air bak itu keluar untuk meleksanakan perintah mbah Sakri. Jin An mengikutinya dari belakang keluar kamar dan sekaligus menutup pintunya.


Melihat Jin An dan Parno keluar kamar, Mbah Sakri melebarkan seringainnya. Setelah pintu di tutup, mbah Sakri melangkah kearah pintu lalu segera menguncinya dari dalam.


Sejenak mbah Sakri bersandar pada daun pintu yang baru saja di kuncinya. Matanya liar menatap tubuh molek kuning langsat berbalut lingerie tipis tergolek diatas kasur.


Lidah mbah Sakri terjulur menyapu bibirnya dari sudut ke sudut. Nafasnya kian memburu tak dapat terbendung lagi, mbah Sakri segera melangkah mendekati mamih Osa yang dalam kondisi pasrah.

__ADS_1


Kondisi mamih Osa yang terpengaruh oleh mantra mbah Sakri terlihat menggeliat- geliat makin liar. Kedua kakinya yang jenjang dan terbuka dengan bebas di lahap oleh tatapan kedua mata mbah Sakri.


......................


__ADS_2