TITISAN

TITISAN
TAK ADA PETUNJUK


__ADS_3

Matahari sedikit lagi tèpat berada tegak lurus di atas dengan sinaran panasnya yang menaungi anak- anak santri Tahfiz yang sedang gotong -royong bersih- bersih di halaman rumah Tahfiz baru mereka. Semangat anak- anak santri itu masih nampak tergambar jelas di wajahnya. Ada yang menyapu potongan rumput- rumput, ada yang menggotong tumpukkan sampah, ada juga yang menyirami halaman dengan air dari selang.


Sementara Haji Abas beserta para ustad yang membantunya hanya memantau kegiatan bersih-bersih itu dari teras depan bahkan sengaja memberikan kebebasan dengan membiarkan para santri- santrinya sambil bermain dengan penuh keceriaan.


Tak berselang lama, ustad Fajri memberikan seruan kepada anak-anak santri agar menyudahi kegiatannya dan ďihimbau untuk membersihkan badan lalu kemudian berkumpul di dalam masjid untuk melaksakan sholat Duhur berjamaah.


"Ayo, semuanya bersihkan badan kalian lalu kita melaksanakan sholat Duhur ya..." seru ustad yang masih berusia 20 tahunan itu.


Anak- anak pun segera berlarian menyudahi kegiatannya berlalu lalang melewati tempat dimana Haji Abas dan beberapa ustad berkumpul.


Setelah tidak ada lagi anak-anak yang melintas di depannya, ustad Fajri pun melangkah keluar dari teras depan menuju halaman samping kanan rumah untuk memeriksa barangkali masih ada anak- anak santri disana.


Dan benar saja, di halaman samping dekat dengan tembok pagar dilihatnya masih ada 3 anak yang sedang berbicara satu sama lain sambil berdiri seperti kebingungan. Ustad Fajri pun segera mendatangi ketiga anak tersebut agar segera kembali ke asrama untuk membersihkan badan.


“Loh kok masih pada disini?! Ayo bersihkan badan kalian lalu sholat Duhur,” ajak ustad Fajri.


Mendapat teguran dari ustad Fajri, ketiganya tersentak dengan wajah bingung bercampur takut. Ketiga anak itu saling memandang sambil menggerakkan kepalanya menunjuk satu sama lain memberikan isyarat untuk berbicara. Tetapi tak ada satu pun dari anak itu yang berani mengatakannya.


“Ada apa Suci, Anisah, Alvi?!” tanya ustad Fajri keheranan.


Ketiga anak itu kembali saling melempar pandangan satu sama lain untuk menjawab namun ketiga anak itu malah menundukkan kepalanya.


“Kalian kenapa?” tanya ustad Fajri lembut sambil setengah berjongkok merendahkan badannya agar sejajar dengan anak- anak itu.


“A, aanu ustad, dari tadi kami tidak melihat Zahra, ustad...” sahut Alvi


“Zahra Nurjanah?” Ustad Fajri memastikan.


“Muhun ustad!” Seru ketiga anak serempak.


“Mm, barangkali Zahra sudah masuk,” ujar ustad Fajri.


“Nggak mungkin ustad! Kami tidak melihatnya sudah sejak tadi sebelum pada bubar!” Timpal anak bernama Suci.


Di dalam pikiran ustad Fajri mungkin Zahra sudah berada di asrama tanpa mereka ketahui. Tak secuil pun terlintas di benaknya ada pemikiran kalau Zahra benar-benar hilang seperti yang diutarakan tiga temannya bahkan sangat tidak mungkin juga Zahra keluar dari lingkungan rumah Tahfiz tanpa meminta izin kepada para ustadnya. Sehingga ustad Fajri tidak begitu merespon kecemasan tiga anak didiknya.


“Ya sudah biar ustad yang cari ya, sekarang kalian lekas ke asrama nanti setelah mandi langsung berkumpul di masjid,” kata ustad Fajri meredakan kegundahan tiga anak itu.


Suci, Anisa dan Alvi pun bergegas berlari meninggalkan tempat itu menyusul teman- temannya yang sudah lebih dulu bubar. Ustad Fajri pun berjalan cepat di belakangnya kembali ke teras untuk memberitahukan Haji Abas serta rekan- rekan ustad lainnya tentang Zahra.


......................


Suara kumandang azan Duhur terdengar nyaring merdu dari toa yang di letakkan sementara diatas atap masjid karena bangunan menara belum rampung di bangun.

__ADS_1


... Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)


...


... Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)


...


... Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)


...


... Hayya 'alashshalaah (2x)


...


... Hayya 'alalfalaah. (2x)


...


... Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)


...


... Laa ilaaha illallaah (1x)


...


Hanya jeda beberapa saat setelah azan, kemudian setuan iqomah pun kembali menggema memenuhi dalam masjid.


 Allaahu Akbar, Allaahu Akbar...


 Asyhadu allaa illaaha illallaah...


 Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah..


 Hayya 'alashshalaah...


 Hayya 'alalfalaah...


 Qad qaamatish-shalaah...


Qad qaamatish-shalaah...

__ADS_1


 Allaahu Akbar, Allaahu Akbar


Laa ilaaha illallaah...


Semuanya berdiri untuk memulai melaksanakan sholat Duhur dengan Haji Abas selaku imamnya.


Mereka pun menjalankan sholat duhur empat rokaat kemudian di lanjutkan dengan doa- doa. Setelah selesai tiba-tiba terdengar suara Haji Abas melalui pengeras suara menyampaikan pemberitahuan.


“Assalamualaikum watohmatullahi wabarokatuh...” ucap Haji Abas mengawali yang langsung di jawab oleh jamaah dengan serempak.


“Anak-anakku tercinta, tadi saudari kalian Suci, Alvi dan Anisa mencari-cari Zahra. Apakah sekarang ananda Zahra sudah ada disini diantara kalian?”


Sesaat suasana langsung terdengar riuh terutama di barisan anak- anak putri. Namun tidak ada satu pun yang menjawabnya.


“Atau mungkin ada yang melihatnya?” tanya Haji Abas lagi.


Suasana kian riuh, teredengar celetukan- celetukan saling bertanya satu sama lain. Tetapi tidak ada satu anak pun yang menjawabnya.


“Sekali lagi Abah tanya, apakah ada diantara kalian yang melihat Zahra?” suara Haji Abas terdengar mulai cemas.


“Kami tidak melihatnya Abah...” sahut anak- anak putri serempak.


Suasana di dalam masjid kian riuh dan terdengar celetukkan- celetukkan cemas dari santriwan maupun santriwati. Kemudian suara Haji Abas kembali terdengar.


“Sekarang kita semua sama- sama mencari ananda Zahra ya, tapi ingat jangan ada yang mencari hingga keluar dari lingkungan ini.” Kata Haji Abas.


“Biar ustad dan ustadzah saja yang mencari di luar di sekitar rumah Tahfiz ini.” Sambung Haji Abas sekaligus mengakhirinya.


Semuanya pun bergerak serentak keluar dari masjid untuk mencari keberadaan Zahra.


......................


Di halaman sebuah bangunan kuno menyerupai kastil, nampak dua anak perempuan sedang asyik bermain. Keduanya berlarian saling berkejaran dengan riang gembira. Sesekali terdengar derai tawa kedua anak itu.


"Putri, udah ah main kejar kejarannya. Capek, hikhikhik," kata Zahra.


"Iya nih Zahra. Ya udah deh kita masuk ke rumah ku aja yuk, di kamarku banyak sekali boneka," sahut Putri.


Kemudian Putri mengulurkan tangannya pada Zahra untuk bergandengan. Zahra pun menyambutnya dengan riang diiringi tawa cekikikan kedua anak perempuan itu.


Zahra yang berusia 10 tahunan itu nampak begitu akrab dengan Putri yang juga usianya terlihat sebaya, padahal kedua anak itu baru saja bertemu dan berkenalan beberapa saat yang lalu.


Zahra sendiri merasa sangat menyukai keberadaannya saat ini, meski tampak asing dengan segala suasananya. Rumah yang berbentuk Kastil dan kuno, cuaca yang temaram seperti senja dan suasana yang senyap itu seolah- olah ia telah melupakan semuanya tentang rumah Tahfiz.

__ADS_1


Zahra menurut saja mengikuti tarikan tangan Putri, kedua anak perempuan itu bergandengan tangan dengan riang memasuki rumah.


......................


__ADS_2