
"Kayaknya benar ini kamarnya tante," ucap gadis berhijab.
"Tapi di pintu ini bukan tertulis nama Guntur, neng.." ucap wanita 43 tahunan.
"Iya juga sih tan, tapi menurut petugas lobi nomornya ini deh," ujar gadis berhijab kebingungan.
Disaat bersamaan datang seorang dokter wanita dari arah yang berlawanan dan hendak memasuki kamar itu juga. Buru-buru dihentikan oleh gadis berhijab untuk bertanya.
"Permisi dok, apakah kamar ini pasiennya bernama Guntur?" Tanya gadis berhijab.
Dokter wanita berusia 45 tahunan yang terlihat cantik itu sejenak menatap satu persatu tiga orang didepannya.
"Maaf kalian..." jawaban dokter terhenti karena langsung disergah oleh wanita satunya.
"Kami keluarganya, saya ibunya dok," sergah wanita itu yang tak lain adalah mamah Karmila.
"Oh, iya betul ini kamar rawat Guntur. Mari, mari masuk..." ucap dokter dengan santun.
"Maaf sebelumnya ya bu, pak. Kami mendapat pesan dari pihak kepolisian untuk merahasiakan keberadaan Guntur dan dua temannya. Sebab menurut polisi kecelakaan yang menimpa mereka ada indikasi percobaan pembunuhan, polisi menemukan bekas tembakkan pada mobil korban. Makanya kami menyamarkan nama pasien didepan pintu kamar itu." ungkap dokter sambil membuka pintu.
"Oh," raut wajah Karmila, Pak Asrul dan Neng terperanjat namun belum sepenuhnya mengerti dengan situasinya.
"Sampai di lobi depan itu ada petugas polwan yang menyamar. Kebetulan saya yang menangani pasian Guntur diminta kerja samanya, sebab menurut penjelasan polisi para pelakunya ini nampaknya sangat profesional. Dan tidak menutup kemungkinan ketika mengetahui targetnya selamat, mereka akan memburunya." ungkap dokter.
Karmila, pak Asrul dan Neng terdiam tertegun saling pandang satu sama lain. Didalam pikiran ketiga orang itu semakin jauh membayangkan hal buruk dengan kondisi Guntur. Kemudian dokter melanjutkan langkahnya membuka pintu kamar perawatan yang bertuliskan "SALMAN" itu. Saat pintu terbuka, semua mata tertuju pada ranjang sebelah kiri. Nampak diranjang sebelah kiri itu seorang pemuda terbaring penuh dengan perban di perut, tangan dan kepala tergolek memejamkan mata. Ketiga orang langsung mengira kalau itu adalah Guntur, dan Mamah Karmila pun langsung shock melihatnya.
"Guntur..." ucap mamah Karmila menuju ranjang itu dengan wajah cemas setengah menangis.
Akan tetapi tiga langkah lagi mamah Karmila sampai ditepi ranjang pemuda yang dipenuhi perban itu tiba-tiba suara terdengar memanggil dari belakangnya.
__ADS_1
"Mamah..."
Mamah Karmila menghentikan langkahnya terkejut lalu menoleh ke belakang, begitu pula dengan gadis berhijab dan pria setengah baya. Setelah melihat orang yang memanggil dengan menyebut 'mamah' wajah ketiganya kontan sumringah.
"Guntur..." seru mamah Karmila kemudian berbalik menuju ranjang Guntur disebelah kanan.
"Mamah..." ucap Guntur langsung duduk dari posisi tidurannya.
Mamah Karmila langsung memeluk erat Guntur penuh keharuan. Kedua matanya berkaca-kaca menumpahkan rasa yang campur aduk ditahannya sepanjang perjalanan dari Bandung ke rumah sakit tersebut. Bayangan tentang kondisi Guntur yang mobilnya masuk jurang begitu menghantui pikirannya selama 4,5 jam dan itu merupakan rasa psikologis terberat yang dialaminya. Makanya tak heran pada saat pertama kali melihat kondisi Kunto, dia sudah mengira kondisi itu sesuai dengan bayangannya.
"Gimana kondisi kamu Gun?" Tanya mamah Karmila penuh kasih sayang setelah melepas pelukkannya.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja mah," jawab Guntur.
"Kunto mana?!" Tanya mamah Karmila.
"Itu Kunto mah," ujar Guntur menunjuk ranjang sebelahnya.
"Apa benar mobil kamu
"Mas..." sela suara gadis menyadarkan mamah Karmila akan keberadaannya.
"Ya allah, mamah sampai lupa. Maaf ya neng, pak Asrul, mari sini, sini neng..." ucap mamah Karmila.
"Gun, mamah tengok Kunto dulu ya," sambungnya, kemudian meninggalkan Guntur.
Pak Asrul dan Hafizah melangkah mendekat ke ranjang Guntur. Hafizah langsung duduk diatas kasur disamping Guntur sedangkan pak Asrul duduk di kursi yang ada disamping ranjang.
"Gimana kondisimu mas?" Tanya Hafizah.
__ADS_1
"Alhamdulillah neng, aku tidak apa-apa hanya luka benturan saja itupun sedikit. Tapi kasihan Kunto, dia ada luka tembak," ucap Guntur.
"Hah, ditembak?! tanya Hafizah dan pak Asrur bersamaan.
"Jadi bukan kecelakaan biasa Gun?!" sergah pak Asrul sangat terkejut.
"Iya Om, Kunto mendapat tembakkan di punggung dan lengannya. Dan dua proyektilnya sudah diambil setelah Kunto dioperasi kemarin, kini proyektil tersebut sedang diteliti oleh pihak kepolisian untuk melacak pelakunya," ungkap Guntur.
"Masa iya komplotannya Anggoro, tapi itu sangat tidak mungkin. Sebab Anggoro dan pembunuh bayaran suruhannya sudah tertangkap semua dan sudah di jebloskan ke penjara," ucap Pak Asrul.
"Aku juga awalnya sempat berfikir begitu Om, aku mengira itu masih ada kaitannya dengan kasus di Jakarta. Tapi kalau Anggoro cs sudah masuk penjara, lalu siapa dalang kali ini ya Om?" ujar Guntur.
Pak Asrul geleng-geleng kepala tidak bisa memperkirakan pelaku percobaan pembunuhan kali ini. Namun dia berjanji akan membantu Guntur untuk mengungkap pelakunya.
Sementara Hafizah terus menerus menatap wajah Guntur dengan raut cemas yang berbalut binar-binar cinta di matanya. Tanpa disadarinya sedari tadi tangannya memegang lengan kanan Guntur, dan Guntur pun baru menyadarinya ketika hendak menggaruk tangannya. Tanpa sengaja tangannya langsung menindih tangan Hafizah, wajah Hafizah langsung merona merah begitu tangannya merasa dipegang Guntur. Desir-desir halus merayap keseluruh tubuhnya, Hafizah tersipu malu. Guntur yang menyadari itu menjadi gugup dan langsung melepaskan pegangannya.
Pak Asrul yang melihat adegan itu buru-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain karena jengah. Suasana seketika menjadi kaku dan canggung.
“Ya sudah Om, nengok Kunto dulu ya,” ujar Pak Asrul buru-buru meninggalkan Guntur dan Hafizah.
......................
Di tempat parkir rumah sakit, mobil sedan hitam baru saja mematikan mesin mobilnya. Empat orang didalam mobil yang tak lain adalah komplotan Carok cs, nampak memperhatikan kesekeliling rumah sakit. Carok cs berhasil memperoleh informasi dari warga sekitar tempat kejadian perkara, kalau korban kecelakaan itu dibawa dengan mobil ambulance dari rumah sakit umum daerah. Saat Carok hendak membuka pintu dan turun dari mobil, Gombloh langsung mencegahnya.
"Bos, bos tunggu!" sergah Gombloh.
"Ada apa Bloh?!" Carok menghentikan niatnya, dia menarik kembali kakinya yang sudah keluar dari mobil.
"Lihat, itu ada mobil polisi!" seru Gombloh menunjuk sebuah mobil di yang tak jauh dari tempat mereka parkir.
__ADS_1
Carok cepat-cepat menutup kembali pintu mobilnya. Dadanya berdebar-debar melihat mobil polisi yang nampak kosong itu. Otak kriminalnya spontan bekerja cepat mengingatkan dirinya untuk tidak ceroboh. Akan tetapi setelah beberapa saat berpikir positif, dirinya berpendapat mungkin saja secara kebetulan ada pasien anggota kepolisian yang sedang di rawat disini juga, akhirnya melanjutkan niatnya untuk memeriksa ke dalam.
......................